
Lily memutuskan untuk kembali ke Apartemen setelah mendapat sedikit pencerahan dari sahabatnya, Fany.
Fany berpendapat sebaiknya Lily tidak perlu memperdulikan surat itu. Bagaimanapun, Lily adalah pendatang baru di negara ini, apalagi yang mengirimi surat tidak diketahui siapa orangnya.
bisa saja orang itu berniat tidak baik kan?
Lily sedikit banyak menyetujui pendapat sahabatnya itu, tapi entah kenapa hati kecil Lily seolah mengatakan sebaliknya. Jadi, sekarang Istri David itu kini sedang dilanda kegalauan, antara takut untuk mendatangi alamat dalam surat itu, tapi juga penasaran.
Apa sebaiknya Lily menanyakannya pada suaminya?
Ah tidak mungkin. David pasti akan lebih melarangnya. Yang jelas Lily tidak mungkin juga bertanya pada Mommy Charlotte, yang notabene menjadi topik utama dalam surat misterius itu..
"Aduuuh aku pusing deh" keluh Lily yang sedari tadi memikirkan masalah surat misterius itu. kemudian Lily memutuskan untuk keluar dari kamar dan hendak mencari udara segar.
"Beli chancun Naicha (Boba milk tea) aja ah, biar agak seger ini pikiran" saat hendak melangkah keluar Lily mendengar suara Nyonya Charlotte yang sepertinya sedang berbincang dengan seseorang.
Tiba-tiba, Lily terngiang dengan pesan surat misterius itu "Nyonya Charlotte Crambhell tidak sebaik yang kalian kira" niat Lily untuk menyapa Mertuanya itupun surut. Ia malah dengan sengaja bersembunyi dibalik pembatas antara kamarnya dan ruang tamu.
"Aku tidak mau tahu. Bereskan dua bajingan itu. hanya mengurus sepasang tikus bodoh saja kalian tidak becus? cari mereka!"
"......."
"Aku sekarang berada di Apartemen David. Semua orang disini sedang keluar"
"......"
"Tutup mulutmu. Aku tahu apa yang aku lakukan. kerjakan saja tugasmu dengan benar. Urusan David biar aku yang membereskan" sungut Charlotte dengan kesal.
Mendengar nama Suaminya disebut, Lily sontak menutup mulutnya sendiri agar jangan sampai mengeluarkan suara.
"....."
"Bajingan bodoh. Dasar tidak berguna" Kemudian Charlotte bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamarnya.
Lily menarik nafas lega, Kemudian Ia segera masuk ke kamarnya, agar Nyonya Charlotte tidak curiga bahwa dia ada di rumah dan mendengarkan pembicaraannya barusan.
Lily pun dengan cepat menyambar gawainya. mengetikkan Nomor Fany disana.
"Halo Fan, Besok aku minta tolong dong, please!"
"....."
"Antar aku ke apartemen yang ada di surat itu. kayaknya aku memang harus datang"
"....."
"Oke makasih banyak yaa... nanti aku ceritakan besok"
Lily mengakhiri panggilannya. Sekarang tinggal memikirkan bagaima cara meminta izin pada David dan juga mertuanya, agar tidak ada yang curiga.
Lily pun kembali berfikir keras. sampai sebuah ide mendarat indah di otaknya yang cukup cerdas itu.
Saking senangnya Lily sampai lupa bahwa ia sedang bersembunyi dari Nyonya Charlotte, kemudian dengan santainya melenggang keluar kamar...
"Lily??" Suara familiar dari mertuanya bak petasan di hari lebaran yang sukses membuat nya terkejut bukan main. Lily mematung menatap Nyonya Charlotte yang saat ini sedang berada tepat di hadapannya.
"M-Mom?" Jawab Lily tergagap..Jantungnya berdetak dengan kencang, bahkan Nyonya Charlotte mungkin bisa mendengar jedag-jedugnya. Jika hal ini terjadi saat Lily belum mendapat surat misterius itu pasti reaksinya akan biasa saja.
Namun Lily sudah kepalang takut, apalagi setelah tanpa sengaja mendengar obrolan mertuanya yang akan 'membereskan suaminya', jadilah saat ini wajahnya memucat seperti melihat hantu.
"Kenapa? Kamu terlihat sangat terkejut sweetie" Ucapan Charlotte sangat lembut tapi Lily bisa menangkap bahwa Nyonya Charlotte lah yang sebenarnya terkejut melihatnya sudah ada di rumah.
"Ti-tidak Mom, Aku hanya..." Lily kehabisan kata-kata, bingung mencari alasan.
"Sudahlah, mmm Kamu ada di rumah? sejak kapa Emm maksud Mommy apa sudah dari tadi, kenapa Mommy tidak melihatmu saat tiba di rumah?" Tanya Charlotte seraya tersenyum namun matanya penuh intimidasi.
"Ehem... Emmm sudah sejak tadi Mom, tap-tapi karena Aku merasa kurang enak badan, jadi aku langsung tertidur di kamar" Jawab Lily akhirnya sedikit berbohong.
"Tidak Mom, tidak perlu. Aku sudah merasa lebih baik, sungguh" Jawab Lily berusaha bersikap tenang kembali. Bagaimanapun dia tidak boleh membuat Nyonya Charlotte mencurigainya. Sebelum Lily bertemu dengan pengirim surat misterius itu dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah, kalau begitu Kembalilah ke kamarmu, Biar Mommy yang menjemput Alice, Okay?"
"Okay Mom, terima kasih"
Lily pun kembali ke kamarnya. Sementara Charlotte sepertinya memang akan keluar rumah, mengingat barusan ibu David nitu berpakaian sangat rapi, bahkan terlalu rapi kalau hanya untuk menjemput Alice.
'Gara-gara surat itu aku sekarang jadi su'udzon sama orang, mertuaku sendiri lagi, hmm' Lily bermonolog dalam hati.
Ting Ting Ting , suara dering telepon lagi-lagi membuatnya terkejut. Lily menghela nafas panjang, beginilah deritanya orang dengan penyakit 'mudah cemas dan panik' hal kecil yang sepele akan terdengar sangat mengagetkan jika penyakitnya itu dalam mode ON.
Wajah Lily sedikit berseri saat melihat nama yang muncul di layar gawainya. 'My Hot Hubby'
"Halo Biy"
"Halo, Honey, Mommy bilang kamu sedang tidak enak badan?"
'what?' Jadi Nyonya Charlotte mengadukannya?
"Ya Biy, tapi sekarang sudah lebih baik setelah tidur sebentar tadi"
"Yakin? tidak perlu pergi ke dokter, Honey?"
"Tidak.... Aku baik-baik saja Biy. Aku hanya ingin Kamu pulang cepat Biy"
"Benarkah...? Approved! Aku akan pulang cepat spesial untuk istriku yang Sexy"
"Hihihi, baiklah aku tunggu janjimu Biy"
"Sure! Aku selesaikan pekerjaanku ya g menjengkelkan itu dulu, Honey"
"Yah, cepat selesaikan dan pulang"
"Hahaha, baiklah, see You, Love"
"See U too, Love"
Lily pun mengakhiri panggilannya. Rasanya sudah tidak sabar untuk membujuk suaminya itu.
Mari kita lihat, apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh pengirim surat misterius itu.
Pukul 07.30 p.m. HK Time
"Mommy, Apa adik bayi sudah mulai bergerak?" Tanya Alice yang kini sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Lily. Ibu dan anak itu sedang bersantai di kamar Lily, karena kebetulan malam ini Lily tidak perlu memasak makan malam. suami tercintanya mengatakan akan memesan makanan dari restauran saja.
"Sudah, coba Alice pegang" Lily pun membimbing jemari putrinya itu untuk menyentuh perutnya yg sudah nampang membuncit. Alice pun menurutinya, kemudian mata gadis kecil itu seketika membola saat merasakan kedutan-kedutan kecil di perut ibunya.
"Woahh... apa itu tadi adik bayi Mom?" Tanya Alice dengan wajah terkejutnya.
"He'embh, Kamu bis merasakannya sayang?" Ucap Lily lembut.
"Yah. I'm so Excited! is He playing in there?"
"sepertinya Sayang, adik bayi sedang bermain didalam sana hehehe" Jawab Lily terkekeh, melihat bagaimana raut wajah Alice yang sangat lucu.
Alice pun kembali menyentuh perut Lily, kemudian membisikkan kata-kata sayang untuk adik bayinya. Lily sangat terharu melihat interaksi putrinya dengan calon adiknya. Sejurus kemudian kesedihan menghiasi wajah cantiknya, bagaimana kalau Mommy Charlotte benar tak sebaik yang Ia kira, dan berniat menghancurkan kehidupan Suaminya yang berarti juga adalah kehidupannya?
"Apa yang sedang kamu lakukan sweetie? kelihatannya seru sekali!" Suara Nyonya Charlotte tiba-tiba muncul dan seketika mencuri Atensi Lily yang kemudian menatapnya dengan waspada.
'sebenarnya apa yang Anda sembunyikan, Nyonya?'
Bathin Lily bertanya dengan riak kesedihan yang kentara di mata sayunya.
Bersambung