
Rey mengajak Gita memasuki ruang kerjanya lalu mereka duduk berdampingan di sebuah sofa
" Aku mengerti jika kamu mungkin merasa bingung dengan semua kejadian yang baru saja menimpa mu, juga keberadaan mu di rumah ku dengan semua fasilitas yang aku berikan, dan semua itu aku lakukan karena aku memiliki alasan yang kuat !"
Rey menelan ludahnya berusaha menetralisir perasaan nya dan berharap ia sanggup menceritakan semua nya sampai akhir
Sebenarnya Adam menyarankan agar Rey memberi waktu pada Gita untuk beradaptasi dulu sebelum Rey menceritakan rahasia diantara mereka
Tapi Rey berfikir jika ia tidak mau lagi membuang waktunya setelah mereka terpisah selama hampir dua puluh dua tahun dan Rey harus menundanya lagi, tidak...Rey ingin Gita tau secepatnya akan jati dirinya
" Tapi Sebelum aku mengatakan alasan ku melakukan semua ini aku punya cerita dan aku harap kamu mau mendengar nya !" ucap Rey sambil menatap Gita yang juga tengah menatapnya
" Tentu tuan saya akan mendengar nya !" jawab Gita antusias
" Suatu masa ada sepasang kekasih yang saling mencintai dan mereka mengikat janji sehidup semati, tapi ternyata kehidupan mereka di usik oleh orang-orang serakah dan keji yang tanpa perasaan memisahkan kedua orang itu dalam kondisi si wanita hamil besar !"
Rey terdiam beberapa saat berusaha menahan perasaannya dan terlebih ia harus kembali membuka luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam
" Si pria berusaha mencari belahan jiwanya tapi ia tidak pernah menemukannya dan orang yang tau keberadaan nya pun memilih mati dan membawa nya hingga ke dalam kuburnya !"
" Tapi si pria tidak pernah putus asa, ia terus mencari keberadaan istri dan anaknya hingga akhirnya ia menemukan titik terang, tapi semuanya sudah terlambat...!"
Rey kembali terdiam, ia menarik napas dalam-dalam berusaha memenangkan perasaan nya, dengan tangan terkepal Rey pun kembali melanjutkan ceritanya
" Si pria hanya menemukan batu nisan atas nama istrinya di pinggir hutan tanpa ada yang merawat apalagi mengunjungi nya, ia di sana sendirian tanpa ada yang perduli keberadaan nya !"
" Hati pria itu begitu hancur melihat kenyataan jika wanita yang begitu di dicintainya sudah tiada....tapi ada satu hal yang membuat pria itu bertahan, setelah ia mengetahui jika anaknya masih hidup dan tinggal di sebuah desa bersama keluarga yang mencintainya !"
Rey menjeda ceritanya, ia membuka sebuah album foto yang sejak tadi tergeletak di atas meja di hadapannya
Rey membuka album foto yang penuh dengan gambar dirinya dan Shinta menikmati hari-hari kebersamaan mereka hingga foto pernikahan dan foto terakhir yang Rey ambil sebelum Shinta menghilang dengan perlahan seperti tengah bernostalgia
Gita yang mendengar cerita Rey seakan ikut merasakan kepedihan hati Rey apalagi ketika Gita menyadari jika ternyata cerita itu merupakan cerita masa lalu Rey sendiri
Gita menghapus air matanya yang keluar begitu saja tanpa ia sadari dan seketika pandangan wajahnya terpaku pada sebuah foto wanita berambut panjang menggunakan dress putih dengan motif bunga matahari tengah tersenyum ke arah kamera sambil memeluk perutnya yang buncit
Gita mengusap foto itu dengan kening berkerut, Gita memandangi foto itu lekat - lekat seakan pernah melihatnya tapi entah dimana
" Ini istriku, namanya Shinta !" ucap Rey pelan
Rey melihat reaksi Gita yang hanya menoleh nya sebentar lalu kembali menatap foto Shinta, Rey tiba-tiba berdiri lalu dengan lembut meraih lengan Gita agar mengikutinya
Gita menuruti perintah Rey dengan pandangan heran tapi Gita tidak merasa takut, ia justru merasa semakin penasaran
Rey menyuruh Gita berdiri didepan sebuah cermin lalu dengan lembut Rey menyampirkan rambut panjang Gita di bahu kanannya
Gita terdiam dan semakin penasaran dengan apa yang Rey lakukan hingga tiba-tiba Rey berdiri di sebelahnya dan meletakan sebuah foto besar tepat di samping wajah Gita
Gita menatap lekat wajah wanita di foto itu dan wajahnya melalui cermin dan seketika matanya membelalak dengan mulut terbuka
Gita tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, beberapa kali Gita mengerjapkan matanya berharap ia salah lihat
Tapi sebanyak apapun Gita mengucek matanya tetap saja wajah nya dan wanita yang berada dalam foto itu begitu mirip bagai saudara kembar
Tubuh Gita gemetar, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya lalu dengan perlahan Gita menoleh ke arah Rey yang masih memegang foto itu sambil menatapnya
Dan terlihat wajah Rey yang sembab oleh air mata tengah menatapnya dengan bibir gemetar menahan tangis membuat Gita semakin kebingungan
Rey dan Gita saling bertatapan dan Rey terlihat mengangguk kan kepalanya dengan bibir gemetar menahan tangisnya Rey mengusap kepala Gita
Rey sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya lalu ia memeluk Gita yang masih kebingungan sambil menangis
" Anakku...anakku... akhirnya aku bisa memelukmu !" Rey menangis histeris ia sudah tidak tahan lagi ingin memeluk buah hatinya
Sedangkan Gita walaupun masih belum mengerti sepenuhnya tetap membalas pelukan Rey dan ia pun ikut menangis
Hingga setelah beberapa saat Rey pun mulai tenang dan perlahan melepaskan pelukan nya dari tubuh Gita
Rey menatap lekat wajah Gita yang sembab lalu dengan lembut Rey mengusap air mata yang masih tersisa di wajah Gita dengan kedua tangannya
" Maaf...maafkan Papa yang baru menemukanmu !" ucap Rey sambil kembali memeluk dan mencium pucuk kepala Gita
Rey dan Gita sudah duduk kembali karena masih banyak cerita yang belum tuntas
" Maaf..tu.an...kenapa anda begitu yakin kalau saya adalah putrimu, karena setau saya orang tua kandung saya adalah ibu Nurmala Sari dan ayah Irwan !"
Gita memberanikan diri mempertanyakan tentang keyakinan Rey mengenai dirinya
" Papa tidak sembarangan mengakui mu sebagai putriku kecuali papa mempunyai bukti yang kuat !"
Gita membaca hasil tes DNA tersebut dan ia tidak percaya jika ternyata selama ini Sari dan Irwan bukan orang tua kandungnya
" Ta ...tapi bagaimana mungkin ?!" kembali Gita mempertanyakan kenyataan yang ada didepannya
" Begini Gita, Mama Shinta dan ibu Sari bertemu di sebuah klinik bersalin milik seorang bidan desa dan mereka melahirkan dalam waktu yang bersamaan, tapi karena kondisi kesehatan selama dalam penyekapan, Mama Shinta kekurangan gizi hingga akhirnya ia meninggal tidak lama setelah melahirkan mu, sedangkan ibu Sari yang baru kehilangan bayinya langsung menerima mu yang di berikan langsung oleh mama kandung mu karena pada saat itu sepertinya ia sudah tau jika ia tidak akan sanggup bertahan !"
" Tapi sebelum meninggal Mama Shinta sudah memberimu nama Maharani dan menitipkan beberapa barang pribadinya pada ibu Sari yang ditemukan oleh ayah Irwan dan ayah Irwan lah yang memberikan semua barang itu pada papa pada saat papa mendatangi rumah mu untuk memastikan informasi yang papa dapat !"
Gita menatap Rey antara percaya dan tidak, Gita masih bimbang dengan perasaan nya sendiri karena baginya ini terlalu cepat dan sulit dipahami
" Papa mengerti jika kamu masih bingung, awalnya papa juga berusaha tidak terlalu banyak berharap karena takut kecewa, tapi setelah melihat semua bukti akhirnya papa yakin jika kamu memang putri kandung papa !" Rey menggenggam tangan Gita yang duduk di sampingnya
" Apa ayah Irwan tau ?!" tanya Gita
" Sama seperti papa, ayahmu juga baru mengetahui nya setelah papa mendatangi rumahmu karena di antara barang - barang yang Shinta titipkan ada foto papa bersama mamamu !"
Gita kembali menatap Rey berusaha untuk mencerna semua cerita yang baru saja didengarnya
" Dan agar kamu semain yakin besok lusa kita akan mengunjungi rumah ayah Irwan !" ucap Rey penuh harap
Tapi seketika wajah Gita berubah pucat dan ketakutan ketika Rey berencana akan mengunjungi ayahnya
" kenapa sayang....kamu tidak mau bertemu ayah dan saudaramu ?!" Rey menatap Gita yang ketakutan
" Bu..bukan begitu...sebaiknya kita jangan dulu ke sana...!" Gita terlihat semakin cemas
" Apa yang kamu takutkan ?!" Rey menatap Gita yang terlihat ketakutan
" Apa kamu takut pada ibu tiri mu ?!" tebak Rey sambil menatap tajam ke arah Gita yang langsung mendongak kan kepalanya menatap Rey
" Betul kamu takut pada ibu tiri mu ?!" kembali Rey bertanya
" I..iiya...!" jawab Gita terbata
" Mulai sekarang tidak ada lagi yang harus kamu takutkan, karena papa tidak akan membiarkan siapapun menggangu mu apalagi sampai menyakitimu !" janji Rey sambil menggenggam erat tangan Gita
" Oh iya sayang..mulai sekarang namamu adalah Maharani dan tolong panggi aku Papa jangan panggil tuan lagi !" pinta Rey menatap Gita penuh harap
" Pa..pa !" panggil Gita pelan dan Rey pun langsung memeluknya dengan wajah penuh kebahagiaan
Rey dan Gita masih berpelukan ketika pintu ruang kerja Rey diketuk dari luar dan tidak lama pak Nim masuk dan berjalan mendekati Rey dan Gita
" Maaf tuan nona muda makan malam sudah siap !" pak Nim membungkukkan badannya
" Oh iya sebentar lagi kami ke sana !" jawab Rey sambil menoleh ke arah Gita
Pak Nim pun hanya menganggukkan kepalanya lalu berlalu dari ruangan itu menuju ruang makan
Rey menggenggam tangan Gita seakan ia takut jika Gita akan menghilang kembali
Mereka berjalan beriringan menuju meja makan dimana berbagai menu sudah di siapkan oleh para pelayan
" Apa nona muda menginginkan makanan lain, biar kami siapkan !" tanya pak Nim ketika melihat Gita yang memandangi seluruh makanan yang ada di hadapannya
" Oh..tidak..tidak usah ini sudah cukup, saya hanya bingung melihat makanan yang begitu banyak !" jawab Gita polos tanpa mengetahui reaksi Rey yang nampak terpukul mendengar ucapan anaknya
" Saya harap nona muda menyukai semua masakan kami dan jangan sungkan jika nona menginginkan makanan lain !" kembali pak Nim menawari Gita
" Iya terima kasih sebelumnya pak !" jawab Gita sambil tersenyum ke arah pak Nim
Tidak lama kemudian Rey dan Gita menyantap makan malam mereka
Rey mengambilkan hampir semua makanan yang ada dimeja hingga piring Gita di penuh
" Sudah cukup Pa..ini terlalu banyak !" tolak Gita ketika Rey mencoba megambil makanan lainnya
" Kamu harus banyak makan sayang...lihat kamu begitu kurus !" ucap Rey sambil menunjuk badan Gita
" Iya..tapi enggak segini juga kan ?!" rajuk Gita sambil menatap piringnya yang penuh makanan
Rey tertawa sambil mengusap kepala Gita melihat Gita yang menatap piring di depannya
Ya Tuhan akhirnya aku bisa mendengar kembali tawa tawa tuan besar yang sudah lama menghilang, semoga dengan kehadiran nona muda rumah ini kembali dipenuhi kebahagiaan
Gumam pak Nim sambil menatap Rey dan Gita penuh haru