
Pesawat baru saja tinggal landas meninggalkan Niken yang masih cemberut dengan wajah sembab
Ia baru saja mengantar kepergian Gita,Irwan, Rey dan Adam ke luar negri
Gita akan tinggal bersama keluarga Rey sekaligus Rey akan mengenalkan secara langsung pada keluarga nya tentang anak nya yang sudah ia temukan
Sedangkan Irwan akan menjalani pengobatan disana dan juga therapi untuk anggota tubuhnya yang lumpuh
Yasmin memeluk bahu Niken sambil mengusap-usap nya mencoba menenangkan Niken yang enggan berpisah dengan Irwan
Niken tidak bisa ikut karena sebentar lagi ujian akhir semester jadi ia harus fokus belajar
" Ayo kita pulang sekarang, pesawat mereka juga sudah tidak terlihat !"
Niken menoleh ke arah Yasmin sekilas lalu ia pun mengangguk kan kepalanya dan berjalan mengikuti Yasmin menuju parkiran
Seorang pria membukakan pintu untuk mereka, lalu keduanya pun duduk di jok belakang
Niken masih terisak ia belum pernah jauh dari Irwan jadi ini adalah untuk pertama kalinya ia berjauhan dengan Irwan
Niken berencana menginap di rumah Adam selama Rey mengantar Gita, karena ia tidak mau di tinggal sendiri di rumah Rey yang sangat luas itu
" Sudah jangan menangis lagi lihat tuh mata mu sampai bengkak !" ucap Yasmin lagi
" Lagipula hanya beberapa hari saja kamu berpisah dengan ayahmu, kalau ujian mu sudah selesai kamu bisa menengok ayahmu di akhir pekan !"
Niken menundukkan kepalanya, memang benar apa yang dikatakan Yasmin setelah ujian nya selesai ia akan diajak oleh Rey untuk menemui Irwan dan menghabiskan masa liburan semester nya di sana
" I..iya Tante maaf Niken cengeng ya !" jawab Niken sambil berusaha menghentikan isaknya
Yasmin hanya tersenyum ia mengelus rambut Niken yang digerai
" Tidak apa, Eliz sama Nova lebih cengeng lagi !"
Mendengar nama kedua anak perempuan Adam seketika membuat wajah Niken kembali cerah
" Eh iya Tante nanti Niken tidurnya bareng sama kak Eliz sama Nova ya !"
" Boleh...mereka pasti seneng ada temen ngerumpi, tapi ingat jangan sampai bergadang ya !"
Niken mengangguk kan kepalanya dengan cepat tanda ia mengerti
Yasmin menarik napas dalam, ia teringat masa-masa kelam majikan suaminya hingga ia pun harus mengalah dengan waktu yang lebih banyak diberikan Adam untuk mendampingi Rey ketimbang bersama dirinya dan anak-anak nya
Tapi Yasmin mengerti akan tanggung jawab yang di pikul oleh Adam suaminya, apalagi Yasmin pun sangat mengenal Rey dan Shinta karena dulu Yasmin adalah salah satu sekretaris di perusahaan Rey dan Yasmin pun mengetahui tragedi yang dialami oleh mantan majikannya itu
Yasmin merasa ikut berbahagia ketika Adam mengatakan jika mereka sudah menemukan anak Rey tapi Yasmin sangat sedih ketika mengetahui jika Shinta sudah meninggal ketika melahirkan buah hatinya
Yasmin menoleh ke arah Niken sambil tersenyum, ia merasa bersyukur anak majikannya bertemu dengan keluarga baik yang merawat dan membesarkan nya dengan penuh kasih sayang
Walaupun hampir saja anak majikannya itu menjadi korban kebiadaban ibu tiri nya tapi sekali lagi Yasmin bersyukur karena Gita memiliki kakak yang begitu baik, berjuang sendiri demi bisa menyelamatkan kedua adiknya
Yasmin memandang ke arah depan memperhatikan jalanan yang lumayan padat karena banyak nya aktivitas manusia disekitar nya
Yasmin hanya bisa berharap jika kehidupan Rey akan selalu dilingkupi oleh kebahagiaan bersama anak semata wayangnya
Sementara itu Gita menatap bandara yang semakin mengecil melalui jendela pesawat yang di tumpangi nya
Ia menatap lekat pada tempat yang akan ia tinggalkan untuk waktu yang cukup lama
Gita teringat pertama kali ia menginjak kan kakinya di kota ini tanpa satu orang pun yang ia kenal
Gita pun teringat bagaimana kerasnya kehidupan yang ia jalani untuk sekedar bertahan hidup dan tiba-tiba ia teringat awal pertama kali ia bertemu dengan Kei
Gita mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, Gita teringat pernyataan cinta Kei yang belum sempat dijawabnya, dan Gita pun tidak menyangka jika saat itu adalah saat terakhir kebersamaan mereka berdua
Andai waktu bisa diulang kembali Gita akan menjawab pernyataan cinta Kei jika ia pun merasakan hal yang sama
Mungkin jika Kei mengetahui perasaan nya ia tidak akan meninggalkan nya dan lebih memilih dirinya di banding perintah keluarganya
Tapi kembali Gita hanya bisa berharap dan ia pun tau kalau semua itu hanya harapan kosong yang tidak mungkin akan ia dapatkan
Sementara itu dikediaman Enzo, seperti biasanya Mega menyiapkan segala keperluan Arell yang hendak berangkat sekolah, sedangkan bibi menyiapkan sarapan
" Ga..Mega ...kamu lihat dasi aku yang warna maroon ?!" teriak Enzo dari dalam kamarnya
Mendengar teriakan Enzo seketika Mega mengepalkan tangannya sambil merapatkan bibirnya
Kebiasaan kalau nyari pake mulut bukannya pake mata !
Dengus mega sambil berdiri membawa tas Arell yang baru saja ia isi bekal keluar dari kamar Arell
Mega menaiki tangga menuju kamar Enzo dan seketika Mega dibuat semakin kesal melihat kasur yang di penuhi oleh kemeja yang tidak jadi di pakai
" Saya kan udah bilang semua dasi saya simpan di laci kanan dan kaus kaki di laci kiri !"
Mega membuka laci yang ia maksud lalu ia mengeluarkan dasi yang di inginkan Enzo
" Loh kok ada di situ, tadi aku udah cari tapi enggak ada kenapa sekarang jadi ada !"
Enzo menatap dasi yang berada di tangan Mega dengan tatapan heran lalu mengambilnya
" Karena tuan nyarinya pakai mulut bukan paket mata, terus itu kenapa kemeja berantakan di atas kasur, kan saya udah bilang kalau cari kemeja cukup digeser saja hanger nya jangan dikeluarin semuanya kan jadi kusut lagi, kasihan bibi cape nyetrika nya !" omel Mega sambil membereskan kekacauan yang di ciptakan oleh Enzo
Enzo yang pagi-pagi sudah dapat sarapan berupa omelan dari Mega hanya senyum-senyum saja tanpa merasa marah sedikitpun
" Makanya mulai besok kamu siapin semuanya jadi aku gak akan teriak-teriak lagi !" jawab Enzo enteng
Enzo melangkah mendekati Mega yang sedang menata kembali kemeja - kemeja Enzo ke dalam lemari
" Tolong !" Enzo berkata sambil menyodorkan dasi yang ternyata belum dipakainya
Mega yang baru saja menutup pintu lemari langsung membalikkan badannya menghadap Enzo
Melihat dasi yang masih belum terpasang Mega menatap Enzo dengan pandangan kesal, lalu sambil menghembuskan napasnya Mega mengambil dasi dari tangan Enzo lalu mulai memasang nya
Enzo langsung membungkuk kan badannya untuk memudahkan Mega memasang dasi dilehernya
Karena tubuh Mega yang mungil Mega akan kesulitan memasang dasi nya jika Enzo tidak membungkuk kan badannya
Mega lalu merapihkan jas di tubuh Enzo dengan wajah serius, ia tidak menyadari jika wajah mereka begitu dekat hingga Enzo dapat merasakan hembusan napas Mega di wajahnya
Enzo berusaha menahan senyumnya, ia menatap lekat-lekat wajah yang baru saja mengomelinya
" Ayo cepat sarapan, kasihan nanti Arell kesiangan !" perintah Mega sambil berjalan keluar dari kamar Enzo meninggalkan Enzo yang masih berdiri mematung menatap punggung Mega yang menjauh
Kenapa aku suka sekali jika ia sudah mengomel, apalagi melihat wajahnya yang terlihat menggemaskan jika sedang kesal dan memarahiku
Gumam Enzo dalam hati, lalu melangkah keluar dari kamar menuju meja makan
Arell sudah duduk manis dengan semangkuk sereal dan segelas susu
" Selamat pagi semua...!" sapa Enzo pada Arell dan bibi yang sedang membereskan dapur, sedangkan Mega tidak terlihat sepertinya ia sedang berganti pakaian
" Selamat pagi tuan !" jawab bibi sambil tersenyum ramah
Enzo duduk di samping Arell yang sedang menikmati sarapannya
" Papa tadi dimarahi sama mommy ya ?!" bisik Arell sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Enzo
" Iya...ngomelnya lama lagi !" bisik Enzo menjawab pertanyaan Arell
" Papa sih nakal gak nurut sama mommy !"
" Papa enggak nakal kok, mommy kamu aja yang cerewet !" bela Enzo masih berbisik
" Siapa yang cerewet !" tiba-tiba Mega sudah berdiri dibelakang Enzo dan Arell
" Eh..itu ..gurunya Arell ada yang cerewet, iya kan ?!" Enzo tergagap tidak menyangka jika Mega sudah berdiri dibelakangnya sambil menatap Arell meminta bantuan
" Be..bener mom ada yang cerewet di sekolah Arell tapi dia guru kelas kecil !" jawab Arell berusaha menyelamatkan ayahnya
Mendengar jawaban dari Arell Mega memicingkan matanya menatap Arell dan Enzo bergantian sepertinya ia tidak percaya dengan ucapan Arell dan Enzo
Tapi untungnya Mega tidak memperpanjang soal kata cerewet yang didengarnya itu, ia lalu duduk dan mulai menyiapkan sarapan di piring Enzo dan tidak lama kemudian bibi pun ikut bergabung menyantap sarapan mereka
Hari menjelang siang ketika terlihat seorang wanita berpakaian ketat dengan body yang aduhai menyeret koper keluar dari bandara
Ia berdiri menatap sekitarnya dan terlihat seulas senyum menghiasi bibirnya yang berlipstik merah
Wanita tadi membuka ponselnya dan melihat sebuah alamat tertera dilayar
Wanita tadi berjalan ke arah sebuah taxi yang terparkir lalu memperlihatkan alamat yang tertera diponselnya kepada si supir
Supir taxi itu mengangguk kan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengetahui alamat yang di minta calon penumpang nya itu
Wanita itu lalu duduk di jok belakang dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh
Heum ..... aku harus bisa mendapatkan hak asuh anakku bagaimana pun caranya tapi sebelum itu aku harus menaklukkan dulu ayahnya
Gumam wanita itu dalam hati sambil senyuman