My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Aku Bahkan Tidak Yakin Bayi Itu Milikku



David mengendarai Ferrari 488 Gtb miliknya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit Queen Elizabeth tempat Alice di rawat.


Berita kecelakaan Alice yang baru saja ia dapatkan dari Ibunya, Charlotte, membuat otaknya kosong seketika.


Ketakutan dan Kekhawatiran menjalar ke seluruh organ tubuhnya. Gadis kecilnya, peninggalan terakhir dari kakak tercintanya, Dominic. Tidak bisa Ia jaga dengan baik. Pria itu kemudian memukul setirnya dengan keras sebagai pelampiasan.


Sesampainya di rumah sakit, David segera berlari menuju meja Resepsionis.


"Alicia Davidson Crambhell, korban kecelakaan, dimana ruangannya?"


"Baik Pak, mohon tunggu sebentar, akan kami check terlebih dahulu"


"Cepatlah" sergah David dengan panik.


Tenaga kesehatan yang bertugas sebagai resepsionis itupun mengangguk paham dan segera mengecek Pasian atas nama Alicia tersebut.


"Pasien sedang di tangani di Ruang IGD pak"


"Oke.. thanks" Jawab David singkat kemudian berjalan dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit itu.


Tak lama kemudian David melihat ibunya tengah duduk di kursi bercat putih seraya menangis.


"Mom!"


"Dave, akhirnya Kamu datang nak... Alice... Ya Tuhan"


Charlotte berdiri seketika, saat melihat Dave menghampirinya.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu Dave, kejadiannya sangat cepat. Alice saat itu sedang berlari ke arahku, tapi tiba-tiba entah darimana asalnya motor hitam itu menabrak... Oh God.... Cucuku...huhuhu"


Charlotte tersedu-sedu tak mampu menceritakan kejadian naas yang menimpa cucunya.


"Tenang Mom, Tenanglah. Alice pasti akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat"


Ucap David seraya memeluk ibunya agar Ibunya tenang. Namun, diam-diam wanita itu tersenyum simpul.


#


Lily mendesah pelan, Ia dan Max tidak berhasil mengejar David. Mobil suaminya itu terlampau cepat dan jauh sehingga mereka berdua kehilangan jejak.


"Bagaimana Nyonya?"


"Oh! paman, bukankah paman bisa menghubungi Leon?"


Tanya Lily dengan penuh harap.


"Anda benar Nyonya. Baiklah saya akan mencoba menghubungi beliau"


"Hmn, Terima kasih"


Max pun meraih ponselnya kemudian mencari kontak Leon disana, tak lama kemudian panggilannya sudah terhubung.


"Halo Tuan Leon. Saya dan Nyonya Davidson tersesat. Kami berniat menyusul Tuan Dave ke Rumah sakit, tapi kami kehilangan jejak"


"......"


"Baiklah, saya akan menunggu"


"....."


"Baik, Tuan. terima kasih"


Panggilan telepon pun berakhir. Max lalu tersenyum kearah Lily dan berucap.


" Tuan Leon akan mengirimkan lokasi rumah sakitnya Nyonya, kita tunggu sebentar lagi"


"Syukurlah, terima kasih paman Max"


"Sama-sama " Ucap Pria itu kemudian tersenyum tulus.


#


#


"Kamu cukup Gila sayang, mencelakai cucu kita sendiri. Tapi aku akui kamu sangat cerdik"


"Tentu saja, Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan kedua orang itu"


"Hahaha, kau memang mengerikan..tapi aku suka.


Baiklah, kabari aku terus tentang kondisi Alice"


"Baiklah Sweetie"


Charlotte pun mematikan panggilannya. wanita itu melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapannya. Kemudian melenggang dengan santai kembali ke ruang dimana Alice sedang mendapatkan penanganan.


Disana Dilihatnya David sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah. sesekali pria itu menjambak rambutnya karena frustasi.


Masalah datang bertubi-tubi tanpa ampun menimpanya. Istrinya yang berkhianat, dan sekarang Alice kecelakaan. David benar-benar dalam keadaan putus asa. Kenapa Tuhan memberikan masalah seberat ini, batin David berkeluh kesah.


Tak lama kemudian pintu Ruangan Alice terbuka, Seorang dokter diikuti oleh perawat keluat secara bersamaan dari dalam ruangan.


David dan Charlotte dengan segera menghampiri dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan cucu saya?"


Ucap Charlotte mengawali.


"Pasien mengalami luka yang cukup parah di bagian kepalanya. Kami harus segera melakukan operasi, Nyonya"


Charlotte menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Wanita itu melancarkan aksi menangisnya dengan dramatis. Sementara David membeku di tempatnya, Kakinya seperti menjadi agar-agar. Lemas.


"Mohon segera isi persetujuan untuk tindakan operasi, agar kami bisa segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien"


Lanjut sang dokter kemudian.


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Charlotte agar mengikuti langkahnya.


Charlotte pun mengganggam lengan David seolah ingin memberikan pria itu semangat. padahal semua ini adalah hasil perbuatannya. Kemudian berlalu mengikuti sang dokter meninggalkan David yang kini memandangi Alicia yang terbaring lemah dari balik kaca.


Hatinya pedih melihat wajah kecil yang biasanya sangat ceria kini pucat dan penuh luka.


beberapa saat kemudian...


Charlotte baru saja kembali dari mengisi formulir persetujuan tindakan operasi. Tak lama kemudian beberapa perawat laki-laki dan perempuan datang dan dengan sigap membawa Alicia ke ruang operasi.


David dan Charlotte saling bergandengan mendampingi Alice hingga sampai di depan pintu operasi. Keduanya tidak diperbolehkan masuk dan harus menunggu diluar sampai Operasinya lancar.


David pun duduk dengan gelisah. Bibirnya tak henti merapalkan do'a dan harapan agar Alice bisa Melawati semua ini dan segera pulih kembali..


Atensi Pria itu tercuri saat mendengar beberapa langkah kaki mendekat ke arah mereka. David geram seketika saat melihat siapa yang datang.


Lily!


David melihat Lily menghampiri nya dengan sedikit pincang, Pria itupun melirik ke arah kaki wanita itu yang kini di perban. Namun, emosi seolah sudah menutupi seluruh perasaannya. Lelaki itu sama sekali tidak merasa iba, malah kebenciannya semakin membumbung tinggi saat melihat wajah sembab Lily.


'Benar-benar Acting yang ciamik' batin David mengejek.


"Biy... bagaimana keadaan Alice?"


Lily bertanya dengan hati-hati. Namun pria di hadapannya itu seolah tak mendengar suaranya. David tetap diam seakan tak ada Lily disana.


"Biy..."


"Enyahlah! untuk apa kau kesini!"


"Aku mengkhawatirkan Alice Biy"


"Cih! berhentilah berpura-pura. Kau sungguh memuakkan. Dan sekali lagi jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan itu"


Lagi, kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut David membuat hati Lily seperti diremas dengan kuat. sakit sekali rasanya.


"Dave... Jangan seperti itu nak, apa yang kau lakukan pada istrimu?"


Ucap Charlotte dengan wajah pura-pura sedih.


"Kau lihat, wanita yang kau sebut jahat ini malah melindungimu, apa Kau tidak malu padanya?


Lily melirik Nyonya Charlotte yang diam-diam tersenyum mengejek kearahnya.


"Aku tidak malu karena aku berada dalam kebenaran Biy, Wanita ini memang jahat, Auuhh"


David tiba-tiba mencengangkan dagu Lily dengan kuat seolah-olah ingin meremukkannya.


"Kau benar-benar bermulut jahat. bukan ibuku yang jahat tapi Kau! perempuan rendahan yang juga bermoral rendah"


"Dave! apa yang kau lakukan. lepaskan nak!"


Lagi-lagi Charlotte melancarkan aksi 'sok suci' nya.


Namun Dave seolah tak mendengarnya. Pria itu masih setia mencengkeram erat Lily hingga istrinya itu meringis kesakitan.


"Bagaimanapun, dia sedang mengandung anakmu nak"


Mendengar ucapan terakhir Charlotte, Dave perlahan melepaskan cengkraman tangannya. Pria itu berbalik kemudian memunggungi Lily.


"Aku bahkan tidak yakin bayi itu milikku, wanita rendahan seperti dia bisa saja melemparkan tubuhnya pada lelaki manapun"


Ucap Dave dengan suara bergetar. Tidak ada yang tahu sesakit apa hatinya saat mengatakan kalimat kejam itu. Namun di pikirannya saat ini, Lily telah bermain api dengan James. Menghianati cintanya.


Sementara Lily terperangah, menatap tak percaya pada pria yang berstatus Suaminya itu. Pria yang mengenalkan arti cinta padanya untuk pertama kalinya, pria yang berjanji untuk melindunginya, pria yang berjanji akan selalu bersamanya hingga maut memisahkan.


Bulir bening yang sedari tadi membasahi wajahnya semakin deras mengalir, hatinya remuk redam mendengar kalimat keji itu.


Bagaimana bisa, David meragukan darah dagingnya sendiri?


"Ternyata... hanya sebesar itu perasaan Anda, Tuan David. Hahaha"


Lily tertawa pedih di atas lukanya yang menganga, kemudian melanjutkan,


"Dimatamu aku serendah itu? hanya karena sebuah foto kamu menilaiku sehina itu?"


Lily berjalan ke arah David, kemudian meraih kasar lengan suaminya itu untuk kembali menghadapnya, menatap matanya.


"Aku berfikir saat memutuskan untuk mengatakan kebenarannya padamu kamu akan mempercayaiku karena Aku begitu yakin bahwa kamu mencintaiku sebesar Aku mencintaimu. Ternyata Aku salah"


Lily tersenyum getir, menertawakan kepercayaan dirinya selama ini. Dan dirinya keliru. Pria dihadapannya ini tak sedalam itu mencintainya.


"Saya mohon maaf Tuan David yang terhormat, karena anda harus menikahi wanita rendahan seperti saya. Tapi, tidak seharusnya Anda meragukan darah daging Anda sendiri"


Lily menghapus air matanya dengan kasar.


"Tapi Anda tidak perlu khawatir pak. Karena mulai saat ini Anda memang bukan lagi Ayahnya"


Ucap Lily telak membuat David yang tadinya membuang muka kembali menatap Wajah cantik penuh air mata dihadapannya.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku. Anda boleh menghina saya tapi tidak dengan anak Saya"


Lily berkata dengan mata yang berapi. Dengan berani menatap tajam netra sebiru lautan milik pria di hadapannya itu.


"Saat kebenaran itu terungkap, jangan pernah menyesalinya Tuan Dave, karena apa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali"


Lily menangis untuk terakhir kalinya. Wanita itu kemudian berbalik meninggalkan Pria yang begitu banyak memberi cinta sekaligus luka di hatinya.


Lily terus berjalan tanpa menoleh kembali ke belakang, meninggalkan David yang menatap nanar punggung ringkihnya hingga menghilang dari pandangan matanya.


#


"Semuanya sudah beres Nyonya, Aku sudah menyelesaikannya dengan sempurna. Aku yakin mobil ini akan langsung membawa Menantu Anda menuju ke surga, haha. haha. hahhahahaha"


Bersambung