
Stella menatap lampu apartemen Enzo yang masih menyala, ia masih duduk di dalam mobil sewaan nya yang ia parkir di sebrang jalan
Sial... sepertinya ia masih marah karena aku meninggalkan nya tapi aku yakin di lubuk hatinya yang paling dalam masih ada cinta untuk ku dan aku harus segera menyingkir kan wanita yang berani mengambil alih posisi ku di hatinya
Gumam Stella lalu setelah beberapa saat ia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut menuju hotel tempatnya menginap
Sebenarnya Stella sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan langsung menemui Enzo dengan kepercayaan diri nya yang besar
Tapi ternyata ia terlalu terburu-buru, apa yang ia lakukan ternyata hanya membuat ia memberikan jalan bagi Enzo untuk menumpahkan kemarahannya yang ia pendam selama bertahun-tahun
Sepanjang jalan Stella memikirkan rencana untuk merebut hati Enzo lagi dan ia pun mencari cara untuk melakukan pendekatan pada anak kandungnya demi merebut hati anak itu lalu membawanya ke hadapan orang tuanya
Stella yakin jika orang tuanya rela menukar semua harta kekayaannya demi bisa mendapatkan cucu yang belum mereka lihat sama sekali
Sementara itu semenjak kepindahan Gita, Niken dan Irwan, Pratiwi harus mencari tempat sendiri
Awalnya ia menumpang pada teman-teman nya tapi hanya sampai ia mendapatkan tempat tinggal sendiri
Pratiwi tinggal di sebuah rumah susun sederhana, karena kondisi keuangan yang morat marit membuatnya harus memperhitungkan dengan baik pengelolaan keuangannya
Perhiasan dan barang - barang nya sudah habis ia jual, ia berusaha mendatangi para klien nya tapi mereka hanya menolong alakadarnya saja
Untung nya ia berhasil menemukan orang pertama yang membeli keperawanan Mega dan menjadikannya sugar baby selama dua tahun
Pria itu membelikan Pratiwi rumah susun yang sekarang ia tempati
Pratiwi menghisap rokok nya lalu menghembuskan nya perlahan dengan mata menerawang keluar jendela
" Jadi bagaimana bos ?!" tanya seorang pria bertubuh kekar yang berdiri didekat pintu
" Kamu yakin dengan info yang kamu dapat ?!'
Pratiwi balik bertanya sambil menatap pria itu seakan ingin mengetahui jika ada kebohongan
" Yakin bos, makanya bos ikut saya nanti bos bisa lihat sendiri kehidupan anak-anak bos sekarang !"
Pria itu berusaha meyakinkan Pratiwi atas temuannya yang ia dapat belum lama ini
" Baik...kita berangkat sekarang, kalau sampai kamu bohong kamu tau sendiri akibatnya !"
Pratiwi mematikan rokok nya lalu menyambar tas yang tergeletak di atas meja
Pria tadi langsung membukakan pintu untuk Pratiwi lalu menutupnya kembali dan menguncinya
Pratiwi duduk di jok belakang mobil yang dikendarai anak buahnya yang terparkir di depan gedung sekolah
Tidak lama terlihat sebuah mobil sedan warna merah memasuki area parkiran sekolah yang berada di luar gerbang sekolah tersebut
Tidak lama kemudian terlihat Mega turun dari mobil itu dan berjalan menuju gerbang yang di jaga beberapa security
Pratiwi seketika membuka sunglasses nya yang sejak tadi bertengger di hidung mancung hasil operasi plastik nya dari hasil menjual Mega
Pratiwi membuka matanya lebar-lebar seolah tidak percaya dengan apa yang di lihat nya
" Itu si Mega ?!" ucapnya sambil menajamkan penglihatan takut jika ia salah lihat
" Memangnya bos sudah lupa wajah nya si Mega ?!" bukannya menjawab pertanyaan Pratiwi pria itu malah balik bertanya
" Dapet kakap nih kayaknya si Mega, kurang ajar tuh anak enak-enak kan sendiri ?"
Pratiwi mendelik kesal tanpa mengalihkan pandangannya dari Mega
Tidak lama Mega keluar sambil menggandeng seorang anak kecil lalu mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu
" Itu anak siapa yang dia bawa, gak mungkin anak dia kan ?!" Pratiwi bertanya pada anak buah nya tanpa mengalihkan pandangannya dari Mega yang berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng anak kecil
" Mungkin anak dari pacar barunya bos !"
" Mungkin juga !" ucap Pratiwi seolah pada berbicara pada dirinya sendiri
Tidak lama kemudian terlihat mobil Mega bergerak meninggalkan tempat tersebut
" Cepat - cepat ikuti mobil nya jangan sampai kehilangan jejak !" teriak Pratiwi menyuruh anak buahnya
" Tenang bos...saya sudah tau tempat tinggal si Mega juga tempat kerja pacar barunya !"
" Serius ? hebat juga lu !"
Pratiwi menatap anak buahnya sambil menepuk bahu pria itu yang terlihat bangga karena sudah berhasil membuat majikannya senang
" Saya kan memang hebat bos !" ujar pria itu sambil menepuk dadanya
" Jangan sombong dulu...ayo buktikan semua ucapan mu tadi !"
Lalu tanpa banyak bicara lagi pria itu melajukan mobilnya menuju tempat yang biasa Mega kunjungi setelah menjemput Arell
Pratiwi menatap gedung perkantoran itu dengan takjub
Walaupun ia tidak tau pekerjaan pacar baru Mega tapi ia yakin jika dia pria yang sudah mapan
" Heum.... akhirnya aku punya jaminan hari tua ku, aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya aset ku yang tinggal satu ini !"
Ucap Pratiwi sambil menatap gedung perkantoran itu sambil tersenyum penuh kepuasan
" Ayo antar aku ke rumahnya si Mega, pasti rumahnya besar dan bagus iya kan ?!" Pratiwi menatap anak buahnya mencari jawaban
" Heum...maaf bos sebenarnya mereka tinggal di sebuah apartemen !"
Pria itu menatap Pratiwi ketakutan
" Apartemen yang mana ?!"
Lalu pria itu menyebutkan sebuah lokasi apartemen dimana Mega tinggal
" Kamu yakin si Mega tinggal di sana ?!"
" Kamu tau tidak itu adalah salah satu apartemen yang cukup mewah, jadi benar dugaan ku pacar baru si Mega pasti orang kaya !" seru Pratiwi sambil membayangkan kehidupan mewahnya akan kembali bisa ia nikmati
Pratiwi menatap gedung apartemen yang menjulang tinggi itu dengan wajah kagum
Tadinya ia hendak mengunjungi apartemen Mega tapi ternyata untuk masuk ke dalam area apartemen itu cukup sulit
Pratiwi mengurungkan niatnya mengunjungi Mega setelah di tahan oleh pihak keamanan ketika hendak menerobos masuk
Apalagi ketika Pratiwi tidak tahu di unit mana Mega tinggal dan pihak keamanan pun tidak mengenal pemilik yang bernama Mega
Pratiwi nampak kesal kembali ke tempat mobilnya terparkir
" Kamu yakin si Mega tinggal di sini ?!" hardik Pratiwi sambil bertolak pinggang di depan anak buahnya
" Yakin bos ! sumpah !, kalau bos tidak percaya besok kita ikuti si Mega pas jemput anak tadi !"
Pria itu berusaha membela dirinya
Mendengar ucapan Pratiwi seketika anak buahnya tertawa
" Ya pasti enggak ada yang kenal lah bos, yang punya apartemen kan pacarnya bukan si Mega nya !"
Seketika Pratiwi terdiam, ia tidak berfikir ke arah sana, lalu dengan sedikit menahan malu Pratiwi pun mencoba agar dirinya tidak terlalu terlihat bodoh
" Ya harus nya mereka kenal, kan si Mega sering keluar masuk apartemen itu !"
Pria yang menjadi anak buah Pratiwi hanya mengangkat bahunya tidak menanggapi ucapan Pratiwi
" Lalu sekarang gimana bos !" setelah beberapa saat hening akhirnya pria itu berkata sambil menatap langit yang sudah gelap sejak tadi
" Antar aku pulang, aku sudah lelah, tapi besok kita harus berhasil menemui si Mega !"
Pratiwi pun beranjak dari tempatnya berdiri menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh
Pratiwi memandang keluar melalui jendela menatap kerlap kerlip lampu warna-warni yang terpasang di setiap bangunan yang dilewatinya
Pratiwi tidak sedang melamun, tapi ia sedang menyusun rencana untuk besok ketika berhadapan dengan Mega
Sementara itu di dalam apartemen nampak Enzo terlihat gugup berhadapan dengan Mega yang heran dengan sikap Enzo yang tidak biasanya
" Mega.....aku...!" Enzo seakan kesulitan untuk merangkai kata
" Kamu kenapa ?!" tanya Mega penasaran
" Mega...aku mau menunjukan sesuatu ...aku harap kamu suka !"
Mendengar ucapan Enzo membuat Mega semakin kebingungan, tapi Mega tidak berkata apa-apa, ia penasaran, apa yang akan Enzo perlihatkan padanya
Enzo meraih saku celananya lalu ia terlihat menggenggam sesuatu benda yang membuat Mega menatap tangan Enzo
Enzo terlihat gugup, ia membuka genggaman tangannya dan ternyata isinya sebuah kotak berwarna biru tua
Lalu dengan perlahan Enzo membuka bagian atas kotak tersebut dan ternyata isinya sebuah cincin
Mega menatap bergantian antara cincin dan wajah Enzo yang menatapnya dengan wajah harap-harap cemas
"I..ini..maksudnya apa ?!" Mega menunjuk cincin yang berada dalam kotak itu sambil menatap Enzo yang juga tengah menatapnya
" Mega... sebelumnya aku minta maaf jika aku membuatmu bingung tapi terus terang aku sudah merencanakan ini sejak beberapa waktu lalu, tapi baru malam ini aku memberanikan diri untuk melakukannya !"
Setelah mengatakan itu Enzo tiba-tiba turun dari sofa lalu berlutut dengan satu lutut sebagai tumpuan
" Mega...aku pria yang memiliki banyak kekurangan tapi aku akan berusaha untuk membuat mu selalu bahagia, andai kamu memiliki rasa yang sama izinkan aku untuk melamar mu, jadilah pendamping ku, ibu untuk anak-anak ku dan menua bersama ku hingga maut memisahkan !"
Mendengar ucapan Enzo seketika Mega menutup mulutnya dengan tangannya, ia tidak percaya jika Enzo melamarnya
Lalu tidak lama kemudian Mega menutup wajahnya dengan kedua tanganya dan bahunya terlihat terguncang dan terdengar isakan keluar dari mulutnya
Enzo menatap heran ke arah Mega, ia kebingungan dengan tangis Mega
Enzo memberanikan diri menarik tangan Mega yang menutupi wajahnya dan terlihat wajah Mega yang sembab oleh air mata
" Kenapa menangis, apa aku menyakitimu ?!" Enzo menatap Mega yang masih terisak
Tangis Mega semakin kencang tapi ia tidak menolak ketika Enzo menarik kedua tangannya dan membiarkan Enzo melihat tangis nya
Dengan lembut Enzo mengusap air mata di wajah Mega setelah ia menyimpan kotak cincin di atas meja
" Maaf kan aku jika kamu merasa tidak bisa menerima lamaran ku !" ucap Enzo sambil menunduk kan kepalanya
" Tidak....aku tidak marah !" jawab Mega dengan terbata karena masih berusaha meredakan tangis nya
Seketika Enzo mengangkat kepalanya menatap Mega
" Lalu kenap kamu menangis ?!" tanya Enzo sambil menggenggam kedua tangan Mega
" Aku..aku terharu !" lalu kembali tangisnya meledak
Mendengar jawaban Mega Enzo pun mengulum senyumnya agar tidak terlihat oleh Mega
Enzo mengambil tissue lalu mengusap air mata Mega yang membasahi kedua pipinya
" Lalu apa jawaban mu ? aku menunggu dari tadi sampai kakiku pegal !" Enzo pura-pura merajuk
" Maaf....tapi ....apa kamu serius, kamu tau kan masa lalu ku, aku tidak mau dikemudian hari setiap kamu kesal padaku, kamu akan mengungkit masa lalu ku !"
Enzo menatap Mega dengan tajam lalu ia memegang kedua bahu Mega dengan kedua tanganya
" Dengar Mega...masa laluku juga kelam, tapi bukan berarti kita tidak punya kesempatan kedua, aku mencintai mu dan Arell pun sepertinya lebih dulu mencintai mu jadi aku mohon terimalah cinta kami berdua !"
Enzo memohon pada Mega sambil mencengkram kedua bagi Mega hingga membuat Mega meringis
" Enzo...bahu ku sakit !"
Enzo seketika melepaskan cengkraman tangannya lalu mengusap-usap bahu Mega dengan rasa bersalah
" Maaf..maaf aku terlalu bersemangat !"
Mega menahan senyumnya sebenarnya bahunya tidak sakit sama sekali
" Lalu.... bagaimana dengan lamaran ku apa kau menerimanya ?!" Enzo menatap Mega penuh harap
Mega terdiam dengan kepala memunduk, ia seperti sedang menelaah perasaan nya sendiri
Memang tidak di pungkiri jika ia sudah menyukai Enzo sejak lama
Tapi mengingat masa lalunya membuat Mega menutup rapat-rapat hatinya
Mega sudah merasa bersyukur Enzo memberinya pekerjaan yang lebih baik dan Mega pun merasa tau diri untuk tidak mengharapkan lebih dari sekedar atasan dan bawahan
Tapi baru saja Enzo melamarnya, terus terang Mega sangat terkejut dan tidak menyangka jika Enzo akan melakukan itu dan sekarang Enzo menunggu jawaban darinya
Mega mengangkat kepalanya perlahan menatap Enzo yang juga tengah menatapnya lalu dengan malu-malu Mega pun menganggu kan kepalanya
" Iya...aku terima lamaran mu !" jawab Mega pelan tapi masih dapat di dengar dengan jelas oleh Enzo
Mendengar jawaban dari Mega seketika Enzo langsung menarik tubuh Mega ke dalam pelukannya
" Terimakasih... terimakasih Mega !" ucap Enzo dengan terbata semakin erat memeluk Mega yang juga membalas pelukannya
Tapi seketika nuansa romantis itu buyar seketika ketika terdengar teriakan dari arah belakang
" Horee....horeee...mommy akan menikah sama Daddy !"
Mega dan Enzo seketika membalik kan badannya dan terlihat Arell dan bibi yang berdiri di dekat pintu kamar Arell
" Kalian ....!" ucap Mega dan Enzo bersama an sambil menunjuk ke arah bibi dan Arell dengan wajah terkesima tidak menyangka jika mereka berada di sana entah sejak kapan