
Yach yang di tumpangi oleh Kei juga Gita sudah sampai di dermaga
Kei menggandeng tangan Gita menuju cottage tempat mereka menginap di ikuti oleh Ryu
Gita tidak berani bertanya apapun hanya mengikuti Kei kemana pun ia membawanya
Kei dan Gita kini duduk saling berhadapan tanpa ada penghalang diantara mereka
Kei menggenggam kedua tangan Gita sambil mentik napas dalam beberapa kali
" Ada apa tuan, apa ada masalah ?" Gita memberanikan diri bertanya
" Begini Gita ... seperti kita harus berpisah untuk sementara waktu, aku akan di pindahkan ke perusahaan induk dan sepupu ku Ryu yang akan menggantikan aku !" Kei mengeratkan genggaman nya, ia merasa sangat berat harus meninggal kan Gita
" Ke..kenapa tuan harus ke sana, apa tuan berbuat salah ?!" Gita kembali bertanya karena ia merasa Kei sudah bekerja dengan sebaik-baiknya jadi kenapa harus dipindah apalagi perusahaan nya sedang melakukan ekspansi
" Tidak Gita ....aku di tarik ke sana untuk mempersiapkan diri memimpin perusahaan yang lebih besar !" Kei terpaksa berbohong, tidak mungkin jika ia mengatakan yang sebenarnya
" Berapa hari tuan ?!" tanya Gita berharap Kei hanya pergi untuk beberapa hari saja
" A..aku tidak tau Gita ...yang pasti sampai aku siap !" Kei menundukkan kepalanya hatinya hancur
Mendengar jawaban Kei seketika Gita terdiam, Gita menunduk tanpa terasa bulir air mata mulai membasahi kedua pipinya
Bukan kah semalam Kei baru saja mengutarakan isi hatinya tapi kenapa hari ini Kei malah pergi tanpa tau kapan akan kembali
Gita merasa Kei mempermainkan perasaan nya, semalam Kei membuatnya melambung tinggi dan sekarang Kei menghempaskan nya hingga membuatnya hancur berkeping
Gita menarik tangannya yang berada dalam genggaman Kei membuat Kei terhenyak
" Gita tolong...mengertilah, aku terpaksa dan tidak punya pilihan !" Kei memohon pengertian Gita
" Saya mengerti tuan, sangat mengerti, anda tidak usah khawatir saya akan baik - baik saja !" jawab Gita tanpa mengangkat kepalanya
" Sebaiknya saya segera membereskan pakaian anda !" tanpa menunggu Kei , Gita langsung beranjak menuju kamar Kei lalu mulai memasukan pakaian Kei ke dalam koper nya
Kei menyugar rambutnya, ia mengerti jika Gita terluka dan merasa di bohongi tapi Kei tidak bisa berbuat apa apa
Gita terlihat beberapa kali menyeka air matanya, tak ada pembicaraan diantara mereka hingga Gita selesai berkemas
Beberapa pengawal membawa koper - koper milik Kei dan Gita lalu membawanya turun
Gita berjalan dengan cepat menuju lantai dasar yang di ikuti oleh Kei
Ketika sampai di teras nampak beberapa mobil sudah siap
" Gita ...maafkan aku, tapi satu hal soal pernyataan ku semalam, aku tidak main - main !" ucap Kei sambil menahan Gita dengan memegang satu tangannya
" Dan selama aku tidak ada Kakak Ryu yang akan menjagamu, kamu jangan kemana- mana tetap tinggal di apartemen, aku akan selalu menghubungi mu !" ucap Kei dengan mata berkaca-kaca
Gita hanya menatap kosong ke arah depan, apapun yang Kei janjikan Gita tidak berharap banyak, Gita sangat mengerti siapa dirinya dan siapa tuan nya
" Sebaiknya cepat jalan, kamu tau kan Ojichan tidak suka menunggu !" Ryu mencekal lengan Kei agar segera memasuki mobilnya
Mendengar ucapan Ryu Gita langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Kei lalu bergegas menuju mobil yang pintunya sudah terbuka
Kei terkejut dengan apa yang Gita lakukan
" Gita !!...Gita ..!!" panggil Kei berusaha untuk mengejar Gita tapi Ryu menahannya dan dibantu seorang pengawal mereka mendorong Kei memasuki mobil yang berbeda dengan Gita lalu menutupnya
" Kakak kenapa aku di sini bukannya aku satu mobil dengan Gita !" protes Kei sambil berusaha membuka pintu mobil
Ryu menoleh ke arah mobil yang di masuki Gita dan sepertinya sang sopir mengerti tanpa menunggu lama ia langsung tancap gas meninggalkan halaman cottage
" Gitaaa...!!! Gitaaa...!!" teriak Kei tapi sepertinya sia sia saja Gita sudah pergi dan mobil yang dikendarai nya pun bergerak ke arah yang berlawanan dengan mobil Gita
Gita memandang kosong ke luar melalui kaca jendela pikirannya melayang pada kejadian tadi malam dan tanpa terasa kembali air mata meleleh di pipinya
Entah berapa lama Gita tertidur hingga salah satu pria yang mengawalnya mengguncang bahunya
" Nona...nona bangun kita sudah sampai !"
Gita terbangun lalu mengucek kedua matanya dan memandang sekeliling ternyata ia sudah berada di parkiran apartemen milik Kei
Setelah beberapa saat Gita keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju lift yang akan mengantar nya ke unit milik Kei
Gita membuka pintu apartemen nya lalu memandang sekeliling ruangan yang sepi, Gita mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak
Gita berlari menuju kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan seketika pecah lah tangis yang ia tahan sejak dari cottage tadi
Gita meraung menangisi nasibnya, beberapa kali Gita memukul dadanya yang perih bagai tersayat
Seharusnya aku baik - baik saja, tapi kenapa sesakit ini, apa aku mulai mencintai tuan Kei
Gumam Gita dalam tangisnya tidak di pedulikan lagi dua pengawal yang masuk mengantar kan koper miliknya yang hanya diam terpaku mendengar tangisan Gita
Setelah hampir satu jam tangis Gita pun mereda, ia beringsut dari tempat tidur nya menuju kamar mandi karena tubuhnya terasa lengket
Dengan tubuh lunglai Gita menarik seprei dan menggantinya karena sebagian basah oleh air matanya
Gita terlihat sangat berantakan, mata nya yang bengkak dengan hidung merah dan rambut yang hanya di ikat asal berjalan menuju dapur, mungkin secangkir coklat hangat akan membuat mood nya lebih baik pikir Gita
Gita menghentikan langkahnya ketika ia melihat dua pria yang mengantar nya tadi masih duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi
" Selamat malam nona maaf jika kehadiran kami menganggu anda !" ucap salah satu pria yang langsung berdiri ketika melihat kedatangan Gita
" Oh..tidak apa silahkan senyaman anda !" jawab Gita dengan suara parau sambil melanjutkan langkahnya menuju dapur
Gita membuat secangkir cokelat panas lalu ia pun melihat sekilas di atas meja tamu hanya ada dua cangkir kopi dan cemilan saja
Heum... sepertinya mereka belum makan
Gumam Gita sambil melirik jam yang menunjukan angka sepuluh malam
Dalam kondisi seperti itu pun Gita masih memikirkan orang lain
Lalu dengan cekatan Gita mulai mengolah bahan makanan yang ada di kulkas hingga tercium aroma masakan yang mau tidak mau membuat kedua pengawal itu memegang perut mereka yang berbunyi minta di isi
Gita menyajikan makanan itu di atas meja lalu ia berjalan menuju ruang tamu sambil membawa coklat panas nya dan piring yang berisi dua lembar roti panggang
" Maaf pak saya membuat makan malam untuk bapak, silahkan, semoga bapak menyukainya !" tawar Gita ramah
" Oh iya terima kasih nona, kami ditugaskan oleh tuan Ryu untuk menjaga anda, maaf jika kami merepotkan !" jawab salah satu pengawal
" Iya saya mengerti, kalau begitu saya permisi !"
Gita lalu beranjak menuju kamarnya lalu menguncinya dari dalam
Gita meletakan gelas dan piring nya di atas meja lalu Gita duduk menghadap jendela kaca yang gorden nya sengaja ia buka
Gita bersila di atas kursi sambil berusaha menikmati makan malamnya
Tiba-tiba Gita teringat ponselnya yang ia matikan ketika ia memasuki mobil yang membawa nya pulang
Dan panggilan terakhir pada jam lima sore, sepertinya Kei sudah berada dalam pesawat
Gita membuka pesan yang dikirim oleh Kei lalu membacanya
Terdapat puluhan pesan dari Kei dan kebanyakan isinya permohonan maaf dan ungkapan perasaan nya juga janji yang sudah Kei ingkari
Gita melempar kan ponselnya lalu kembali menikmati makan malamnya sambil memandang kerlip lampu - lampu yang menghiasi malam
Gita mengerjapkan matanya yang silau karena sinar matahari yang menerobos melalui kaca jendela yang gorden nya ia buka sejak semalam
Gita meregangkan badannya yang terasa pegal, karena ternyata ia tertidur di atas sofa
Gita melihat jam dinding yang menunjukan angka tujuh
Entah berapa jam ia tertidur tapi tubuhnya lumayan terasa nyaman hanya sedikit pegal - pegal saja
Setelah membersihkan tubuhnya Gita segera menuju dapur, ia teringat akan kedua tamunya yang pasti belum sarapan
Gita membuka pintu kamarnya pelan, ia khawatir kedua tamunya masih tertidur
Tapi sepertinya Gita salah besar, nampak kedua tamunya sudah segar sepertinya mereka sudah membersihkan diri di kamar mandi milik Kei
" Selamat pagi nona !" sapa salah satu pria
" Semalam pagi pak !" jawab Gita sambil terus melangkah menuju dapur
Gita memandang dapur nya dengan pandangan takjub, bagaimana tidak ia berfikir jika dapur nya pasti akan berantakan oleh bekas piring kotor sisa semalam
Tapi ternyata tidak, dapurnya nampak bersih dan mengkilap tanpa ada satupun barang kotor di wastafel
Gita tersenyum sambil melirik pada dua orang pengawal yang terlihat salah tingkah
Lalu tanpa membuang waktu Gita pun kembali memasak untuk dirinya dan kedua tamunya itu
Tidak memakan waktu lama, Gita pun menyelesaikan pembuatan sarapannya
Baru saja Gita hendak selesai menata sarapannya dimeja makan tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan nampak Ryu memasuki apartemen di ikuti oleh dua orang pengawal
Ryu memandang Gita yang terpaku di dekat meja makan
Ryu menghampiri Gita dan terlihat dua piring yang sudah di siapkan oleh Gita di meja makan
" Heum..belum terlambat untuk sarapan !" Ryu berkata sambil melihta arloji nya lalu tanpa ragu duduk menghadap sarapan buatan Gita yang masih mengepulkan asap
Terdengar Ryu mengatakan sesuatu yang di tujukan pada para pengawal nya dengan bahasa yang tidak Gita mengerti
Dan keempat pengawal itu langsung berdiri meninggalkan apartemen setelah sebelumnya membungkuk kan badannya ke arah Ryu sebagai tanda hormat
Ryu menatap Gita yang masih berdiri lalu dengan telunjuknya Ryu menyuruh Gita agar duduk
Ryu menatap makanan di hadapannya, semangkuk sup Miso dan telur dadar nampak menggugah selera nya
Ryu menatap Gita lalu seperti berusaha mengirimkan perintah melalui telepati agar Gita mengambilkan makanan untuknya
Dan seperti Gita pun mengerti dengan arti tatapan Ryu, tanpa banyak bicara Gita pun mengambilkan nasi serta lauk pauknya ke dalam mangkuk nasi lalu meletakan nya di hadapan Ryu
Ryu mengambil mangkuk nasinya lalu dengan elegan menyantap sarapannya sambil menatap Gita penuh intimidasi seakan berkata jika masakan mu tidak enak matilah kau
Gita duduk tanpa berani mengangkat kepalanya seperti tahanan yang menunggu vonis hakim
Ryu memasukan suapan pertama nya dan mengunyahnya dengan perlahan dan tiba-tiba ia berhenti mengunyah dengan dahi berkerut dan memicingkan matanya menatap Gita
Gita semakin menunduk sambil meremas roknya dengan kedua tangan nya
Sedangkan Ryu kembali mengunyah makanan nya lalu menelannya dan kembali menyuapkan sarapan nya hingga tandas satu mangkuk
Setelah selesai Ryu meletakan mangkuknya lalu mengambil segelas air putih yang sudah Gita siapkan
" Not bad !" ucap Ryu sambil berdiri meninggalkan Gita yang masih duduk dengan kepala menunduk
Ryu menyalakan sebatang rokok sambil duduk bersandar di ruang tamu dengan kami diletakan di atas meja
Sedangkan Gita segera menyantap sarapannya dengan cepat agar bisa segera menyingkir dari hadapan Ryu
Tapi sepertinya harapan Gita tidak sesuai dengan kenyataan, begitu ia selesai membereskan bekas makan nya Ryu memanggilnya dan menyuruh nya duduk di hadapannya
" Kamu tau alasan Kei di panggil ke perusahaan induk ?!"
Gita hanya menggeleng kan kepalanya karena ia memang tidak tau alasan sebenarnya mengapa Kei harus pulang
" Alasannya adalah kamu !" tunjuk Ryu pada Gita
" Saya ? memang salah saya apa tuan ?!" Gita nampak kebingungan dengan ucapan Ryu
" Kamu tidak salah, yang salah itu Kei dan kakak mu !" jawab Ryu semkin membuat Gita tidak mengerti apa hubungannya antara Kei dan kakaknya
" Maksud anda tuan, saya semakin tidak mengerti !"
" Maksud nya adalah Kei salah karena mencintai kamu yang memiliki kakak seorang pelacur, jelas ?!"
Seketika wajah Gita pucat pasi, tangannya mengepal ia tidak mengerti bagaimana keluarga Kei mengetahui pekerjaan Mega sedangkan Gita hanya pernah bercerita pada Kei saja, apa Kei yang menceritakan tentang keluarganya pada keluarga Kei ?
Tapi Ryu seperti nya mengetahui apa yang berkecamuk di benak Gita
" Bagi kami mencari informasi tentang orang lain itu sangat mudah !"
Dan Gita pun semakin menundukan kepalanya ia juga sadar dengan keadaan keluarganya tapi apapun yang terjadi semua di luar kuasanya
" Apa yang sebenarnya anda inginkan tuan ?!" Mega berusaha tegar
" Kalau boleh jujur aku ingin segera pulang ke negaraku dan bekerja seperti biasanya tapi karena ulah adik ku sekarang aku harus menjaga mu dan menjalankan perusahaan nya !"
Ryu terlihat kesal dengan kenyataan yang harus ia jalani
" Maaf tuan anda tidak usah repot-repot menjaga saya, saya bisa menjaga diri saya sendiri !" jawab Gita
" Aku juga tidak punya banyak waktu untuk menjagamu tapi masalahnya aku sudah berjanji pada adik ku itu !" suara Ryu mulai meninggi
" Lalu saya harus bagaimana tuan ?!" Gita sudah mulai kesal dengan Ryu yang seakan menyalahkannya
" Lakukan apa yang biasa kamu lakukan, jangan buat masalah, jangan menganggu ku, dan semoga Kei cepat bisa kembali ke sini !"
" Memangnya tuan Kei berapa lama berada di sana ?!" Gita ingin tau karena Kei tidak mau memberitahunya
" Tidak tau, bisa setahun, dua tahun, atau selama nya !" jawab Ryu santai
Seketika Gita mendongak kan kepalanya menatap Ryu yang kembali duduk dengan santai, kalau memang tidak ada kepastian buat apa ia tinggal di apartemen milik Kei apalagi dalam pengawasan laki - laki aneh seperti Ryu
Sepertinya aku harus mulai menata hidupku kembali, aku harus mulai dari awal lagi, aku yakin aku akan baik - baik saja
Gumam Gita dalam hati, Gita yakin dengan jalan yang akan di tempuh nya dan itu tanpa Ryu atau Kei di sisinya