I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Butuh kejujuranmu saja



“I wanna touch your heart – Volume II”


Autho by Natalie Ernison


Kini Axelle telah menjalani hubungannya bersama Rachelie, setelah sekian tahun akhirnya Axelle membuka hatinya untuk Rachelie.


“Perusahaan Kusuma group”


Axelle terlihat sibuk mengurus segala berkas-berkas penting, dan kini mungkin saja ia akan menggantikan posisi sang ayahnya, papi Kenan.


Permisi pak Axelle, ada pegawai baru yang akan meminta tanda tangan dari bapak.. ujar salah seorang pegawai tempat Axelle kini bekerja.


“Oke, persilakan masuk saja..” Axelle masih terlihat sibuk dengan segala berkasnya.


Permisi pak Axelle… ujar seorang wanita dari balik pintu, dan suara itu membuat Axelle terhenti dari segala aktivitasnya.


Ia membalikkan diri, dan sungguh hal yang sangat terduga baginya.


“Friska!!” tukas Axelle terkejut dengan penampilan Friska sekarang, walau masih menggunakan kacamata, namun ia justru lebih dewasa nan anggun.



Saya ingin meminta tanda tangan bapak untuk beberapa berkas ini.. Friska bersikap layaknya seorang pegawai dan atasan, karena ia sangat sadar akan posisinya saat ini.


"Baik  silakan duduk.." Axelle pun memeriksa beberapa berkas penting yang dibawakan oleh Friska.


Friska



“Sudah… hhmm bagaimana kabarmu?”


Tok tok tok…


Sayang, makan siang bersama yah… ujar Rachelie yang baru saja tiba, dan ia sangat terkejut melihat keberadaan Friska.


Terimakasih pak, saya pamit undur diri dulu.. Friska pun pergi meninggalkan Axelle bersama Rachelie.


“Kenapa gadis culun itu bisa berada di perusahaan ini? ah, dia hanya masa lalu..” batin Rach, ia terlihat kurang nyaman dengan kehadiran Friska saat itu.


Tuanku sayang, kita makan siang bersama.. rengek Rachelie sambil menggekayut manja pada Axelle.


“jaga sikapmu Rach, kita sedang berada di kantor, dan seharunya kamu memberitahuku terlebih dahulu sebelum datang kemari..” tukas Axelle.


Kamu tidak suka jika aku datang kemari untuk menemuimu? wajah Rach berubah tak senang akan hal itu.


“Bukan begitu nonaku, hanya saja kamu harus menjaga sikapmu, aku sekarang pemimpin disini..” ujar Ax’ sambil menggenggam tangan Rachelie.


Yasudah, siang ini aku akan langsung ke kantor.. Rach terlihat tak senang dengan perkataan Axelle.


“Nonaku, jangan marah sayang..” Axelle meraih tangan Rach, namun Rach menepisnya.


Huhh… Axelle mendengus kasar, kini hatinya seakan tak karuan.


Setiap harinya Axelle selalu bertemu dengan Friska, Friska yang bekerja sebagai pegawai bawahannya.


Disebuah makan siang bersama…


“Nona Friska sangat luar biasa yah..—ohhh begitu yah caranya..—“ Fris terlihat asyik berbincang bersama salah seorang rekan kerjanya.


Axelle menyeruput kopi hitamnya sambil sesekali melirik ke  arah Friska.


“Axelle brengsek, apa yang kamu pikirkan? kamu sudah memiliki seorang kekasih...” batin Axelle.


Melihat senyuma ramah Friska, membuatnya goyah. Yah, Friska adalah cinta pertamanya saat dimasa putih abu-abu, kini ia harus merelakan jika Friska dekat dengan pria lain.


>>


Hujan turun lebat sesaat sebelum Friska pulang dari kantor tempat ia bekerja. Ia terpaksa bernaung di loby utama gedung A kantor itu.


Kebetulan sekali Axelle lewat dan melihat seorang gadis sedang duduk termenung sendiri.


“Belum pulang?” tanya Axelle sambil memperhatikan ekspresi wajah Friska.


Ahhh ia pak, cuaca masih kurang bagus.. jawab Friska singkat, lalu menunduk malu.


“Baiklah, saya duluan..” ujar Axelle lalu pergi dari hadapan Friska.


Bagaimana pun Friska hanya sepenggal kisah cinta terpendamnya dari masa lalu.


Sepanjang malam Axelle terus teringat akan sosok Friska, rasa itu muncul lagi, tetapi ia berusaha untuk menepisnya.


***


“Kediaman Bakhtiar”


Perasaan gelisah tak menentu dan mulai muncul perasaan cemas akan apa yang akan terjadi.


“Friska bekerja di kantor yang sama dengan Axelle, apakah Axelle sudah melupakannya dan apakah kebohonganku selama bertahun-tahun mampu terus aku tutupi..” lirih Rach sambil memandangi foto dirinya bersama Axelle.


“iya masuk…” tukas Rach sambil mendekap guling miliknya.


Rachelie, di depan ada nak Axelle, turunlah dan temui dia.. tukas sang ibunya lalu kembali menutup pintu.


“Tumben sekali Axelle datang tanpa mengabariku..” batin Rach lalu bergegas turun menuju ruang tamu.


Di sana sudah ada Axelle yang sedang duduk menunggu Rach turun menemuinya.


Kenapa tidak mengirimku pesan atau menelponku terlebih dahulu? ujar Rach sambil duduk di sofa samping Axelle.


“Aku hanya ingin bertemu, apa tidak boleh?” Axelle menyodorkan sebuah paper bag berukuran sedang.


Boleh, tentu saja boleh.. emm apa ini? Rach meraih paper bag tersebut dan membukanya.


Ini dress? ujar Rach sambil memandang Axelle penuh arti.


“Iya ini dress untukmu nona manjaku…” ujar Axelle dengan senyuman yang lembut.


Terimakasih tuan gunung esku… “apakah jika kamu tahu bahwa aku pernah menghancurkan kedekatanmu bersama Friska, kamu akan tetap mencintaiku…” lirih batin Rach. Ia terkadang teringat bagaimana liciknya ia dulu. Semua yang ia inginkan tentu saja harus ia dapatkan, namun setelah semakin mengenal Axelle, kepribadiannya mulai betubah menjadi lebih baik lagi.


“apakah kamu suka nonaku?” Axelle mendekati wajah Rach.


Iyaah tentu saja aku suka, thank you tuanku.. Rach membuka dress tersebut dan mulai menempelkan pada tubuhnya.



Axelle.. berjanjilah untuk tetap mencintaiku dengan tulus, sekali pun suatu saat aku mungkin akan mengecewakanmu..


“Iya, kita hadapi semua secara dewasa.. and, perasaanku pada Friska hanyalah sebatas kenangan masa lalu, kamu tak perlu khawatir..” Axelle menggenggam tangan Rach.


Ehemmm ehemm…


“Apa kabar Axelle..?” tukas sang ayah dari Rach, dan spontan saja Axelle melepaskan sentuhan tangannya pada Rach.


“Kabarku baik om, bagaimana dengan om?” Axelle langsung bangkit dari tempat duduknya dan memberikan sikap hormat pada ayah Rach.


Om baik-baik saja, dan terimakasih sudah menjaga Rachelie…


Daddy, aku ke atas dulu.. Rach pun naik ke kamar atasnya untuk menyimpan hadiah dari Axelle.


“Axelle, om pikir Rachelie tidak akan berubah, dia sangat egois, mungkin karena kami juga yang terlalu memanjakannya..” tukas ayah Rach dengan menghela napas pelan.


“Iya om, semua karena keinginan Rach sendiri, dia pada dasarnya gadis yang baik, hanya saja butuh pengarahan..”


Iya nak Axelle, om sangat senang karena dengan kehadiranmu, Rachelie manja kami sudah menjadi gadis yang cukup dewasa.


“Iya om, aku hanya melakukan apa yang aku bisa om, dan aku tidak pernah memaksa Rach berubah demi aku..”


Iya Axelle, Rachelie manja kami kini sudah sangat sibuk, dan selalu pulang terlambat, dan kami tau itu karena kerja kerasnya.


“Iya om, syukurlah…” Axelle tersenyum sendu pada sang ayah dari Rach.


Daddy… weekend besok aku akan pergi bersama Axelle.. tukas Rach yang baru saja tiba dari dalam kamar pribainya.


Baiklah nak… baik-baiklah kalian.. oke Axelle, om ke kamar dulu..


“Baik om…” Axelle tersenyum lembut pada Rach dan menandakan bahwa semua baik-baik saja.


 -------------


Axelle: “Nonaku, kenapa belakangan ini kamu jarang menelponku?”


Rach: “Aku hanya tidak ingin mengganggumu, tuanku..”


**Axelle: “**Tidak ada yang mengganggu sayangku… kapan kita bisa makan bersama?”


Rach: “bukankah kamu sangat sibuk, yasudah aku ingin istrahat..”


Di sisi lain…


“Kenapa kamu tidak jujur padaku Ax’ jika kamu kemarin pergi bersama Friska bahkan makan bersama di café.. ada sebenarnya, apakah cintaku selama ini hanya bertepuk, dan kamu mengajakku menjalin hubungan hanya karena rasa iba..” lirih Rach, tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras.


Kilas…


“hujan-hujan begini, seharusnya aku mencari coklat panas saja..” gumam Rach sambil memarkirkan mobilnya di area parkir samping mall xx.


Ia memasuki sebuah kedai kopi, dan duduk di pojok jendela.


“Hehh.. itu bukannya Axelle dan Friska.. kenapa.. kenapa aku harus memergoki mereka..”batin Rach. Perlahan ia *** kertas selembaran yang saat itu akan ia perbanyak untuk promosi produk kosmetiknya.


Hampir satu jam lebih Rach berdiam diri di pojok jendela, ia bahkan menutupi kepalanya dengan menggunakan topi dari mantel miliknya.


>>


“Aku hanya butuh kejujuranmu Ax’, jika memang kamu tidak tulus padaku, maka aku akan mundur perlahan..” lirih Rach, ia semakin sedih saja.


 ***