
Keadaan taman menjadi sedikit mencengkram bahkan taman sudah kosong, pengunjung taman yang tadinya ramai menjadi sepi.Sepertinya penjahat di hadapannya ini sudah mengaturnya hingga hanya ada mereka di taman itulah yang di pikirkan Vella.
" Cepat katakan apa tujuan kalian menyerang kami" kata Tirta dengan dinginnya. Para penjahat itu tertawa melihat Tirta yang sudah marah.
" Kami ingin perusahaan anda mundur dalam proyek di pulau A" tekan si bos. Tirta memikirkannya memang saat ini perusahaannya berhasil mendaparkan proyek yang besar.
" Apa maksud kalian? " Tirta. Rendi juga mendengarnya karena tempatnya tak jauh dari Tirta karena si bos berteriak.
" Proyek pulau A tapi siapa yang berbuat seperti ini, bahkan perusahaan yang menginginkan proyek ini hanya tiga perusahaan.Apakah diantara mereka ada yang berbuat kelicikan seperti ini" guman Rendi.
" Sepertinya benar kak pasti diantara mereka tak ada yang menetima kekalahannya" kata Dandra, Rendi membenarkan pemikiran Sandra.
Di lokasi Tirta
" Sekali lagi kami minta agar anda melepaskan proyek pulau A" kata Penjahat. " Maaf itu tak bisa saya kabulkan permintaan anda, karena proyek itu sudah menjadi tanggung jawab perusahaan kami" kata Tirta.
" Baiklah jika itu tang anda inginkan, kalian serang" teriak si bos.
Penjahat menyerang Tirta dan Vellabegitu pula dengan Sandra dan Rendi, suasana taman semakin mencengkram.
Brug
Tirta mendapatkan serangan bagian perut hingga kesakitan.
" Aww" pekik Tirta, Vella membesarkan matanya. " Beraninya kau menyerangnya" Vell as memb as las pukulan si bos karena melukai Tirta.
Brak, Brug
Vella melompat dan menendang punghung si bos hingga dia tersungkur, Vella kembali menyerangnya tanpa ampun.
" Tuan tudak apa? " Rendi yang berhasil menyerang musuh. " Rendi cepat tolong Vella" kata Tirta mencoba untuk berdiri.
Ketika Rendi menolong Vella tapi dihentikan oleh Sandra, Tirta dan Rendi heran melihat Sandra terlihat santai.
Sandra tersenyum. " Kalian jangan khawatir Vella pasti bisa mengatasi mereka" kata Sandra, membuat Tirta dan Rendi heran.
" Baiklah jika kalian tidak ada yang bicara" kata Vella, kembali menyerang musuhnya.
Krak
Vella memutar lengan musuhnya hingga terdengar sangat menyakitan.
" Vella sebaiknya kita bawa mereka di tempat kita, mereka takkan ada yang nmemberitahu kita" kata Sandra, menghentikan tangan Vella ketika akan menyerang musuhnya yang sudah lemah.
Sandra segera menghubungi Roger untuk membereskannya.
" Sebaiknya kuta tunggu mereka" kata Sandra, menarik Vella. Vella hanya mengikutinya walau dia masih emosi.
" Sayang, kamu tak ada yang terluka kan? " Tirta, menyentuh bubir Vella sedikit luka. Rapi Vella hanya diam itu membuat Tirta takut kemudian dia memeluknya.
Taklama Roger, Sendi dan beberapa temanyya datang dan menghampiri mereka.
" Nona" kata Sendi memberi hormat, pada Vella. Tirta mengingat wajah Sendi sepertinya dia pernah bertemu.
" Kak bawa mereka dan kami akan ke rumah sakit dulu" kata Sandra, mewakili Vella hanya diam dalam pelukan Tirta.
Roger dan Sendi segera membawa penjahat ke markas Black Rose untuk mendapatkan keterangan.
" Apakah mereka di bawa ke kantor polisi tapi kita belum mendapatkan petunjuk siapa yang memerintahkannya " kata Rendi.
Sandra segera menutup mulut Rendi sebelum bicara lebih lagi, karena kediaman Vella bertanda bahwa dia menahan kemarahannya.
Tirta dapat merasakan tubuh Vella tegang kemudian dia memeluknya lebih erat. " Dayang tenangkan dirimu lihat aku tak apa hanya terluka sedikit" kata Tirta tersenyum.
Vella tersenyum meski terpaksa dia menatap tajam pada penjahat tang telah membuat Tirta terluka.
" Lihat saja aku akan membalasnya" guman Vella yang tidak dapat di dengar oleh yang lainnya. Kemudian mereka menuju ke rumah sakit.