I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Singkong goreng



“I wanna touch your heart || Volume II”


Author by Natalie Ernison


Semenjak kegagalan rencana Axelle saat ingin membawa Friska menikmati hari bebas, hingga saat ini kedua remaja tersebut sudah tak lagi saling bertemu.


Axelle setiap harinya selalu disibukkan dengan pelajaran, juga urusan organisasi siswa. Hal tersebut membuatnya begitu sulit mencari waktu untuk dirinya sendiri, bahkan waktu untuk bermain band bersama para rekannya pun sudah tidak sebebas dulu.


“Hahhh… kenapa begitu banyak berkas sekolah yang harus aku selesaikan!!” suara erangan Axelle yang tengah diperhadapkan dengan tumpukan berkas-berkas siswa mau pun siswi sekolahnya.


Tok tok tok…


“Iya, silakan masuk!!” ujar Axelle yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas yang ada di hadapannya, tepatnya di sebuah meja ketua organisasi siswa tersebut.


"Wauuu… coba lihatlah si sibuk kita satu ini…" ujar Efres bersama beberapa rekan tim basket Axelle lainnya.


“Apa yang membuat kalian datang, bukankah kalian terlalu sibuk?” tukas Axelle yang cukup ketus dan masih sibuk mengurus berkas-berkas.


"Axelle. Kamu sudah tidak memiliki waktu untuk bermain bersama kami??" Efres mendekatinya dan merangkul sang sahabat sibuknya tersebut.


“Efres, aku selalu ada waktu, namun tidak dengan menemanimu untuk bermain bersama para gadis.” Ujar Axelle dengan memiringkan senyuman tipisnya.


"Ohh ayolahh pak ketua osis Axelle Kusuma.. kami sudah datang bersama tim untuk mengajakmu bermain dengan sekolah B.” Saat mendengar sebuah nama sekolah yang disebutkan Efres, sontak membuat Axelle terdiam sejenak.


“Efres, apakah kamu berniat menggodaku lagi..” lirikan Axelle yang tajam membuat rekan-rekannya merasa ada aura kesal memenuhi ruangan osis tersebut.


“Axelle, ayolah… kami hanya ingin membawamu bersantai. Jika Efres membuatmu terganggu, kami bersedia menghajarnya.” Tukas salah seorang rekan tim basket Axelle.


Hei hei.. kenapa aku yang menjadi sasarannya..


"tentu saja, karena kamulah yang suka mengganggu para gadis..” ujar Axelle dengan senyuman tipisnya.


“Jadi bagaimana pak ketua osis??” tanya salah seorang rekan setim Axelle.


“Okay. Tapi bantu aku untuk membereskan berkas-berkas ini..” ujar Axelle dengan senyuman miringnya.


Axelle, kamu memang licik brother.. ujar Efres lalu membantu Axelle membereskan pekerjaannya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan beberapa tumpukan berkas tersebut. Kemudian bergegas menuju sekolah B, dan akan bermain bersama para rekan-rekannya.


_____________*_____________


“Yes yes.. lempar bolenya, shut arghhh…. riuh suara Axelle bersama rekan-rekan tim basketnya beserta tim sekolah B.


“sore ini sangat melelahkan dan menyenangkan..” ujar Axelle sambil meneguk air minumnya dari botol tupparware yang selalu ia bawa di saku runselnya.


“Bro Axelle, kami sangat berterimakasih karena ketua osis sendiri yang mau turun latihan. Tidak seperti ketua osis kami yang hanya sibuk dengan rapat-rapat tak jelas..”


Hahha.. tentu saja. Axelle adalah lelaki yang sangat membanggakan sekolah kami..


“Efres, hentikan berlebihanmu..” tukas Axelle disela pujian yang Efres lontarkan dihadapan para rekan-rekannya.


“Oke guys, kami pamit dulu, karena masih ada urusan lain.”


“Thank you brother..” mereka pun berpisah di lapangan parkiran sekolah menengah atas B.


Axelle, aku masih ada acara makan malam bersama keluarga besarku, aku duluan.. ujar Efres lalu segera bergegas pergi.


Setelah selesai melakukan latihan bersama rekan-rekannya, kini Axelle masih terlihat sibuk merapikan bekal makan siangnya yang tak sempat ia santap.


Hai… suara seorang gadis menyapanya, dan suara itu membuat Axelle mendongak.


Ternyata si gadis kacamatanyalah yang saat ini menyapanya dengan senyuman ramahnya.


“Ohh Friska..” ujar Axelle balik menyapa.


Apakah teman-temanmu sudah pulang?? tanya si gadis kacamatanya.


“Ohh ia betul, mereka telah meninggalkanku..” ujar Axelle sambil menggaruk-garuk kepalanya, tentu bukan karena gatal namun karena rasa groginya.


“Eehh hei.. tunggu..” Axelle meraih tangan si gadis kacamatanya.


Iaaa ada apa? sahut si gadis kacamatanya, dengan tatapa heran.


“Kita pulang bersama, aku akan mengantarmu pulang..” tukas Axelle dengan penuh percaya diri.


Baiklah.. jawaban Friska sungguh membuatnya merasa begitu lega.


Keduanya pun bergegas pulang, sepanjang jalan Axelle terlihat begitu bahagia dengan keberadaan si gadis kacamatanya yang kini tengah bersama dirinya.


>>


Axelle mampir dulu, minumlah sesuatu yang segar.. ujar Friska dengan senyuman ramahnya.


“terimakasih Friska, apakah aku tidak merepotkanmu?” tanya Axelle sambil menggosok-gosok kepala bagian belakangnya, untuk mengurangi rasa gugupnya.


Tidak, silakan duduk Axelle.. ujar Friska mempersilakan Axelle untuk duduk di depan teras rumah kediamannya bersama keluarganya.


Axelle mulai memandangi sekeliling area kediaman Friska tersebut, sebuah rumah yang terletak di area perumahan. Rumah tersebut dua tingkat dan memiliki corak berwarna orange soft abu-abu. Berada di area perumahan, namun tak se elit dan semewah rumah kediaman keluarganya.


Setelah beberapa saat menunggu, Friska pun muncul dengan membawa segelas juice mangga beserta singkong goreng.


“Kenapa harus repot seperti ini.” Ujar Axelle, tentu saja lain dihati, karena ia senang saat melihat gadis kacamatanya keluar dengan menyuguhkan makanan.


Tidak Axelle, ibuku sedang memasak singkong goreng, dan juga kamus eorang pemain basket haris menjaga tubuh. Jadi ini juice buah segar. Ujar Friska dengan senyuman tulusnya.


“Hmm… ini benar-benar enak Friska.” Puji Axelle saat menikmati singkong goreng buatan sang mama mertuanya dimasa depan, pikirnya.


Terimakasih Axelle. Maaf ini hanya hidangan sederhana saja.


“Tidak, ini sangat enak. Kenapa mami tidak pernah membuatkan kami singkong goreng..” gumam Axelle sambil terus menyantap makanan tersebut.


Jika kamu suka, kamu boleh bawa beberapa nanti.. Friska mencoba menawarkan.


“Ahh , apakah tidak keberatan Fris?” tanya Axelle antusias.


Tentu tidak Axelle, ibuku pasti sangat senang.


“Oke, maaf jika merepotkanmu Fris.” sesal Axelle.


Tidak Axelle, justru aku tidak menyangka kamu akan suka dengan ini.


“Iya aku sangat suka..” Axelle terus menikmati singkong goreng tersebut, tak lupa dengan juice mangga segarnya. Sungguh menyegarkan tenggorokan , apalagi buatan mama mertua, pikirnya.


Apakah kalian hanya bertiga?


“Maksudmu di rumah kami?” jawab Axelle sambil meletakan gelas juicenya.


Iya Axelle, melihat ekspresi ibumu, sepertinya ibumu sangat mempercayaimu dalam berbagai hal… ujar Friska sambil memandangi halaman kediamannnya.


“Iya begitulah Fris, hanya saja terkadang mamiku begitu khawatir dengan papi yang selalu berusaha keras untuk kami semua..”


Iya, bersyukurlah, kalian memiliki ayah yang sangat baik.. ujar Friska dengan senyuman sendunya.


“Begitlah Fris, papi dan mami sangat menyayangiku, dan mereka tak pernah lelah memberiku nasihat.”


Iya Axelle.. kamu sangat beruntung..


“Kamu pun beruntung memiliki seorang ibu yang pandai memasak singkong goreng..” ujar Axelle dengan wajah polos.


Astaga.. itu hanya singkong goreng, jika kamu mau, aku akan membuatkannya untukmu.. ujar Friska dengan terkekeh, ia merasa pernyataan Axelle yang sederhana itu cukup menggelitiknya.


“Tentu saja aku mau, dan setiap harinya aku pun mau..”


Oh benarkah, berarti kamu harus membantuku mengupas kulit singkongnya.. mereka saling tertawa, hanya karena singkong goreng, mereka terlihat semakin dekat satu sama lain.


Benar-benar singkong goreng yang sangat istimewa, dan membuatku ingn selalu memakan ini..batin Axelle.