Just For Escape

Just For Escape
Bab 83



Mega melepas kepergian Niken dan Irwan yang akan tinggal bersama dengan Gita


Mega sangat senang pada akhirnya ayahnya akan mendapatkan pengobatan yang layak dan berharap semoga ayahnya bisa sembuh seperti sedia kala


Mega memandang seisi rumah yang sepi, ia teringat akan masa kecilnya bersama niken dan Mega


Bagaimana mereka hidup bahagia walau dalam kesederhanaan, apalagi Sari dan Irwan selalu melimpahkan mereka dengan kasih sayang tanpa membedakan salah satunya


Mega menatap foto Sari yang tergantung di kamar Irwan, Mega meraba wajah ibu kandung nya sambil berfikir alasan Sari merahasiakan identitas Gita


Mungkin ibu tidak ingin ayah atau aku bersikap tidak adil jika saja dari awal ibu menceritakan identitas Gita yang sebenarnya


Gumam Mega berusaha berfikir positif akan keputusan Sari


Mega akan tinggal beberapa hari lagi sampai orang suruhan Rey datang untuk tinggal dan mengurus rumah nya


Mega merasa bebannya telah hilang, apalagi ketika Rey memastikan jika Pratiwi tidak akan berani mengganggu mereka lagi di tambah keputusan Irwan yang akan menceraikan Pratiwi secepatnya dengan bantuan Rey


Mega kembali menuju pintu depan karena Arell masih bermain di teras rumah


" Arell ayo masuk sudah waktunya tidur siang !" ajak Mega pada Arell yang sedang asik memunguti bakal buah mangga yang rontok dan berserakan di tanah


" Mommy ini mangga nya apa bisa di makan ?!" tanya Arell sambil memperlihatkan lipatan kaos nya yang dipenuhi bakal buah mangga sebesar kelereng


" Iihh.. jorok ah lihat baju nya jadi kotor semua ! lagian ini masih kecil belum bisa dimakan, dibuang aja gih !" ucap Mega sambil menunjuk tong sampah yang ada di dekat pagar


" Yaahh...Arell kan cape udah ambil banyak-banyak !" dengus Arell sambil menumpahkan butiran buah mangga itu ke tong sampah


" Nanti kalau buahnya sudah besar-besar kita kesini ya, nanti biar kamu bisa ambil sendiri !" tunjuk Mega pada bakal mangga yang banyak memenuhi setiap ranting


" Asiikkk...nanti Arell suruh Daddy ambil yang paling atas !" sorak Arell sambil menatap ke atas pohon mangga


" Ya...pasti seru lihat daddy mu manjat pohon, kalau dia bisa !"


Arell dan Mega saling tatap lalu keduanya tertawa bersama membayangkan Enzo yang berusaha memanjat pohon mangga yang cukup tinggi


Niken berdiri mematung di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Gita


Beberapa kali Niken mengucek matanyanya berharap ia sedang salah lihat


Tapi berapa kali pun ia mengucek matanya bahkan sampai menutupnya bberapa saat lalu membukanya , hingga ia mencubit tangannya sendiri jika ini adalah sebauh mimpi


Tapi tetap saja apapun yang ia lakukan tidak merubah apa yang ada di hadapannya saat ini


" Bagaimana...kau suka kamar nya ?!" tanya Gita yang baru saja muncul dibelakang Niken sambil bersandar di kusen pintu


Niken membalikan badannya lalu menatap Gita dengan pandangan sulit di artikan


" kenapa ?...apa kamu tidak suka ?!" Gita menatap cemas ke arah Niken yang masih menatapnya


Niken menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu setelah itu ia berteriak sambil menghambur memeluk Gita


" Suka banget !!!...makasih banyak kak !" ucap Niken sambil terisak dalam pelukan Gita


Gita memeluk erat tubuh Niken yang terisak sambil mengelus rambutnya


" Kakak senang kalau kamu suka kamarnya !" jawab Gita sambil menahan haru


Bagaimana seumur hidupnya yang Gita tau Niken adalah adiknya dan Mega adalah kakaknya


Dengan segelas kebenaran yang terkuat tidak dapat begitu saja merubah rasa sayang Gita pada Niken dan Mega apalagi pada Irwan yang sejak bayi sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri


Setelah beberapa saat nampak keduanya berada di atas tempat tidur


Niken tengkurap dengan kedua tangan mengelus-elus seprei yang terasa begitu halus sedangkan Gita terlentang dengan lutut di tekuk menatap langit-langit kamar


" Niken..mungkin sebentar lagi kakak akan pergi kuliah dan kamu di sini jaga ayah sama papa ya !"


" Memangnya kakak mau kuliah dimana ?!"


Gita menarik napas dalam,.ia merasa berat harus berpisah lagi dengan keluarganya


Gita masih ingin berkumpul bersama mereka, tapi Rey sudah mengatur semuanya dan Gita pun faham jika yang Rey lakukan adalah demi masa depannya


" Papa akan mengirim kakak keluar negri, mungkin untuk beberapa tahun kedepan kakak akan tinggal di sana dengan salah satu sepupu papa !"


Gita menoleh ke arah Niken, lalu ia memiringkan tubuhnya menghadap Niken


" Dan setelah kamu lulus SMA giliran kamu yang akan papa kirim ke luar negri !"


" Loh...kok Niken harus kesana juga sih, nanti ayah gimana ?!"


Gita tertawa melihat Niken yang kebingungan memikirkan Irwan


" Dasar bocah kan ada kak Mega, lagian emang aku bakal di sana seumur hidup apa, kalau kuliah kakak sudah beres kakak pasti pulang lagi lah !" dengus Gita sambil menoyor kepala Niken pelan


" Tapi kenapa papa Rey kirim Niken juga ?!" tanya Niken yang masih kebingungan dengan rencana Rey mengirimnya ke luar negri karena setau Niken anak kandung Rey hanya Gita saja


" Ihh...nih anak kok jadi telmi sih, papa kirim kamu kuliah di sana biar kau bisa bantuin kakak ngurus perusahaan papa !"


" Tapi kan yang anak kandung papa Rey kak Gita aja, kenapa Niken juga harus ikut ngurusin perusahaan papa Rey ?!"


Gita menatap Niken yang masih kebingungan, ia sadar belum mengatakan rencana masa depan Niken yang sudah ia bicarakan dengan Rey


" Jadi begini Niken, sebelumnya kakak minta maaf sudah merencanakan ini tanpa meminta pendapat mu dulu !"


" Rencana apa kak ?!" Niken menatap Gita denga penuh tanda tanya


" Jadi papa sudah merencanakan mas depan mu juga kak Mega dengan mengirim mu keluar negri lalu membantu kakak mengurus perusahaan dan jika kamu sudah cukup mampu papa akan memberikan salah satu perusahaan nya untuk kamu kelola begitu juga dengan kak Mega !"


Terang Gita sambil menatap Niken yang terlihat membelalakn matayandengan mulut terbuka


" Papa Rey mau kasih Niken perusahaan, apa Niken gak salah denger kak ?!" teriak Niken sambil bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap Gita


" Jangan ge-er dulu, itu kalau kamu dianggap mampu makanya kamu harus belajar dengan serius jangan pacaran mulu !" goda Gita sambil menahan tawanya menatap Niken yang nampak serius


" Pacaran...siapa yang pacaran kak, jangan fitnah ya !" teriak Niken sambil menunjuk Gita


" Lalu yang namanya Edo - Edo itu siapa ? yang ngirim kartu perpisahan warna pink ,waktu kamu pindah sekolah kemarin !" selidik Gita menatap Niken yang terlihat gelagapan


" Iihh...itu kan si Edo temen SD dulu yang rumahnya samping rumah pak RT !" bela Niken


" Tapi kok isinya ada kata kangen segala !" goda Gita lagi yang seketika membuat Niken merona


" Loh kok kakak tau sih ! jangan - jangan kakak baca ya !" tuduh Niken sambil menunjuk Gita dengan wajah terlihat kesal


Gita yang merasa keadaan sudah mulai panas langsung duduk dan bersiap menghadapi hal yang tidak terduga


" Kakak gak sengaja lihat di tas kamu waktu di pesawat kemarin !" jawab. Gita tanpa merasa bersalah


" Kakaak !!! kenapa dibaca itukan rahasia !!" teriak Niken sambil mengambil bantal di samping nya lalu dengan sekuat tenaga memukulkan bantal itu ke arah Gita


Gita yang sudah menduga nya dengan gesit langsung menghindar dan ia pun mengambil bantal yang lain


Lalu tanpa bisa di hindari mereka pun melakukan perang bantal hingga kasur itu berantakan tidak karuan oleh ulah mereka


Sementara itu di sebuah ruangan kerja di lantai teratas nampak Kei tengah menatap foto-foto Gita yang ia simpan di dalam dompet nya


Sabar ya sayang... sebentar lagi aku pasti akan menemuimu dan kita bisa kembali melanjutkan cerita kita yang belum sempat kita mulai


Gumam Kei sambil tersenyum dan mencium foto Gita yang tengah tersenyum lalu kembali meletakan foto itu ke dalam dompetnya


Hanya dengan cara itu Kei bisa bertahan menjalani masa hukumannya yang harus ia jalani tanpa tau apa yang sudah menimpa gadis idamannya