
Sudah satu Minggu Gita tinggal bersama Rey di rumah utama
Rey sengaja menempatkan Gita di rumah utama karena rumah itu merupakan peninggalan orang tuanya dan pada akhirnya akan menjadi milik Gita
Lagipula semua pasilitas terbaik berada di sana apalagi lokasinya yang di tengah kota sehingga memudahkan Gita maupun Rey unyuk melakukan aktivitas nya
Rumah klasik bergaya Eropa itu menempati lahan yang sangat luas dikelilingi rimbunnya pohon sehingga membuat udara nya terasa lebih sejuk walaupun berada di tengah kota
Gita sedang berbicara dengan Niken dan mengabarkan jika ia akan segera mengunjunginya
Dan Niken pun terdengar antusias sekali begitu mendengar kabar Gita yang sudah lama menghilang
Tapi masih ada kekhawatiran yang di rasakan oleh Gita mengenai keberadaan Pratiwi
" Gimana Nik..apa ibu masih seperti dulu ?!"
Gita terlihat serius ketika membahas soal Pratiwi
" Masih kak sekarang kak Mega yang sering diperasnya, kasihan kak Mega apalagi kak Mega harus mengurus aku sama ayah juga !"
Mendengar curhatan adiknya Gita pun merasa sedih
" Kamu yang sabar ya ...kakak tidak akan tinggal diam, secepatnya kakak akan membebaskan keluarga kita dari tekanan ibu Pratiwi !"
Gita berharap semoga Rey akan memenuhi janjinya untuk membawa Niken dan ayahnya untuk tinggal bersama mereka
Dan Gita pun mendapat kan kabar jika Mega kini bekerja sebagai pengasuh anak dengan bayaran yang cukup untuk menutup mulut Pratiwi yang sering mengancamnya
Setelah beberapa saat akhirnya Gita pun mengakhiri pembicaraan nya dengan Niken
Gita duduk di ruang kerja Rey dan nampak beberapa orang yang belum dikenalnya berada di hadapannya
" Ada yang ingin papa bicarakan denganmu mengenai pendidikan mu yang tertinggal dan papa harap kamu tidak keberatan !"
Gita menatap Rey dengan pandangan bingung
" Maksud papa Gita harus sekolah lagi ?!" tanya Gita meyakinkan tebakannya
" Iya sayang..dan untuk itu papa sengaja memanggil beberapa guru untuk membantumu belajar !"
Rey menatap beberapa orang yang duduk berjejer di sofa didepannya yang langsung berdiri memperkenalkan diri mereka
Gita pun berdiri dan menyalami mereka satu-persatu
" Oh iya ..apa kamu tidak keberatan jika kamu mempelajari bisnis karena kamu satu-satunya penerus papa !"
pinta Rey sambil menatap Gita yang sudah duduk kembali di sampingnya
" Iya Pa tidak apa-apa tapi selain belajar bisnis apa Maha boleh belajar yang lain nya ?!"
Tanya Gita yang semenjak tinggal dengan Rey namanya berubah menjadi Maharani sesuai nama belakang nya pemberian ibu kandungnya
" Tentu saja sayang...Papa malah senang jika kamu mau mempelajari hal lain !" jawab Rey sambil mengelus kepala Gita
Setelah itu mereka terlibat obrolan seru mengenai berbagai hal terutama di dunia bisnis
Sementara itu Ryu nampak menatap rumah mungil nan sejuk dari dalam mobilnya
Sejak tadi ia memperhatikan seorang gadis muda dengan rambut panjang dikepang dua nampak mondar-mandir di teras rumah sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya
Sementara tidak jauh dari gadis itu seorang pria paruh baya terduduk di kursi roda yang terlihat kesulitan ketika berusaha menggerakkan tubuhnya
" Bagaimana tuan, apa anda masih ingin menunggu ?!" pengawal yang duduk di sampingnya nampak gelisah
Ryu menarik napas dalam beberapa kali seperti berusaha melepaskan beban yang menghimpit dadanya tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah itu
Ryu berjalan memasuki teras rumah itu dan seketika kehadiran nya membuat penghuni rumah tersebut menatapnya heran
" Permisi...apa ini benar kediaman Gita ?!" sapa Ryu ramah
Wanita muda yang ternyata Niken menatap tajam ke arah Ryu
" Maaf anda siapa ?!" tanya Niken tanpa perduli pada pertanyaan Ryu
" Oh..saya atasan Gita di perusahaan tempat nya bekerja !" jawab Ryu lagi masih berusaha ramah
" Mau apa anda ke sini ?!" Niken menatap tajam sambil melipat kedua tangannya di dada sambil berjalan mendekat ke tempat Ryu berdiri dengan perlahan
Ryu yang merasa kaget dengan respon Niken seketika mundur beberapa langkah
" Oh.. saya hanya ingin mendengar kabar soal Gita karena ia sudah tidak masuk selama satu Minggu tanpa kabar !" terang Ryu
Niken merasa aneh dengan cerita Ryu karena Gita bercerita jika pekerjaan terakhirnya adalah pelayan di warung nasi sederhana dan penampilan Ryu tidak seperti pemilik warung nasi
Belum lagi jarak rumah nya dengan tempat Gita berada sekarang sangat jauh, harus mengunakan pesawat terbang atau kapal laut
Jadi sangat aneh sekali jika seorang pemilik warung nasi rela kehilangan uang yang cukup banyak hanya demi mendengar kabar seorang pelayan tukang cuci piring
Niken menatap Ryu semakin intens bagai ingin menguliti Ryu dan membongkar semua kebohongan nya
" Memangnya kakak saya menjabat sebagai apa sampai- sampai atasannya jauh-jauh datang kesini hanya untuk tau kondisinya ?!" tanya Niken dengan tatapan mengintimidasi yang membuat Ryu sedikit tidak nyaman
Belum sempat Ryu menjawab tiba-tiba Niken berkata cukup kencang
" Saya tidak tau ada masalah apa anda dengan kakak saya tapi saya tau siapa kakak saya jadi sebaiknya anda jangan coba-coba mengusik kehidupan kakak saya karena saya tidak akan tinggal diam !"
" Dan sekarang sebaiknya anda pergi dari hadapan saya sebelum saya berteriak memanggil orang sekampung untuk menghajar anda !" usir Niken hingga membuat Ryu tidak bisa berkata apa-apa
" Tunggu apa lagi, anda pikir saya main-main ?!"
Setelah berkata demikian Niken langsung memposisikan dirinya seperti hendak berteriak
Melihat kejadian itu Ryu langsung mundur sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya
" Jangan nona..jangan, saya akan pergi sekarang !"
Ryu yang tidak ingin jadi bulan-bulanan massa pun langsung bergegas setengah berlari meninggalkan halaman rumah Niken menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana
Niken mendekati pintu pagar rumahnya lalu menatap Ryu yang masuk ke dalam mobil sambil menjebik kan bibirnya dengan wajah sinis
Huh...dasar pria penakut, baru digertak begitu saja sudah ngibrit !!
Gumam Niken sambil terus mengawasi mobil Ryu yang meninggalkan tempat kediaman nya
Sedangkan di dalam mobil Ryu menatap horor ke arah belakang dimana terlihat Niken masih berdiri mengawasinya sambil berkacak pinggang
" Kenapa kalian tidak bilang kalau ada macan betina di sana, aku hampir jadi korban kalau saja aku tidak cepat menghindar !"
Dengus Ryu kesal sambil menendang kursi depan yang di duduki oleh pengawalnya
" Maaf tuan kami salah !"
Jawab pengawal Ryu dan sopir nya sambil berfikir tentang macan betina yang Ryu sebutkan tadi
Macan betina yang mana, bukan kah rumah itu hanya di tinggali anak kecil dan pria di kursi roda ? jangan-jangan aku melewatkan sesuatu ? heum sepertinya aku harus menyelidiki lagi siapa saja penghuni rumah itu !
Gumam si pengawal sambil menatap berkas penyelidikan di pangkuannya