
Tirta Alfahri dan Hartawan Alfahri menuju perusahaan untuk memperkenalkan Tirta sebagai pimpinan baru, Rendi juga ikut bersama mereka karena Tirta menjadikan Rendi sebagai asistennya.
Mobil yang membawa mereka sudah sampai di perusahaan Alfahri Group, supir yabg melihat mobil CEOnya segera membukakan pintu.
Ternyata mereka sudah di tunggu oleh para petinggi perusahaan dan karyawan Alfahri Group. Semua karyawan menatap kagum dengan sosok yang berada di samping CEO mereka.
Sekarang Tirta dan tuan hartawan sudah betdiri dengan gagahnya di hadapan karyawannya.
" Assalamualaikum " ucap tuan hartawan. " Wassalam" seru karyawan.
" Sepertinya kalian sudah tahu siapa yang di sampingku ini memang dia pernah mengurus perusahaan ini tujuh tahun yang lalu, dan setelah dia menyelesaikan pendidikannya sekarang jabatan CEO yang aku urus sementara dia menunaikan pendidikannya di kembalikan padanya" kata tuan Hartawan Alfahri.
" Dia adalah putraku Tirta Alfahri yang akan menjadi pimpinan kalian selanjutnya, semoga kalian tetap bekerja dengan sebaiknya seperti masa saya yang menjabat sebagau pemimpin kalian" lanjutnya.
" Baik tuan, selamat datang tuan Tirta" sambut karyawan. " Baiklah selanjutnya aku serahkan pada putraku" kata tuan Hartawan. Meminta putranya untuk mebyampaikan satu pepatah.
Tirta menatap tajam ke arah karyawannya membuat mereka ketakutan karena tidak menyangka bahwa pemimpin baru mereka dingin.
" Saya harap kita dapat bekerja sama dalam mengembangkan perusahaan ini" kata Tirta, dengan dinginnya. " Baik tuan" seru karyawan.
Setelah pengenalan mereka kembali dengan pekerjaan masing-masing dan tuan Hartawan mengajak putranya ke ruangan pribadinya.
Tuan Hartawan dan Tirta sudah sampai di lantai lima belas dimana ruangan CEO dan sekretaris berada sedangkan Rendi ikut di belakang mereka.
" Selamat datang tuan" kata Dyah, sekretaris tuan Hartawan. " Pagi Dyah, yolong kamu siapkan minuman dan setelah itu temuiku di dalam" kata tuan Hartawan.
" Baik tuan" kata Dyah, menghubungi ob untuk menyiapkan minuman. Kemudian tuan Hartawan dan Tirta masuk ke ruangannya.
Tok, tok, tok.
" Dyah, kamu sudah mengetahuinya bahwa putraku Tirta yang akan menggantikanku, kalau untuk posisimu bisa dibicarakan bersama. "kata tuan Hartawan.
" Daddy menurutku untuk posisi sekretaris tidak perlu diganti apalagi aku memiliki Rendi sebagai asistenku" kata Tirta.
" Baiklah kalau begitu menurutmu daddy akan menyetujuinya" kata tuan. " Terima kasih tuan karena telah mempercayakan posisi sekretaris pada saya lagi" kata Dyah.
" karena saya sudah sering mendengar kinerjamu dari daddy jadi kanu tetap menjadi sekretaris ke depannya" kata Tirta. Dyah merasa senang karena CEO baru masih percaya padanya untuk posisi sekreraris.
" Baiklah ayo kita ke restoran waktu makan siang sudah masuk, Dyah tolong kamu urus urusan kantor selama saya keluar" kata Tirta.
" Baik tuan" kata Dyah. Tuan Hartawan dan lainnya menuju ke restoran untuk makan siang. Para karyawan menatap Tirta penuh dengan kekaguman sedangkan Tirta terus berjalan tanpa menatap mereka.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit mobil yang membawa Tirta dan lainnya sudah sampai di restoran. Rebdi membuka pibtu untuk tuan besar dan tuan mudanya.
Ketika mereka akan masuk Rendi tak sengaja bertabrakan dengan seorang yang akan keluar dari restoran
Brak.
" Aduh, siapa sih jalan tidak melihat ke depan" kata Sandra dengan kesalnya. Tirta dan tuan Hartawan membalikan badannya mengerut keningnya melihst seorang gadis jatuh.
" Nona saya minta maaf" kata Rendi. " Aduh tadi di sekolah juga jatuh dan sekarang " kata Sandra, dengan kesalnya.
Tuan Hartawan tersenyum karena dia menengal gadis tersebut dan sepertinya dia juga berada di sini.
.