
Saat berjalan menuju loby utama apartemen kediamannya, Sunny masih menyisakan senyumannya saat mengingat kejadian konyol yang dilalui bersama sahabatnya Rafa. Secara tiba-tiba, ada seseorang yang meraih tangannya.
Spontan membuat Sunny begitu terkejut dan menarik kembali tangannya.
“Sunny!!” ujar seseorang yang meraih tangannya dengan cukup keras.
Kak Kenan!! sahut Sunny, ternyata Kenanlah yang meraih tangannya.
“Kamu dari mana saja? kenapa handphonemu tidak aktiv? dan kenapa bisa kamu baru pulang malam begini bersama Rafa??” tanya Kenan dengan posisi tangan yang masih menggenggam tangan kiri Sunny.
Apa kakak masih peduli?? tukas Sunny dengan raut wajah kesal.
“Sayang, ayo kita bicarakan baik-baik!!” pinta Kenan dengan senyum tulusnya.
Hmmpp… balas Sunny cuek.
Kenan mengajak Sunny untuk duduk sejenak di sebuah café area gedung apartemen kediaman Sunny.
“Sunny, aku tahu kamu pasti marah karena sekretaris sementaraku yang mengangkat telponmu! Maaf sayang, malam itu ponselku ngdrop lalu aku pun tidak bisa lagi menghubungimu!!” ujar Kenan mencoba menjelaskan.
“kamu masih marah padaku sayang?? aku minta maaf yah, malam itu…---- Kenan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Sunny.
Tapi kenapa bisa seorang perempuan di apartemen kakak? dan aku sangat tidak suka!! apa kakak tahu kenapa aku sampai menginap?? tukas Sunny dengan nada yang kesal.
“Iya sayang, aku sudah tahu! rekan kerjamu sudah menjelaskan padaku, dan besok aku akan menemui Rafa untuk meminta maaf.” Kenan menyentuh punggung tangan Sunny dengan lembut.
Iya, kak Rafalah yang menghiburku saat aku galau… ujar Sunny dengan nada sedikit manja.
“Iya, maaf! jika aku tidak berada di sampingmu saat kamu membutuhkanku,” ujar Kenan dengan wajah sendunya.
“Sunny, semua hanya miskomunikasi! jadi aku harap kamu bisa mengerti!!”
Kakak yakin tidak ada hal lain yang belum kakak jelaskan!! tukas Sunny dengan tatapan sedikit curiga.
“Hmmp… Kenan menggelengkan kepalanya, sebenarnya ada hal yang belum mampu Kenan ungkapkan, semua demi kebaikannya bersama Sunny, pikir Kenan.
“Kilas balik sejenak”
“Apartemen kediaman Kenan di luar kota”
“Aku harus menelpon Sunny dan menjelaskan!” gumam Kenan yang ingin segera menelpon Sunny kembali, namun ponselnya tiba-tiba low batrei.
Tok tok tok…
Suara ketukan dibalik pintu apartemennya.
“Permisi pak Kenan, kita akan mengadakan acara jagung bakar dan lainnya…--- ujar rekan kerjanya, lalu dengan perasaan penuh kegundahan Kenan pun mengikuti ajakan tersebut. Denia, sang sekretaris pun akhirnya beranjak pergi dengan hampa, karena usahanya yang ingin menggoda Kenan pun gagal,
Pak Kenan, kenapa sejak tadi hanya diam saja?” tanya sang sekretaris.
“Ohh iaa, tunangan saya belum bisa dihubungi sejak tadi,” ujar Kenan dengan wajah sendu.
“Ahhm, tunangan saya tidak seperti itu,” Kenan sedikit tertegun saat melihat cara duduk Denia yang membuat bulu kuduk Kenan sedikit merinding disco. Bagaimana pun juga Kenan merupakan pria normal, yang tak luput dari hawa nafsu atau nalurinya sebagai seorang pira dewasa yang normal.
Kenapa pak Kenan?? Denia menggeser diri dan duduk menghimpit Kenan, dengan belahan yang juga cukup terbuka tersebut, membuat kedua buah dadanyaa terlihat begitu montok hampir meluber keluar.
“Yo yo yo pak Kenan, nona Denia ayo kita nikmati hasil kerja keras rekan kita,” ujar rekan kerjanya yang datang tepat waktu.
Hmmp, dasar bos jelek! ganggu saja.. gumam Denia kesal.
“Kenapa Denia? apa yang mengganggu? jika kamu lelah, silakan tunggu di sini,” tukas Kenan sembari berjalan menuju lokasi jagung bakar.
Pak Kenan, apakah bapak mencintai tunangan bapak? tanya Denia dengan wajah seriusnya.
“tentu, jika tidak mencintainya! mana mungkin aku sanggup menunggunya begitu lama,” tukas Kenan sembari berdiri memandangi para rekan yang sedang menikmati acara kebersamaan tersebut.
Hmmpp, berarti bapak termasuk pria setia yah? atau sudah berapa banyak wanita yang patah hati karena bapak?? tukas Denia dengan senyum menggoda.
“Dia wanita pertama yang membuatku jatuh cinta dan juga wanita pertama yang membuatku terluka karena menunggu dalam ketidakpastian.” Tukas Kenan dengan menyeringai.
Bapak bilang menunggu dalam ketidakpastiaan? sehebat apa sih perempuan itu sampai membuat bapak galau? seksi,..-
“Apakah daya tarik seorang wanita dinilai dari penampilannya yang seksi? menurut saya seorang wanita yang baik akan tahu bagaimana dia berpenampilan.” Tukas Kenan dengan ketus.
Tapi! tidak semua bisa dinilai dari penampilannya pak! dan kalau pun aku berpenampilan seperti ini bukan berarti aku tidak baik!! ujar Denia dengan nada yang sedikit naik.
“aku tahu, tapi seharusnya bisa menempatkan diri dan lebih tahu diri!!”
Maksud bapak apa?? bentak Denia.
“Kamu kenapa Denia? saya hanya menjawab pertanyaanmu saja dan kamulah yang memulai topic ini,” tukas Kenan dengan nada tenang dan ketus.
Sebagai pria normal, sangat wajar jika Kenan tertegun saat melihat seorang wanita cantik dan juga seksi bohai. Namun, Kenan tahu bahwa ada seorang wanita yang saat ini menantinya, apakah tega jika Kenan melakukan hal yang tidak layak dilakukan seorang pria yang jujur dan setia.
Selama melakukan perjalanan dinas mau pun pertemuan mitra kerja, tidak jarang Kenan menghadapi berbagai godaan dari para wanita. Kenan tetap memiliki pendirian bahwa ia tidak akan tega mengkhianati seorang wanita yang sangat ia cintai.
Perasaan kasih sayang dan cinta Kenan sudah cukup teruji, sejak awal pertemuan bersama Sunny suah banyak hal yang terjadi namun tak membuat Kenan berubah. Kenan merupakan seorang pria yang beretika nan ramah, namu kali ini sikapnya cukup dingin saat berhadapan dengan seorang wanita yang berusaha menggodanya.
Yasudah saya akan join dengan rekan yang lain!! ujar Denia dengan wajah penuh rasa kesal, karena usahanya lagi-lagi gagal total.
Sehebat apa tunangan pak Kenan? memangnya lebih seksi dariku masih ada… gumam Denia sembari beranjak pergi dari sisi Kenan.
"Kilas balik selesai"
“bagaimana mungkin aku tega mengkhianati seorang wanita yang begitu sulit kudapatkan, dan kini wanita itu ada dihadapanku sembari tersenyum manis menungguku menikahinya.” Kenan menggenggam tangan Sunny sembari melihat-lihat sekitar, karena cukup malu jika terkesan tak tahu malu berpegangan tangan di muka umum.
Sungguh pasangan serasi, walau dalam menghadapi kesalahpahaman, Kenan sangat mampu mengendalikan suasana.