
Prok prok prok.
" Hebat jugamu nak hingga menemukanku dalam kegelapan, apa kamu tahu keberadaanku darinya" kata Isda.
" Dia bodoh sekali ketika menerima kabar darimu dia tepat dihadapanku" kata Vella.
Isda tersenyum melihat tuan Hartawab menatapnya tajam.
" Ternyata kamu ada di sini juga Har, sudah lama kita tak bertemu" kata Isda.
" Isda, apa tujuanmu mencelakai putraku bahkan bekerja sama dengan Ven Flenderhert untuk menghancurkan perusahaanku" kata tuan Hartawan.
" Ha, ha, ha. Ini semua karenamu hidupku hancur setelah kau menolakku" kata Isda menunjuk ke Hartawan.
Semenjak Isda ke luar negeri memang kehidupannya tidak baik, bahkan rumah tangganya hancur setelah mengetahui kebahagiaan dan keberhasilan tuan Hartawan dalam karir.
" Nyonya, anda lucu sekali hidupmu yang hancur bukan karena orang lain, tapi dirimu sendiri tak terima semuanya" kata Vella.
Isda emosi mendengar perkataan Vella hingga dia memerintahkan anak buahnya menyerang.
" Ayo Kak, sudah lama aku tak berlatih" kata Sandra, berlarian duluan meninggalkan Roger. " Anak ini kalian tetap disini, biar mereka urusan kami" kata Roger, membantu Sandra menyerang.
Tinggalah Isda sendirian menghadapi Vella dan lainnya.
" Hartawan, apa kamu ada kata-kata terakhir untuk putramu sebelum aku menembaknya" kata Isda, menodong pistol ke arah Tirta.
" Isda jangan sakiti putraku, urusanmu hanya denganku" tekan tuan Hartawan, memeluk mommy Mayang menangis.
Vella memperhatikan gerakan Isda, apa yang ada dalam fikirannya.
Dor
Mereka terkejut mendengar suara tembakan, orangtua Tirta dan Rendi segera memeriksa Tirta.
" Sayang, tuan" kata orangtua Tirta dan Rendi khawatir dengan Tirta, tapi tak ada luka maupun darah.
" Vella" teriak Tirta, melihat Vella batuk mengeluarkan darah dan melindunginya dari tembakan yang di arahkan padanya.
" Kalian hentikan kak Tirta, jika kak Tirta melangkah satu lagi kalian takkan ku ampuni" kata Vella, ugh ugh.
" Baik nona, tuan kami harap diamlah. Nona pasti baik saja" kata salah satu anak buahnya. " Baik kata kalian, hiks hiks. Sayang " teriak Tirta, memeluk mommynya.
" Kenapa kau selalu beruntung Hartawan, dia sangat mencintaimu putramu hingga nyawanya pertaruhkan. Baiklah untuk sekarang kalian akan ku biarkan kalian hidup" kata Isda.
" Kau mau kemana?" teriak Vella, mengeluarkan senjatanya. " Kita akan bertemu lagi senang menghadapimu" kata Isda, menaiki helikopternya dan diikuti oleh anak buahnya.
Vella mulai kehilangan kesadarannya hingga dia jatuh tak sadarkan diri.
" Vella, nona" teriak mereka
" Minggir" teriak Tirta, anak buah Vella melepaskannya membiarkan Tirta ke nona mereka. Tirta mengangkat kepala Vella ke pahanya.
Dengan tangan yang gemetaran Tirta memegang pipi Vella sambil menatapnya dengan tatapan kosong, Roger dan lainnya juga mendekatinya.
" Kakak ayo" Sandra mulai menangis. " Kalian persiapkan helikopternya sekarang kita ke markas, sekarang" kata Roger, menggendong Vella dari tangan Tirta.
" Rendi tolong dia" kata Mommy Mayang, menangis melihat keadaan putranya.
Mereka naik helikopter menuju mansion sekaligus markas Rose Black.
Mansion Vella
Mereka semuanya sedang menunggu Vella dan lainnya, Sendi sudah datang duluan sambil membawa tahanan.
" Mereka kenapa lama sekali pulangnya, bahkan Roger sudah sejam perginya" kata Bibi, mengkhawatirkan nonanya dan lainnya.
" Bi dimana tuan Keanu? " Dokter Felly, pada salah satu pelayan. " Tuan muda sudah istirahat dr" kara pelayan.
Mereka merasa lega mendengar Keanu sudah istirahat, dari tadi mereka kesulitan untuk menenangkan Keanu.
" Astagfirrah"