Just For Escape

Just For Escape
Bab 60



Dibelahan dunia lain nampak seorang wanita tengah bersimpuh di kaki seorang pria paruh baya


" Tolong Papa kenapa papa begitu kejam aku ini anakmu Pa !" ratap seorang wanita muda


" Kau bilang aku kejam !? lebih kejam mana dengan seorang ibu yang membuang anak kandung nya sendiri !" teriak pria tua itu hingga ia terbatuk - batuk


Lalu seorang wanita sebayanya menepuk-nepuk punggung pria tua itu pelan


" Sabar...sabar ingat penyakit mu !" ucap wanita itu yang merupakan istrinya


" Sudah cukup kesabaran ku menghadapi tingkah anak manja mu itu,. keputusan ku sudah bulat dan aku tidak butuh persetujuan mu !" jawab pria tua itu sambil memegang dadanya yang terasa sesak


" Aku tau aku salah terlalu memanjakannya dan sekarang aku tidak akan membantah mu !" jawab istrinya sambil mengusap bahu suaminya


" Mama !!! kenapa mama jadi kejam, kalau papa menarik semua aset ku lalu bagaimana kehidupan ku ?!" teriak wanita muda itu sambil merangkul kaki ibunya


" Mulai lah bekerja Stella dan ingat ucapan papa mu selama kamu tidak membawa cucu kesayangan ku jangan harap kamu akan mendapatkan sepeser pun dari kami !" lalu wanita itu beranjak sambil membantu suaminya berjalan menuju kamar mereka


Seketika wanita yang bernama Stella itu pun histeris, ia kalang kabut ketika mengetahui jika ayahnya sudah membekukan semua kartu-kartunya juga semua fasilitas yang selama ini ia nikmati tanpa harus bekerja keras karena kekayaan orang tuanya


" Siall !!!! brengsek !!!" teriaknya sambil memukul-mukul sofa di samping nya hingga membuat tangannya merah


Stella tidak tau siapa yang sudah membocorkan rahasia pernikahannya dengan Lorenzo dan kehamilannya hingga ia melahirkan Ourell pada orang tuanya


Stella memang merahasiakan semua karena ia terlanjur hamil anaknya Lorenzo sedangkan ia masih ingin berpetualang, Stella belum ingin menikah apalagi memiliki anak yang menurutnya hanya akan membatasi geraknya saja


Tapi semuanya tiba- tiba menjadi kacau ketika ia di bawa paksa oleh orang suruhan ayahnya dan seketika Stella tidak bisa berkutik ketika ayahnya melemparkan foto pernikahan nya dan foto ketika ia baru saja melahirkan lengkap dengan bayi dalam gendongannya


Ayahnya sangat murka begitu mengetahui jika Stella menyerahkan begitu saja bayi merah kepada suaminya lalu meninggalkan mereka berdua demi bisa berpetualang dengan berpindah dari satu lelaki ke lelaki yang lain tanpa ikatan


Ayah Stella sangat kecewa dengan sikap nya padahal ia sangat ingin memiliki cucu apalagi cucu laki-laki yang bisa ia jadikan sebagai penerus nya


Kini Stella sepertinya harus memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa kembali menikmati kekayaan orang tuanya


Dan jalan satu-satunya adalah dengan menemukan kembali anaknya agar bisa ia tukar dengan kekayaan ayahnya


Heum... seperti nya aku harus memulai mencari keberadaan mereka berdua, dan aku yakin Lorenzo tidak akan bisa menolak ku karena dia sangat mencintai ku


Gumam Stella sambil tersenyum sinis


Arell tengah duduk menonton serial kartun kesukaan nya, Mega nampak membantu bibi membuat makan malam untuk mereka sambil menunggu kepulangan Enzo


Sedang asik Mega dengan pekerjaannya tiba - tiba Arell menangis hingga membuat Mega dan bibi terkejut


" Huaa....huaa !!" tangis Arell memenuhi area apartemen mereka


" Arell kenapa ? ada yang sakit ?!" teriak Mega sambil berlari menghampiri nya


Mega langsung memeriksa tubuh Arell takut ada yang terluka tapi Mega tidak melihat luka sedikitpun


" Arell kenapa sayang ?" tanya Mega lagi lalu menggendong Arell dan memeluknya


Tapi bukannya berhenti tangis Arell semakin kencang saja


Bibi dan Mega semakin bingung dengan tingkah Arell yang tiba-tiba seperti itu


Tidak lama terdengar suara pintu apartemen dibuka dan nampak Enzo memasuki ruang tamunya dengan menatap heran melihat Mega yang menggendong Arell yang masih menangis'


" Arell kenapa ?!" tanya Enzo sambil berjalan cepat menghampiri Mega


" Tidak tau tiba-tiba menangis begitu saja !" jawab Mega terlihat sangat khawatir


Enzo lalu mencoba mengambil Arell dari pelukan Mega dan Arell pun langsung menghambur ke pelukan Enzo


" Anak Papa kenapa heum ?" tanya Enzo sambil memegang dahi Arell lalu memeriksa tubuhnya yang lain


" Papa.....huaa...Papa !" kembali Arell menangis sambil memeluk Enzo hingga membuat Mega dan Enzo semakin kebingungan


" Iya sayang Arell kenapa ...!" tanya Enzo lagi


Mega mendekat ke arah Enzo yang menggendong Arell lalu tangannya mengelus - elus punggung Arell dengan lembut


" Papa....Arell mau ituuu...!!" ucap Arell dengan terbata sambil menunjuk ke layar televisi yang masih memutar film kartun


Serentak Mega dan Enzo melihat ke arah yang Arell tunjuk


Mega dan Enzo saling bertatapan tidak mengerti dengan apa yang Arell maksud


" Arell mau apa sayang...coba bilang sama papa !" bujuk Enzo lagi sambil kembali menatap layar televisi berusaha mencari yang Arell inginkan


Arell menegakkan kepalanya yang bersandar di dada Enzo lalu dengan masih terisak Arell menunjuk ke arah televisi


" Arell mau mama kayak kucing itu !" jawab Arell seketika membuat Mega dan Enzo berdiri kaku saling tatap tanpa bisa berkata apa-apa


Sedangkan bibi yang menyaksikan dari jauh langsung tersenyum lalu berlalu kembali ke arah dapur melanjutkan pekerjaannya


Kini Mega Enzo dan Arell duduk di depan layar televisi menonton film yang tadi sempat membuat Arell menangis dan Mega juga Enzo kebingungan


Ternyata film kartun itu menceritakan tentang keluarga kucing yang memiliki ayah ibu dan tiga ekor anak kucing yang lucu


" Arell mau kayak kucing itu ya Pa...punya mama terus nanti punya adik bayi yang lucu ya Pa !" pinta Arell dengan entengnya


Ia.tidak sadar jika permintaan membuat dua orang yang duduk di samping nya salah tingkah


" I..iya sayang, nanti Papa kasih mama sama adik bayi, iya kan Tante Mega ?!" ucap Enzo sambil melirik Mega yang duduk di sebelah Arell meminta bantuan


" Hah !" jawab Mega sambil menatap bingung ke arah Enzo yang menatapnya penuh harap


" Yeyyy... asiikkk, nanti adik bayi nya dua ya Pa kayak film kucing tadi !" teriak Enzo sambil bersorak kegirangan


Enzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berfikir bagaimana caranya mengabulkan permintaan Arell sedangkan Mega terdiam kaku ia pun bingung bagaimana caranya membantu Enzo sedangkan Arell kembali duduk manis menonton film kesukaannya tanpa perduli pada dua orang dewasa yang duduk disebelahnya


Ray berusaha untuk beristirahat seperti saran dari Adam tapi susah sekali matanya terpejam mengingat sebentar lagi ia akan melihat tempat anak kandung nya dibesarkan


Apalagi ketika Rey mendengar nama orang tua angkat anaknya sama dengan keluarga Gita atau Miss Lily yang selama ini ia kenal


Dan kedatangan Rey ke sana untuk memastikan kebenaran akan informasi yang anak buahnya dapatkan


Ray sangat bahagia tapi Ray tidak mau gegabah sebelum ia mendapatkan bukti yang konkret, karena Ray tidak mau kecewa untuk kesekian kalinya


Kini Ray berada disebuah hotel sederhana disebuah kota kecil yang sejuk karena masih banyaknya area persawahan


Orang suruhannya bilang butuh waktu satu jam lebih menuju rumah tempat kediaman orang tua asuh anak nya itu


Dan sekarang masih jam tiga pagi masih ada beberapa jam lagi hingga menjelang pagi


Ray mengeluarkan foto usang dari dalam dompetnya dan ia menatap wajah Shinta yang tengah tersenyum sambil memeluk perutnya yang membuncit


Gumam Ray sambil memeluk foto itu didada nya, dan tanpa terasa mata Ray pun terpejam dan tidak lama kemudian terlihat napasnya yang teratur menandakan Ray sudah tertidur


Jam menunjukan angka enam tapi Adam belum berani membangunkan Ray karena dia tau Ray bisa tertidur menjelang pagi, mungkin satu jam lagi Adam baru akan membangunkan Ray akhirnya Adam hanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya


Tapi ternyata harapan Adam tidak tercapai karena tidak lama terlihat pergerakan dari atas tempat tidur majikannya


Ray menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal lalu duduk untuk sekedar mengumpulkan kesadarannya


" Anda sudah bangun tuan ? sebentar saya siapkan air hangat untuk anda " Adam beranjak dari tempat duduknya


" Oh iya..terima kasih Adam " ucap Ray sambil meraih gelas air putih yang tadi Adam siapkan sebelum tuannya bangun


Ketika Ray dikamar mandi Adam segera menyiapkan pakaian yang akan Ray gunakan nanti


Kadang Adam merasa apa yang ia lakukan melebihi kewajibannya sebagai assisten pribadi Ray


Tapi semua itu Adam lakukan sebagai bukti pengabdian nya kepada majikannya yang sudah puluhan tahun ia dampingi


Untungnya ia mendapat istri yang sangat pengertian walaupun sering meledeknya dengan mengatakan jika Ray adalah istri kedua Adam atau mengatakan jika Ray adalah bayi besarnya mengingat semua itu tanpa sadar Adam mengurai senyum di bibirnya


" Sepertinya kamu sedang bahagia Adam " ucap Ray yang ternyata sudah berdiri dibelakang Adam dengan mengunakan jubah mandi yang sengaja Adam bawa dari rumah


" Ah..maaf tuan saya hanya teringat curhatan anak-anak tadi malam !" jawab Adam asal


" Apa mereka baik-baik saja ?!" tanya Ray sambil memakai pakaiannya tanpa sungkan di depan Adam


" Tentu saja tuan mereka baik-baik saja hanya saja saya kadang lupa jika mereka bukan anak-anak lagi , begitu cepat mereka tumbuh !" jawab Adam hingga ia menyadari wajah Ray yang berubah sendu


" Ma..maaf tuan bukan maksud saya ...!"


" Tidak apa Adam aku turut berbahagia untuk mu dan aku harap sekarang kebahagian itu milik ku !" jawab Ray lagi dengan wajah kembali ceria


" Tentu saja tuan sebentar lagi Anda akan memiliki kebahagiaan anda " jawab Adam yang di balas dengan senyuman


Hati Ray semakin tidak karuan sebentar lagi ia akan bertemu dengan anak kandung nya


Ray melihat jalanan yang di lalui nya, ia membayangkan keseharian anaknya yang melewati jalan itu menuju ke sekolah atau pun mungkin sekedar berjalan-jalan dengan teman nya dan tanpa sadar Ray tersenyum


Ray melihat ke sekitar ketika ia merasakan mobil yang dikendarainya mulai mengurangi kecepatan nya hingga berhenti total di depan sebuah bangunan sederhana dengan sebuah pohon mangga besar yang membuat teras rumah itu terlihat asri


Ray perlahan turun dari mobilnya lalu berdiri memandang rumah sederhana itu untuk beberapa saat


" Ayo tuan kita masuk !" ajak Adam yang sudah membuka pintu pagar rumah tersebut


Ray melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu rumah yang masih tertutup


" Permisi ..!!!" teriak Adam sambil mengetuk pintu beberapa kali


" Sebentar...!" terdengar suara seorang gadis menyahut


Seketika tubuh Ray bergetar, keringat nampak muncul di dahinya padahal hari masih pagi dan juga tangannya nampak mengepal seolah menahan perasaan rindu yang sudah ditahannya selama puluhan tahun


Terdengar langkah kaki mendekat dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka


Terlihat seorang gadis muda berdiri sambil memandang heran ke arah Ray dan Adam


" Maaf anda siapa ya ?" tanya gadis itu yang ternyata Niken


" Oh maaf kenalkan saya Adam dan ini tuan Raynald " jawab Adam tersenyum ramah


" Ehmmm maaf anda hendak bertemu siapa ?" tanya Niken dengan wajah semakin bingung


" Maaf nak apa benar ini rumahnya pak Irwan dan ibu Nurmala Sari ?" tanya Adam lagi


" I..iya benar tuan tapi...ibu sudah lama meninggal !" jawab Niken dengan suara pelan


" Maaf nak apa kami bisa bertemu dengan ayah mu ?" tanya Adam lagi


" Oh iya tentu tuan, tapi ada keperluan apa ya tuan dengan ayah saya ?!" tanya Niken penasaran


" Ada sesuatu hal yang ingin kami tanyakan dan pastikan pada beliau " jawab Adam


" Baik lah kalau begitu silahkan masuk dan tunggu sebentar saya akan memanggil ayah !" Niken kemudian berbalik menuju ruangan belakang


Rey dan Adam memasuki rumah sederhana itu dan terlihat beberapa foto keluarga dimana kebanyakan foto itu didominasi oleh foto Pratiwi


Adam melihat satu persatu foto - foto itu hingg ia menemukan sebuah foto Gita yang tengah duduk sendiri dan seketika wajah Adam pucat pasi


Adam mengambil foto itu lalu memberikan nya kepada Rey yang sedang duduk dengan gelisah


" Tuan !" ucap Adam sambil memperlihatkan foto itu pada Rey


Nampak Gita yang tengah duduk sambil tumpang kaki dengan rambut panjang ikal nya yang ia sampirkan ke bahu


Rey terkesima untuk beberapa saat, lalu Rey mengeluarkan foto usang dari dalam dompetnya lalu membanding kan foto Gita dengan foto Shinta dan seketika tangan Rey gemetar hingga nyaris menjatuhkan bingkai foto Gita yang ia pegang


Rey semakin yakin jika ia memasuki rumah yang tepat tapi sekali lagi Rey harus bersabar sebelum ada kepastian tentang asal usul Gita


" Sabar tuan.... sebentar lagi !" ucap Adam sambil menepuk-nepuk bahu Rey pelan


Tidak berapa lama terdengar derak kursi roda mendekat ke arah mereka


Rey dan Adam serentak berdiri lalu mengalihkan pandangan mereka ke arah suara


Terlihat seorang pria yang terlihat lebih tua dari usianya duduk dengan posisi meringkuk dengan wajah yang tidak simetris akibat penyakit stroke yang dideritanya


Niken menghentikan dorongan kursi roda Irwan tepat di depan kedua tamu nya


Niken lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Irwan


" Ayah ini ada tamu katanya ingin bertemu dengan ayah !" ucap Niken pelan di dekat telinga Irwan


Niken menangkup rahang Irwan dengan kedua tangannya lalu mengangkat wajah Irwan agar bisa menatap kedua tamunya


" Selamat pagi pak Irwan maaf menganggu waktu anda kenalkan saya Adam dan ini majikan saya Reynald !" ucap Adam


Irwan berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja ketika menatap Adam tapi tiba-tiba Irwan terlihat gelisah sambil mengeluarkan suara erangan yang cukup keras sambil berusaha mengangkat tangan nya ke arah Rey setelah sebelumnya nampak terkejut ketika menatap wajah Rey selama beberapa saat


" Uughhh !!! uugghhh !!" teriak Irwan gelisah dan berusaha menggerakkan tubuhnya


" Ayah kenapa ...Ayah tenang jangan panik Niken di sini ayah !" teriak Niken sambil memeluk Irwan yang terus bergerak di kursi rodanya


Sedangkan Adam dan Rey hanya terdiam terpaku tanpa melakukan apapun karena mereka berdua tidak tau harus berbuat apa