Lady Vella

Lady Vella
Amerika



Di sebelah dunia tepatnya Amerika dengan suasana yang panas banyak kendaraan yang berjalan menuju tempat di tuju.


Salah satu cabang Perusahaan Alfahri Group mengalami masalah yang harus di tangani secara langsung, maka tuan Hartawan meminta putranya mengurusnya saat dia baru menyelesaikan pendidikannya.


Cabang Perusahaan Alfahri Group di Amerika.


Tirta Alfahri yang baru saja menyelesaikan pendidikanya , atas permintaan daddynya agar mengurus masalah yang terjadi.


Tirta berdiri di jendela sambil melihat jalanan banyaknya kendaraan yang berjalan.Tirta menghela nafasnya dengan beratnya.


" Maaf telah membuatmu menunggu waktu yang lama, gadis kecilku" kata Tirta, memegang kalung Vella.


Selama melanjutkan pendidikannya Tirta tidak pernah menatap bahkan memiliki teman seorang wanita meski banyak yang menangguminya, karena Vella sudah berhasil menguadai hati dan fikirannya.


Rendi membuka pintu sambil menghela nafasnya dengan berat dia sudah menduganya bahwa Tirta akan melamun pada jam seperti ini.


" Dia selalu seperti ini selama tujuh tahun, gadis itu sudah memasuki hatinya begitu dalam semoga saja masalah ini cepat selesai" kata Rendi melihat foto Vella kecil terpanjang di dinding ruangan Tirta.


" Tuan ini daftar nama para direksi yang melakukan kecurangan dalam proyek pembangunan jalan di kota xxx" kata Rendi.


"Kamu sudah menchecknya dengan benar jangan ada kesalahan seperti bulan lalu, aku tak ingin disini lebih lama lagi. Seakan dia memanggilku" kata Tirta, tanpa menatap Rendi.


" Sudah tuan saya sudah berulang kali meneriksanya dan menyelidikinya, kita pasti dapat menyelesaikannya" kata Rendi.


" Itu bagus ayo kita bekerja" kata Tirta. Rendi menghela nafasnya karena Tirta belum makan sejak pagi.


" Tuan sebaiknya makan dulu saya sudah membawa makanan untuk anda" kata Rendi, mencoba membujuk Tirta.


Tirta menatap Rendi yang tersenyum dan menunjukan makanannya. " Baiklah ayo kita makan" kata Tirta.


Rendi segera menghubungi ob untuk membawakan piring. Tirta dan Rendi menikmati makanannya. " Uh makanan dirumah lebih enak" kata Tirta, merindukan masakan mommynya.


Rendra tersenyum, setelah itu mereka melanjutkan pekerjaannya.


" Masuk kata Dion. Masuklah sekretaris Tirta. " Tuan, nona Veronica datang" kata sekretaris, tapi Veronica langsung saja masuk ke dalam sebelum di suruh masuk.


Rendi menatapnya dengan malas sudah beberapa tahun ini Veronica selalu mendekati Tirta, Veronica adalah teman kuliah Tirta melanjutkan pendidikannya.


Veronica selalu mendekati Tirta walau dia sering menolaknya dan mengatakan bahwa dia sudah memiliki wanita dicintainya, tapi Veronica tidak mempercayainya karena Tirta tidak pernah memperlihatkan foto Vella.


" Halo Tirta sudah lama kita tak berjumpa, ayo kita makan siang bersama" kata Veronica, dengan centilnya. Tirta tak menanggapinya larena sudah terbiasa dengan ini.


" Kami sudah makan sebaiknya anda keluar karena kami banyak pekerjaan" kata Rendi, dengan ketusnya, tapi Veronica tidak peduli tetap mendekati Tirta.


Tiba- tiba mata Veronica menatap foto Vella kecil yang di letakan di atas meja. " Wah manis sekali dia ini pasti adikmu Tirta" kata Veronika, mengambil foto Vella.


Rendi menjadi tegang karena Tirta melihat sangat marah karena tidak ada yang berani menyentuh foto Vella meski ob yang membersihkan ruangannya tidak akan berani.


" Veronica letakan foto itu pada tempatnya" kata Rendi. " Ini bukan adikmu Ren kenapa kamu ysng mara" Veronica. Rendi menghela nafasnya.


" Veronica letakan foto itu" kata Tirta, dengan dingin. " Tirta dia sangat lucu siapa namanya" kata Veronica, memperlihatan foto Vella ke Tirta.


Tirta sangat marah hingga dia merampas foto Vella dari tangan Veronica secara kasar, membuat Vero terkejut.


" Veronica , sudah kubilang tapi kamu tidak mendengarkannya, sekarang terimalah kemarahan Tirta" bisik Rendi, tapi tetap dapat di dengar oleh Veronica.


" Siapa kau ha beraninya menyentuhnya" kataTirta, menatap Veronica dengan tajamnya. Veronica mencoba untuk tenang.


" Aku hanya ingin melihatnya Tirta, Kenapa kamu terlihat marah Tirta jika aku hanya memegang foto itu" kata Veronica.


" Dia lebih berarti dari hidupku, sekarang keluarlah dari sini" teriak Tirta.Veronica sangat ketakutan dia keluar terburu hingga banyak karyawan bertanya karena wajah Veronica yang pucat.


" Siapa gadis itu sehingga Tirta bisa semarah begitu" Guman Veronica, memasuki mobilnya