
Tirta Alfahri sudah menyelesaikan pendidikannya selama tujuh tahun dan masalah yang terjadi di cabang perusahaannya di Amerika juga sudah selesai.
Setelah permasalahanbyang terjadi dalam perusahaannya selesai Tirta segera meminta Rendi agar memesan tiket malam harinya, dia tidak sabar untuk kembali ke London menemui orangtuanya dan gadis kecilnya.
Mereka sudah berada di bandara menunggu panggilan taklama terdengar panggilan bahwa pesawat menuju London sudah mau berangkat.
" Tuan mari pesawatnya sudah mau berangkat" kata Rendi, memanggil Tirta yang sedang membaca email.
Tirta berdiri merapikan pakaiannya banyak sepasang mata yang menatap mereka bedua karena ketampanan dan tatapan mereka yang dingin, membuat mereka kharisma tersendiri.
" Gadis kecil aku kembali" guman Tirta, sambil memejamkan matanya di kursi dalam pesawat. Rendi juga memejamkan matanya karena rasa kelelahan yang dia rasakan karena baru saja menyelesaikan masalah dalam perusahaan,malamnya Tirta langsung memintanya memesan tiket.
Di mansion milik Vella.
Vella sedang berada dalam kamar dia sedang memeriksa email yang kirim oleh sekretarisnya di VA Group.
" Syukurlah tidak ada masalah dalam laporan ini" kata Vella. " Ada apa ini" kata Vella, merasakan jantungnya berdetak sangat kencang.
Vella menutup emailnya kemudian berdiri sambil beejalan menuju jendela menatap langit.
" Kenapa nama dia terlintas dalam fikiranku sudah tujuh tahun berlalu, apakah dia sudah melupakanku bahkan tante dan om tidak mengatakan kapan dia akan kembali" ucap Vella, memegang kalung milik Tirta yang ada padanya.
Tirta sudah sampai di London setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam pesawatnya sudah mendarat di bandara internasional London, Tirta dan Rendi turun dari pesawat menuju lobi karena orang untuk menjemput mereka sudah sampai.
" Rendi, kamu sudah beritahu orang rumah bahwa kita hari ini sampai" kata Tirta. " Belum tuan, apa tuan ingin saya beritahu mereka" kata Rendi, ketika akanmenghubungi orangtuanya Tirta melarangnya.
" Sudah tuan, itu dia" kata Rendi, menunjuk seorang dengan papan namanya. Akhirnya mereka menuju ke kediaman keluarga Alfahri.
Tengah perjalanan Tirta melihat seirang siswa yang madih berpakaian sekolah berkelahi dengan sekelompok orang.
" Dia seorang gadis yang hebat" kata Tirta, mengingat Vella yang juga pandai berkelahi. " Ada apa tuan, anda mengatakan sesuatu" kata Rendi.
" Tidak hanya sekelompok orang yang menanggu seorang siswa " kata Tirta. " Tuan muda disini memang sering terjadi seperti tuan lihat, apalagi disini sangat dekat dengan Internasional school banyak siswa disana menjadi sasaran para penjahat" kata supir.
Ternyata yang dilihat oleh Tirta adalah Vella, saat Vella berjalan sendiri ketika akan membeli kebutuhan sekolahnya dia dihadang oleh para penjahat yang ingin merampoknya.
Sedangkan Sandra berada dalam kelasnya karena Vella melarangnya menemaninya keluar.
" Vella, apa yang terjadi? " Sandra, melihat pakaian Vella yang sudah kotor. " Biasalah jalan ujung sana ada perampokan" kata Vella, membersihkan pakaiannya.
" Ayo kita ke toilet membersihkan pakaianmu sebentar lagi guru akan masuk, kamu sudah membelinya" kata Sandra, mereka menuju toilet.
" Sudah semuanya sudah lengkap" kata Vella, menunjukan beberapa bahan yang mereka gunakan untuk pelajaran praktek.
" Vella apa yang kamu fikirkan? " Sandra, setelah mereka kembali dari toilet. Vella hanya menggelengkan kepalanya.
" Apa aku salah lihat tadi, apakah itu benar dia" kata Vella, ketika dia melawan para penjahat dia sempat melihat selintas sebuah mobil, dengan orang yang mirip dengan Tirta seorang yang telah mengisi hatinya selama tujuh tahun terakhir ini.
Tak lama guru untuk pelajaran praktek masuk dan mereka memulai pembelajaranya.