
Markas Rose black
Seperti biasanya mereka melakukan latihan untuk memperkuat ilmu bela diri karena musuh masih berkeliaran dan kapan pun bisa menyerang jika tidak memperkuat fisik.
Vella mengawasi mereka latihan setiap gerak gerik mereka dia perhatikan, jika ada salah maka di perbaiki.
Terdengar suara mobil masuk penjaga berlarian menuju Vella dan memberitahu sesuatu.
" Nona sepertinya ada sesuatu" kata penjaga, Sendi yang berdiri di samping Vella bertanya.
" Apa yang terjadi? apa ada musuh yang datang" kata Sendi.
" Tidak bos itu nona Sandra pulanng di antar oleh tuan Rendi tapi keadaan nona Sandra agak aneh" kata penjaga.
" Ayo kak Vella takut jika Sandra sudah bertemu dengannya " kata Vella. " Apa maksud nona? " Sendi.
" Kakak pasti ingat ketika aku pertama kali datang ke negara ini dan waktu itu aku dan bibi berbelanja. Kita melihat anak kecil di seret" kata Sandra menatap Sendi.
" Maksud nona Sandra sudah tahu bahkan bertemu dengan orang yang ingin menjualnya, bukannya kita sudah melaporkan ke polisi astaga nona" Sendi menatap Vella, Vella menanggukan kepalanya kalau fikiran Sendi benar.
Kemudian mereka menemui Sandra yang ditemani Roger.
" Sandra" panggil Vella, Sandra langsung memeluk Vella, mengeluarkan emosinya.
" Vella aku melihatnya dia ada di sini" kata Sandra dengan gemetaran, Vella menenangkan sahabatnya.
" Sandra, mereka takkan menanggumu lagi" Vella melepas pelukannya mengusap rambut Sandra. Sandra mengajaknya masuk dan duduk di ruang tengah.
" Bibi tolong ambilkan minuman" kata Vella, Bibi menanggukan kepalanya Rendi tak mengeluarkan suaranya karena dia tak paham dengan keadaan saat ini.
" Vella jika dia menemukan tempat ini bagaimana?, jika dia menangkapku aku tak mau kembali ke sana" kata Sandra memegang kepalanya sambil menggelengkan kepalanya.
Vella memegang pundak Sandra dan menatapnya tajam. " Ingat kataku ini tak ada yang akan membawamu dari sini baik dia ataupun lainnya" kata Vella
Bibi datang membawa minuman Vella membantu Sandra meminum airnya, setelah minum Vella membawa Sandra ke kamar agar bisa istirahat. Setelah memastikan Sandra tidur Vella kembali menemui Rendi.
" Kak terima kasih telah membawa Sandra kesini, maaf kak sebenarnya apa yang terjadi? " Vella yang ingin cerita sebenarnya.
Rendi menceritakan apa yang terjadi di taman dekat dia bertemu klien sampai keadaan Sandra.
" Tak ku percaya dia bisa menengal Sandra" kata Vella . " Maaf nona jika saya boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Sandra tak seperti biasanya, dia sangat ketakutan dan pria itu berkata gadis kecil kita pasti bertemu lagi" kata Rendi, menatap Vella meminta penjelasan.
Vella menahan emosinya menggengam erat kursi yang dia duduki. " Beraninya dia berkata seperti itu setelah melakukan hal itu pada Sandra, kak yakin ingin tahu ceritanya bagaimana Sandra bisa ketakutan" kata Vella.
" Ya nona sepertinya anda sudah mengetahui perasaan saya padanya, saya akan melindunginya" kata Rendi.
Vella tersenyum tipis. " Baiklah kak kejadian itu ketika Sandra masih berusia sekitar 10 tahun orangtuanya sudah meninggal dan Sandra tinggal di jalanan. Ada sekumpulan preman menjadikan anak pengemis termasuk Sandra. "
Saat itu Sandra tidak mau mengemis dan ketua preman itu memukulinya bahkan ingin menjualnya dijadikan budak. Aku dan lainnya yang menyelamatkannya dari mereka juga melaporkan pada polisi, sepertinya kak lihat mereka sudah bebas" kata Vella.
Rendi menahan emosinya dia sangat marah mendengar cerita Vella, wajar gadis nakalnya ketakutan.