
Ryu menatap laptopnya sambil memijit pelipisnya, ia bukan sedang mengerjakan sesuatu tapi sedang berfikir kemana ia harus mencari Gita dan apa yang harus ia katakan pada Kei jika ia menanyakan soal kondisi Gita
Ryu sudah berusaha menghindar tapi sampai kapan Kei percaya pada semua alasannya karena pada akhirnya Kei akan tau jika Gita sudah hilang dari pengawasan nya
Apalagi ketika Ryu kembali mendatangi rumah yang menurut informasi dari anak buahnya adalah rumah Gita ternyata rumah itu sudah kosong, hanya ada sepasang suami istri yang tinggal disana dan mereka hanya orang suruhan yang ditugaskan untuk mengurus rumah itu
Aahkkkk.... sepertinya aku harus jujur pada Kei, aku tidak perduli jika Kei sampai mengamuk daripada aku semakin stress
Gumam Ryu sambil meraih ponselnya dan menghubungi Kei
" Ya Senpai !"
" Kei...Gita pergi !"
" Apa !! apa yang kau lakukan pada Gita !! sialan Ryu kalau sampai terjadi apa-apa pada Gita aku bunuh kamu !!"
Mendengar teriakan Kei membuat Ryu menjauhkan ponselnya dari telinganya
" Ryu !! Ryu !! jawab brengsek !!"
kembali terdengar teriakan dari Kei dan Ryu dengan santainya kembali meletakan ponsel itu ditelinga nya
" Bagaimana aku bisa jawab kalau kau berteriak seperti itu !!"
Terdengar helaan napas di sebrang sana sepertinya Kei tengah menahan emosinya
" Apa yang terjadi ?!"
" Dia pergi begitu saja tanpa berkata apapun !"
" Sejak kapan ?!"
" Beberapa hari setelah kepergian mu !"
" Apa !!! kenap kamu baru bilang sekarang ?!" kembali Kei tersulut emosi
" Aku berusaha mencarinya sampai ke rumah orang tuanya tapi dia tidak ada malah sekarang rumahnya dalam keadaan kosong tidak ada yang tau kemana mereka pergi !"
" Maaf kan aku telah gagal menjaganya, aku tidak tau jika ia begitu berarti buatmu !"
Hening hingga beberapa saat tidak ada suara dari keduanya hingga terdengar suara Kei memutuskan sambungan
Ryu kembali memijit pelipisnya, ia pun merasa bingung kemana lagi ia harus mencarinya semua anak buah nya tidak ada yang berhasil mendapatkan informasi seolah Gita hilang di telan bumi
Sedangkan Kei nampak terduduk di lantai sambil bersandar pada sofa yang tadi ia duduki
Kei menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca, ia sangat marah tapi ia merasa lemah karena tidak bisa berbuat apa-apa apalagi dengan posisi dirinya yang berada di lingkungan para tetua dimana semua nya sudah ada aturannya dan tidak ada satupun yang berani melanggarnya
Aaarrgghhhkkk !!!!!
Kei berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri lalu tanpa bisa di tahan lagi Kei menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan nya
Melly yang mendengar teriakan Kei langsung berlari menuju kamar anaknya dan tanpa permisi langsung menerobos masuk
" Kei...Kei...kamu kenapa ?!"
Melly melihat anaknya tengah tergugu menangis dalam gelap, duduk sendirian di lantai
Melly mendekati Kei lalu ikut duduk disampingnya, Melly sangat mengerti perasaan Kei yang sangat tertekan, para tetua selalu memberinya tugas yang tidak ada habisnya belum lagi ia harus berhadapan dengan para investor dan para pemegang saham yang selalu menuntut keuntungan lebih
Melly memeluk Kei dan Kei pun malah semakin kencang menangis dalam pelukan Melly
" Menangis lah nak...jika itu bisa sedikit meringankan beban mu, maafkan ayah dan ibu yang tidak bisa membantu mu !"
" Bu...Gita hilang Bu....Gita pergi, Ryu sudah mencarinya tapi tidak ketemu Bu !" ucap Kei di sela isaknya
Melly mengerutkan keningnya beberapa saat lalu ia pun tersenyum sambil mengusap kepala Kei
Melly menyadari apa yang membuat anaknya menangis, ternyata bukan soal pekerjaan ternyata soal gadis itu
" Jangan takut nak, kalau memang kalian berjodoh kalian pasti akan bertemu kembali !" ucap Melly
" Tapi Bu bagaimana kalau dia jadi milik orang lain ?!" rajuk Kei sambil menatap Melly dengan wajah sembab
Melly tidak langsung menjawab nya, ia meraih tisu di atas meja lalu menghapus air mata dari wajah Kei setelah itu Melly membingkai wajah Kei dengan kedua tangannya dan mereka pun saling menatap
" Dengar Kei, kamu seorang Izumi, jangan cengeng, jangan mudah menyerah, kalau kamu benar-benar mencintai nya kamu cari dia sampai ketemu kamu yakinkan dia jika kamu adalah belahan jiwanya dan ingat jika kamu sudah mendapatkannya cintai, hargai dan perlakukan dia dengan baik !"
" Lalu bagaimana dengan para tetua ?!"
" CK...jangan khawatir soal itu biar ibu yang urus, mereka cuma sekumpulan duda kesepian !"
Kei mendengar semua perkataan Melly dan seketika ia kembali merasa optimis
Kei tersenyum sambil memegang kedua lengan Melly
" Terima kasih Bu...maafkan Kei yang terlalu kekanak-kanakan !" ucap Kei lalu ia pun memeluk Melly
Setelah di lihatnya Kei sudah lebih tenang Melly pun keluar dari kamar Kei
Tapi begitu sampai di pintu Melly membalikkan badannya menatap Kei
Melihat tingkah ibunya Kei tertawa lalu sedikit mendorong tubuh Melly agar ia bisa menutup pintu kamarnya
Kei menatap seisi kamarnya tiba-tiba ia seperti mendapat energi baru
Kei segera membereskan meja kerjanya yang dipenuhi oleh berkas-berkas yang sudah ia koreksi
Kei bertekad untuk saat ini ia harus mendapatkan kepercayaan para tetua dengan melakukan semua perintah mereka dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik
Setelah itu ia pasti akan ditempatkan di kantor pusat dimana ia memegang kendali penuh atas semua nya dan di sanalah ia mulai menentukan masa depannya bersama Gita
Kei tersenyum sendiri membayangkan masa depannya nanti bersama Gita
Sementara itu Pratiwi merasa shock ketika ia pulang kerumahnya dan mendapatkan rumah itu sudah di tempati oleh orang lain
" Siapa kalian ? sedang apa dirumahku ?!" bentak Pratiwi sambil bertolak pinggang
" Maaf Bu kami orang suruhan tuan Rey !" jawab seorang pria yang tadi membukakan pintu untuk Pratiwi
Sebelumnya Rey sudah menjelaskan pada orang suruhannya mengenai Pratiwi dan Rey pun sudah menyiapkan segalanya jika Pratiwi membuat ulah
" Lalu kemana anak dan suami ku ?!" tanya Pratiwi lagi sambil berusaha melihat ke dalam
" Oh nona muda dan tuan Irwan sekarang tinggal bersama tuan Rey, kalau anda mau mengunjunginya silahkan, anda pasti sudah tau kan tempat tinggal tuan Rey ?!"
" Oh iya hampir lupa ini ada titipan dari tuan Irwan !" pria itu menyerahkan sebuah map pada Pratiwi
Pratiwi menyambar map itu dengan kasar lalu membuka isinya dan membacanya
Seketika wajah Pratiwi nampak terkejut, matanya melotot dan mulut nya menganga
" Irwan brengsek berani-beraninya dia menceraikan aku !" terik Pratiwi sambil merobek-robek map itu lalu melemparnya hingga berserakan di lantai
" Minggir aku mau masuk !" dengus Pratiwi sambil berusaha mendorong pria yang berdiri didepannya itu
" Maaf anda tidak boleh masuk karena setelah anda bercerai dengan tuan Irwan anda sudah tidak punya hak lagi di rumah ini !"
" Heh !! jangan sembarangan kamu ya ini rumahku, rumahku !!" teriak Pratiwi sambil berusaha mendorong tubuh pria itu
" Maaf saya tidak akan mengizinkan anda masuk, kalau anda keberatan silahkan anda hubungi tuan Rey !" pria itu tetap bertahan diambang pintu
" Heh !! ini rumah suamiku bukan rumah tuan Rey mu itu !!" bentak Pratiwi tidak terima dengan penjelasan pria didepan nya
" Maaf menurut surat yang anda robek tadi anda hanya mantan istri tuan Irwan dan mengenai rumah ini anda juga tidak punya hak samasekali karena rumah ini atas nama nyonya Kumala Sari istri pertama tuan Irwan jadi sebaiknya anda pergi sekarang juga !"
Mendengar penjelasan pria itu seketika Pratiwi terdiam, ia tidak bisa menyangkal lagi jika ia memang tidak punya hak pada rumah itu
" Tapi...aku memiliki andil dalam merawat rumah ini !" sepertinya Pratiwi belum mau menyerah
" Bukan kah yang merawat dan membersihkan rumah ini adalah ketiga putri tuan Irwan ?!"
Kembali Pratiwi di buat bungkam oleh jawaban pria didepannya
" Kamu....!!!! ya sudah aku mau ambil barang-barang pribadi ku saja minggir kamu !!" kembali Pratiwi berteriak sambil mendorong pria yang dengan teguh berdiri diambang pintu
" Tidak usah khawatir soal itu sudah saya siapkan semuanya !"
Pria itu lalu berbalik dan ketika Pratiwi hendak masuk, pria itu langsung menutup pintu lalu menguncinya
Pratiwi langsung mundur secepatnya karena kalau tidak bisa-bisa hidung hasil operasi plastiknya bisa bengkok terbentur pintu
" Kurang ajar !! dasar brengsek !!" umpat Pratiwi sambil menatap pintu yang tertutup
Tidak berapa lama pintu rumah itu terbuka dan nampak seorang wanita beridri dibelakang pria tadi sambil membawa koper dan tas
" Ini barang-barang pribadi anda semua nya sudah saya masukkan !"
Pria tadi meletakan koper dan tas di hadapan Pratiwi yang tidak menyangka jika barang-barang nya sudah di bereskan
" Kamu yakin sudah memasukan semuanya, jangan-jangan kamu menyembunyikannya barang-barang berhargaku !" dengus Pratiwi sambil menatap sinis pada dua orang dihadapannya
" Maksud anda perhiasan imitasi dan barang murahan lainnya, maaf nyonya bagi anda mungkin itu barang berharga tapi bagi itu semua tidak berharga sama sekali !" dengus pria itu menatap Pratiwi tidak suka sedangkan wanita di belakangnya terlihat menahan senyum mendengar ucapan suaminya
Pratiwi menggeram kesal, tanganya terkepal erat dengan gigi gemeletuk menahan amarah tapi kembali Pratiwi tidak bisa berbuat apa-apa
" Lalu bagaimana dengan barang-barang yang ada di kamarku , itu semua aku yang beli pakai uangku !" teriak Pratiwi sambil menepuk dadanya
" Maksud anda uang hasil menjual anak tiri anda ?!
Mendengar jawaban pria tadi Pratiwi langsung terdiam ia tidak menyangka jika pria itu tau soal itu
" Kenapa anda diam ? betul kan apa yang saya katakan ?!"
Pratiwi tidak menjawab apapun karena ia tidak bisa menyangkal lagi
Tanpa berkata apa-apa Pratiwi langsung menggusur koper-kopernya dan langsung memasukan nya ke dalam mobil yang terparkir didepan pintu pagar lalu memacu kendaraan entah kemana
Sedangkan sepasang suami istri itu hanya memandang kepergian Pratiwi dengan tatapan mencemooh karena mereka tidak menyangka jika ada manusia sekeji Pratiwi yang tega menjual anak tirinya demi kesenangan pribadinya