
“I wanna touch your heart – Volume II”
Author by Natalie Ernison
Rachelie sangat kecewa atas kenyataan yang harus ia terima kali ini. Pria yang selama bertahun-tahun ia cintai, ternyata tak pernah mencintainya. Siapa pun wanita, pasti akan sangat terluka dengan hal itu.
Rachelie hanya bisa meratapi kehancurannya, terkadang ia selalu tertuduh, bahwa semua ialah karma dari semua yang telah pernah ia perbuat. Namun apakah harus dengan cara seperti ini balasan itu…
“Kalian tolong jaga toko ini dengan baik, aku akan pergi berlibur ke sebuah Villa..” ujar Rach kepada para pegawaninya.
Bos, akan pergi berapa lama?
Hmm.. menghela napas.
“Aku tidak tahu, yang jelas daddy atau mami mungkin akan datang kemari.” Rach pun bergegas pergi menenangkan pikirannya.
Ia tidak membawa mobil, namun hanya mengikuti sebuah bus tour antar provinsi.
***
Sepanjang hari Rach fokus dengan rekan-rekan tournya. Semua orang bersama para keluarga mau pun pasangan masing-masing, namun Rach hanya seorang diri.
Menikmati pantai sendiri, dan terkadang ia sambil berbincang-bincang dengan para turis yang turut serta dalam tour tersebut.
“Villa xx”
Tok tok tok…
“Permisi, dengan nona Rachelie Bakhtiar?” ujar seorang pelayan villa.
Ohh iaa, ada apa mas? tanya Rach yang baru saja membuka pintu kamar penginapannya.
“di loby utama ada seorang pria yang mencari nona Rachelie..”
Oh, siapa itu mas? tanya Rach heran, karena ia merasa tak memiliki teman yang sama-sama menginap di villa tersebut.
Rach pun keluar dari dalam kamar penginapannya, dan menuju loby utama, hanya dengan mengenakan piyama yang cukup tipis.
“Rachelie…” sapa seorang pria sambil melambaikan tangannya pada Rach.
Jansen!! bagaimana kamu bisa kemari? tanya Rach heran, ia yakin betul, jika ia tak memberitahukan keberadaannya pada Jansen.
“Aku siang tadi datang ke rumahmu, dan om Bakhti memberitahuku, jika kamu sedang berlibur kemari.. dan aku sangat kesal dengan sikap egoism tidak mengajakku berlibur..”
Ahkk… ampun Jansen. hentikann… jerit Rach.
“Okey okey…” Jansen terkekeh melihat ekspresi menggemaskan Rach, menurutnya.
“Apakah kamu sudah memakan sesuatu?”
Ehhmm… Rach hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Oke, sekarang ikut aku!” Jansen menarik tangan Rach menuju pintu samping kolam renang bersama.
Wahhh.. Jansen, kamu memang benar-benar membuatku gemuk perlahan.. ujar Rach, saat melihat semua makanan yang telah tersedia dengan rapi.
“Silakan nyonya..” ujar Jansen sambil menarik kursi dan mempersilakan Rach untuk duduk di depannya.
Sejak kapan kamu menyiapkan ini?
Hmm..
“Tentu saja di saat kamu sedang asyiknya menyelam, dan tidak mengajakku..”
Tsk.. thank you so much Jansen.. Rach tersenyum, dan Jansen selalu bisa memberikannya segala kejutan-kejutan kecil.
“Aku menginap di samping kamarmu, jadi malam ini jangan coba-coba untuk tidur terlebih dahulu..”
Hah! jadi kita akan mengobrol hingga pagi?
“Hmm tentu saja.. kita nikmati satu hari lagi? kapan kamu akan kembali?”
Aku? sampai aku benar-benar bosan di sini..
Ohh my Lord… Jansen, aku tak suka.. hahah… Rach terlihat tertawa lepas setiap bersama Jansen, si teman masa kecilnya.
Keesokan harinya…
“Hari ini kota akan snorkeling..”
Ahkkk.. yeaii… teriak kegirangan Rach.
Snorkeling
Swimming
Hakk… aku lelah sekali, sangat lelah.. gumam Rach, yang sudah terlihat sangat kelelahan.
“Sekarang, kita akan kuliner, masih sanggup Rach..?” tanya Jansen sambil terus tersenyum saat melihat ekspresi Rach yang sudah sangat kelelahan.
Di suatu malam yang diringi dengan hembusan angin senja menuju malam. Semua orang terlihat begitu menikmati kebersamaan, begitu pula Rach bersama Jansen.
“Ku harap senyuman ini hanya untukku, dan tangisan kemarin menjadi milik masa lalunya..” batin Jansen. Ia tersenyum pada Rach.
“Kilas sejenak”
Drrttt… Om Bakhtiar memanggil…
Hmm “ada apa om sampai memanggilku?” gumam Jansen, saat sedang mendesign sebuah bangunan pesanan kliennya.
Om Bakhti: “Hallo Jansen, kamu sedang di mana?”
Jansen: “ aku sedang di rumah saja om, ada apa om?”
Om Bahkti:”bagaimana hubunganmu dengan Rachelie?”
Jansen: “kami baik-baik saja om, berteman dengan normal..—“
Jansen terus berbincang-bincang bersama ayah rachelie.
Huuhh… “Rachelie sedang apa? apa sebaiknya aku ke rumahnya saja, langsung menemui om Bahkti,” gumamnya, lalu segera bergegas menuju rumah kediaman Bakhtiar family.
***
“Kediaman Bakhtiar family”
Hallo Jansen… apa kabar sayang? sapa ibu Rach dengan ramah.
“aku baik-baik saja tante.. ini ada buah-buahan, kebetulan di samping kantorku ada banyak buah-buah segar.” Jansen menyodorkan sekantong sedang berisikan buah segar.
Thank you Jansen..
“Iya tante sama-sama.. ohh iyaa.. Rachelie ada tante?”
Ohh Rachelie sedang pergi perlibur ke villa dan pantai xx..
“Ohh, aku tidak tahu tante..” tukas Jansen.
Iya, maklumi saja, anak manja itu sudah benar-benar berubah Jansen. Semenjak dia sudah tak lagi saling berhubungan dengan Axelle, dia menjadi seperti itu..
“Axelle.. anak pemilik perusahaan Kusuma group itu?”
Iya betul Jansen, Rach semakin menyibukkan diri, tapi tante dengar-dengar Rach juga beberapa kali pergi denganmu?
“Iya tante, hmm aku pamit dulu tante, aku ingin mengejar rach..”
Ohh.. oke…bye..
-------
Setelah mengetahui permsalahan yang Rach alami, Jansen pun bergegas menemui rach. Dengan jarak yang tidaklah dekat, namun ia rela pergi jauh-jauh demi ingin menghibur Rach.