
Satu Minggu sudah berlalu sejak kepergian Kei ke negaranya dan seperti dugaan Gita tidak sekalipun Kei menghubungi nya
Gita tersenyum miris ia merasa sangat bodoh mempercayai ucapan Kei , tapi mengingat semua kebaikan Kei membuat Gita bertanya - tanya apa maksud semuanya itu
Apa Kei memang menyukainya atau hanya sekedar kebaikan seorang majikan ?
Gita kembali merapikan barang-barang nya yang tidak begitu banyak
Ia masukan ke dalam plastik sampah agar Ryu tidak mencurigainya
Sudah beberapa hari ini Gita merencanakan kepergiannya dari apartemen Kei
Ryu memang tidak tinggal satu atap dengannya tapi Ryu tinggal di unit tepat didepan unit milik Kei
Dan setiap hari Ryu pasti datang dengan alasan mengecek kondisi Gita tapi selalu di waktu makan malam dan sarapan
Gita sudah menemukan sebuah rumah petak di pinggir kota, ia harus berhemat karena belum mendapatkan pekerjaan
Untuk kembali menari di club' malam merupakan pilihan terakhir jika ia benar-benar tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di saat keuangan nya sudah menipis
Gita berdiri lalu memandang sekeliling apartemen yang ia tempati bersama Kei
Terbayang kembali keseharian yang mereka lalui, pembicaraan bahkan semua aktivitas yang masih terekam jelas di benak Gita
Gita menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, ada rasa nyeri menelusup ke dalam hatinya, Gita tidak menyadari jika keseharian nya bersama Kei telah menumbuhkan suatu rasa yang sepertinya baru ia sadari ketika Kei memutuskan untuk meninggalkannya
Gita memandang ke atas berusaha mencegah agar air matanya jangan sampai menetes, lalu ia menarik napas dalam - dalam dan kembali meneruskan aktivitas dan berharap waktu akan menyembuhkan lukanya
Gita menyibukkan diri di dapur karena sebentar lagi Ryu pasti datang untuk makan malam
Ryu merasa cocok dengan masakan Gita yang menurut nya seperti masakan rumahan biasa
Ya, semenjak tinggal bersama Kei , Gita sengaja belajar memasak makanan yang biasa Kei makan ketika berada di negaranya sesuai dengan selera Kei
Makanya ketika pertama kali Ryu mencicipi masakan Gita ia pun merasa cocok dan akhirnya setiap hari ia akan mengunjungi Gita untuk sarapan dan makan malam dengan alasan hanya menjalankan pesan Kei
Jam menunjukan pukul enam lewat tiga puluh sore dan benar saja tidak berapa lama terdengar pintu apartemen nya terbuka dan nampak Ryu berdiri dengan pakaian basah kuyup dan wajah Ryu terlihat pucat
" Tuan..anda tidak apa-apa ?!" Gita bergegas menghampiri Ryu lalu mengambil alih tas nya dan menyimpannya di sofa
" Tuan kenapa basah kuyup begini, tuan enggak hujan-hujanan kan, kalo sakit nanti gimana coba !" ceroscos Gita sambil membuka jas Ryu yang basah kuyup
" Kalau hujan itu berteduh tuan, bukannya malah hujan-hujanan kayak anak kecil saja !!" omel Gita lagi seperti istri yang memarahi suaminya
Ryu hanya diam saja mendengar semua omelan Gita tapi tanpa Gita sadari ujung bibir Ryu terangkat membentuk lengkungan
" Ayo tuan cepat mandi air hangat, nanti keburu meriang !" omel Gita lagi sambil menarik tangan Ryu menuju kamar yang biasa Kei tempati
Kembali Ryu tidak membatah ataupun menolak, ia mengikuti semua ucapan Gita pun ketika Gita menariknya ke kamar mandi Kei
Ketika Ryu dikamar mandi Gita mengambil pakaian Kei dilemari dan seketika Gita tertegun
Tercium aroma tubuh Kei dari pakaian ditangannya dan tanpa sadar Gita mencium dan menghirup aroma yang selama ini ia rindukan dengan mata terpejam hingga sebuah teriakan membuyarkan lamunan nya
" Gitaa....handuknya mana !" teriak Ryu dari dalam kamar mandi
" I..iya tuan sebentar !" Gita lalu segera menyimpan pakaian yang ia pegang di atas tempat tidur lalu mengambil handuk bersih dari dalam lemari
" Ini tuan !" teriak Gita dari balik pintu
Dan tidak lama terdengar pintu terbuka lalu Gita memasukan tangan yang memegang handuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh membelakangi
Tapi tanpa Gita sadari Ryu berjalan tanpa rasa sungkan hanya dengan Menggunakan handuk yang melilit pinggangnya saja dan handuk yang ia ambil dari tangan Gita hanya untuk mengeringkan rambutnya saja
" Ya ampun tuan mata saya ternoda !" teriak Gita sambil membalikkan badannya
Sedangkan Ryu dengan santainya berjalan dihadapan Gita sambil mengeringkan rambutnya yang basah menuju tempat tidur untuk mengambil pakaiannya
" Kamu mau lihat aku berpakaian ?!" tanya Ryu sambil menatap geli ke arah Gita yang membelakangi nya sambil menutup wajahnya
" Tidak...tidak tuan !" teriak Gita sambil bergeser ke samping dengan wajah masih tertutup kedua tangannya hingga sampai di pintu kamar
Setelah sedikit mengintip untuk meyakinkan jika ia sudah sampai pintu Gita segera menarik handel pintu itu lalu menutupnya dengan kencang sambil mengomel
Blaamm !!!
" Hahaha...!" sayup terdengar Ryu tertawa semakin membuat Gita kesal
" Dasar majikan sialan !! mataku yang suci ini telah ternoda !" gerutu Gita sambil mencuci wajahnya di wastafel berharap bayangan tubuh atletis Ryu dengan roti sobeknya terhapus dari ingatannya
Ryu keluar dari kamar Kei dengan wajah yang lebih segar walau terlihat hidungnya sedikit memerah
" Minumannya tuan !" Gita meletakan secangkir teh herbal tanpa gula di hadapan Ryu yang duduk di sofa
" Terima kasih !" jawab Ryu hingga membuat Gita membelalakkan matanya
Sudah seminggu ia memberi makan Ryu baru pertama ini ia mengucapkan terima kasih
Sepertinya air hujan membuat otaknya sedikit waras
Gumam Gita dalam hati sambil meneruskan pekerjaan nya menyiapkan makan malam untuk Ryu
Gita memasak semangkuk sup jamur dan sayuran dengan isian ikan salmon dan sepiring tempura
Uap dari kuah sup yang baru Gita tuangkan ke dalam mangkok membuat perut Ryu langsung berbunyi, lalu dengan tidak sabar nya Ryu pindah posisi duduk di meja makan
" Masih lama ?!" tanya nya dengan kepala mendongak ke arah Gita yang sedang menuang sup
" Sabaarr... sebentar lagi ya !" jawab Gita seperti menghadapi anak kecil
Ryu mendecih kesal lalu melipat kedua tangannya di dada
Tidak berapa lama Gita sudah selesai menyajikan makan malamnya
Dengan segera Gita mengambilkan satu mangkuk sup lalu ditambahkan nasi di dalamnya
Kebiasaan Ryu yang bertolak belakang dengan Kei dimana Kei lebih suka jika sup dan nasinya di pisah
Dan juga Kei lebih suka jika mereka makan bersama tapi kalau Ryu tidak, ia ingin Gita melayaninya dulu sampai Ryu selesai makan baru kemudian Gita tapi Ryu mengharuskan Gita duduk didekatnya agar jika Ryu membutuhkan sesuatu Gita bisa langsung melayaninya
Ryu begitu menikmati makan malamnya bahkan ia sampai minta nambah nasi dan sup nya
" Hari ini aku sangat lelah sekali, di tambah ban mobilku pecah jadi aku harus mengganti ban di bawah guyuran hujan !"
Ryu menceritakan apa yang tadi menimpa nya membuat Gita terdiam beberapa saat
Gita merasa kaget dengan apa yang Ryu lakukan barusan, karena selama seminggu ini Ryu belum pernah sekalipun berbicara panjang lebar apalagi menceritakan harinya, Ryu hanya berbicara seperlunya saja yang ada Ryu bersikap sangat dingin kadang menganggap Gita tidak ada
" Oh..memangnya para pengawal tuan kemana ?" Gita merasa heran karena setahunya Ryu selalu dikelilingi oleh para pengawal nya
" Ada yang lebih penting yang harus mereka jaga selain aku !" jawab Ryu tanpa menjelaskan siapa yang lebih penting dari dirinya
Setelah selesai menyantap makan malamnya Ryu malah duduk di sofa sambil membuka laptopnya dan memeriksa beberapa berkas dari dalam tasnya, bukan nya langsung masuk ke dalam unit nya seperti biasanya
Gita menyantap makan malamnya sambil sesekali melirik ke arah majikan barunya itu tapi Gita tidak berani bertanya atau berkata apapun karena ia tau posisinya
Hingga sampai Gita selesai makan dan membersikan dapur Ryu masih asik dengan pekerjaannya membuat Gita serba salah
Sebenarnya Gita ingin segera istirahat megingat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi dengan majikan barunya yang masih asik seperti itu tidak mungkin untuk meninggalkan nya
Dan pada akhirnya Gita membuatkan secangkir coklat panas dan meletakannya di meja dihadapan Ryu dan lagi- lagi Gita di buat terkejut
" Oh terima kasih !" Ryu melirik ke arah Gita sekilas dan kembali asik dengan pekerjaannya
Ryu melirik arlojinya dan Gita pikir ia akan segera beranjak tapi ternyata lagi - lagi Gita harus kecewa
" Kamu boleh istirahat, aku masih ada pekerjaan !" ucap Ryu tanpa menoleh ke arah Gita
" Di sini tuan ?!" tanya Gita lagi untuk meyakinkan
" Kamu keberatan ?!" jawab Ryu sambil menatap tajam ke arah Gita
" Ti..tidak tuan, kalau begitu saya permisi tuan !" Gita langsung beranjak dari tempat nya menuju kamar tidur nya
Sedangkan Ryu hanya menatap kepergian Gita sebentar lalu kembali fokus dengan pekerjaannya
Gita sudah merebahkan tubuhnya di balik selimut tebal, hujan yang masih mengguyur membuat udara terasa lebih dingin
Aku harus segera beristirahat agar besok bisa bangun pagi dan bisa segera meninggalkan tempat ini
Gumam Gita sambil memejamkan matanya dan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya
Ryu memijit tengkuknya yang terasa berat, belum lagi kepalanya mulai terasa pening tapi masih banyak berkas yang harus ia periksa
Jam sudah menunjukan angka dua belas , minuman coklat buatan Gita sudah habis sejak tadi
Ryu menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam, tubuhnya terasa lelah dan linu di setiap sendi nya
Sepertinya aku mau flu, sebaiknya aku istirahat saja
Gumam Ryu dalam hati sambil mencoba bangun hendak menuju unitnya
Tapi baru saja ia berdiri tiba-tiba kepalanya terasa berputar hingga akhirnya Ryu duduk kembali sambil memegang kepalanya
Ryu berpegangan pada sandaran kursi dan berusaha melangkah menuju pintu kamar Kei dengan langkah terseok-seok
Ryu berusaha menggapai pintu itu tapi karena pandangan nya mulai kabur hingga tanpa sengaja ia menabrak salah satu guci yang di pajang
Braaakkk !!
Seketika guci itu pecah berkeping-keping hingga membangunkan Gita yang merasa baru saja memejamkan matanya
Gita memandang sekeliling berusaha menajamkan pendengarannya hingga terdengar sayup-sayup suara orang yang memanggilnya
" Gitaaa....gitaaa !"
Seketika tubuh Gita merinding siapa yang memanggil nya tengah malam begini karena seingat nya ia tinggal sendiri tanpa tuan Kei
Kembali terdengar suara memanggil namanya kini dengan pukulan di pintu kamarnya
" Gitaaa..buk !.…buk ...! tolong aku !"
Gita langsung loncat dari tempat tidurnya, ia berusaha mendekat ke arah pintu walaupun dirinya ketakutan, lalu dengan memberanikan diri Gita pun menempelkan telinganya ke pintu
" Si..siapa di ..sana ?!" tanya Gita dengan suara tercekat
" A..ku....r..yu..!"
Begitu mendengar nama Ryu seketika Gita langsung membuka pintu kamarnya dan
" Ya ampun tuan kenapa !" Gita menjerit melihat Ryu yang terkapar di depan pintu kamar nya
Gita mendekati Ryu dan ketika Gita memegang tangnnya terasa panas sekali
" Ya ampun tuan...kenapa jadi begini !" Gita berusaha membangunkan Ryu yang setengah sadar
Dengan sekuat tenaga Gita membangunkan Ryu lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya karena ia merasa tidak kuat jika harus membawa Ryu ke kamar Kei
Gita membuka sweter Ryu dan membiarkan tubuh nya terbuka, lalu Gita memakai kan kaus kaki dan mengambil handuk kecil juga air hangat untuk mengompres kening Ryu
Gita mengambil obat yang biasa Kei minum jika sedang flu atau demam dan segelas air putih hangat
Gita duduk di samping Ryu lalu mengangkat kepala Ryu dan menjadikan pahanya sebagai bantalan
" Tuan..bangun dulu sebentar minum obatnya ya !"
Ryu yang tengah sadar hanya membuka.mulutnya ketika terasa tangan gita menyentuh rahangnya
Lalu Gita memasuka obat itu ke mulut Ryu dan mengarahkan sedotan ke mulut nya dan Ryu pun langsung menyedot air hangat itu hingga habis setengahnya
Gita kembali merebahkan kepala Ryu ke batal dan mengompres kepala juga dada Ryu yang terlihat bernapas tersengal- sengal
Gita mengusap wajahnya, rasa kantuknya hilang seketika di ganti dengan rasa khawatir melihat kondisi Ryu yang seperti ini
Berkali-kali Gita mengganti kompresan di kening dan dada Ryu dan setelah satu jam terlihat napas Ryu lebih teratur dan panasnya pun mulai turun
Gita menarik napas dalam, ia mulai merasa lebih tenang lalu ia pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh Ryu yang tertidur dengan pulas
Gita meringkuk menghadap ke arah Ryu, dan terdengar erangan dari mulut Ryu
" Ssttttt....sssttt...!" desis Gita sambil mengusap-usap kepala Ryu agar tenang dan sepertinya cara itu mujarab
Ryu langsung tertidur kembali dengan tenang seakan tau jika ada yang menjaganya
Gita meringkuk sambil terus mengusap-usap kepala Ryu hingga akhirnya ia pun tertidur
Ryu mengerjapkan matanya, ia mengangkat tangannya dan mengambil sesuatu di keningnya
Sebuah handuk, sepertinya ia di kompres pikir Ryu, lalu Ryu melirik ke samping nya dan terlihat sesosok tubuh meringkuk dengan mata terpejam
Ryu terkejut dengan pemandangan di depannya, hidung nya yang mungil, bulu mata yang lentik dan alis tebal, rambut panjang nya sebagian menutupi wajahnya dengan mulut sedikit terbuka membuat bibir nya yang berisi dan berwarna pink begitu menggoda untuk di cicipi
Ryu menjulurkan tanganya, ia menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Gita agar ia bisa menikmati seluruh wajah itu tanpa penghalang
Kamu memang tidak seperti wanita lain,.pantas saja Kei menyukaimu
Gumam Ryu dalam hati sambil menatap Gita yang tertidur pulas
Sementara itu Kei tengah bersimpuh di hadapan ayah dan ibunya
" Maafkan Papa tapi para tetua sudah membuat keputusan, kamu harus menuruti nya !" tuan Yoshihiro menatap iba putra semata wayangnya
" Tapi Kei mencintainya !" jawab Kei sambil mengangkat kepalanya menatap kedua orang tuanya
" Tapi kamu tau sendiri alasan para tetua menolak perempuan itu !" Yoshihiro berusaha menyadarkan anaknya
" Tapi dia melakukan itu karena terpaksa dan lagipula Gita gadis baik - baik !" Kei berusaha meyakinkan orang tuanya agar mendukung nya
" Papa tau tapi keputusan sudah diambil sebaiknya kamu mematuhinya !" ucap Yoshihiro lalu beranjak meninggalkan Kei yang masih bersimpuh
Melly merasa iba dengan apa yang menimpa putra nya, lalu Melly pun memeluk Kei yang masih bersimpuh dengan kepala menunduk
" Kei...jangan khawatir, mama selalu mendukung mu, kita akan mencari cara agar kamu bisa bersatu dengan gadis itu tapi untuk sementara kita ikuti dulu keinginan para tetua setelah itu kita akan tunjukan pada mereka jika gadis itu layak menjadi pendamping mu !" bujuk Melly sambil mengusap kepala Kei
" Terima kasih Ma...!" balas Kei semakin erat memeluk Melly
Kei membuka laptop di kamarnya, semenjak ia sampai di rumah orang tuanya ponselnya di sita agar ia tidak bisa menghubungi Gita bahkan nomor Gita pun di blokir
Terlihat sebuah email dari Ryu dengan kode confidencial / rahasia
Kei segera membuka email itu dan seketika wajah Kei merah padam dengan kedua tangan terkepal
Bagaimana tidak, nampak foto Gita yang tengah tertidur pulas di samping Ryu yang bertelanjang dada dengan tangan Gita berada di kelapa Ryu seperti sedang mengusapnya