
Untuk beberapa saat Rey dan Gita saking berpandangan hingga terdengar suara Adam menyadarkan mereka
" Silahkan duduk tuan !" ucap Adam sambil menggeser kursi untuk Rey
" Oh iya terima kasih !" jawab Rey sambil melepaskan jabatan tangan nya begitu pun dengan Gita yang segera duduk kembali di kursinya
" Apa nona sudah memesan makanan ?" tanya Adam
" Saya baru memesan minuman saja !" jawab Gita
Tidak berapa lama seorang pelayan mendatangi meja mereka sambil menyerahkan buku menu
" Silahkan tuan - tuan !" ucap pelayan itu
" Sepertinya belum waktunya untuk makan siang jadi buatkan saya kopi saja !" jawab Rey sambil menyerahkan buku menu pada pelayan itu
" Buat kan dua !" timpal Adam pada pelayan
" Baik..tunggu sebentar !" jawab si pelayan sambil meninggalkan meja tempat Rey berada
" Oh iya nona, Adam bilang kalau nanti sore anda sudah cek out apa betul ?" tanya Rey
" Iya tuan kebetulan besok pagi saya ada pekerjaan lain !" jawab Gita
" Oh..ternyata anda lumayan sibuk ya !" jawab Rey sambil tersenyum
" Tidak juga tuan kebetulan saja saya harus menggantikan teman saya yang sakit !" jawab Gita
" Apa nona sudah lama menjalani profesi nona ?" tanya Rey
" Baru sekitar tiga tahunan tuan !" jawab Gita
" Oh lumayan lama ya !" jawab Rey
" Iya tuan tapi tidak setiap malam , kalau ada yang booking saja seperti tuan tadi malam !" jawab Gita apa adanya
Dan tanpa Gita sadari sepasang telinga tengah mendengarkan pembicaraan mereka dari meja persis belakang tempat duduk Gita
Dan pria itu ternyata Arga yang kebetulan tengah membuat janji dengan rekan bisnisnya untuk makan siang bersama
Awalnya Arga hendak menyapa Gita tapi ia urungkan karena melihat Adam dan Rey yang ia kenal menghampiri Gita
Dan Arga pun penasaran bagaimana seorang Gita bisa mengenal sosok Adam dan Rey yang notabene seorang pengusaha sukses yang sangat sulit didekati
Hingga akhirnya Arga mendengar percakapan mereka dan langsung menarik kesimpulan sendiri
Cih ! ternyata kamu hanya seorang psk tapi gayamu so' suci !
Gumam Arga dalam hati sambil terus mendengarkan pembicaraan antara Rey dan Gita hingga seorang pria seusianya menghampiri mejanya
" sorry bro gue telat, biasa semalam abis begadang !" ucap pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Arga
" Sialan lu pantesan gue telpon dari pagi gak di jawab ternyata ...!" jawab Arga
Lalu mereka pun melanjutkan obrolan nya dan Arga pun mengalihkan perhatian nya dari Gita
Gita nampak sedang menikmati makan siang nya begitu juga dengan Rey dan Adam
Mereka bertiga makan siang di selingi obrolan ringan seputar kehidupan Gita selama di perantauan
" Jadi nona bekerja jauh-jauh untuk membantu pengobatan ayah nona yang sakit keras ?" tanya Adam
" Iya tuan, sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya tapi sepertinya saya harus memendam cita-cita saya !" jawab Gita
" Apa nona serius ingin sekolah lagi ?" tanya Rey sambil memandang Gita
" Tentu saja tuan, rencananya tahun ini saya ingin mendaftar tapi belum lama ibu menghubungi saya meminta uang untuk pengobatan ayah !" jawab Gita sedikit berbohong
Rey dan Adam memandang iba pada Gita, diusianya yang masih muda ia harus berjuang untuk kehidupan nya dan orang tuanya
" Lalu bagaimana dengan kakak mu ?" tanya Adam
" Kakak juga bekerja keras untuk membiayai kebutuhan sehari-hari juga untuk biaya sekolah adik saya !" jawab Gita
" Lalu bagaimana dengan ibu mu ? apakah ia bekerja juga ?" tanya Rey
Gita langsung terdiam ketika Rey menyinggung tentang ibunya, apa ia harus mengatakan jika ibunya hanya bisa menghabiskan uang hasil kerjanya dan juga Mega
" eehmm ...ibu dirumah mengurus ayah dan juga adik saya !" jawab Gita sambil menundukkan kepalanya
" Sebenarnya saya juga ingin seperti anak lainnya tapi keadaan memaksa saya untuk memendam cita-cita saya tuan !" jawab Gita sambil tersenyum
Tidak berapa lama mereka pun menyelesaikan makan siang mereka, Rey dan Adam pun berpamitan karena masih ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan
" Sangat menyenangkan berbicara dengan Anda nona tapi kami harus pamit dulu, mungkin di lain waktu kita bisa bertemu lagi !" ucap Adam sambil menyalami Gita
" Silahkan tuan, tentu saja saya akan senang !" jawab Gita
" Oh iya Gita ini kartu nama saya, kalau tidak ada kesibukan mungkin kita bisa bertemu lagi !" ucap Rey sambil menyerahkan kartu namanya pada Gita
Sedangkan Adam hanya terdiam melihat tuannya begitu saja menyerahkan kartu namanya pada Gita padahal setau Adam hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan kartu nama Rey
Karena kebanyakan rekan bisnis nya selalu diberi kartu nama Adam atau kartu nama perusahaan dengan alasan Rey tidak mau terlalu direpotkan dengan banyak nya orang-orang yang menghubunginya
" Oh iya..terima kasih tuan !" jawab Gita sambil memasukan kartu nama itu ke dalam tas nya
Tidak berapa lama Rey dan Adam meninggalkan restoran tersebut dan Gita pun menyusul dibelakangnya setelah melakukan beberapa pose Selfi di tempat duduknya
Gita merebahkan tubuhnya ditempat tidur setelah mengganti bajunya dengan kaos longgar dan celana pendek
Coba aku sering mendapat job kayak gini, perut kenyang hati senang, nginep di hotel gratis bayaran nya pun lumayan
Gumam Gita dalam hati sambil menatap langit-langit kamar yang bercat putih sambil tersenyum
Tidak berapa lama terdengar dengkuran halus dari mulutnya yang menandakan Gita sudah tertidur
Sementara itu di kediaman Gita nampak Irwan tengah melamun di kamarnya
Irwan tengah memandang album keluarganya , album itu terlihat usang dimakan usia karena itu merupakan album foto ketika Sari masih ada
Tidak terasa air matanya mengalir di pipinya yang semakin kurus, ia teringat akan janjinya pada Sari jika ia akan menjaga anak-anak nya dan sekaligus menjadi ibu bagi mereka
Dan sekarang Irwan merasa bersalah karena keputusan nya menikahi Pratiwi telah membuat anak-anak menjadi korban
Irwan membuka kembali lembar demi lembar album foto itu dengan susah payah karena kondisi tubuhnya
Irwan memandang foto ketiga anaknya, Mega yang bertubuh mungil sangat kontras dengan Gita yang bertubuh bongsor sedangkan Niken lebih tinggi dari Mega tapi masih kalah tinggi dari Gita
Kadang orang suka salah mengira menganggap jika Mega adalah adiknya Gita karena postur tubuh Gita yang lebih tinggi
Sedangkan soal wajah mereka memiliki kecantikan yang berbeda jika Mega terlihat imut maka Gita terlihat sexy sedangkan Niken terlihat lebih dewasa dari usianya
Irwan merasa bangga memiliki anak-anak yang cantik dan baik tapi Irwan merasa kecewa karena sebagai ayah ia tidak bisa melindungi ketiga putrinya dari kebiadaban Pratiwi
Maafkan ayah anak-anak ku ayah tidak bisa melindungi kalian, ayah hanya bisa berdoa jika di luar sana kalian bertemu dengan orang-orang baik yang mau melindungi kalian
Gumam Irwan dalam hati sambil mengelus foto ketiga anaknya dan Irwan pun menutup album foto itu lalu berusaha meletakan nya di dalam lemari pajangan dengan susah payah
Irwan berusaha mendorong album itu tapi sepertinya sesuatu menghalanginya hingga Irwan mengerahkan tenaganya kembali mendorong album foto itu tapi tetap saja tidak bisa
Irwan kebingungan lalu mengarahkan kursi rodanya lebih dekat ke depan lemari yang terbuka
Lalu Irwan pun berusaha melihat ke dalam lemari itu dan nampak sebuah kotak kardus bekas sepatu yang terletak di pojok sudah penyok karena dorongan album foto tadi
Irwan merasa heran dengan keberadaan kotak tersebut karena seingatnya ia tidak pernah meletakan kotak tersebut di sana dan sudah lama sekali ia tidak pernah membuka lemari tersebut
Irwan melihat ke sekeliling lalu diambil nya sebuah sapu yang terletak di pojok kamar
Dengan susah payah akhirnya Irwan bisa menggeser kotak itu lebih dekat ke arahnya lalu mengambil kotak itu dan meletakan kotak tersebut dipangkuan nya
Irwan menjalankan kursi rodanya ke dekat meja lalu meletakan kotak tersebut di atasnya
Dengan perlahan Irwan membuka kotak itu dan terlihat beberapa barang yang belum pernah di lihatnya
Irwan mengeluarkan benda tersebut yang ternyata sebuah baju hamil lalu di bawahnya terdapat amplop coklat
Dengan hati-hati Irwan kembali mengeluarkan amplop tersebut dan beberapa benda berjatuhan dari dalam amplop tersebut
Nampak cincin yang di masukan ke dalam sebuah kalung, lalu sebuah foto dimana seorang wanita hamil dengan rambut panjang di gerai berada dalam pelukan seorang pria mereka nampak tersenyum bahagia
Irwan berusaha mengingat wajah-wajah dalam foto tersebut tapi ia samasekali tidak ingat jika ia pernah bertemu mereka
Tapi kenapa barang-barang ini ada dalam lemarinya ? siapa yang meletakan nya di sana ? apakah Sari almarhum istrinya ?
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Irwan tapi Irwan pun tidak tau kemana ia harus mencari jawabannya