Lady Vella

Lady Vella
Hari Kelulusan



Hari ini adalah kelulusan untuk Tirta dan Rendi mereka mengambil jurusan yang sama dan sama- sama hanya dalam waktu tiga tahun menyelesaikan pendidikan. Karena tuan Hartawan sudah meminta agar Tirta meneruskan perusahaan keluarganya.


Tirta dan kedua orangtua sudah sampai di tempat acara sedangkan Rendi juga sudah datang bersama orangtua Tirta. Rendi sudah dianggap oleh putra sendiri oleh orangtua Tirta.


Rektor dan Dosen sudah memasuki ruangan dan memanggil nama Mahasiswa yang lulus tahun ini, Tirta dan Rendi menjadi mahasiswa terbaik tahun ini.


Untuk merayakan kelulusan mereka pergi ke restoran untuk makan siang bersama.


Di Sekolah Vella terlihat masih sedih karena kehilangan kalung pemberian dari mommynya.


" Vella, kamu masih memikirkannya apa perlu kita mencari kalung yang sama" kata Sandra.


" Itu takkan sama Sandra karena itu desain mommy sendiri" kata Vella, menatap ke arah jendela. Sandra menghela nafasnya dia harus melakukan sesuatu agar Vella tidak sedih.


Sandra tersenyum bahagia setelah mendengar bel berbunyi sebagai tanda pelajaran selesai. Dengan semangatnya Sandra menarik Vella ke parkiran. Roger yang menjemput mereka segera menghampiri mereka.


" Sandra ada apa?" Roger. " Kak ayo antar kami ke restoran ujung sana, karena sahabatku ini masih sedih mungkin dengan makan di luar sedihnya akan berkurang.


Bibi dan lainnya sudah mengetahui Vella kehilangan kalung pemberian mommynya dan sejak itu dia terus sedih. Roger menanggukan kepalanya dan menjalankan mobilnya ke restoran.


Dalam Restoran XXX. Restoran yang menyajikan makanan seafood disanalah tujuan Tirta dan keluarganya untuk merayakan kelulusan putranya.


" Tirta, Daddy sudah menunggu hari ini kapan kalian akan memulai bekerja di perusahaan" kata Daddy.


" Daddy, Mommy. Kami sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kami ke Amerika" kata Tirta. " Kapan kalian akan berangkatnya?" Daddy. menghela nafasnya dia harus bersabar menunggunya.


" Kami akan berangkat seminggu lagi" putus Tirta. Kedua orangtuanya hanya bisa pasrah.


Tanpa mereka sadari Vella dan lainnya masuk kedalam restoran, banyak pengunjung bertanya siapakah mereka. Gadis kecil begitu dikawal oleh banyaknya orang.


Pembicaraan tersebut sampai ke telinga Tirta dan lainnya, karena mereka duduk tidak jauh dari pintu masuk.


" Daddy lihat gadis kecil itu cantik walau wajahnya terlihat dingin" kata Nyonya Mayang. " Tidak hanya cantik momm, tapi dia juga menunjukan aura pimpinan lihat saja dia di kawal oleh begitu banyaknya penjag" kata Tuan Hartawan.


" Vella" teriak Sandra begitu keras sehingga semua mata tertuju padanya. " Aku pergi ke toiler sebentar tapi kau malah meninggalkanku sendiri, mereka malah hanya mengikutimu nanti kamu kehilangan diriku bagaimana" kata Sandra, sambil menaikan alisnya.


Tirta terkejut dan tersenyum melihat Vella berada di sebelahnya, orangtuanya memperhatikan gerak gerik putranya. " Apakah gadis itu yang dimaksud oleh putranya, tapi dia masih kecil untuk putranya" bisik Orangtuanya.


Tirta menuju dimana Vella berada tidak ada yang berani menghentikannya. orangtua dan Rendi hanya menatap dari jauh.


" Kita bertemu lagi" kata Tirta, pada Vella. Roger segera meminta temannya untuk mendekati Vella.


" Maaf tuan anda siapa nona kami sedang menikmati makanannya" kata Roger. Dia sangat menengal orang di depannya adalah putra keluarga Alfatih.


" Saya hanya ingin bicara dengannya" tunjuk Tirta pada Vella. Sandra membisikan sesuatu pada Vella. " Vella bukankah itu kakak yang kemaren apa mungkin kalungmu ada bersama" bisik Sandra.


Seketika Vella menghentikan makanannya dan melihat Tirta tersenyum padanya.


" Kakak yang mengambil kalungku waktu itu" kata Vella, mengangkat tangannya agar Roger membeli jalan untuk Tirta.Sandra hanya santai dan melanjutkan makanannya.


" Ternyata kau hanya mengingatku karena ini" kata Tirta menunjukan kalung Vella di dalam saku bajunya. Vella merentangkan tangannya agar Tirta memberikan kembali kalungnya.


Tapi Tirta malah melepaskan kalung miliknya dari lehernya, kalung itu adalah pemberian dari kakeknya juga kesayangannya.



Vella menatap sebuah kalung di tangannya dan menatap tajam pada Tirta.


" Ini untukmu aku memberikannya untukmu kalung ini adalah pemberian dari Alm kakekku. Dan untuk kalungmu ini biar aku yang menyimpannya, nanti setelah kita kembali bertemu lagi akan ku kembalikan padamu" kata Tirta.


" Maksud kakak apa?" Sandra yang sudah berada disamping Vella. Tirta tiba- tiba saja memakaikan kalungnya pada Vella dan mencium keningnya.


Membuat mereka terkejut tak hanya Sandra tapi juga lainnya. " Tuan apa yang kau lakukan, Ha" kata Roger mencekam jasnya Tirta.


" maafkan putra kami karena telah tidak sopan pada gadis kecil ini" kata Nyonya Hartawan , mengusul Tirta. tapi Tirta hanya diam


" Kak lepaskan tanganmu" kata Vella. " Baik nona" seru Roger dengan terpaksa dia melepaskan tangannya.


Vella menyentuh keningnya dia teringat kalau mommynya sering menciumnya ketika akan tidur malam.