Just For Escape

Just For Escape
Bab 71



Pratiwi memperhatikan Niken yang terlihat gugup, didekatinya Niken dengan pandangan menyelidik


" Niken, apa yang kau sembunyikan dari ku ?!" tanya Pratiwi gusar


" Ti.. tidak ibu, tidak ada yang Niken sembunyikan !" jawab Niken gugup


Tapi sepertinya Pratiwi tidak percaya begitu saja, ia mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang mencurigakan


Hingga ia melihat secarik kertas yang coba Niken sembunyikan di balik tubuhnya


Pratiwi berjalan semakin mendekati Niken hingga tubuh mereka hampir bersentuhan, lalu dengan sigap Pratiwi mencengkram lengan Niken dan langsung merebut kertas yang berada dalam genggaman nya


" Ibu..jangan !" teriak Niken sambil berusaha merebut kembali kertas itu tapi Niken kalah cepat Pratiwi langsung mengangkat kertas itu tinggi - tinggi sambil menatap tajam ke arah Niken


Niken langsung mundur ketakutan dipandang seperti itu oleh Pratiwi


Sedangkan Irwan menggeram marah ke arah Pratiwi tapi Pratiwi hanya melihat sekilas dengan pandangan sinis ke arah Irwan


Dengan santai Pratiwi duduk sambil bertumpang kaki lalu ia mulai membaca kertas yang berada di tangannya


Awalnya Pratiwi tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya hingga ia melihat nama Gita dan Reynald tertera disana dan di dalam kolom keterangan terdapat tulisan 99,9% DNA sama


Seketika wajah Pratiwi terlihat syok, Pratiwi kembali membaca informasi dari kertas yang dipegang nya berharap ia salah membaca tapi setelah ia baca kembali ternyata isinya tetap sama


Pratiwi memandang Irwan dan Niken bergantian seakan meminta penjelasan lalu tangan Pratiwi menunjuk ke arah Niken yang berusaha berlindung di balik tubuh Irwan


" Sini kamu !" panggil Pratiwi pada Niken


Niken nampak ragu untuk melangkah tapi ia sadar jika ia tidak punya pilihan, lalu dengan pelan Niken pun berjalan mendekati Pratiwi


" Jelaskan, apa maksud semua ini !" bentak Pratiwi sambil melempar kan kertas itu ke atas meja


" Iya Bu...seperti yang ibu baca, ternyata Kak Mega bukan anak kandung ayah dan ibu Sari !" terang Niken dengan tubuh gemetar


" Jadi selama ini aku banting tulang hanya untuk membesarkan anak pungut !" teriak Pratiwi sambil berdiri berkacak pinggang


" Sial !! sial !! enak sekali orang itu tiba-tiba datang hendak mengambil si Gita begitu saja setelah aku susah payah mengurus dan membesarkannya !" teriak Pratiwi lagi


" Sejak kapan kamu tau kalau dia bukan saudara kandung mu ?!" Pratiwi menatap Niken yang masih ketakutan


" Tau pastinya baru hari ini Bu , tapi seminggu yang lalu ada dua pria datang dan menanyakan soal kak Gita,meraka membawa bukti jika Kak Gita adalah anaknya yang hilang, lalu mereka meminta sisir yang terdapat rambut kak Gita untuk tes DNA dan ini hasilnya !" terang Niken tanpa ada yang di tutupi


Pratiwi menatap Niken berusaha mencari kebohongan di wajahnya tapi sepertinya Niken berkata jujur


" Lalu apa mereka tau dimana anak itu berada ?!" tanya Pratiwi mencoba mencari informasi tentang keberadaan Gita yang menghilang semenjak pertama kalinya ia mendatangi dan meminta uang kepada Gita


" Ti..tidak tau Bu, mereka juga sedang mencari keberadaan kak Gita !" jawab Niken lagi


" Ehmm...apa kamu tau orang yang bernama Reynald itu orang kaya apa bukan ?!" Pratiwi kembali menatap tajam ke arah Niken


Mendengar pertanyaan Pratiwi seketika Irwan emosi, ia sudah tau rencana yang akan dilakukan Pratiwi, dia pasti akan meminta ganti rugi pada orang tua kandung Gita, Irwan berusaha menggerakkan badannya sambil menggeram kesal


" Aargghh..!!!! Aarrgghh !!!" teriak Irwan menatap tajam ke arah Pratiwi


" Diam kamu !" bentak Pratiwi sambil menunjuk Irwan dan membentak nya


Tubuh Irwan bergetar menahan emosi dengan wajah merah padam, melihat itu Niken langsung menghambur ke arah Irwan


" Ayah...ayah...sabar ayah, jangan emosi ingat penyakit ayah !" Niken berusaha menenangkan Irwan yang terlihat sangat ingin menerjang Pratiwi


Lalu dengan segera Niken mendorong kursi roda Irwan menuju kamarnya yang berada di belakang


Sedangkan Pratiwi nampak nampak berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada


Ia menatap ke depan dengan senyum sinis menghiasi bibirnya, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu


Sementara itu Kei nampak fokus pada pekerjaan didepannya, Tapi ada yang berbeda dari wajah Kei, ia terlihat marah, sedih dan kecewa


Beberapa kali Kei menarik napas panjang teringat pembicaraan nya dengan para tetua tempo hari


Flash back On


Kei dan Yoshihiro duduk bersimpuh dihadapan para tetua, mereka hanya menundukkan kepala mendengar semua yang mereka katakan tanpa berani membantah


Awalnya mereka hanya membahas soal kinerja Kei selama memimpin perusahaan nya hingga para tetua itu membahas soal kedekatan Kei dengan Gita bahkan para tetua menyuruh Kei untuk meninggalkan Gita dengan alasan nama baik


Seketika Kei mengangkat kepalanya menatap para tetua, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya


" Maaf kan kelancangan saya ketua tapi...Gita adalah wanita baik-baik !" Kei berusaha membela Gita


" Wanita baik-baik tidak akan mau tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suaminya !" ucap salah satu tetua


" Dia mungkin wanita baik - baik, bagaimana dengan kakak dan ibunya ?!" ucap tetua lainnya


" Seorang wanita baik-baik tidak akan pergi ke night clubs untuk memperlihatkan tubuhnya yang berpakaian minim !" sahut tetua yang lain nya lagi


Seketika wajah Kei pucat pasi, ia tidak menyangka jika para tetua telah menyelidiki keluarga Gita


Kei menunduk, ia tidak bisa menyangkalnya karena Gita sendiri sudah menceritakan semuanya termasuk pekerjaan sampingan nya sebagai penari


" Lupakan perempuan itu, kau terlalu istimewa untuk perempuan seperti dia !" ucap salah satu tetua yang merupakan kakek kandung Kei


" Tapi kakek aku mencintai nya !" ucap Kei lirih


Yoshihiro langsung menggenggam tangan Kei lalu menatapnya seakan mengatakan jika sebaiknya ia menuruti perintah kakeknya


" Cih ! itu bukan cinta tapi hanya rasa suka karena kalian sudah tinggal bersama cukup lama, dan aku harap wanita itu tidak sedang mengandung anak mu karena ia tidak akan pernah diakui sebagai keturunan Izumi !" Bentak Ojichan sambil menatap tajam ke arah Kei dan Yoshihiro


Kei kembali menunduk dengan tangan terkepal yang masih di genggam oleh Yoshihiro


" Hiro awasi anakmu, kami memberi mu kesempatan kedua karena selama ini kau dan anakmu tidak pernah membuat masalah !" ucap salah satu tetua


Yoshihiro langsung menundukkan tubuhnya semakin dalam


" Baik saya akan mengawasi nya dengan baik dan terima kasih atas kepercayaan anda semua memberi kami kesempatan kedua !"


Yoshihiro masih menunduk dalam, kemudian ia menoleh ke arah Kei dan menatapnya, seperti Kei mengerti arti dari tarapan ayah nya karena ia pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ayahnya walaupun dengan berat hati


Flash back off


Kei kembali fokus pada pekerjaan nya, ia mencoba menyibukkan dirinya agar tidak selalu mengingat Gita


Tapi sialnya Ryu malah dengan sengaja mengirim foto - foto itu seakan ia sedang meledek Kei yang pastinya tidak bisa berbuat apa-apa


Tapi Kei sedikit terhibur ketika ibunya berkata jika memang Gita adalah jodohnya maka suatu saat nanti kami pasti akan bersama


Sementara itu Gita nampak membawa plastik sampah menuju basemen dimana terdapat sebuah tempat penampungan sampah khusus penghuni apartemen


Gita melihat ke sekeliling berharap tidak ada yang melihat nya


Setelah di rasa aman, Gita mengeluarkan isi plastik sampah nya dan terlihat sebuah bungkusan cukup besar ter enggok di depan kakinya


Gita berjongkok lalu membuka bungkusan plastik itu dan ternyata isinya adalah tas selempang miliknya dan sisa pakaian dan barang-barang miliknya yang masih tertinggal di apartemen milik Kei


Gita memakai jaket dan topi yang menutupi wajahnya lalu dengan segera Gita meninggalkan area basemen apartemen milik Kei melalui pintu belakang yang biasa di gunakan para pegawai apartemen juga truk sampah atau mobil jasa kebersihan tempatnya bekerja dulu


Gita berjalan dengan tergesa menuju jalan raya lalu menyetop angkot yang kebetulan lewat


Sepanjang jalan Gita tidak berani mengangkat kepalanya takut bertemu dengan orang yang mengenalnya


Hingga ia sampai di terminal angkot Gita menaiki angkot lain yang akan mengantarnya ke kontrakan barunya


Kontrakan baru Gita berada di pinggir kota jadi harganya lebih murah, kontrakan itu terdiri dari tiga ruangan yaitu ruang tamu, kamar dan dapur yang bersisian dengan kamar mandi


Gita sudah memindahkan barang-barang nya sedikit demi sedikit hingga tidak mengundang kecurangan Ryu dan Gita pun harus membeli cukup banyak alat - alat dapur dan kamar mandi juga kasur dan karpet


Untungnya ibu pemilik kontrakan berbaik hati meminjamkan gorden dan lemari plastik miliknya untuk Gita gunakan


Setelah sampai di kontrakannya Gita langsung masuk dan membuka jaket serta topinya


Seketika terlihat keringat membanjiri tubuh dan wajah Gita, bagaimana tidak di cuaca yang panas ini Gita memakai jaket yang cukup tebal dan harus berdesakan di dalam angkot yang sarat penumpang


Gita langsung membuka kaos nya lalu menggantinya dengan kaos tipis dan celana pendek


Gita merebahkan tubuhnya di lantai berkarpet tipis dengan kipas angin kecil miliknya yang menyala dan tidak lama kemudian Gita pun tertidur


Gita terbangun karena mendengar suara petir yang menggelegar,Gita segera menutup jendela dan mengunci pintu kamar kontrakannya dan ternyata hari sudah sore


Heum...pantas saja tadi siang panas sekali ternyata mau turun hujan


Gumam Gita sambil berjalan menuju dapur, ia menyalakan kompor lalu memasak air di sebuah panci kecil


Kayaknya hujan - hujan makan mie rebus enak nih


Gumam Gita lagi sambil mengambil sebungkus mie instan


Gita menikmati makan malamnya seorang diri hingga tiba-tiba ia tertegun, Gita teringat Kei yang semenjak di pantai itu tidak pernah menghubungi lagi lalu Gita pun teringat Ryu


Gita melirik jam tangannya dan Gita pun tersenyum miris karena biasanya saat ini ia sedang sibuk menyiapkan makan malam lalu setelah itu ia akan meringkuk di dalam.kasur empuk dan selimut hangat


Gita melirik ke dalam kamarnya yang kecil, disana hanya terdapat lemari plastik kecil dan kasur tipis beralaskan kardus


Tidak terasa air mata menggenangi pelupuk mata Gita, ia merasa hidupnya bagai berputar tak tentu arah


Gita menarik napas dalam lalu dihembuskan nya Gita melajukan itu beberapa kali hingga ia kembali tenang


Setelah itu Gita kembali menyantap makan malamnya yang tersisa sedikit hingga habis tak tersisa


Setelah membereskan bekas makan malamnya Gita merebahkan tubuhnya di atas kasur


Gita melirik tasnya dimana terdapat ponselnya yang sengaja ia matikan sejak tadi siang bahkan kartunya pun sudah ia buang


Hari menjelang malam dan biasanya Ryu sudah pulang, Gita memikirkan apa yang akan Ryu lakukan jika mengetahui dirinya sudah tidak ada di sana


Ryu bergegas menuju unit apartemen nya, hujan cukup deras mengguyur sepanjang jalan hingga membuat pakaiannya sedikit basah


Setelah mandi dan berganti pakaian Ryu pun langsung menuju unit didepannya


Ryu sudah membayangkan secangkir teh herbal dan makan malam yang sudah terhidang di atas meja


Ryu membuka pintu apartemen itu dan seketika ia terkejut mendapati ruangan yang gelap gulita


Ryu pun menarik saklar di samping pintu dan seketika ruangan pun terang benderang


Ryu mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan dan ia merasa ada yang aneh


Dengan perlahan Ryu berjalan melewati ruang tamu dan ketika sampai di dapur ternyata ruangan itu bersih dan rapi tanpa ada makanan apapun di atas meja makan


Ryu mengernyitkan keningnya, tidak biasanya Gita semalas ini pikir Ryu dalam hati


" Gita...Gita..!" teriak Ryu di depan kamar Gita tapi ruangan itu tetap hening


Ryu memberanikan diri membuka pintu kamar Gita dan ternyata tidak dikunci


Apa Gita sedang di kamar mandi ?


Tanya Ryu dalam hati sambil memasuki kamar Gita lalu berjalan menuju kamar mandi berharap mendengar suara Gita yang sedang mandi


" Gitaa !!!" panggil Ryu lagi tapi tetap tidak sahutan dari dalam sana


Ryu membuka pintu kamar mandi dan ternyata kosong dan lantainya pun kering pertanda Gita belum menggunakan nya


Tiba-tiba perasaan Ryu tidak enak, ia segera menunju kamar Kei dan ia pun tidak menemukan sosok Gita hingga semua ruangan ia periksa tapi tetap saja Gita tidak ada


Ryu meraih ponselnya, ia mencoba menghubungi Gita tapi panggilan nya masuk ke kotak suara


Ryu mencoba nya beberapa kali dan hasilnya tetap sama semua panggilan nya masuk ke kotak suara


Ryu berjalan sambil berfikir dimana Gita saat ini hingga matanya tertuju pada pintu kulkas


Nampak secarik kertas menempel di sana, lalu Ryu pun mengambil secarik kertas itu dan membacanya dan seketika matanya membulat


Ryu berlari menuju kamar Gita dan benar saja keanehan yang ia rasakan adalah ia tidak melihat apapun di atas meja rias yang biasanya di penuhi oleh pernak pernik milik Gita


Ryu lalu membuka lemari pakaian dan ternyata isinya sudah kosong yang tersisa hanya beberapa potong pakaian yang pernah Kei belikan termasuk gaun yang Gita kenakan pada saat makan malam di pantai


Ryu mundur beberapa langkah hingga ia terduduk di tepi tempat tidur yang biasa Gita gunakan


Ryu menatap lemari kosong yang dibiarkan terbuka , lalu di usap wajahnya beberapa kali berharap penglihatannya akan berubah


Tapi ternyata semua nya masih sama, lemari itu tetap kosong dan sudah dipastikan Gita pun sudah pergi entah kemana


Ryu mengepalkan tangannya dan wajahnya pun memerah, Ryu meraih ponselnya lalu ia pun menghubungi anak buahnya


Ryu memberi perintah pada semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Gita dan membawanya kembali ke hadapannya


Berani sekali kamu pergi begitu saja, kita lihat berapa lama kamu bisa bersembunyi dari ku


Gumam Ryu sambil meremas kertas yang ia temukan di pintu kulkas tadi