
Enzo terdiam beberapa saat menyaksikan moment yang sudah sangat lama ia inginkan
Moment di mana ketika ia pulang kerja dapat melihat anak dan istrinya sedang bermain bersama menunggu kedatangan nya
" Papa !" teriak Arell begitu melihat Enzo yang berdiri di depan pintu
Enzo langsung tersadar dari lamunannya dan langsung berjalan mendekati Arell yang berlari menyambutnya
" Halo anak papa lagi apa sih,.kayaknya asik banget sampe gak denger papa pulang !" ucap Enzo sambil memeluk Arell dan mencium pucuk kepalanya
" Arell lagi main sama tante Mega Pah !" ucap Arell antusias sambil menatap ke arah Mega yang berdiri mematung melihat interaksi antara ayah dan anak
" Oh ..Hay..bagaimana keadaan mu ?" tanya Enzo berjalan mendekat ke arah Mega sambil menggandeng Arell
Mega nampak berbeda ia menggunakan daster milik bibi dengan rambut di ikat asal, ia seperti ibu rumah tangga biasa dan Enzo menyukai penampilan Mega yang seperti ini
" Ba..baik, terima kasih sudah menolong saya " Mega berkata berkata sambil menundukkan kepalanya tanda hormat
" Kebetulan aku ada di sana, dan maaf aku meninggalkan mu sendirian di sini karena aku harus bekerja dan Arell harus sekolah di tunggui bibi !" ucap Enzo lagi
" Ah.. tidak apa " jawab Mega tersenyum kikuk
" Kalau begitu aku tinggal dulu, teruskan kegiatan kalian " ucap Enzo sambil melepaskan tangan Arell agar kembali bermain bersama Mega
Makan malam sudah siap, Mega membantu bibi menyiapkan makanan di meja makan sedangkan Arell menonton kartun kesukaannya
Tidak berapa lama Enzo berjalan ke arah meja makan dengan penampilan segar setelah mandi, ia hanya menggunakan kaos oblong dan celana santai selutut
Mega terlihat terpesona melihat penampilan Enzo yang terlihat semakin tampan tapi ia segera memalingkan wajahnya karena ia tidak mau dianggap kurang ajar setelah apa yang Enzo lakukan untuknya
" Apa makan malam sudah siap ?" tanya Enzo
" Sudah tuan " jawab bibi
" Arell ayo kita makan dulu !" panggil Enzo yang langsung di sahut oleh Arell
" Iya Papa " jawab Arell sambil berjalan ke arah meja makan
" Ayo Mega kita makan dulu " ajak Enzo menatap Mega yang berdiri agak jauh dari meja makan
" Terima kasih tapi saya nanti saja " jawab Mega dengan tetap berdiri di tempatnya
" Loh kenapa harus nanti ayo makan sekarang " ajak Enzo lagi sambil melambaikan tangannya agar Mega mendekat
Dengan ragu Mega pun berjalan mendekati meja makan, karena sejujurnya perutnya memang sudah lapar
" Ayo non duduk di sini " ajak bibi yang sudah duduk di samping Arell karena harus membantunya makan
" Terima kasih " jawab Mega lalu duduk di samping bibi
Karena meja makan itu bentuknya bulat dan hanya mempunyai empat kursi jadi Mega duduk di samping bibi dan tentu saja Enzo
Enzo tersenyum memandang Mega yang nampak malu - malu lalu dengan santainya Enzo memberikan piring nya kepada Mega
" Tolong ambilkan nasi dan lauk nya !" perintah Enzo yang membuat Mega terdiam beberapa saat
" Eh...oh iya !" Mega terlihat gugup waktu mengambil piring yang di angsurkan. Enzo kepadanya tapi Mega segera melakukan apa yang Enzo minta
Bibi yang melihat sikap Enzo hanya terdiam saja fokus membantu Arell yang sedang menyantap makan malam nya
Setelah mengambil kan makanan untuk Enzo, Mega pun mengambil makanan untuk dirinya lalu mereka makan dalam diam hanya sesekali Arell menanyakan sesuatu kepada Enzo
Jam menunjukan angka sembilan dan Arell pun sudah tidur begitu juga bibi
Mega masih duduk di ruang tamu menunggu Enzo yang sedang menemani Arell
Tidak lama terlihat Enzo keluar dari kamar Arell dan nampak terkejut melihat Mega yang masih duduk di ruang tamu
" Kamu belum tidur Mega ? bukannya tadi bibi sudah bilang jika kamu bisa tidur dengan nya ?" tanya Enzo
Mendengar suara Enzo membuat Mega langsung berdiri menghadap ke arah Enzo
" Ma..maaf tuan tapi saya harus bekerja jadi saya mau pamit " ucap Mega dengan kepala menunduk dan jari terjalin
Mendengar penuturan Mega seketika Enzo teringat akan kejadian kemarin malam dan Enzo pun mendengar semua percakapan antara Mega dan perempuan yang ia panggil Ibu
Enzo berjalan ke arah sofa lalu dia mendudukan dirinya sedangkan Mega masih berdiri mematung
" Duduk !" perintah Enzo pada Mega yang langsung Mega lakukan
Enzo menatap Mega yang duduk dengan kepala menunduk di kursi single di samping nya
" Sebelumnya aku minta maaf karena aku menguping pembicaraan antara kamu dan wanita yang kamu panggil ibu, apa ia ibu mu ?"
Mendengar perkataan Enzo seketika Mega pucat pasi, bagaimana jika Enzo mendengar semuanya dan mengetahui pekerjaan nya yang sesungguhnya
" I..iya tuan itu ibu saya " jawab Mega dengan tangan gemetar
" Ibu kandung ?" tanya Enzo lagi
" Bu..bukan tuan...beliau ibu tiri saya " jawab Mega dengan terbata
" Kenapa dia meminta uang kepadamu dengan cara seperti itu ?" tanya Enzo lagi dengan intonasi agak kencang seperti sedang kesal
Mendengar pertanyaan Enzo seketika apa yang di takutkan Mega terjadi juga
" Maaf tuan..apa anda mendengar semuanya ?" tanya Mega dengan tubuh gemetar
Mega terdiam,.ia merasa bingung antara menjawab jujur atau bohong
" Karena ibu membutuhkan biaya untuk berobat ayah dan biaya pendidikan adik saya yang paling kecil " jawab Mega berusaha menyembunyikan kelakuan Pratiwi
" Tapi apa harus dengan jalan kekerasan ? dan apa sebenarnya pekerjaan mu ?" tanya Enzo ingin tau jawaban dari Mega
" Seperti yang saya bilang tempo hari, saya bekerja di bidang jasa " jawab Mega tanpa berani mengangkat kepalanya
" Maksudnya jasa menghangatkan ranjang lelaki mesum ?!" ucap Enzo yang seketika membuat Mega membelalakkan matanya
" Mak...maksud tuan apa ?" jawab Mega dengan wajah semakin pucat dan tubuh gemetar
Enzo mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di kedua pahanya menatap ke arah Mega yang terlihat kaget dengan ucapan Enzo
" Aku tau pekerjaan mu yang sebenarnya " jawab Enzo dengan tatapan sinis
Seketika Mega terdiam dan nampak dua bulir bening meluncur deras melalui pipinya yang mulus
Mega menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak , Mega merasa sangat malu ketika Enzo mengetahui pekerjaan nya
" Apa tidak ada pilihan lain ? apakah pekerjaan itu satu-satunya pilihan ?" pertanyaan Enzo terkesan menghakimi Mega
" Aku tidak punya pilihan !" jawab Mega sambil terisak dengan suara agak kencang
" Selalu ada pilihan Mega !" jawab Enzo juga terlihat kesal
" Tapi aku tidak di beri kesempatan untuk memilih !" teriak Mega lagi dengan air mata yang semakin deras, ia merasa kesal karena Enzo memojokkan dirinya
" Omong kosong ! setiap orang punya hak untuk menentukan hidupnya !" bentak Enzo dengan suara tertahan karena takut suaranya membangunkan Arell
" Tapi aku tidak punya !" jawab Mega lagi dengan wajah sembab dan suara tercekat
" Kenapa ?!" tanya Enzo lagi
" Karena ibu sudah memilihkan pekerjaan ini untuk ku !" jawab Mega dengan suara lemah sambil memegang dadanya yang terasa sesak
" Kenapa kamu diam saja !! kenapa kamu tidak melawan ?!" dengus Enzo merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran Mega
" Karena aku tidak tau dan aku tidak mengerti jika akan bekerja seperti ini !" tangis Mega terdengar sangat menyayat hati
Mega menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Mega merasa sudah tidak tahan lagi, ia ingin mati saja agar terbebas dari Pratiwi, tapi bagaimana nasib ayahnya nanti dan Niken, siapa yang akan menjaganya
Enzo terdiam berusaha mencerna perkataan Mega barusan, Enzo merasa ada sesuatu yang janggal
Enzo menarik napas dalam-dalam, ia pun berdiri lalu mengambilkan segelas air putih dan memberikan nya pada Mega
" Minumlah ...maaf bukan maksud ku untuk menghakimi mu " ucap Enzo
Mega menerima gelar dari tangan Enzo lalu meminumnya hingga tandas
Enzo pun memberikan sekotak tisu pada Mega dan membiarkan Mega untuk menenangkan dirinya
Setelah beberapa saat Mega pun terlihat lebih tenang walaupun masih terisak
" Maaf Mega bukannya aku ingin ikut campur dengan urusan pribadi mu, aku hanya menyayangkan jika wanita secantik kamu memilih profesi seperti ini "
" Dengan wajah secantik kamu aku yakin banyak pria mapan mau memperistri mu " ucap Enzo panjang lebar
Mega menarik napas panjang beberapa kali berusaha melapangkan paru parunya yang terasa sesak
Mega merasa sudah waktunya ia menceritakan semuanya karena ia sudah tidak sanggup lagi menahan beban yang begitu besar yang sudah ia pikul selama bertahun-tahun
Setelah beberapa saat Mega pun menatap Enzo yang sudah duduk kembali di tempatnya semula
" Andai saya bisa memilih cukup seorang suami dan kehidupan sederhana tapi ia menyayangi dan melindungi saya "
" Tapi saya tidak seberuntung wanita lain, tanpa saya sadari sejak remaja saya sudah dipersiapkan untuk pekerjaan ini dan ketika waktu nya tiba saya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berfikir apalagi memilih dan ketika saya sadar semuanya sudah terlambat "
Mega terdiam berusaha menahan agar air matanya tidak kembali mengalir tapi lagi-lagi ia tidak bisa menahannya, Mega kembali terisak
" Saya sangat tersiksa dengan pekerjaan saya dan saya ingin sekali berhenti tapi..bagaimana nasib ayah dan adik saya ? mereka hanya memiliki saya !"
Mega kembali terisak walaupun sekuat tenaga ia tahan
Enzo seketika mengerutkan kening nya, ia merasa jika Mega melakukan pekerjaan ini karena dipaksa dan terpaksa
" Sebentar sebentar....jadi maksudmu kamu memang dipersiapkan untuk menjadi seorang psk sejak remaja ? memangnya berapa umurmu ketika pertama kali kamu melakukanya ?" tanya Enzo
" Sejak usia delapan belas tahun " jawab Mega pelan
" Apa !!" jawab Enzo tidak percaya
" Lalu siapa yang memaksa mu melakukan ini ?!" tanya Enzo lagi semakin penasaran
" Ibu...Ibu tiri ku yang kemarin anda lihat !" jawab Mega sambil menahan isak nya
Enzo berusaha menahan emosinya, ia meras tidak percaya jika ada seorang ibu walaupun ibu tiri begitu tega melakukan hal ini pada anaknya
" Dan ibu juga melakukan hal yang sama pada adik saya tapi untungnya ia bisa melarikan diri, tapi kemarin ibu mengancam jika saya tidak mengirimkan kan uang maka adik saya yang masih sekolah akan mengalami hal yang sama seperti saya, apa yang yang harus saya lakukan tuan..tolong saya !!"
Tangis Mega kembali pecah, ia merasa kalut tidak tau harus berbuat apa dan meminta tolong pada siapa
Sedangkan Enzo tampak mengeratkan rahangnya dan tangan terkepal ia tidak menyangka jika ada wanita yang begitu kejam melakukan hal sekeji itu pada anak-anak yang harus nya ia lindungi