Just For Escape

Just For Escape
Bab 44



Gita dan Kei tengah duduk disebuah kursi di taman kota yang terlihat ramai


Nampak beberapa keluarga menggelar tikar dan anak-anak mereka bermain disekitar nya


" Jadi sekarang apa rencana kamu ?" tanya Kei memecah keheningan


" Belum tau tuan, tapi saya harus secepatnya mencari pekerjaan baru " jawab Gita sambil menatap Kei sekilas


Mendengar penuturan Gita seketika Kei mendapat ide yang menurutnya sangat brilian


" Bagaimana kalau kamu bekerja di rumah ku ?" tawar Kei sambil menatap Gita penuh harap


Gita memandang Kei dengan tatapan penuh tanda tanya


Ia tidak mengerti pekerjaan seperti apa yang Kei tawarkan


" Maaf tuan, saya tidak mengerti ?" jawab Gita dengan wajah polosnya


" Kamu bisa memasak ?" tanya Kei


" Bisa tuan tapi hanya masakan rumahan biasa "


" Kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga ?" tanya Kei lagi


" Bisa tuan kan pekerjaan terakhir saya tugasnya membersihkan rumah " jawab Gita


" Bagus, berarti mulai sekarang kamu bekerja di rumah ku, mulai dari membersihkan apartemen sampai mencuci pakaian ku dan yang paling penting buatkan aku sarapan dan makan malam sebelum kamu pulang " ucap Kei


" Kamu bekerja dari Senin sampai Jumat dan kalau aku perlu kamu di hari Sabtu dan Minggu kamu harus siap, jangan takut untuk setiap pekerjaan di waktu weekend aku hitung lembur dan gaji kamu aku samakan dengan gaji kamu waktu kerja di perusahaan ku, menarik bukan ? jadi mulai besok aku tunggu di apartemen ku jam enam pagi jangan sampe telat ya !" ceroscos Kei tanpa memberi kesempatan pada Gita untuk berbicara


" Ayo sekarang kita makan siang dulu lalu aku antar kamu pulang biar kamu Isa istirahat !" ucap Kei lagi sambil menarik tangan Gita


Sedangkan Gita bagai sapi yang di cocok hidungnya, ia berjalan mengikuti Kei tanpa berkata sedikitpun


Pikirannya masih berusaha mencerna semua ucapan Kei yang baru saja ia dengar


Kei mengajaknya makan siang di sebuah rumah makan , mereka pun makan di selingi dengan obrolan ringan seputar keseharian mereka


Sepanjang jalan menuju kost an Gita Kei menceritakan tentang kebiasaan nya juga beberapa makanan yang ia suka Kei harap Gita belajar membuat makanan kesukaannya


Gita hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Kei dan sesekali ia bertanya jika ada hal yang tidak ia mengerti


Pada akhirnya Gita tidak menolak tawaran Kei karena ia memang tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Kei yang menurutnya tidak begitu sulit


Hanya memasak dan membersihkan apartemen saja sepertinya ia bisa melakukannya pikir Gita


" Jangan lupa besok jam enam pagi " ucap Kei mengingatkan Gita ketika Gita sudah berdiri di depan gang menuju kost an nya


" Baik tuan dan terima kasih sarapan dan makan siangnya " jawab Gita sambil membungkuk kan badannya


" Oke sama - sama, aku pulang dulu " jawab Kei lalu menjalankan mobilnya sambil membunyikan klakson nya satu kali


Setelah mobil Kei hilang dari pandangan nya Gita pun berjalan menuju kost an nya


Kost an Gita berupa rumah petak semi permanen, kebanyakan tetangga Gita berprofesi sebagai pedagang keliling dan buruh harian di area proyek


Gita sebenarnya merasa risih dengan tembok batas dengan petak sebelah hanya menggunakan bilik bambu yang sudah bolong di sana sini


Tapi mengingat harga sewanya yang sangat murah membuat Gita hanya bisa bertahan dengan cara menambal bagian bilik yang bolong dengan kertas karton warna gelap agar tetangga sebelah tidak bisa mengintipnya


Gita merebahkan tubuhnya pada selembar kasur tipis yang ia miliki sambil menyalakan kipas angin mini di sebelahnya , Gita memikirkan kembali perkataan Kei mengenai pekerjaan barunya


Aku hanya bertugas membersihkan apartemen, mencuci dan menyetrika pakaian nya juga memasak sarapan dan makan malam, dan setiap weekend harus siap datang jika di butuhkan, heemm ...pekerjaan yang mudah.....semoga saja tuan Kei merasa puas dengan hasil pekerjaan ku


Gumam Gita sambil berusaha memejamkan matanya dan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya


Sementara itu Pratiwi terlihat marah ketika tidak bisa menghubungi Gita apalagi ketika ia menyuruh anak buahnya mendatangi kost an Gita dan mengatakan jika Gita sudah pindah sejak sebulan yang lalu


" Sial ! dasar anak kurang ajar !" teriak Pratiwi sambil membanting benda yang ada di sekitarnya


Niken yang sedang berada di dapur langsung lari ketika mendengar teriakan Pratiwi


" Ibu ! ibu ada apa ?!" panggil Niken sambil menggedor kamar Pratiwi


Pratiwi seketika langsung membuka pintu kamarnya dan dihadapannya Niken berdiri dengan wajah cemas


" Ibu kenapa teriak-teriak ?" tanya Niken


Pratiwi tidak menjawab pertanyaan dari Niken, ia malah memandang Niken dari atas hingga bawah dengan wajah yang tiba-tiba berubah


Terlihat senyuman menyeringai dari bibir Pratiwi lalu tangan nya menyentuh bahu Niken dan memutarnya sehingga tubuh Niken membelakanginya


" Niken...umur kamu sebentar lagi delapan belas tahun kan ?" tanya Pratiwi sambil menghadap kan tubuh Niken ke arahnya


" I..iya Bu tapi masih enam bulan lagi " jawab Niken tidak mengerti dengan arah pertanyaan ibu tirinya


" Tidak masalah...ibu hanya mau mengingatkan jika kamu harus mulai bekerja membantu kakak-kakak mu agar ayah mu bisa terus melakukan pengobatan " ucap Pratiwi dengan kedua tangannya berada di bahu Niken


" Iya Bu Niken mengerti, Niken akan bekerja keras untuk biar ayah bisa sehat lagi " jawab Niken sedikit ketakutan melihat wajah Pratiwi yang tidak seperti biasanya


" Bagus !!..kamu jangan seperti kakak mu Gita yang kabur begitu saja dan tidak perduli dengan kita apalagi dengan kesehatan ayahmu !"


" Baik Bu Niken enggak akan kayak ka Gita, Niken sayang ayah, Niken mau ayah sehat lagi kayak dulu !" jawab Niken


" Ibu percaya kamu anak baik, nurut sama ibu !" ucap Pratiwi sambil mengencangkan cengkraman kedua tangannya di bahu Niken


" Ya sudah kembali ke belakang sana urus ayah mu!" ucap Pratiwi sambil melepaskan cengkraman nya dengan kasar


Niken langsung berlari ke arah dapur, 8a melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi


Ya ampun..kenapa ibu terlihat mengerikan ya


Gumam Niken sambil membawa baskom air hangat untuk menyeka tubuh ayahnya


Sedangkan Pratiwi nampak melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum sinis memandang ke arah Niken yang membelakangi nya


Tidak masalah si Gita hilang, masih ada si Mega dan sebentar lagi si Niken sudah siap jual, aku harus mulai mencari papi baru buat si Niken


Gita merapatkan jaketnya sambil berjalan menuju unit apartemen tempat Kei tinggal


Kei memberinya kartu akses juga nomor sandi pintu apartemen nya untuk mempermudah Gita masuk ke apartemen nya tanpa harus membangun kan Kei yang pastinya masih tertidur pulas


Gita memasuki apartemen Kei dengan perlahan takut membangunkan si empunya


Gita mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan lalu Gita membuka jaketnya dan menyimpan nya di sofa beserta tas selempang nya


Gita langsung menuju dapur dan membuka kulkas melihat bahan makanan apa yang bisa dia olah untuk sarapan pagi ini


Terlihat dua buah telur ayam tergeletak di pintu kulkas, beberapa makanan sisa, sayuran yang sudah layu, minuman soda dan setengah kaleng kecil kornet dan susu


Gita mengeluarkan telur ayam itu lalu ia melihat beberapa lembar roti tawar berada di meja makan


Gita tersenyum akhirnya ia bisa membuat sarapan sederhana dari telur dan roti


Gita mulai memecahkan telur itu di sebuah mangkuk lalu mencampurnya dengan susu, sedikit gula dan mentega cair


Setelah menjadi adonan cair Gita memasukan roti tawar tersebut lalu memanggang nya di atas teflon


Tidak lupa Gita memberi toping selai coklat kacang di atas nya


Gita lalu memasak nasi, ia akan membuat nasi goreng untuk makan siang majikannya dengan campuran telur dan kornet


Kei yang tengah tidur tiba-tiba terbangun ketika mencium aroma sedap, ia terdiam sejenak hingga akhirnya ia tersenyum lalu bergegas bangun dari tidurnya menuju kamar mandi


Kei berjalan ke luar dari kamarnya dengan pakaian kerja dan dari ruang tamu Kei bisa melihat Gita yang tengah asik di dapur


Kei memperhatikan Gita yang tengah fokus dengan acara memasaknya terlihat di meja makan sepiring roti bakar dan secangkir teh dengan asap masih mengepul


" Selamat pagi Gita ..aku pikir kamu tidak jadi datang " sapa Kei sambil duduk di meja makan


Mendengar suara Kei dibelakangnya Gita langsung memutar badannya menghadap Kei


" Eh selamat pagi tuan...maaf hanya ini sarapan yang bisa saya buat " ucap Gita sambil mengambilkan roti bakar pada piring kecil serta pisau dan garpu agar Kei bisa memakan sarapannya


" Terima kasih Ta..ini sudah cukup kok !" jawab Kei sambil memotong roti di depannya


" Maaf tuan saya buat nasi goreng untuk makan siang kalau tuan berkenan " ucap Gita lagi


" Tentu saja aku mau !" jawab Kei dengan cepat


Mendengar jawaban dari majikannya Gita segera memasukan nasi goreng itu ke dalam sebuah tempat lalu menyimpan nya di meja makan agar nanti setelah Kei selesai makan ia bisa membawanya


Kei menghabiskan empat potong roti bakar yang menurutnya sangat enak lembut dan gurih juga ada rasa manis nya tidak seperti roti buatannya yang keras


Setelah selesai dengan sarapannya Kei beranjak ke ruang tamu untuk mengambil jas yang tersampir di sandaran sofa


" Ta aku berangkat dulu ya, nanti aku pulang cepat biar kita bisa ke supermarket belanja bahan makanan " ucap Kei


" Dan jangan buka pintu selain aku ya..kamu harus hati-hati walaupun di sini terjamin keamanannya !" ucap Kai lagi


" Baik tuan " jawab Gita singkat


Kei memegang tas dan bekal makanan nya berjalan menuju pintu ketika tiba-tiba Gita memanggil nya


" Sebentar tuan !" ucap Gita sambil mendekat ke arah Kei


" Ada apa ?" tanya Kei


" Maaf dasinya miring " ucap Gita sambil menunjuk ke arah dasi yang Kei pakai


" Oh..tolong Ta...tangan ku penuh " pinta Kei pada Gita


Gita nampak ragu tapi ia melihat kedua tangan majikannya yang penuh dengan tas dan tempat maknanya


Lalu dengan sedikit gugup Gita berdiri di hadapan Kei yang sedikit membungkuk agar Gita lebih muda membenahi dasinya


Gita merapihkan dasi Kei juga jas yang Kei pakai hingga membuat Kei tertegun sesaat, ada perasaan senang juga rasa yang tidak bisa ia ungkapkan yang pasti pagi itu Kei merasa hidupnya akan mulai berubah


Sedangkan Gita merasa malu dengan sikapnya barusan yang tanpa ragu merapihkan dasi dan jas Kei hingga membuat pipinya merona


Kei bergegas keluar dari apartemen nya, ia tidak mau membuat Gita malu dengan apa yang ia barusan lakukan


Di dalam lift Kei menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum mengingat perhatian kecil yang Gita lakukan


Sedangkan Gita menyandarkan tubuhnya pada pintu apartemen sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak cukup kencang


Aaiisshhh...apa yang sudah aku lakukan barusan, aku sangat maluu...tolong jantung kamu harus kuat yaa..kayaknya kamu bakal sering marathon


Gumam Gita dalam hati dengan pipi yang masih merah merona