
Ruang integrosasi.
Roger masih berusaha untuk mencari tshu keberadaan Isda dan kelelawar hitam.
" Hei cepat katakan dimana markas kelelawar hitam" teriak Roger, tapi tuan Ven Flenderhert hanya tersenyum seringat.
Brug
Roger menghajarnya karena tak mau memberitahunya.
" Ha, ha, ha. Sampai kapanpun aku takkkan memberitahumu, Cih" tuan Ven Flenderhert tersenyum dan menghapus darah dibibirnya.
" Kak apa perlu aku yang tangani" seru Sandra, dengan santainya bersandar pada dinding dan meletakan tangannya di dada.
Roger tersenyum dan mempersilahkan Sandra untuk bertanya pada tahanan, Sandra meminta anak buahnya memberikan senjatanya.
" Uh hari ini aku sangat lelah tapi kau membuat pekerjaanku bertambah " kata Sandra, memainkan pisau kecil di tangannya sambil tersenyum smirk.
Tuan Ven Flenderhert gemetaran ketakutan melihat Sandra mendekatinya.
" Lihat dia malah ketakutan melihat ini, hahaha" Sandra tertawa diikuti oleh anak buahnya.
" Sekarang katakan dimana lokasi mereka" teriak Sandra, mendekati wajahnya pada tuan Ven Flenderhert.
Semua berada disana terasa mengerikan melihat tatapan Sandra yang penuh kemarahan. Melihat tuan Ven Flenderhert hanya diam membuat Sandra tak bisa menahannya lagi.
Tuan Ven Flenderhert terus mundur menjauhi Sandra dan berusaha melepas ikatannya. Dia tersenyum melihat ada pecahan kaca tak jauh darinya dan berusaha untuk mendapatkannya.
" Mau kemana kau, ha jangan harap kau bisa kabur dari sini" Sandra mnatapnya curiga dengan gerakan tuan Ven Flebderhert.
" Kalian " Sebelum Sandra menyelesaikan perkataannya tuan Ven Flenderhert berhasil melepaskan diri dan menyandera Sandra.
" Ha, ha, ha. Lihat gadis kecil hanya ini kemampuanmu, kalian takkan dapat mengetahui keberadaan nyonya dan lainnya" tuan Ven Fkenderhert tertawa atas kemenangannya.
Sandra hanya tersenyum dan membiarkan tuan Ven Flendergert menyanderanya dan meminta Roger dan anak buahnya membiarkannya lewat.
Sebenarnya mereka tak perlu mengkhawatirkan Sandra tapi mengingat pecahan kaca yang semakin dekat ke leher Sandra membuat mereka sedikit khawatir, Mereka terus melewati ruangan hingga sampai di dalam rumah dimana keluarga berkumpul.
Prang
Bibi terkejut melihat Sandra yang dijadikan tawanan oleh Ven Flenderhert.
" Sandra" Bibi berteriak hingga semua orang bahkan orangtua Tirta dan Rendi yang baru saja datang tekejut dan langsung menemuinya.
" Lepaskan dia Ven Flenderhert" tekan Daddy Hartawan, mencoba untuk mendekatinya. " Stop Hartawan jika kamu bergerak sedikit saja kaca ini akan melukainya" tuan Ven Flenderhert mulai melukai Sandra hingga keluar darah.
" Aww" tekan Sandra, membuat langkah mereka berhenti. " Hahaha. Lihatlah selama kau bersamaku mereka takkan berani melukaiku" bisik tuan Ven Flenderhert.
Tapi Sandra tetap sandra sambil tersenyum. melihatnya tersenyum membuat tuan Ven Flenderhert marah.
" Apa yang kau tertawakan, ha" kata tuan Ven Flenderhert. Sandra menghela nafasnya.
" Apakah sudah cukup dengan bermainnya" dengan langkah cepat Sandra memutar tubuhnya dan menendang tuan Ven Flenderhert hingga terjatuh.
" Sekarang bagaimana tuan keadaan sudah berbalik" kata Sandra dengan santainya, membuat lainnya merasa lega.
" Jangan harap kalian merasa tenang " tuan Ven Flenderhert mencoba untuk menlukai Sandra dengan pecahan kaca yang masih di tangannya.
Ketika pecahan kaca itu melukai Sandra tangannya di pegang oleh Rendi hingga mengeluarkan darah.
" Jika kau melukainya aku takkan meleoaskanmu" kata Rendi dengan dinginnya, Sandra tersenyum.
" Sepertinya tak hanya nona Vella yang mempunyai sesorang tetapi Sandra juga memilikinya" guman Roger yang masih dapat di dengar oleh Sendi.
Sendi tersenyum dan mengamati keadaan sekitar sambil meminta anak buahnya berjaga.
Tanpa mereka sadari Keanu yang baru saja pulang sekolah dan memberi kesempatan bagi tuan Ven Flenderhert untuk menahannya.
" Keanu"