
Dalam kamar
orangtua Tirta masih takut dengan dilihatnya mereka tak menyangka bahwa Vella wanita yang dicintai putranya dapat melakukan hal ini, Rendi senantiasa menemani mereka di kamar.
Tok, tok, tok.
Rendi membuka pintu terlihat Vella bersama Tirta. " Tuan muda, nona" panggil Rendi dengan sopan. Mereka masuk ke dalam ada rasa khawatir yang di rasakan oleh Vella setelah orangtua Tirta melihatnya seperti tadi.
Dengangugup Vella mendekati mereka yang sudah dia anggap seperti orangtuanya sendiri, apalagi mereka menatapnya dengan tajam.
Tirta membiarkan Vella mendekati orangtuanya dia tahu bahwa gadisnya sedang khawatir dan mengajak Rendi keluar.
" Rendi ayo kita keluar" kata Tirta, Rendi mengerti dengan keadaan dia menanggukan kepalanya.
" Kak tunggu sebaiknya kalian mendengar apa yang kuceritakan, jika kalian marah atau tak mau menerimaku Vella terima" kata Vella, tertunduk sedih.
" Sayang apa yang kau bicarakan" kata Tirta yang terkejut mendengar perkataan Vella. Sedangkan Vella tersenyum.
Akhirnya Vella menceritakan semuanya tentang kehidupannya dan percobaaan pembunuhan yang dilakukan oleh Maya adik mommynya.
" Tante, om Vella adalah ketua dari Black Rose, jika kalian ingin" ucapan Vella terhenti oleh Mommy Mayang, dia memeluk gadis di depannya ini.
" Sayang tante dan om tidak marah hanya terkejut saja dan satu lagi kami takkan meninggalkanmu karena kamu adalah menantu kesayangan tante" kata mommy Mayang, menangis sambil memeluk Vella.
" Vella minta maaf" kata Vella, Daddy Hartawan mengelus punggung Vella bahwa semusnya bsik saja.
" Tapi yang tadi itu sangat keren sayang" puji mommy Mayang nenghapus air mata Vella. " Vella berlatih selama bertahun tante om " kata Vella, tersenyum tapi masih ada raut kesedihan diwajahnya.
Tirta yang tak sanggup melihat gadisnya menangis langsung memeluknya. " Sudah jangan menangis lagi" kata Tirta, Vella menanggukan kepalanya.
" Maaf nona boleh saya bertanya? " Rendi, menatap Vella dengan gugup. Vella nenghapus air matanya dan tersenyum.
" Sayang kenapa kamu tersenyum padanya" kata Tirta dengan kesal, Vella dan orangtua Tirta hanya menggelengkan kepalanya.
" Kakak jangan begitu, kak Rendi pasti bertanya soal Sandra" tebak Vella membuat mereka menatap Rendi. Rendi yang malu dengan pernyaraaannya hanya menanggukan kepalanya.
" Soal Sandra waktu itu kami baru saja sampai di sini dan Vella bersama bibi waktu itu pergi ke suatu tempat dan tanpa sengaja melihat Sandra di tarik oleh preman.Untuk menolongnya Vella membayar preman itu agar melepaskannya tapi soal keluarganya Sandra tak pernah bercerita sebaiknya kakak bertanya secara langsung" kata Vella.
" Aku tak menyangka bahwa gadis itu mengalami kesulitan seperti ini" guman Rendi, tapi tetap didengar oleh Vella.
Vella tersenyum dia tahu bahwa pria ini menyukai sahabatnya sejak lama tapi ketika bertemu yang terjadi hanya bertengkaran.
Tok, tok, tok.
Rendi membuka pintu terlihat Sandra di depannya sambil termenung.
" Ini orang kenapa hanya bengong apa tak melihat aku ingin masuk" kata Sandra terlihat kesal karena Rendi hanya diam di depannya.
" Kak aku ingin masuk bicara dengan Vella" kata Sandra, melambaikan tangannya.Rendi sadar dan menyindir dari pintu.
" Dasar aneh"Sandra mendekati Vella dengan wajah yang cemberut, mereka disana hanya tersenyum melihat keduanya.
" Sandra" panggil Vella melihatnya hanya diam dan menggerutu. Vella menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya.
" Sandra" panggil Vella sekali lagi sambil menggoyangkan lengannya. " Ah ya aku kesini untuk bicara denganmu" kata Sandra menepuk keningnya.
" Bicaralah" kata Vella mengetahui ini masalah penting. Sandra melihat sekitarnya kesulitan untuk bicara hal ini.