I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Mrs. Mysterious



“I wanna touch your heart ||Volume II”


Author by Natalia Ernison


>>>Bab sebelumnya…


Axelle yang menerima banyak ucapan selamat dari para rekan-rekannya dari sekolah tersebut, cukup membuatnya semakin dikenal. Semua pasang mata tertuju padanya, seakan ingin terus memandani si tampan Axelle.


Sedang asyik berbincang-bincang bersama para rekan-rekan se-tim, juga lawan mainnya. Fokus Axelle pun teralihkan sejenak oleh sesuatu hal. Pandanganan matanya seakan terhipnotis dan tak ingin berpaling dari hal tersebut.


Sosok perempuan yang sedang duduk manis di kursi, tepatnya di dalam sebuah perpustakaan sekolah. Perempuan tersebut, ialah seorang gadis remaja yang bersekolah di sekolah tempat Axelle melaksanakan pertandingan persahabatan.


Seorang gadis berkacamata, dengan gaya rambut yang terlihat sedikit culun. Duduk di samping jendela perpustakaan yang berada di lantai dua sekolah tersebut. Axelle terus memandangi gadis berkacamata tersebut, dengan posisi yang terus mendongak ke atas.


“Bro, kita menang… yuhu… yeahhh…” ucap Efres dengan penuh rasa bangga dan kegirangan.


“Ohh iyaa, jadi kemana rencana hari ini?”


Hahh… serius bro!! kenapa tiba-tiba terlihat ceria begitu! ucap Efres dengan nada menggoda.


“Ohh yasudah kalau tidak mau!!”


Hei hei… aku mau brother…


Beberapa saat kemudian Axelle kembali mendongak ke atas, namun yang ia dapati, gadis tersebut telah menghilang dari pasang matanya. Rasa penasaran terus mengahntui pikirannya.


“Siapa gadis itu, kenapa cantiknya sangat berbeda sekali dari kebanyakan perempuan yang kukenal selama ini..” rintih batin Axelle saat kembali mengingat sosok gadis misterius tersebut.


________________*________________


“Kediaman Kusuma Teofanya”


Axelle sedari pulang dari sekolah tempatnya bertanding, tak henti-hentinya tersenyum. Tanpa sadar, buku pekerjaan rumahnya ia coret-coret dengan coretan yang tidak jelas.


Hahhhh....


“ada apa denganku, kenapa aku jadi aneh begini..” gumam Axelle yang baru menyadari bahwa buku tulisnya kini berisi coretan tidak jelas.


“Kenapa aku..” gumam Axelle kembali dengan seringai senyuman manisnya, senyuman yang sangat mirip dengan sang ayah (papi Kenan).


“Axelle!!! suara seorang wanita memanggilnya, yang tak lain ialah mami Sunny.


“Iyaa mami, sebentar…” ucap Axelle sembari membereskan buku pelajarannya.


Dengan sedikit berlari kecil, Axelle menuruni anak-anak tangga menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada mami Sunny, papi Kenan beserta oma Esther.


Axelle, cucu oma sayang… ujar oma Esther sambil menyodorkan kedua tangannya, lalu memeluk sang cuuc dengan penuh kasih.


Oma kangen sekali denganmu Axelle..


“Iya oma, kenapa tidak menelponku dulu kalau berencana datang…”


Memangnya kenapa Axelle, kamu tidak kangen dengan oma??


“Aku kangen oma, tapi paling tidak aku bisa menjemput oma..” ujar Axelle dengan tertawa kecil.


Lihat cucu oma yang tampan ini, semakin hari kamu semakin membuat para gadis ngiler..


“Aishh oma, kenapa bicara seperti itu..” tukas Axelle dengan nada manjanya.


“Hahah… Axelle sudah bukan anak kecil lagi ma, dia sudah mulai main-main mata di sekolah.” Tukas papi Kenan di sela perbincangan hangat mereka bersama sang oma.


“Papi, sejak kapan aku seperti itu..” tukas Axelle sambil memeluk mami Sunny.


“Mami lah yang membuatku begini, kenapa mami mencubit pipiku seperti bocah..”


Hhaha.. oma sangat bahagia setiap ke rumah ini, kemungkinan oma akan menginap selama beberapa hari.


“Ohh ya.. tapi sayang sekali ma..


Cucu kesayangan mama sekarang sudah super super sibuk..” tukas papi Kenan.


“Iya iya, aku ngikut ngikut saja pap…”


Suasana hangat dalam keluarga Axelle, sungguh membuat dirinya semakin bahagia memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Axelle tumbuh dalam suasana keluarga yang begitu harmonis. Tanpa pernah bertanya, bagaimana perjalanan kisah cinta kedua orang tuanya hingga akhirnya bersama dan lahirlah Axelle.


Axelle kecil kini bertumbuh menjadi seorang pemuda yang cukup cerdas, berbakat, juga tampan. Namun, dalam usianya yang menginjak tujuh belas tahun, Axelle begitu fokus dengan impiannya.


Axelle sangat ingin mendirikanusahanya sendiri, melalui tabungannya dari setiap honor-honor yang ia dapati dari manggung bersama para rekannya. Tidak ingin orang-orang beranggapan bahwa dirinya akan memiliki masa depan cerah, hanya karena keberadaan kedua orang tua yang cukup mapan.


Hingga saat ini, Axelle hanya menggunakan motor sport orangenya setiap berangkat ke sekolah maupun kegiatan lainnya. Motor sport tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya. Namun karena status sosial kedua orang tuanya, Axelle cukup disegani oleh teman-temannya.


Hal tersebut membuat dirinya merasa canggung, dan membuatnya memiliki dua kepribadian yang berbeda , antara di rumah dan di sekolah. Di rumah Axelle sangat ramah dan sopan kepada keluarganya, sedangkan di lingkungan sekolahnya, Axelle dikenal cukup dingin dan hanya fokus dengan pendidikan.


“Café xx”


Seperti biasanya Axelle bersantai bersama buku-buku pelajarannya dan terkadang bersama para rekan-rekannya untuk membicarakan perihal organisasi siswa. Namun  kali ini, Axelle terlihat sendiri dan hanya ditemani notebooknya.


“Pelayan, saya pesan thai tea satu yah..” ujar serang gadis yang baru saja tiba. Seketika perhatian Axelle teralikan oleh sosok gadis yang baru saja tiba di café tempat ia sedang bersantai.


“Gadis itu…” gumam Axelle saat menengok ke  arah sang gadis tersebut.


Gadis tersebut terlihat fokus dengan buku-buku pelajaran yang sedang ia baca, tanpa mempedulikan sekitarnya. Axelle terus memandangi gadis tersebut dengan tatapan yang tak ingin teralihkan sedikit pun.


“Itukan gadis yang ada di perpustakaan sekolah xxx beberapa minggu yang lalu..” gumam Axelle yang baru saja menyadari bahwa gadis tersebut ialah si gadis misterius yang telah mengalihkan perhatiannya.


Axelle hanya bisa tertunduk dalam keheningannya bersama headset yang sedang ia kenakan, namun fokusnya kali ini lagi-lagi teralihkan dan sudah tidak bisa lagi melanjutkan kegiatan yang sedari tadi ia kerjakan.


“Hai brotherku… Kenapa tidak bilang kalau ke café, huhh dasar..” tukas Efres yang baru tiba.


“Hahhh mengganggu saja..” tukas Axelle yang terlihat risih dengan tingka Efres yang terlihat kekanakan.


Kenapa kamu bro?? Efres yang masih saja menghimpit Axelle.


“Efres, kamu jangan terlalu kekanakan, bisa tidak!!” tukas Axelle dengan nada kesal.


Kita kan best friend… ujar Efres dengan wajah memelas.


“Hahhh.. Hus hus.. aku tidak suka dengan sikap kekanakanmu..”


Axelle, jangan begitu lahh… rengek Efres lagi.


“Arghh.. jangan sentuh-sentuh aku Efres..” kedua sahabat tersebut begitu akrab, dan membuat si gadis kacamata tersebut menengok ke  arah mereka.


Pandangan sekilas sang gadis misteriusnya Axelle, membuat Axelle terbungkam dan tak tahu harus bicara apa lagi.


“Inikah yang namanya suka pada pandangan pertama…?


Apakah ini sungguh rasa suka, dan apakah begini rasanya menyukai seseorang tanpa alasan…” batin Axelle menjadi sedikit bergetar saat menerima tatapan jarak jauh dari si gadis kacamatanya.


Si Mr. Cold akhirnya menjadi terbungkam hanya karena seorang gadis yang terlihat sedikit culun. Gaya rambut kepang dua di bawah telinga, dan kacamata bulatnya, telah menyihir si Mr. Cold kesayangan pada ladies.


Bersambung....