Just For Escape

Just For Escape
Bab 69



Ryu menatap Gita yang masih pulas tertidur, lalu matanya melihat ponsel Gita yang diletakan di meja kecil di samping tempat tidur


Ryu dengan pelan meraih ponsel milik Gita lalu dengan mudah membukanya karena ternyata Gita tidak menguncinya


Ryu mengarahkan kamera ponsel ke wajah Gita, lalu ia mengambil gambar wajah Gita beberapa kali, tiba-tiba terbersit niat untuk mengerjai Kei


Ryu mengarahkan kamera nya lalu ia mengambil gambar dirinya dan Gita yang terlihat sedang mengelus kepalanya


Kei melihat hasil jepretan nya lalu sambil tersenyum Kei menggeser tubuhnya mendekati Gita yang masih meringkuk, Ryu memiringkan badannya menghadap Gita lalu ia mengarahkan kamera ponsel itu dan nampak gambar dirinya dan Gita tengah tidur sambil berhadapan


Setelah dirasa cukup Ryu mengirim kan semua foto itu ke nomor ponselnya lalu menghapus semua foto- foto itu dari ponsel Gita dan kembali meletakan ponsel itu ketempat semula


Ryu membayangkan reaksi Kei nanti jika ia melihat foto - foto itu lalu sambil tersenyum puas Ryu kembali memejamkan matanya karena masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum pagi


Gita mengerjapkan matanya lalu membukanya dengan perlahan


Seketika Gita terkejut melihat siapa yang berada di hadapannya


Terlihat Ryu yang tertidur tepat di sebelahnya bertelanjang dada meringkuk menghadap ke arahnya dengan jarak yang sangat dekat hingga hembusan napasnya terasa di wajah Gita


Dengan perlahan Gita menggeser mundur tubuhnya dan setelah dirasa cukup Gita pun bangun dari tidur nya lalu duduk menghadap Ryu


Gita meraba dahi Ryu yang masih di tempeli kompresan


Ahh... syukurlah sudah turun panasnya


Gumam Gita sambil mengambil kompresan lalu beranjak keluar dari kamarnya


Gita menatap pecahan keramik yang belum sempat ia bereskan karena terlalu panik menghadapi Ryu yang setengah sadar


Lalu setelah menyimpan tempat air bekas kompresan nya di dapur, Gita lalu mengambil sapu dan tempat sampah lalu mulai membersihkan kekacauan yang di buat oleh Ryu


Gita juga membereskan berkas yang berserakan dimeja setelah itu Gita bergegas menuju dapur, ia harus segera membuat sarapan sebelum Ryu terbangun


Sedangkan didalam kamar Ryu membuka matanya secara perlahan


Ryu menatap tempat di samping nya yang sudah kosong, ia berusaha bangun tapi kepalanya langsung terasa berputar, dengan perlahan Ryu bersandar di kepala tempat tidur lalu memijit pelipisnya


Tiba-tiba tercium aroma yang sangat menggiurkan ternyata Gita masuk sambil membawa nampan yang berisi sarapannya yang masih mengepulkan asap


" Ternyata anda sudah bangun tuan, sebaiknya anda sarapan dulu setelah itu minum obatnya "!


Gita meletakan nampan yang ia bawa di atas kasur sambil menatap Ryu yang masih terlihat pucat


" Anda bisa makan sendiri kan tuan ?!" tanya Gita


Ryu tidak menjawab ia mencoba meraih mangkuk yang berisi bubur lalu dengan perlahan ia mencoba menyuapkan makanan nya


Tapi sepertinya Ryu benar - benar kesulitan, karena begitu ia mengangkat kepalanya rasa pening kembali menyerangnya


Ryu memejamkan matanya dan berusaha memegang mangkuk dan sendok dengan tangan gemetar


Melihat hal itu Gita langsung meraih sendok dan mangkuk dari tangan Ryu


" Saya akan menyuapi Anda tuan !" ucap Gita sambil mengambil sesendok bubur lalu mendekatkan nyanke mulut Ryu


Ryu tidak bisa menolaknya, dengan sedikit sungkan ia membuka mulutnya


Lalu sesendok demi sesendok bubur itu berpindah tempat ke perut Ryu hingga tandas


Gita dengan lembut menyeka sudut bibir Ryu dengan tisu lalu mengambil secangkir teh herbal dan kembali Gita membantu Ryu meminum teh nya


" Ah..habis juga, setelah ini anda minum obat nya ya tuan, tapi saya tinggal dulu ke kamar sebelah untuk mengambil kan pakaian untuk anda !"


Tanpa menunggu jawaban dari Ryu , Gita beranjak sambil membawa nampan nya yang telah kosong


Setelah kepergian Gita Ryu nampak melamun, ia meraba sudut bibirnya yang tadi di seka oleh Gita, ia tidak menyangka jika Gita akan begitu telaten mengurus nya tanpa rasa canggung


Tiba-tiba ia teringat ibunya, ingin sekali ia menghubungi ibunya yang pasti sudah mengomel jika tau ia sakit


Tidak lama Gita datang sambil membawa pakaian Kei lalu meletakannya di samping Ryu


" Gita ..tolong ambilkan handuk hangat aku ingin menyeka tubuhku dan juga ponselku di meja depan !" ucap Kei memandang Gita


" Oh iya sebentar tuan !" dengan segera Gita beranjak ke luar dan tidak lama sudah datang lagi dengan membawa handuk kecil dan baskom berisi air hangat juga ponsel Ryu yang ia masukan ke dalam saku bajunya


Gita mencelupkan handuk kecil lalu lalu memeras nya, setelah itu ia serahkan ke tangan Ryu


Ryu menyeka wajahnya dengan handuk hangat pemberian Gita begitu juga badan dan kedua tangannya


Ryu menyerahkan handuk itu lalu Gita kembali mencelupakan ke dalam air hangat dan memerasnya


Tapi begitu ia serahkan kepada Ryu, Ryu tidak mengambilnya tapi malah menatapnya


" Ehhmm..kenapa tuan ?!" Gita merasa bingung dengan sikap Ryu


" ehmm...tolong seka punggung ku !" pinta Ryu sambil memajukan sedikit tubuhnya agar Gita bisa menyeka punggungnya


Gita nampak ragu tapi melihat kondisi Ryu semalam membuat Gita akhirnya merasa kasihan juga


Gita duduk bersimpuh di belakang Ryu, lalu dengan perlahan Gita mulai menyeka punggung Ryu dari atas hingga bawah juga bagian pinggangnya


Gita menatap punggung Ryu yang kekar dengan bahu yang lebar tapi kulitnya yang putih terlihat lembut


Gita menatap punggung itu dan membayangkan kelembutan dan kekenyalan punggung kekar Ryu


" A..pa tuan..ti..tidak tuan tentu saja tidak !" Gita nampak tergagap bagai maling yang kepergok


" Lalu kenapa dari tadi kamu malah diam, bukannya menyeka punggung ku ?!"


" Oh..iya tuan maaf !" Gita yang merasa terpergok langsung menyeka kembali punggung Ryu dengan tergesa lalu Gita langsung turun dari tempat tidur nya


" Sebaiknya anda berganti pakaian dulu tuan !"


Lalu Gita langsung membalikkan badannya meninggalkan Ryu yang terlihat mengulum senyumnya


Sebenarnya dia masih polos atau pura-pura polos ya, tidak mungkin kan selama ia tinggal bersama Kei mereka belum pernah melakukan itu


Gumam Ryu dalam hati mengingat tingkah Gita kemarin malam ketika Ryu sengaja menggodanya dengan berjalan didepan Gita hanya dengan handuk di pinggangnya saja


Juga ketika tadi ia kembali menggoda Gita dengan menyuruh nya menggosok punggung nya, bukanya tergoda tapi Gita malah kabur menghindarinya


Aku jadi ragu dengan apa yang kemarin para tetua cerita kan mengenai Gita, karena aku tidak melihat sedikit pun sifat penggoda dari dirinya


Gumam Ryu menatap pintu yang tadi Gita lewati


Ryu menatap ponselnya dan ia tersenyum ketika terdengar notifikasi email yang ia kirim kepada Kei telah terkirim semua


Aku harap Ojisan memberi Kei penjagaan yang ketat karena kalau tidak sebentar lagi pasti Kei akan mencari ku dan langsung membunuhku begitu dia melihat email yang aku kirim


Ryu kembali menatap ponselnya sambil menahan senyum membayangkan semarah apa Kei ketika melihat kiriman email nya


Gita terdiam memandang pada bungkusan plastik yang ia sembunyikan di dekat tempat sampah


Harusnya pagi ini ia sudah berada dikontrakannya bukannya malah mengurus bayi besar yang sekarang tengah menguasai tempat tidur nya


Heum.. sepertinya aku harus menunda nya karena tidak mungkin aku meninggalkan tuan Ryu yang sedang sakit


Gumam Gita menatap ragu ke arah bungkusan plastik miliknya


Sementara itu tuan Rey terlihat tegang menunggu hasil tes DNA yang sebentar lagi akan keluar hasilnya


" Aku yakin jika Gita adalah anakku, melihat wajahnya yang mirip Shinta membuatku semakin yakin !" Rey seakan berbicara pada dirinya sendiri


" Maaf tuan tapi sebaiknya Anda jangan terlalu optimis, saya takut anda akan kecewa !" Adam berusaha menyadarkan Rey


" Aku tau Adam tapi entahlah semejak aku bertemu dengan Gita aku merasa ada satu perasaan berbeda, bahkan aku mengira jika aku menyukainya sebagai seorang perempuan !" jujur Rey berkata kepada Adam


" Tapi semenjak pencarian ku mengarah kepadanya aku sadar jika rasa itu hanya rasa sayang seorang ayah kepada anaknya !" ucap Rey lagi berusaha meyakinkan Adam


Adam menarik napas dalam, ia tidak berani membantah lagi ucapan Rey tapi Adam sangat khawatir jika hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang di inginkan dan pada akhirnya akan membuat majikanya kembali terpuruk seperti sebelumya


Lamunan Adam buyar ketika dokter yang ditunggunya muncul di balik pintu


" Ah..maaf tuan - tuan sudah membuat anda bersua menunggu lama !" sapa dokter itu berbasa basi


" Tidak apa aku maklum justru aku yang minta maaf karena tidak sabar mengetahui hasil tes nya !" Rey meminta maaf soal ketidak sabaran nya


" Saya mengerti tuan maka dari itu saya mengawasi langsung proses nya agar hasilnya bisa segwra kita ketahui !" jawab dokter itu sambil membuka amplop yang tadi di bawanya


Adam dan Rey terlihta sangat gugup, apalagi Rey ia bahkan mencengkram lengan kursinya untuk mengendalikan perasaannya


Dokter itu nampak serius membaca hasil tes DNA yang ia lakukan, dahinya terlihat berkerut seakan tengah berfikir keras


Dokter itu mengangkat kepalanya lalu menatap Rey sambil menyerahkan dua lembar kertas yang tadi dibacanya sambil tersenyum dan mengangukna kepalanya


Rey menatap dokter itu dan kertas dihadapannya bergantian lalu dengan tangan gemetar Kei meraih kertas itu dan mulai membacanya


Adam memandang ke arah Rey yang duduk di sampingnya dengan penuh rasa ingin tau


Dan tiba-tiba Rey meraung sambil memeluk kertas ke dadanya


" Ya Tuhan akhirnya... akhirnya kau pertemukan aku dengan anak ku, terima kasih Tuhan...Terima kasih !" raung Rey tanpa rasa malu berteriak sambil menangis


" Tuan....tuan maksudnya apa tuan ?!" Adam yang mendengar raungan Rey mengguncang bahu Rey yang masih menangis sambil memeluk kertas hasil tes DNA tadi


Rey langsung tersadar lalu memeluk Adam dengan erat


" Dia anaku..dia benar-benar anak ku Adam ! Gita benar - benar anak ku !" teriak Rey


Seketika pecahlah tangis keduanya, akhirnya pencarian selama puluhan tahun terbayar sudah


Setelah beberapa saat Rey melepaskan pelukannya dan menatap Adam dengan serius


" Adam kamu siapkan semuanya, kita jemput anak ku sekarang juga !" perintah Rey sambil menghapus air matanya


Mendengar perintah Rey Adam langsung berdiri hendak pergi menuju pintu keluar ketik ia tersadar jika dokter itu masih ada di hadapannya


" Ya ampun dokter maafkan kami, kami sampai melupakan anda !" ucap Adam begitu pun Rey yang langsung menoleh ke arah dokter yang ternyata masih duduk di tempat nya


" Maafkan saya juga dokter dan terima kasih banyak atas bantuannya !"


" Tidak apa tuan - tuan itu sudah menjadi tugas saya dan benar apa yang tuan Rey katakan sebaiknya anda cepat jemput anak anda !" ucap dokter itu sambil berdiri


" Oh iya kalau begitu saya permisi dokter !" ucap Rey dan Adam lalu mereka pun bersalaman


Adam dan Rey setengah berlari menuju parkiran, Adam sibuk memberikan perintah pada anak buahnya sedangkan Rey sibuk dengan perasaan nya