I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Imbalan



“Aku sangat mencintaimu dan selalu mempercayaimu dalam setiap hal apa pun yang kau lakukan. Namun kenyataan ini terlalu pahit untuk dapat kuterima, aku sungguh tak sanggup lagi…”


Di dalam sebuah apartemen, tepatnya di kadiaman Sunny. Sunny terus terisak, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Rasa kepercayaannya kepada Kenan masih tetap ada, namun dilemma terbesarnya ialah tentang semua foto-foto sensual Kenan bersama seorang wanita.


Aku bukannya tidak mempercayai kak Kenan, tapi foto-foto itu sangat sulit untuk kumengerti lagi. Aku tak tahu harus begaimana lagi, rasa sakit masa lalu kini terulang kembali…


Sunny masih sangat sedih dan kecewa, atas apa yang menimpa hubungan percintaannya bersama Kenan.


“Apartemen kediaman Jeho”


“Hahahaa… huuuu… amazing amazing…”


Jeho yang tertawa terbahak-bahak, atas kesuksesannya dalam menjalankan rencana jahatnya, yaitu menghancurkan hubungan Kenan bersama Sunny.


Pak Jeho, sekarang pak Kenan terus mencari saya. Apa yang harus saya lakukan? tukas Denia kepada Jeho.


“Lalu!! kamu ingin aku membantumu!!” ujar Jeho dengan nada sinis.


Jelas! saya sudah melakukan semua atas dasar perintah dari bapak, dan jika saya terancam, maka bapaklah yang akan saya tuntut.


“Apa, apa?? coba kamu ulangi sekali lagi hmpp…” Jeho mencengkramkan tangannya tepat dibagian dagu Denia, dan membuat Denia merasa cukup kesakitan.


Argh… lepaskan saya pak Jeho…


“selagi kamu masih berguna untukku, kenapa kita tidak bermain saja!!” ujar Jeho sembari mengoyakkan bagian leher baju Denia.


Apa yang bapak lakukan brengsek!! Denia menepis tangan Jeho dari dadanya.


“Hehh… masih syukur aku mau menyentuhmu, sadarlah kamu hanya wanita murahan!!!” tukas Jeho sembari mendorong kepala Denia.


Brengsekkk!! banyak lelaki yang mengejarku, asal tahu saja!! bentak Denia dengan penuh rasa kesal.


“Kamu mulai kurang ajar denganku, hmmppp…”


Arghh… pak Jeho anda memang brengsek bajingan… arhh…


“Sudahlah….” Jeho beranjak dari sofa tampat Denia terbaring lemas.


Kenapa pak Jeho? apakah aku kurang menggairahkan?? ujar Denia sembari mendekap tubuh kekar Jeho, dan jari-jari nakal Denia mulai meraba-raba area selangkangan Jeho.


“Kenapa Denia? apakah kamu sudah sangat tidak tahan??” ujar Jeho.


Hmmpp… tanggung sekali perbuatan anda pak Jeho terhormat. Denia mulai meraba-raba ke area benda keramat milik Jeho.


“Denia!!” Jeho mencengkramkan tangan Denia yang kini berada di benda keramatnya.


“Silakan saja, aku ingin kamu yang menyentuhku.” Tukas Jeho sembari menyandarkan diri di sofa.


Baiklah… ujar Denia sembari mulai menjelajahi area tubuh kekar Jeho.


“Arghh… kenapa kamu menggigitku!!” ujar Jeho sembari menyentuh bagian bahunya yang terkena gigitan nakal Denia.


Aku ingin bapak yang menghabisiku malam ini… Ujar Denia dengan senyum nakalnya.


“Kamu sudah telanjang bulat begini… tapi kenapa aku kurang bernafsu,” tukas Jeho dengan ketus sembari *** kembali buah dada milik Denia.


Ayolahh pak Jeho tampan… hancurkan aku!!! pinta Denia yang sudah tak mampu menahan nafsu birahinya, dengan keadaan tubuh yang sudah tak berbusana sehelai pun.


“Denia, aku ingin istrahat. Lebih baik kamu juga istrahat,” ujar Jeho sembari beranjak dari sofa yang berada di ruang utaman apartemennya.


Huhh!! dasar php (pemberi harapan palsu), aku sudah hampir memuncak tapi kenapa pak Jeho malah berhenti… gumam Denia dengan nada penuh rasa kecewa, saat Jeho tak lagi melanjutkan aksi panasnya malam itu.


_________________*_________________


“Sunny, aku akan terus berjuang agar kamu bisa mempercayaiku lagi.” Ujar Kenan dalam sebuah pesat whatsapp.


Huhh…


Sunny menghela napasnya yang kian memberat, sembari meletakkan kedua tangannya di kepala dan tertunduk sendu di depan layar computer.


Aku pun ingin tetap mempercayaimu kak, tapi setiap mengingat foro-foto itu aku sangat hancur… gumam Sunny dalam benaknya sambil menahan air matanya.


“Sun!!” ujar Rafa memanggil nama Sunny.


“Kamu kenapa akhir-akhir ini selalu murung??” tanya Rafa berjalan menghampiri meja kerja Sunny.


Tidak kak Rafa, aku hanya kelelahan saja… balas Sunny dengan wajah sendunya.


“Kapan kamu bisa jujur dengan dirimu sendiri Sunny??” tukas Rafa.


“Jika kamu ada sesuatu hal yang sulit untuk dapat kamu ungkapkan, baiklah aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Tapi segala sesuatu terjadi itu tidak mungkin tanpa ada alasan dan sebabnya…” ujar Rafa sembari menepuk bahu Sunny.


Thank you kak Rafa, maaf aku tidak bisa berbagi dengan kakak. Ujar Sunny sembari menyenderkan diri di kursi berputarnya.


Drrttt… “hallo Sunny Teofanya! bagaimana kabarmu sekarang??” isi pesan dari Calvin.


Kak Calvin!! gumam Sunny saat membuka isi pesan Calvin.