Just For Escape

Just For Escape
Bab 82



Gita berdiri di depan teras rumahnya, ia menatap sekeliling ternyata tidak banyak yang berubah setelah hampir tiga tahun ia tinggalkan


Gita perlahan melangkahkan kakinya dan terdengar suara orang yang sedang berbincang


Gita tersenyum mendengar suara yang sangat dikenalnya siapa lagi kalau bukan Mega dan Niken


Gita segera berjalan mendekati arah suara dan Gita berdiri di ambang pintu yang terbuka


Nampak Mega yang membelakanginya sedang asik mengobrol dengan Niken dan seketika Niken berteriak ketika melihat kedatangan Gita yang mereka tunggu sejak tadi


" Kakak !!" teriak Nike


Mega yang kaget dengan teriakan Niken pun langsung membalikkan badannya dan ia pun melihat sosok Gita yang tersenyum ke arahnya


" Gita !!"


Niken dan Mega langsung berlari ke arah Gita dan mereka bertiga pun langsung berpelukan


Mereka bertiga menangis tanpa melepaskan pelukan mereka


Mereka tidak menyangka setelah sekian lama akhirnya mereka bisa bertemu kembali tanpa merasa khawatir akan keselamatan mereka


" Ayah mana ?!" Gita bertanya sambil melihat sekeliling rumah mencari sosok Irwan


" Dia lagi di kamar baru selesai mandi, ayo kita ke sana !" Niken langsung menarik lengan Gita menuju area dalam


Tapi belum sempat Gita melangkah tiba - Tina terdengar suara deheman dari luar


Gita membalikkan badannya dan ia pun langsung menepuk jidatnya


" Ya ampun hampir lupa , kak Mega, Niken kenalkan ini Papa Rey papa kandung Gita !"


Gita mendekat ke arah Rey dan Adam yang berdiri di teras


" Maaf Pa..paman Adam !" ucap Gita merasa tidak enak karena meninggalkan keduanya cukup lama di teras


" Iya sayang tidak apa-apa..papa mengerti kok !" jawab Rey sambil mengelus puncak kepala Gita


Rey bersalaman dengan Mega yang baru mereka kenal sedangkan Niken sudah dikenalnya sejak pertama kali mereka mencari keberadaan Gita


" kenalkan saya Mega, silahkan duduk !" Mega mempersilahkan kedua tamunya memasuki ruang tamunya


" Terima kasih !" jawab Adam dan Rey sambil memasuki rumah mungil itu lalu duduk di ruang tamu


" Pa...aku ke belakang dulu ya mau ketemu ayah !" pamit Gita sambil menunjuk ke arah dalam


" Iya nak, silahkan !" jawab Rey sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama


Ketiga kakak beradik itu beranjak menuju area dalam dengan tujuan yang berbeda


Gita dan Niken hendak menemui Irwan sedangkan Mega hendak membuat minuman untuk kedua tamunya


Gita memasuki kamar Irwan dan seketika langkanya terhenti ketika dilihatnya seorang anak lelaki tengah berceloteh membacakan cerita pada Irwan yang duduk sambil bersandar di kepala ranjang


" Anak siapa itu ?!" tanya Gita pada Niken yang berdiri di samping nya


" Itu Arell anak yang di asuh sama kak Mega, katanya maksa mau ikut sama mommy Ega !" jawab Niken dengan mimik lucu ketika menyebut mommy Ega


Niken hanya mengangkat alisnya dan bibir membentuk huruf O tanpa suara


" Ayah !" panggil Gita sambil mendekati tempat tidur Irwan


Irwan yang tengah asik mendengar kan cerita dari Arell langsung melihat ke arah suara dan seketika Irwan terpekik dengan wajah berbinar bahagia


" Uuhhkkkkk !!!" teriak Irwan sambil mengangkat kedua tangannya


Gita yang sudah lama tidak bertemu dengan Irwan langsung menubruk dan memeluk Irwan sambil menangis


" Ayah....Gita kangen !" Gita memeluk erat Irwan yang juga memeluknya sambil berurai air mata


Sedangkan Arell yang duduk di sebelah Irwan hanya menatap kebingungan


Niken yang melihat kebingungan Arell pun langsung menghampiri nya


" Tante cengeng itu namanya Tante Gita !" bisik Niken sambil terkikik


Arell pun langsung tersenyum mendengar candaan Niken


Sedangkan Gita yang mendengar bisikan Niken pun langsung melepaskan pelukannya pada Irwan dan melempar Niken dengan bantal


" Aduh !" teriak Niken sambil memegangi kepalanya yang tertimpa bantal


" Makanya kalau ngomong jangan sembarangan !" dengus Gita sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya seperti anak kecil


" Diihh..emang aku ngomong apaan ?!" sangkal Niken sambil beringsut menjauh dari Gita


" Emang aku gak denger kamu bilang aku cengeng !" Gita kembali mendengus kesal


" Loh emang bener kan !" bela Niken sambil menatap mata Gita yang sembab


" Aku bukan cengeng tapi aku kangen sama ayah !"


Gita berusaha membela dirinya


" Tapi gak usah pake nangis juga kali !" ledek Niken sambil menaik turunkan alisnya dengan wajah menatap Arell yang terlihat menahan senyum


" Namanya juga kangen, iya kan Yah ?!" Niken berusaha mencari pembelaan dari Irwan


" Tetep aja cengeng !" Niken sepertinya belum mau menyerah


" Bodo ah, mendingan aku kenalan sama cowok ganteng yang dari tadi liatin aku terus !" dalih Gita sambil mendekati Arell yang terlihat malu- malu ketika Gita menyebutnya cowok ganteng


" Namanya siapa sayang ?!" Gita mengulurkan tangannya mengajak Arell bersalaman


" Ourellio Pirelli tapi Tante boleh panggil aku Arell !"


Gita tersenyum sambil bersalaman dengan Arell yang menurut nya sangat lucu


" Arell nanti bobo nya jangan sama Tante Niken ya, kalau bobo suka ngorok sama ileran !" setelah berkata demikian Gita langsung turun dari tempat tidur Irwan dan hendak berlari ke ruang depan tapi Niken pun tidak tinggal diam ia meraih bantal yang tadi dilempar kan Gita padanya lalu melemparkannya ke arah Gita


Tapi Gita dengan gesitnya berkelit lalu kembali berlari ke ruang depan sambil tertawa terbahak-bahak


Niken semakin kesal ia berlari mengejar Gita ke ruang depan dimana Rey Adam dan Mega tengah berbincang


" Papa ....papa tolong pa !" teriak Gita sambil berlari ke belakang kursi yang di duduki Rey


" Enak aja kalau ngomong kapan aku ngorok sama ileran ada juga kamu yang tidur mulutnya mangap sama matanya melek setengah kayak orang teler !" teriak Niken sambil mengacungkan bantalnya ke arah Gita


Rey yang kaget dengan teriakan Gita hanya bisa menatap Niken yang terlihat emosi sambil berusaha memukul Gita dengan bantal


Sedangkan Adam hanya tersenyum karena ia sering menyaksikan kejadian seperti ini di rumah nya


Mega yang melihat tingkah kedua adiknya langsung berdiri sambil bertolak pinggang


" Niken Gita kalian tidak sopan ya di depan tamu seperti itu !"


" Itu kak..kak Gita yang duluan !" bela Niken


" Diihh...aku kan cuma mengatakan yang sebenarnya !" sanggah Gita sambil menahan tawanya


" Niken sudah kebelakang sana kasihan ayah !, Gita kamu tidak kasihan apa lihat papa mu sampai syok kayak gitu ?!" hardisk Mega pada kedua adiknya


Niken dengan kesal mendengus ke arah Gita sambil mengacungkan bantal nya seakan mengancam Gita jika urusan mereka belum selesai lalu berbalik ke arah belakang sambil menghentakkan kakinya


Sedangkan Gita hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf V


" Maaf kan mereka berdua Om...begitulah keseharian mereka kalau tidak ada saling mencari tapi kalau sudah ketemu ya seperti itu ...ada aja yang mereka ributkan !"


Mendengar penjelasan Mega Rey pun tersenyum, ia yakin jika selama ini Gita pasti hidup dalam keluarga yang menyayanginya kecuali Pratiwi tentunya dan itu membuat Rey tidak terlalu merasa bersalah


" Tidak apa Om malah senang melihat kedekatan kalian !" Jawab Rey sambil menatap Gita yang sudah duduk di sebelahnya dengan masih mengatur napasnya sehabis berlari dari kejaran Niken


" Dan papa baru tau kalau kamu sangat jail !" ucap Rey sambil menyenggol bahu Gita dengan bahu nya


" Maaf Pa...Gita kangen denger teriakan Niken !" jawab Gita sambil tersenyum


" Iya tapi lihat adik mu sampai kesal begitu !" kembali Rey menegur Gita


" Tenang saja Pa..sebentar lagi juga ngambek nya ilang, Niken itu kalau marah gak pernah lama apalagi kalau udah buka oleh-oleh dari aku !"


Belum sempat Rey menjawab tiba-tiba Niken nongol dari balik lemari pajangan


" Oleh - oleh apaan kak ? buat Niken kan ?!" tanya Niken antusias


" Tuh kan Pa..apa aku bilang !"


Rey yang melihat tingkah kakak beradik beda ayah dan ibu itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya


Sedangkan Gita langsung beranjak mendekati Niken lalu merangkul bahunya menuju kamar dimana semua bawaannya diletakan di sana sambil bercakap-cakap seakan kejadian kejar-kejaran tadi tidak pernah terjadi


Rey, Adam dan Mega kembali meneruskan obrolan mereka yang sempat terputus karena keributan Niken dan Gita tadi


" jadi bagaimana menurut nak Mega usulan saya tadi ?!"


Rey menatap Mega yang tengah menunduk sambil memainkan ujung kemejanya


" Saya senang sekali jika om berkenan merawat ayah dan Niken tapi bagaimana dengan ibu Pratiwi bagaimana pun juga status nya masih istri ayah !"


Rey terdiam sesaat memikirkan apa yang Mega katakan, benar juga kata Mega jika Pratiwi masih istri dari Irwan


" Om mengerti tapi melihat apa yang sudah ia lakukan terhadap kalian sepertinya Pratiwi sudah tidak pantas menjadi seorang istri apalagi seorang ibu !" dengus Rey nampak kesal setiap kali membicarakan soal Pratiwi


" Maaf tuan, nona saya menyela pembicaraan anda berdua, begini tuan bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada tuan Irwan apakah ia masih ingin melanjutkan pernikahan nya atau tidak agar kita bisa memikirkan langkah selanjutnya !" saran Adam


" Heum..betul juga sebaiknya kita tanyakan sekarang juga, apapun keputusan pak Irwan saya akan mendukung nya !"


" Lalu bagaimana dengan anda, apa nak Mega juga berkenan untuk tinggal bersama kami ?!" saran Rey sambil menatap Mega lekat


Mega terdiam ia seolah tengah berfikir keputusan apa yang harus diambil


" Heum...maaf Om sepertinya saya tidak bisa karena saya mempunyai pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan tapi terima kasih banyak, Om sudah mengajak saya !" jawab Mega dengan yakin jika keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik


" Baiklah kalau begitu jadi kita tinggal menunggu keputusan pak Irwan tentang status pernikahan nya, dan soal rumah ini saya akan mengirim seorang pelayan untuk mengurus nya agar sewaktu-waktu di tinggali rumah ini terawat baik !"


" Dan satu lagi..soal Pratiwi kamu tidak usah khawatir, Om pastikan dia tidak akan menganggu kalian lagi !"


Rey memandang Mega yang terlihat haru setelah mendengar rencana Rey untuk mengobati Irwan dan mengajak Niken tinggal bersama mereka


Mega merasa bersyukur sekali akhirnya ia dan adik-adiknya terbebas dari jerat Pratiwi dan ia pun tidak harus menjalani kehidupan kelamnya yang sesungguhnya sangat dibencinya


Mega berharap jika kehidupan mereka akan lebih baik dan ia pun masih berharap jika suatu hari nanti ada pria yang mau menerima dirinya tanpa mempermasalahkan masa lalunya