
Sudah seminggu sejak pertemuan antara Tirta dan Vella, hari ini adalah hari kepergian Tirta dan Rendi melanjutkan pendidikannya ke Amerika.
Mereka telah ada di bandara sedang menunggu panggilan.
" Tirta tidak mau memikirkannya lagi baru saja kalian lulus masa harus pergi untuk melanjutkan pendidikan, apa tidak kerja dulu baru memikirkannya untuk melanjutkan pendidikan" kata Tuan Hartawan.
" Daddy, masalah ini sudah Tirta fikirkan sebelum mengurus perusahaan, Tirta akan melanjutkan pendidikan terlebih dahulu" kata Tirta.
" Tirta setiba di Amerika harus langsung menghubungi mommy, harus jaga kesehatan jangan lupa untuk makan karena kalian berdua sering melupakannya jika sudah sibuk " kata Nyonya Mayang.
" Baik tante , Rendi akan mengingatkannya" sahut Rendi ,sedangkan Tirta hanya menanggukan kepalanya.
Tidak jauh dari sana ada Vella yang ditemani oleh Sendi, Dia tidak tahu dengan apa yang tengah ia lakukan, saat berangkat ke sekolah dia tidak kesana tapi kebandara. Vella telah memerintahkan Sendi untuk menyelidiki Tirta seminggu ini.
" Nona tidak mau menghampirinya" kata Sendi, menatap Vella yang terus menatap Tirta dari kejauhan.
" Apa Vella harus kesana, kak?" Vella menatap Sendi. Sendi tersenyum. " Jika itu membuat hati nona sebaiknya menemuinya" saran Sendi.
Vella memikirkan perkataan dari Sendi, akhirnya dia menuju ke tempat Tirta dan Sendi senantiasa mengikutinya.
" Selamat tuan, nyonya "kata Sendi.Tirta dan lainnya membalik dan terkejut melihat Vella datang bersama seorang pria di sampingnya.
" Apakah anda ada keperluan dengan saya" kata Tuan Hartawan, dengan sopan. " Mohon maaf tuan nona saya ingin bicara dengan putra anda " kata Sendi.
" Yakin hanya ingin bilang itu" kata Tirta. " Kak, aku bukan gadis kecil. Namaku Vella Afferina" kata Vella.
" Tapi bagiku kamu tetap gadis kecilku" kata Tirta, mengelus rambut Vella.
Ketika mereka asyik dengan mengobrolnya datang anak buah Vella berlarian.
" Nona, bibi menghubungi Sendi tapi tak aktif terus bibi menghubungi saya" kata anak buah Vella. Dengan gemetaran dia mengangkat panggilan.
" Halo bi apa Keanu baik saja" kata Vella dengan lirihnya. Tirta yang melihat Vella gemetaran dia langsung di sampingnya.
" Nona, apa anda bisa ke Rumah sakit sekarang tuan muda Keanu dirawat" kata bibi, menangis. Mendengar hal tersebut Vella mengepal tangannya dan memejamkan tangannya.
" Kak selamat berjumpa lagi, Kak Sendi ayo kita ke Rumah sakit" kata Vella, Pergi begitu saja dan membuat orang bingung Sendi mengikuti nonanya.
" Rendi nunda keberangkat kita beberapa jam" kata Tirta, yang terus menatap kepergian Vella. Rendi yang mengetahui bahwa Tirta mengkhawatirkan Vella mengikutinya tanpa banyak petanyaan.
" Tirta, apa yang kamu lakukan nak pesawatny akan berangkat" kata Nyonya Mayang. " Tapi Gadus kecilku membutuhkanku mom, sepertinya dia mendapatkan kabar buruk dan Keanu itu siapa aku harus mengetahuinya " kata Tirta, dan meninggalkan bandara.
Tuan Hartawan menenangkan istrinya yang kesal karena putranya. " Rendi kita ikuti anak itu, kami juga ingin melihat " kata tuan Hartawan. " Baik tuan" kata Rendi.
Mereka meninggalkan bandara dan menyusul ke rumah sakit. Nyonya Mayang hanya bisa menghela nafasnya. Tapi dia juga bertanya apakah putranya itu benar tertarik dengan gadis kecil yang berusia sepuluh tahun, apakah putranya itu menunggunya sampai usia cukup.