
Sudah satu Minggu ini Kei sangat sibuk dengan pekerjaan nya
Kei tengah mencari investor untuk expand pabrik nya karena kebetulan tanah kosong di sekitar pabrik nya masih sangat luas
Dulu ayah nya sengaja membeli tanah hingga puluhan hektar agar mempermudah jika perusahaan ingin melakukan expand tanpa harus di pusingkan oleh urusan pembebasan tanah masyarakat sekitar
" Yola sebentar lagi saya naik pesawat, tolong kamu kumpulkan berkas laporan dari bagian produksi dan gudang langsung kirim ke email saya !" perintah Kei pada Yola melalui ponselnya
" Baik pak, apa ada lagi pak ?" tanya Yola
" Untuk sementara tidak ada cukup itu saja " jawab Kei
" Baik pak kalau begitu selamat jalan pak hati-hati di jalan " ucap Yola
" Oke terima kasih " jawab Kei lalu menutup pembicaraan nya
Kei harus pergi ke Jepang untuk melaporkan perkembangan perusahaan pada para pimpinan sekalian ia juga akan mengunjungi orang tuanya mungkin sekitar satu minggu Kei berada di sana
Kei memandangi foto-foto Gita yang memenuhi galery nya yang ia ambil tanpa sepengetahuan Gita
Kei tersenyum melihat Vidio Gita yang tengah berjalan bersama teman-teman nya sambil berbincang dan ada juga Vidio ketika Gita tengah makan siang di kantin dan yang terakhir Vidio Gita ketika tengah membersihkan apartemen waktu lalu
Ah...Gita satu minggu kedepan aku tidak bisa melihat mu dan mencium aroma tubuhmu
Gumam Kei dalam hati sambil membayangkan ketika ia berdiri dibelakang kursi Gita dengan posisi hampir memeluknya dan Kei dengan mudah bisa mencium rambut Gita dan aroma tubuh Gita yang hanya diam terpaku ditempatnya
Kei berjalan sambil membawa troli yang berisi koper dan tas nya menuju sebuah ruang tunggu VVIP
Kei memasuki ruangan itu dan nampak lima orang pria berada di sana
" Hey...Kei aku pikir kamu tidak akan ikut !" teriak Kenzo hingga membuat semua orang yang berada di sana menatap Kei
" Halo semuanya " sapa Kei sambil melambaikan tangan
" Halo Kei " jawab pria bernama Rui yang tengah berbincang dengan teman nya
" Apa kabar ?" tanya Kai sambil menjabat tangan Kenzo lalu semua orang yang berada di sana
" Tidak terlalu baik " jawab Kenzo dengan wajah lemas
" Kenapa ? ada masalah dengan perusahaan?" tanya Kai dengan wajah serius
" Bukan soal perusahaan, tapi ini soal masa depan ku " jawab Kenzo sambil berbisik
" Memang nya ada apa dengan masa depan mu ? kamu sakit keras ? apa sebentar lagi mati ?" tanya Kai tanpa perasaan
" Sial kau menyumpahi ku cepat mati Kei !" jawab kenzo sambil memukul bahu Kei
" Ha..ha..maaf ..maaf, lalu apa ?" tanya Kai lagi sambil mengusap bahunya yang di pukul Kenzo
" Ibuku menyuruhku pulang membawa calon menantu atau aku harus mau di jodohkan dengan wanita pilihan ibu " bisik Kenzo dengan wajah memelas
" Apa ! serius ?" tanya Kei
" Iya, makanya aku bingung ?" jawab kenzo
" Memangnya kamu belum punya pacar ?" tanya Kei lagi
" Pacar banyak tapi calon istri aku belum punya " jawab Kenzo sekenanya
" Sialan ! aku pikir kamu sudah berubah !" jawab Kei dengan senyum masam
" Kamu sendiri bagaimana Kei, apa masih seperti dulu ?" tanya Kenzo sambil menarik turunkan alis nya
" Tidak, aku sudah bosan sekarang aku ingin menjalin hubungan yang serius " jawab Kei sambil tersenyum ke arah Kenzo
Kenzo memicingkan matanya mendengar jawaban dari mulut Kei yang sama sekali tidak diduganya
" Jangan bilang kalau kamu sudah punya calon ?" tebak Kenzo sambil menatap tajam ke arah Kei
Belum sempat Kei menjawab tiba-tiba terdengar panggilan agar mereka segera menuju gerbang karena pesawat mereka sudah tiba
" Sepertinya pesawat kita sudah siap, ayo !" ajak Kei sambil bangkit dari duduknya
" Kau hutang penjelasan pada ku Kei !" teriak Kenzo sambil mengikuti Kei yang berjalan di depan nya
Kelima pria itu lalu memasuki pesawat pribadi yang khusus menjemput mereka
Kei melihat ke sekeliling kabin pesawat mencari bangku yang masih kosong lalu berjalan menghampirinya
" Halo semuanya apa kalian merindukan ku !" teriak Kenzo pada semua penumpang yang merupakan keluarga besar Izumi beserta orang-orang kepercayaannya
Para penumpang itu hanya melihat sekilas lalu kembali pada aktivitas mereka sebelumnya
" Cih ! kalian ternyata tidak berubah, kalian sangat kaku seperti kanebo kering !" ejek Kenzo sambil duduk di samping Kei
Kei tersenyum kecil melihat tingkah sepupunya itu yang selalu bersikap konyol dan Kei pun langsung memasang headset serta penutup mata untuk menghindar dari ocehan Kenzo yang tidak akan ada habisnya
Gita baru saja turun dari bus jemputan nya lalu turun menuju gudang yang terletak agak jauh
Sepanjang jalan Gita merasa ada yang aneh dengan tatapan dari orang-orang yang ia lewati
Terlihat beberapa wanita berbisik -bisik sambil menatap jijik pada nya membuat Gita kebingungan hingga beberapa kali ia memeriksa pakaian dan penampilan nya takut ada yang salah
Hingga akhirnya Gita sampai di pintu gudang dan seketika Dedi menarik tangannya dan membawanya ke ruangan mereka
" Aduh ..kenapa sih tangan ku sakit tau !" teriak Gita sambil berjalan sedikit terhuyung karena tarikan tangan Dedi
Begitu sampai ternyata di dalam sudah ada Agus dan Uus yang tengah duduk dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Gita
" Duduk !" perintah Dedi
" Ini ada apa sih !" teriak Gita sambil duduk dan mengelus tangannya yang terasa sakit
" Gita jawab pertanyaan aku dengan jujur, coba kamu jelaskan soal ini !" tanya Dedi sambil memperlihatkan beberapa foto di ponselnya
Gita meraih ponsel di tangan Dedi dengan wajah bingung lalu Gita memperhatikan foto- foto itu dan tiba-tiba wajah Gita berubah pucat
Dengan tangan gemetar Gita mulai melihat satu persatu foto-foto dirinya yang tengah memasuki beberapa mobil dengan pria berbeda juga ketika ia memasuki sebuah hotel
Dan yang lebih parah lagi tertera waktu pengambilan foto itu hingga membuat orang akan berasumsi jika Gita memang wanita malam
" Mas Dedi dapat foto ini dari mana ?" tanya Gita dengan tubuh gemetar
" Gak penting aku dapat dari mana kamu cukup jawab apa perempuan di foto itu beneran kamu ?!" tanya Dedi lagi dengan tegas
Gita menggigit bibirnya ia mulai mengerti mengenai tatapan sinis dan bisikan mencemooh yang tadi pagi ia dapatkan, lalu dengan tubuh gemetar Gita pun mengangguk lemah
" I..iya mas..itu memang saya " jawab Gita menundukkan kepalanya
Dedi, Uus dan Agus hanya bisa menarik napas kasar mendengar jawaban dari Gita
Mereka tidak percaya begitu saja dengan apa yang mereka tapi setelah mendengar jawaban dari Gita barusan seketika mereka merasa di hantam oleh benda berat
" Kenapa kamu melakukan itu Gita ? apa gaji yang selama ini kamu terima kurang untuk mencukupi kehidupan kamu ?" tanya Dedi dengan suara lirih
" Maaf mas Gita juga terpaksa " jawab Gita sambil terisak
" Tapi apa tidak ada jalan lain selain menjual diri kamu !" ucap Dedi dengan suara tertahan
Mendengar ucapan Dedi seketika kepala Gita mendongak menatap tajam ke arah Dedi
" Tunggu ! maksud mas Dedi apa ?" tanya Gita
" Bukan kah sudah jelas dari foto yang kamu lihat !" jawab Dedi
" Tapi mas itu tidak seperti yang mas kira! aku bukan wanita seperti itu !" teriak Gita berusaha membela diri
Mendengar pembelaan Gita seketika Dedi Agus dan Uus menatap Gita dengan wajah penuh tanda tanya
Belum sempat Gita berbicara terlihat pak Wisnu memasuki ruangan dan seketika membuat Uus dan Agus beranjak keluar dari ruangan itu untuk memulai pekerjaan nya
" Kamu hutang penjelasan pada kami " bisik Agus sebelum pergi keluar dari ruangan Gita
Gita mencuci mukanya lalu memolesnya dengan bedak tipis dan lipstik agar tidak terlihat pucat
Pak Wisnu berdiri di ambang pintu sambil memandang ke arah Gita dengan tatapan yang tidak biasa
Gita menduga jika pak Wisnu pun mengetahui perihal foto yang beredar di antara teman-temannya
" Masuk ke ruangan saya !" perintah pak Wisnu dengan tatapan dingin
" Baik pak " jawab Gita sambil berdiri lalu berjalan memasuki ruangan pak Wisnu yang hanya di pisahkan oleh dinding kaca
" Kamu pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya tanyakan " ucap pak Wisnu tenang
" I..iya pak " jawab Gita sambil emnjalain tangan nya di bawah meja
" Apa ada yang ingin kamu ceritakan pada saya Gita ?" tanya pak Wisnu lagi
Gita terdiam beberapa saat, ia tidak tau apa yang harus ia ceritakan karena walaupun ia berbicara jujur tetap saja seorang penari striptis di sebuah club' malam bukan pekerjaan biasa yang bisa diterima oleh semua orang
Gita tetap akan di cap sebagai wanita malam, apalagi dengan bukti foto nya dengan beberapa lelaki paruh baya di waktu dan tempat yang sesuai dengan dugaan orang-orang yang melihatnya
" Tidak ada pak, maaf jika saya sudah mengecewakan bapak tapi foto yang bapak lihat itu memang saya " jawab Gita tanpa berani mengangkat kepalanya
Pak Wisnu terdiam sejenak kemudian mendesah kasar sambil mengusap wajahnya
" Apa kamu tidak mau mejelaskan pada saya Gita agar saya bisa membelamu ?" ucap pak Wisnu
Gita semakin menundukan kepalanya, ia merasa bersalah pada pak Wisnu yang selama ini selalu menjaganya tapi Gita juga tidak mau jika karena membantunya malah akan mempersulit pak Wisnu
" Saya pasti akan menjelaskannya pada bapak tapi tidak sekarang, beri saya waktu pak " jawab Gita sambil menyeka air matanya
" Ya sudah lah kalau begitu keputusan nya tapi satu hal yang harus kamu tau Gita, saya selalu percaya jika kamu adalah gadis baik-baik " jawab pak Wisnu
" Terima kasih pak kalau begitu saya permisi " ucap Gita sambil beranjak dari ruangan pak Wisnu
Gita berusaha konsentrasi mengerjakan pekerjaan nya walaupun beberapa kali ia melakukan kesalahan hingga membuat ia kesal sendiri hingga terdengar telpon ruangan nya berbunyi
Dedi mengangkat telpon tersebut setelah beberapa saat ia menatap ke arah Gita
" Baik pak " ucap Dedi lalu meletakan gagang terlpon di tempatnya
" Git, kamu di panggil ke HRD sekarang " ucap Dedi pada Gita yang duduk disebelahnya
Gita menatap Dedi dengan wajah penuh kekhawatiran lalu dengan lemas Gita pun berdiri dari kursinya
" Saya pergi dulu mas " ucap Gita pada Dedi yang hanya di jawab dengan anggukan saja
Hampir dua jam Gita berada di ruang manager HRD hingga melewatkan makan siangnya, Dedi Agus dan Uus nampak harap-harap cemas menunggu kedatangan Gita
Hingga akhirnya terlihat Gita berjalan dengan lunglai menuju ke arah mereka
Gita berdiri di hadapan mereka bertiga dengan wajah yang sembab lalu tanpa berkata apa- apa Gita menyerahkan secarik kertas kepada Dedi sambil berlari ke dalam rungan nya
Dedi Agus dan Uus saling berpandangan lalu beralih memandangi kertas yang berada di tangan Dedi, dengan perlahan Dedi pun membuka kertas yang terlipat itu
Dedi menarik napas panjang sambil memandang ke arah ruangan dimana Gita berada
" Gita di pecat " ucap Dedi datar sambil memperlihatkan isi kertas tersebut kepada Uus dan Agus
Dedi Uus dan Agus hanya bisa prihatin atas masalah yang menimpa Gita tapi mereka yakin jika Gita adalah gadis baik-baik walaupun foto - foto itu menunjukan hal negatif yang Gita lakukan