
Tirta sangat bingung apa yang di katakan oleh Isda, apakah ada orang lain yang juga membenci keluarganya.
" Anda tidak merindukan seseorang yang ada padaku" Vella, menggigit jarinya.
" Hahaha untuk apa aku merindukannya, dia sangat bodoh dengan mudah dimanfaatkan olehku" kata Isda, tertawa.
" Anda sangat kejam" kata Vella dengan tenangnya Tirta dan Rendi hanya mendengarkannya.
" Tuan kenapa nona mengajaknya untuk berbicara" bisik Rendi pada Tirta, Tirta menggelengkan kepalanya khawatir dengan Vella.
" Sepertinya kita sudahi ini lihat ekspresi mereka terlihat kecewa kita hanya bicara, ayo kita mulai aku tak sabar menghabisimu gadis dan kali ini akan ku pastikan kau takkan selamat kali ini" kata Isda dengan sinisnya.
"Dan kali ini anda harus kecewa nyonya karena kali ini kamu habis di tanganku" kata Vella.
" Ingat jangan ada yang membantuku karena dia adalah targetku" kata Isda, menunjuk arah Vella. Tirta mencoba untuk melarang Vella.
" Kalian jaga kak Tirta dan kak Rendi, jangan ada ikut campur" kata Vella tanpa melihat Tirta. Semua anak buah Vella segera melindungi Tirta.
Vella dan Isda memulai pertarungan mereka satu lawan satu, pertarungan sangat sengit ternyata Isda tak dapat di remehkan.
Sendi di sisi kanan juga terjadi pertarungan karena mereka tak dapat meremehkan musuh, para sniper juga mengalami kesulitan walau penjagaannya tak ketat tapi dengan bantuan pohon ada sekitar membuat mereka kesulitan membidik sasaran.
" Nona Sandra kami membutuhkan bantuan, kami mengalami kesulitan membidik sasaran kareba banyaknya pohon sekitarnya" kata Ogi merupakan ketua sniper, tak ada mengalahkannya selain Vella tentunya.
" Kaka tolong bantu Ogi sepertinya ada juga yang membuatnya kesulitan" kata Sandra dengan candaaan.
" Benar nona walau disana tidak di jaga diketat dengan bantuan pohon sekitarnya pasti memudahkan mereka menghindar para sniper itu. Tapi nona bagaimana jika saya pergi ?" kata Roger.
" Kakak pergi saja akan ada bantuan untuk Sandra nanti" kata Vella, dengan ngosngosan. " Baik nona" kata Roger meninggalkan Sandra dan menbantu para sniper dengan membawa beberapa anak buahnya.
" Kak Rendi bawalah beberapa orang dan bantu Sandra" kata Vella, masih menyerang Isda. " Terima kasih nona" kata Rendi, sejak tadi dia mengkhawatitkan Sandra.
" Vella, kenapa harus dia" teriak Sandra. " Maaf Sandra disini sedikit kesulitan" kata Vella, mematikan sambungan earphonnya.
" Malah dimatikan aku kan masih protes, apa yang kalian liat ha, belum melihat seorang gadis marah" Sandra melawan musuhnya.
Vella dan Isda tak ada yang saling mengalah mereka terus saling serang. Tiba Isda mengeluarkan senjatanya hingga membuat pergerakan Vella terhenti.
" Sekarang kamu tak bisa apa lagi gadis karena kamu akan menerima tembakan senjaraku ini tepat di jantungmu, hahaha" Isda tertawa karena mengira dia akan menang.
" Nyonya anda sangat mengecewakan saya, kalau begini takkan seru" kata Vella. Tirta yang melihat Vella kembali ditodong oleh senjata membuatnya emosi dia berusaha melepaskan diri dari anak buahVella.
" Lepaskan aku, aku harus kesana" kata Tirta. " Maaf tuan muda lady meminta kami untuk melindungi anda, jadi kami mohon jangan banyak bergerak " kata salah satu anak buah Vella.
" Ok sebelum itu boleh saya tahu dimana orang itu disebut ketua kelelawar hitam, sebelum anda menembak saya tentu anda harus penuhi permintaan saya bukan" kata Vella dengan tenang.