
Kei menatap Gita yang meringkuk di kasurnya dengan mata sembab karena terlalu lama menangis
Kei tidak menyangka jik Gita harus mengalami kehidupan seperti itu tanpa ada seorang pun yang membantunya
Kei pun tidak menyangka jika wanita yang ia cari ternyata selama ini ada dihadapannya
Kei meninggalkan kamar Gita menuju kamarnya setelah sebelumnya Kei memesan makan malam untuk mereka berdua
Kei menemui pihak keamanan hotel, Kei penasaran dengan pria yang sudah membuat Gita menangis di area kolam renang tadi sore
" Silahkan tuan ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang pria paruh baya
" Maaf sebelumnya saya hanya ingin melihat rekaman cctv di area kolam renang karena tadi sore kekasih saya diganggu oleh seorang pria hingga membuat kekasih saya menangis " Kei sedikit berbohong agar pihak keamanan hotel mengabulkan permintaan nya
" Oh maaf kan kami jika kekasih anda mengalami hal demikian tapi maaf tuan anda hanya bisa melihatnya saja dan saya harap anda tidak mengambil tindakan impulsif setelah mengetahui pria yang mengganggu kekasih anda !" pinta kepala keamanan itu pada Kei
" Oh jangan khawatir saya hanya ingin tau saja siapa orangnya agar saya dan kekasih saya bisa menghindari nya !" jawab Kei berusaha bersikap tenang
" Oh baiklah kalau begitu tuan " kepala keamanan itu lalu membawa Kei menuju ruangan control dimana terdapat beberapa layar monitor dari cctv yang tersebar di seluruh area hotel
Kei menunggu di luar beberapa saat hingga ia di panggil untuk memasuki ruangan itu
Kei berdiri dibelakang seorang pria muda yang duduk sambil mengetikan sesuatu
" Silahkan tuan semoga kita bisa menemukan yang tuan cari !"
" Terima kasih !" jawab Kei
Kei berdiri dibelakang seorang pemuda yang duduk namoak sambil mengetikan sesuatu
Terlihat perubahan pada layar monitor di hadapan Kei dan seketika mata Kei fokus pada layar monitor itu ketika terlihat Gita yang tengah duduk sendirian sambil membaca buku
Selang beberapa saat kemudian terlihat seorang pria mendekati Gita dan sepertinya mereka melakukan percakapan
Dan tidak lama kemudian terlihat wajah Gita yang marah dan kemudian terlihat menangis setelah pria itu berhasil mengintimidasi Gita
Pria itu berjalan ke arah yang berlawanan dengan Gita yang berlari menuju area dalam hotel
Kei berusaha mengenali pria itu tapi karena posisinya yang membelakangi kamera maka Kei hanya bisa melihat punggung nya saja
" Apa tidak ada kamera lain yang bisa menangkap wajah pria itu ?" tanya Kei sambil menunjuk pria dalam layar monitor
" Saya akan coba memeriksa cctv di area parkir " ucap pemuda itu sambil kembali mengetikan sesuatu dan terlihat area parkir yang dipenuhi oleh mobil para tamu
Kei dan pemuda itu kembali mengedarkan pandangan mereka hingga terlihat pria tadi nampak berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari kamera cctv
" Bisa diperbesar gambar wajahnya pak ?" pinta Kei pada operator cctv itu
Tanpa banyak bicara pemuda itu lalu mengetikan sesuatu lagi dan terlihat wajah seorang pria yang tengah menunduk hendak membuka pintu mobilnya
" Maaf tuan saya hanya bisa sebatas ini !" ucap pemuda itu
" Iya tidak apa, ini sudah cukup !" jawab Kei walau dalam hatinya ia merasa sedikit kecewa
Setelah di rasa cukup Kei pun meninggalkan ruangan itu tanpa membawa apa-apa sesuai dengan kesepakatan dengan pihak hotel
Tapi Kei sudah menyimpan wajah pria itu dalam memory otaknya dan Kei yakin ia akan bertemu dengan pria itu suatu saat nanti
Kei kembali menuju kamar Gita untuk mengecek kondisi nya
Dengan perlahan Kei membuka pintu kamar Gita dan ternyata Gita masih meringkuk didalam selimutnya
Kei mendekati Gita lalu dengan lembut Kei mengguncang bahu Gita
" Gita..Gita bangun ! makan dulu !" Kei memanggil Gita yang dengan perlahan membuka matanya
" I..iya tuan " jawab Gita sambil mengucek matanya
" Ayo bangun aku sudah lapar " ucap Kei sambil berlalu dari hadapan Gita menuju sofa dimana sudah tersedia beberapa macam makanan
Gita bangkit dari tidurnya lalu menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih segar
Kei dan Gita duduk bersebelahan lalu seperti biasa Gita mengambilkan nasi serta lauk pauk nya ke dalam piring Kei setelah itu baru Gita mengambil makanan untuk dirinya sendiri
Mereka makan dalam diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing
Gita yang masih takut dengan keputusan nya menceritakan aib keluarga kepada Kei sedangkan Kei berusaha mencari cara untuk menyatakan perasaannya kepada Gita juga mencari pria yang membuat Gita menangis dan yang paling penting bagaimana caranya agar ia bisa membebaskan Gita dari ibu tirinya
Luna nampak begitu senang menikmati makan malamnya bersama Arga si restauran hotel tempat mereka menginap
Beberapa kali Luna mengedarkan pandangannya ke seluruh are restoran berharap bisa menemukan sosok Kei
" Ga..kok tuan Kei gak ada ya ? apa dia makan malam diluar ?" tanya Luna pada Arga yang duduk didepannya
" Iya kali, lagian tenang aja sih, besok masih ada waktu satu hari lagi sebelum acaranya selesai !" Arga menjawab disela suapannya
" Tapi aku udah gak sabar liat respon tuan Kei begitu melihat aku ada di sini !" Luna tersenyum dengan pipi merona
" Biasa aja kali, besok pagi waktunya sarapan siapa tau bisa ketemu !" jawab Arga lagi
" Aahh...aku jadi makin gak sabaran !" ucap Luna sambil menangkup wajahnya meronanya dengan kedua telapak tangannya
" Norak lu !" dengus Arga
Luna hanya menjulurkan lidahnya ke arah Arga yang hanya dibalas Arga dengan dengusan saja
Luna sudah membayangkan jika ia bertemu dengan Kei nanti ia akan melakukan pendekatan yang lebih intim
Luna sudah menyiapkan segalanya dan Luna sudah siap kehilangan apapun asal ia bisa mendapatkan Kei
Niken sudah berusaha menenangkan ayahnya tapi sepertinya Irwan sangat sulit dikendalikan
" Maaf tuan sepertinya ayah saya harus istirahat !" ucap Niken lalu mendorong kursi roda Irwan yang masih bergumam tidak jelas menuju kamarnya
Rey dan Adam saling tukar pandang mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan antara menunggu tuan rumah menemui mereka lagi atau meninggalkan rumah itu begitu saja dan kembali lagi nanti setelah kondisi pak Irwan membaik
Niken mengambil air putih dalam gelas plastik dan sebuah sedotan
" Ayah tenang ya...ayah minum dulu " bujuk Niken sambil menyodorkan sedotan ke dekat bibir Irwan
Irwan menatap Niken sambil membuka mulutnya, lalu dengan perlahan Irwan menyedot air putih itu hingga hampir tandas
" Ya ampun ayah haus ya...maaf ya Niken tidak tau jika ayah kehausan !" ucap Niken sambil menyeka keringat di dahi Irwan dengan tisu
" Uukkhh....uuhhkkk..!" Irwan kembali bergumam dengan tangan berusaha menunjuk ke suatu arah
Niken memandang Irwan yang kembali menunjuk sebuah lemari yang berada di dekat pintu
" Ada apa ayah, ayah mau apa ?!" tanya Niken bingung
" Uuhhkkk...uuhkk!" Irwan mulai meninggikan suaranya sambil berusaha menggerakkan kursi rodanya mendekati ke arah lemari yang ia tunjuk tadi
Niken akhirnya mengerti apa yang dimaksud gumaman Irwan
Niken mendekatkan kursi roda Irwan ke dekat lemari yang pintunya sudah Niken buka
" Ayah , Niken tinggal dulu kedepan, kasihan tamunya menunggu !" ucap Niken sambil melangkah keluar dari kamar Irwan
" Uuhhkkk...uuhhkkk !" Irwan memegang lengan Niken dengan erat sambil menggelengkan kepalanya
Niken menarik napas dalam, ia mencoba bersabar dengan sikap Irwan yang tiba-tiba berubah
" Apa lagi ayah ?!" tanya Niken dengan wajah memelas
" Uuhkkk ?" Irwan menunjuk kedalam lemari seolah Niken di suruh untuk mengambil sesuatu
" Iya ayah nanti Niken ambilkan tapi biar Niken kedepan dulu, gak enak sama tamu kita ayah !" terang Niken berharap Irwan mengerti
" Uuhkk !!! uuhkkk !! uuhhkk !!" tiba-tiba Irwan memukul-mukul kan tangannya ke lengan kursi roda dengan wajah terlihat marah hingga membuat Niken terkejut dan ketakutan
" I..iya ayah Niken ambil kan, ayah mau apa ?!" tanya Niken sambil maju kedepan lemari yang terbuka
Irwan memandang Niken dengan kesal, dengan napas memburu menahan marah Irwan menunjuk pada sebuah kotak usang yang berada di pojok
Dengan sedikit kesal Niken pun menarik kotak kardus itu lalu meletakan nya di pangkuan Irwan
" Ini ayah !" ucap Niken
" Uuhhkk !" Irwan menunjuk ke arah luar
" Ayah mau kemana ?" tanya Niken heran dengan kelakuan ayahnya hari ini
" Uuhhkk !" Irwan kembali menunjuk keluar kamar
Niken lalu mendorong kursi roda ayahnya menuju area depan dimana kembali Irwan menunjuk kan tangannya ke ruang tamu
Niken kembali heran dengan sikap Irwan yang membawa kotak lusuh itu untuk bertemu dengan tamunya
Tapi begitu mereka berada diruang tamu ternyata tamu mereka sudah tidak ada
Niken setengah berlari menuju teras depan berharap tamunya ada disana tapi nihil
Hanya ada secarik kertas yang sepertinya mereka tinggalkan di atas meja
Niken mengambil kertas itu lalu membacanya
Maaf kami pergi tanpa pamit karena melihat kondisi pak Irwan yang sepertinya kurang sehat, anda mungkin bisa menghubungi kami jika kondisi pak Irwan sudah membaik
Dan terlihat sebuah kartu nama atas nama Adam tergeletak di bawah kertas memo tadi
Irwan memandang ke arah Niken dengan tatapan ingin tau apa yang terjadi
" Tamunya sudah pergi Ayah, mereka cuma ninggalin kartu nama !" ucap Niken sambil memperlihatkan kartu nama itu pada Irwan
" Uuhhkk.... uuhhkkk. !! kembali Irwan bergumam dengan gelisah
" Ayah kenapa lagi ?!" tanya Niken berusaha menenangkan Irwan
Nampak Irwan mengangkat tangannya lalu meletakan tangan itu di telinganya sambil bergumam
" Hao...hao..!!" Irwan memperagakan orang yang sedang menelpon
" Oh ayah mau Niken menghubungi tamu yang tadi ?!" tanya Niken
Irwan langsung mengangguk kan kepalanya beberapa kali dan terlihat ia begitu antusias
" Sebentar ya Ayah, Niken ambil ponsel Niken dulu !" Niken berlalu mengambil ponselnya
Sepeninggal Niken, Irwan nampak berusaha membuka kotak kardus itu dengan susah payah
Setelah terbuka Irwan mengambil sebuah foto yang pernah ia lihat sebelumnya
Irwan memejamkan matanya berusaha mengingat wajah pria yang tadi ia lihat lalu membandingakan wajah pria itu dengan foto yang berada dalam genggaman nya
Irwan yakin jika orang yang berada dalam foto itu adalah orang yang sama dengan tamu yang datang kerumahnya