
Kediaman Alfahri, pelayan sibuk dengan pekerjaan masing- masing dan para penjaga juga menjaga kediaman Alfahri dengan begitu ketatnya. Karena Alfahri adalah keluarga no satu di london dan pasti banyak musuh yang mencelakai mereka.
Tirta dan Rendi menbunyikan klakson dan satpam membukakan gerbang. " Selamat datang tuan muda dan tuan Rendi" sapa satpam. Tirta hanya menanggukan kepalanya dan Rendi tersenyum.
Mereka masuk setelah dibukakan oleh kepala pelayannya. " Bibi mommy dan daddy dimana?" Tirta.
" Nyonya besar ada di kamarnya tuan muda sedang istirahat tadi katanya kepalanya pusing dan tuan besar sedang berada di perusahaan" kata Bi Ina, merupakan kepala pelayan.
Tirta rerkejut mendengarnya. " Terus mommy gimana,bi?" Tirta khawatir dan menuju ke kamar
mommynya. " Nyonya sudah minum obat tuan muda" kata Bi Una yang ikut lari.
Setelah masuk kedalam kamar dan melihat mommynya tidur dia menutup pintu . Tirta mengajak Rendi ke kamarnya tidak lupa agar bibi mengantar minuman untuk mereka.
Tirta bersandar dengan kasurnya dan mengeluarkan kalung milik Vella yang tertinggal, Rendi hanya diam dan tidak mau menanggu sahabatnya.
Di Kediaman Vella.
Vella sepulang dari mall langsung menuju kekamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Ketika dia merapikan pakaiannya setelah mandi dia terkejut melihat lehernya kosong. Kalung peninggalan mommynya hilang. seharian dia merutuk kebodohannya sehingga kalungnya hilang.
Sandra dan bibi menunggu Vella untuk makan malam tapi sudah setengah jam dia belum juga keluar.
" Bibi Vella lama sekali keluarnya sejak sepulang dari mall dia terus memurung diri dalam kamar" kata Sandra.
" Apa bibi perlu kesana nona" kata Bibi. " tidak usah bi biar Sandra melihatnya kasihan keanu dia pasti lapar" kata Sandra, tersenyum melihat Keanu.
Sandra juga mengkhawatirkan Vella segera menuju kekamar dan ketika membuka pintu keadaan kamar gelap, dia menhidupkan lampu dan terkejut melihat Vella sudah sudah terduduk di lantai sambil menangis.
" Astaga Vella apa yang terjadi denganmu" kata Sandra.Vella menangis sambil bersedukan dan mengatakan bahwa kalung pemberian mommynya hilang.
" Terus apa yang harus kita lakukan dan dimana harus mencarinya" kata Sandra. tiba- tiba saja matanya tertuju pada kalung Rubi berwarna merah peninggalan mommynya sebagai bahwa dia adalah penerus dari mommynya.
" Vella" seru Sandra. Vella menghapus air matanya dia harus ikhlas melepaskan kalung itu .
Tirta masih memejamkan matanya sambil terus menggegam kalung Vella. Sedangkan Rendi sudah pulang ketika dia sudah menemui mommy Tirta.
Tok, tok,tok
" Tuan muda, Tuan dan Nyonya besar sudah menunggu di meja makan" kata Bibi. Tirta tersentak panggilan bibi." Baik bi sebentar lagi akan turun" kata Tirta. " baik tuan muda" seru bibi.
Tuan dan nyonya Alfahri sedang menunggu putranya untuk turun.
" Bibi dimana Tirta?" nyonya Mayang. " Tuan muda sedang bersiap, nyonya besar. mereka menanggukan kepalanya.
Tak lama Tirta turun menuju ruang makan dan duduk disamping daddynya, mereka menikmati makan malam yang disiapkan oleh pelayan.
Nyonya mayang menatap putranya ada yang berbeda dari putranya itu. " mommy, mengapa melihat putra kita begitu?" Tuan Hartawan.
" Dad, coba kamu perhatikan putra kita ada yang berbeda darinya" kata Nyonya Mayang melihat Tirta disampingnya.
Tuan Hartawan melihat putranya dan maranya tertuju pada kalung di lehernya.
" Tirta kamu membeli kalung bukankah kamu tidak menyukai hal seperti ini" kata Tuan Hartawan. Tirta tersenyum dan memegang kalung itu sambil mengingat Vella kecil tersenyum padanya.
" Nak bicaralah kenapa kamu tersenyum sambil memegang kalung itu?" Nyonya Mayang. Tirta menatap mommy dan daddynya . Kemudian menceritakan pertemuan dengan Vella.
" Gadis yang hebat, apakah kamu sudah berkenalan dengannya" kata Mommy tersenyum. Tirta mengetahui bahwa mommynya tertarik dengan gadis itu.
" Mommy, Tirta hanya mengetahui namanya Vella karena temannya memanggilnya begitu, dan dia sepertinya berusia sebelas tahun" kata Tirta, tidak mau orangtuanya salah faham.
Tuan dan Nyonya tidak percaya bahwa yang menolong putranya adalah seorang Gadis baru berusia sepuluh tahun. Nyonya Mayang sangat mengenal putranya pasti gadis itu telah mencuri hati putranya itu.