
Kei masih harus menghadiri pertemuan untuk memilih pengurus baru walaupun ada kabar jika ketua asosiasi terpilih tidak bisa ikut hadir karena ada urusan mendadak yang tidak bisa di wakilkan
Ternyata akibat kejadian kemarin membuat mood Gita drop hingga setelah mereka sarapan bersama Gita memutuskan untuk kembali bergulung di dalam selimutnya
Kei hanya bisa menatap Gita dengan rasa iba, niatnya untuk mengajak liburan Gita agar mereka bisa berdekatan malah gagal karena kejadian kemarin itu
" Gita kalau kamu mau jalan-jalan bilang ya " Kei berkata sebelum meninggalkan Gita
" Baik tuan !" jawab Gita terlihat malas
Kei lalu meninggalkan Gita di kamar nya menuju ruang pertemuan di lantai dua
Di dalam lift Kei bertemu dengan beberapa anggota lainnya dan mereka pun mulai terlibat obrolan hingga mereka sampai di tempat pertemuan berlangsung
Kei berjalan hendak memasuki ruang aula ketika sebuah suara memanggil namanya
" Tuan Kei !" sapa seorang wanita yang ternyata Luna
Kei menoleh dan terkejut ketika melihat Luna yang berdiri tidak jauh dari dirinya
Kei pun menghampiri Luna hendak bertanya tentang keberadaan nya di tempat ini
" Luna...Kamu di sini ?" tanya Kei dengan wajah heran
" I..iya tuan..kebetulan saya sedang cuti ada acara keluarga di hotel ini !" jawab Luna sambil memberikan senyum terbaiknya
" Oh...saya pikir kamu salah satu anggota rapat !" jawab Kei santai setelah tau alasan Luna
" Ma..maaf tuan apa nanti siang kita bisa makan siang bersama ?" tanya Luna penuh percaya diri
" Loh bukannya kamu lagi ada acara keluarga kok malah ngajak saya makan siang bersama ?!" Kei menjawab dengan heran
" Eh..itu acaranya sudah selesai tuan jadi keluarga saya sudah pulang semua tinggal saya sendiri !" jawab Luna sedikit tergagap takut kebohongan nya terbongkar
Kei terdiam sesaat, ia merasa kasihan dengan Luna tapi Kei juga tidak bisa mengabaikan Gita yang tengah terpuruk
" Maaf ya Luna sepertinya saya tidak bisa, kebetulan saya di sini dengan kekasih saya !" jawab Kei merasa tidak enak
" Oh maaf tuan saya tidak tau...tapi apa saya boleh bergabung ? itu pun kalau tidak mengganggu ya mungkin kami bisa berkenalan lalu berteman !" jawab Luna , ia merasa penasaran siapa kekasih yang sering ia lihat bersama tuan Kei itu
" Oh kalau soal itu nanti saya tanya dulu kekasih saya takutnya ia punya acara lain dan soal berkenalan kamu sudah kenal kok !" jawab Kei lalu pamit masuk ke dalam aula karena acara sebentar lagi akan di mulai
Luna menatap kepergian Kei dengan penuh harap, Luna akan melihat siapa wanita yang sudah mendahului nya mendapatkan cinta Kei, memindai nya lalu menentukan langkah untuk menyingkirkan nya karena Luna merasa ia pun cukup pantas untuk bersanding bersama Kei apalagi mendengar perkataan Kei jika ia mengenal kekasih nya itu membuat Luna semakin tertantang
Sementara itu Adam dan Rey baru saja tiba di hotel tempatnya menginap
Setelah melihat kondisi Irwan membuat Rey dan Adam memutuskan untuk meninggalkan kediaman Irwan
Rey dan Adam baru mengetahui jika kondisi Irwan separah itu
" Apa yang harus kita lakukan tuan , mengingat kondisi pak Irwan ?!" Adam merasa prihatin
" Aku juga tidak tau Adam...!" jawab Rey sambil menyandarkan tubuhnya lalu memijit pelipisnya
" Kita sudah sangat dekat tuan tetapi ternyata tidak semudah yang kita bayangkan !" jawab Adam lagi sambil melirik Rey yang duduk di samping nya
" Ya ...aku pikir pak Irwan itu hanya sakit biasa bukan sakit yang seperti itu !" jawab Rey dengan mata menerawang jauh
" Sebaiknya kita pikirkan lagi langkah selanjutnya tuan dan siapa tau nanti ada informasi terbaru dari anak-anak !" Adam berharap majikannya memiliki sedikit kesabaran lagi
Belum sempat Rey menjawab tiba-tiba terdengar ponsel milik Adam berdering
Adam segera mengambil ponselnya yang ia simpang di saku kemejanya dan nampak sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya
Halo...ia saya sendiri ...
Oh iya nona ....
Anda yakin ?!.....
Baik saya ke sana sekarang ! ....
Tiba-tiba raut wajah Adam berubah antara senang dan bingung
" Siapa Adam ?" tanya Rey penasaran
" Itu tuan..anaknya pak Irwan menghubungi saya dan meminta kita ke rumahnya sekarang !" jawab Adam sambil memandang Rey meminta persetujuan
" Ada apa ?!" tanya Rey semakin penasaran
" Dia tidak bilang apa-apa tuan hanya saja pak Irwan yang meminta agar kita ke sana sekarang !" jawab Adam lagi
Rey terdiam beberapa saat ia berusaha menebak apa alasan pak Irwan memintanya kembali setelah sebelumnya ia teriak-teriak tidak karuan
" Bagaimana tuan ?!" tanya Adam lagi
" Kita ke sana sekarang !" jawab Rey setelah menimbang keputusan nya
Adam menepuk punggung pak supir lalu memerintahkan nya untuk putar balik menuju rumah yang baru saja mereka tinggalkan
Tanpa banyak bertanya supir itu pun memutar mobilnya menuju kediaman Irwan yang tadi mereka datangi
Setelah hampir dua puluh menit akhirnya mereka pun tiba di halaman rumah pak Irwan
Adam dan Rey bergegas turun dari mobil mereka menuju pintu rumah yang sudah terbuka
" Permisi ....!" sapa Adam sambil berdiri di ambang pintu
" Ya.. sebentar !" jawab Niken yang bergegas menghampiri tamunya
" Silahkan masuk tuan... maaf merepotkan !" ucap Niken sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu
" maaf tuan sepertinya ayah saya ingin memperlihatkan sesuatu kepada tuan !" ucap Niken lagi sambil bergerak mendorong kursi roda Irwan dimana Irwan terlihat lebih tenang
Irwan duduk di depan Rey dan Adam tapi mata Irwan hanya tertuju pada Rey hingga membuat Rey salah tingkah
Rey melihat Irwan yang memegang sesuatu di tangannya juga sebuah kotak kardus lusuh dipangkuan nya tapi Rey tidak berani untuk bertanya ia hanya diam menunggu
Setelah keheningan beberapa saat terdengar gumaman Irwan dengan tangan berusaha menunjuk ke arah Rey
" Uughhh !" Irwan mengangkat tangannya ke arah Rey
Irwan mengangguk kan kepalanya sambil mengajak Rey untuk mendekat ke arahnya
Rey berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Irwan dan ketika mereka sudah berhadapan dengan kedua tangannya Irwan menyodorkan secarik kertas yang sejak tadi di genggam nya ke arah Rey
Dengan ragu Rey menerima kertas dalam genggaman pak Irwan lalu dengan tangan gemetar Rey melihat secarik kertas itu dan seketika terdengar teriakan dari mulut Rey dengan wajah kaget seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
" Ya Tuhan !!" Rey berteriak lalu tubuhnya melorot dan bersimpuh sambil menggenggam foto dirinya yang tengah tersenyum bersama Shinta yang tengah hamil , foto yang sama yang ia miliki selama ini
Adam yang mendengar teriakan tuannya seketika menghambur memeluk Rey yang tergugu sambil memeluk foto di dadanya
" Tuan...tuan ada apa tuan....tolong bicara tuan !!" Adam berusaha menenangkan majikannya yang masih menangis pilu
Rey tidak menjawab hanya menyerahkan foto itu ke tangan Adam dan seketika Adam pun terhenyak melihat apa yang ada di genggamannya
" Akhirnya tuan... akhirnya..kita menemukan nya !" Adam pun memeluk Rey sambil menangis
Siapa yang tidak sedih penantian selama lebih dari dua puluh tahun akhirnya mulai ada titik terang
Niken dan Irwan yang menyaksikan kedua pria itu hanya menatap penuh tanda tanya
Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi mereka tidak berani bertanya pada kedua pria itu dan membiarkan mereka melepaskan emosi nya hingga mereka merasa lebih tenang
Setelah beberapa saat Adam dan Rey berusaha mengontrol emosi mereka lalu dengan perlahan Rey menatap Irwan yang tengah menatapnya dengan pandangan penuh tanya
" Maaf pak kalau saya boleh tau dari mana anda mendapatkan foto ini ?" tanya Rey sambil menyeka air matanya
Irwan tidak menjawab hanya tangannya meraih kotak yang berada di pangkuan nya lalu mendorong nya ke arah Rey
Adam yang berdiri di samping Rey dengan sigap mengambil kotak itu lalu meletakkannya di meja
Rey berdiri mengikuti Adam lalu duduk di tempatnya semula sambil menatap kotak lusuh itu
Rey menoleh ke arah Adam seperti meminta persetujuan dan Adam pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
Dengan tangan gemetar Rey membuka kotak itu dan seketika tangan Rey meraih sebuah dress wanita yang sama persis seperti yang di pakai wanita di dalam foto dan kembali Rey terisak dengan wajah ditutupi dress itu
Adam yang tidak sabar mengulurkan tangannya ke dalam kotak kardus itu lalu mengeluarkan semua isinya dan seketika Adam pun terhenyak ketika melihat seuntai kalung dengan bandul sebuah cincin yang sangat ia kenal
Ya..Adam sangat mengenal cincin itu karena ia yang memesan nya dan Adam pun melihat ke dalam lingkaran cincin itu dan tertera ukiran nama Reynald
Adam mengusap punggung Rey yang masih terisak setelah mengetahui kematian Shinta kini Rey sudah mengetahui keberadaan buah hatinya
" Maaf tuan kalau boleh saya tau ini semua milik siapa ya, karena ayah saya pun tidak tau ini milik siapa yang pasti bukan milik ibu kandung saya ?!" tanya Niken penasaran begitu juga dengan Irwan
" Sebelumnya maafkan saya atas kekacauan ini nona tapi secara garis besar nya semua barang ini milik mendiang majikan saya yaitu istri dari tuan Rey !" jawab Adam sambil melirik ke arah Rey yang sudah mulai tenang
" Tapi kenapa ada di rumah saya, sedangkan diantara kami tidak ada yang mengenal nya !" jawab Niken lagi
" Jadi begini nona tuan Irwan, dua puluh dua tahun yang lalu nyonya Shinta wanita yang ada di foto itu tengah hamil lima bulan ketika seseorang menculiknya dan menyekapnya entah dimana, kami berusaha mencarinya hingga akhirnya kami mendapatkan titik terang tentang keberadaan nyonya kami tapi sepertinya kami terlambat, kami hanya menemukan makam nya saja !" terang Adam dengan wajah sedih
" Kami sangat berduka tapi masih ada satu harapan kami yaitu menemukan anak yang dikandung nyonya kami dan akhirnya kami pun mendapat petunjuk tentang orang yang telah mengasuh nona kecil kami dan petunjuk itu mengarah ke kediaman anda tuan Irwan !" terang Adam lagi sambil menatap pak Irwan yang terlihat kaget mendengar penuturan Adam barusan
Irwan menatap Adam dan Rey bergantian dengan tatapan menyelidik dan kening berkerut seakan tengah memikirkan sesuatu dan berusaha mencerna ucapan Adam barusan
" Seperti dugaan kami tuan Irwan...sepertinya salah satu putri anda adalah nona kecil kami yang hilang dan jika benar maka usianya sekarang kurang lebih dua puluh satu tahun !" terang Adam dengan perlahan
Adam sangat berhati-hati ketika berbicara tentang kemungkinan salah satu putri Irwan adalah nona kecilnya mengingat saksi kunci yang mampu membuktikan kebenaran nya telah meninggal tanpa memberi tahu siapapun yaitu istri Irwan sendiri
Seketika wajah Irwan pucat pasi begitu mendengar ucapan Adam, Irwan teringat anak-anak yang sangat disayangi nya dan Irwan berusaha untuk menyangkalnya
Irwan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan bergerak tidak beraturan seakan menyangkal semua perkataan Adam
" Saya mengerti tuan anda tidak akan percaya begitu saja dan saya pun tidak akan gegabah apalagi ini menyangkut seorang anak tapi melihat bukti yang ada di hadapan kita ada baiknya kita mencari kebenarannya bersama-sama dan mungkin saya akan meminta sampel ketiga anak anda untuk melakukan tes DNA !"
Terang Adam lagi dan Irwan pun langsung terdiam, ia pun merasa perlu jawaban akan pertanyaan nya selama ini mengenai barang milik istri dari orang di hadapannya
Dan Irwan pun mulai berusaha mengingat kembali masa-masa istrinya hamil dan melahirkan
Irwan terdiam dengan pandangan kosong menatap ke depan, ia sedang mengingat saat ketiga anaknya di lahirkan dan seingat nya hanya kelahiran Gita yang tidak ia saksikan karena pada saat itu Sari tengah berada di rumah saudaranya yang sedang hajatan
Dan Irwan ingat ketika pulang Sari menggendong seorang bayi perempuan padahal seingat Irwan harusnya Sari belum waktunya melahirkan dan menurut hasil USG anaknya berjenis kelamin laki-laki
Tapi pada saat itu Irwan tidak banyak bertanya yang penting baginya anak dan istrinya sehat dan selamat sampai di rumah
Wajah Irwan seketika berubah sendu, dilirik nya Niken yang berdiri di samping nya lalu diraihnya tangan Niken dan di genggamnya dengan erat
Niken yang merasa aneh dengan sikap ayahnya juga masih bingung dengan apa yang di dengarnya barusan hanya bisa menatap Irwan
Irwan dengan perlahan menunjuk sebuah foto yang di letakan di bufet tidak jauh dari Niken
" Uuhhkkk !" gumam Irwan menunjuk satu foto dengan tangannya yang lain
" Ayah mau Niken ambil ini ?" tanya Niken sambil menunjuk foto di samping nya dan di jawab anggukan oleh Irwan
Irwan menatap foto ketiga anaknya yang tengah berdiri di depan rumah nya lalu dengan perlahan Irwan mengusap foto itu dan terlihat bulir air mata mulai mengalir di pelupuk matanya
Niken mengusap punggung Irwan berusaha memberi kekuatan pada ayahnya yang terlihat begitu sedih
Setelah puas memandang foto ketiga anaknya Irwan pun menatap Adam dan Rey lalu dengan pelan Irwan menunjuk foto Gita dan ditunjukan kepada Adam dan Rey
" Anda yakin tuan ?!" tanya Rey tidak percaya dengan penglihatannya
Irwan tidak mengiyakan ataupun membantah karena sebenarnya Irwan pun tidak tau apakah Gita anak kandung nya atau bukan tapi Irwan hanya menatap ke arah Rey sambil menunjuk wajah Rey yang memang ada kemiripan dengan wajah Gita
Rey faham dengan apa yang Irwan maksud lalu Rey pun menghampiri Irwan dan menggenggam tangannya
" Benar tidaknya dia anak kandung saya atau bukan tidak akan pernah merubah status anda sebagai ayahnya karena sejak dia lahir hingga sekarang anda merawat dia dengan baik dan menyayanginya dengan sepenuh hati !" ucap Rey dengan mata berkaca-kaca begitu juga Irwan
Rey dan Irwan lalu berpelukan dengan berbagai perasaan campur aduk antara lega, bahagia , takut karena belum adanya kepastian
" Maaf kalau boleh saya tau siapa nama anak yang tuan Irwan tunjuk tadi !" tanya Adam setelah Rey duduk kembali di samping nya
" Namanya Brigitta Maharani tuan !" jawab Niken dan kembali Rey dibuat tak percaya
Rey memandang Adam yang mengerti dengan arti tatapan Rey, jadi Miss Lily atau Gita yang selama ini Rey kenal kemungkinan besar anak kandung nya
Rey tidak pernah menyangka jika anak kandung yang selama ia cari ternyata sudah ada didekatnya begitu lama