I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Makna cinta



“I wanna touch your heart – Vol II”


Author by Natalie Ernison


Rachelie masih tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Axelle. Karena baginya, peristiwa itu cukup menyakitkan dan mengecewakannya. Kini Friska pun tidak akan tinggal diam jika Axelle bersatu dengan Rachelie.


Bekerja seperti biasanya, dan menjalankan segala tugas tanggung jawab seperti biasanya. Itulah yang Rachelie saat ini terus lakukan.


“Kantor Toko Rachelie”


Rachelie masih saja disibukkan dengan segala administrasi juga input output anggaran usaha mau pun bisnisnya.


Drrtt… Jansen Ro memanggil…


Rach: “Hallo Jansen..”


Jansen: “Malam ini bisa pergi makan malam bersama?”


Rach: “Hmm… aku ciba lihat jadwalku terlebih dahulu..” meraih agenda hariannya, dan melihat jadwal-jadwal padatnya.


Jansen: “Bagaimana Rachelie, aku menunggu..” suara Jansen terdengar sedang tertawa kecil.


Rach: “Oke. Jadwal kunjungan ke toko-toko kosmetik cabangku, sepertinya tidak ada Jan..”


Jansen:“Oke fix. Aku jemput kamu pukul. 19:30.”


Rach: “Oke Jansen.. bye…”


Tsk… “Sejak dulu memang tidak berubah, kamulah yang selalu peduli padaku. Bahkan saat aku masih menjadi perempuan yang sangat egois..” gumam Rach, sambil menggoyangkan kursi kerjanya. Dengan tersenyum tipis, Rach kembali melanjutkan pekerjaannya.


>>


Menyelesaikan segala pekerjaannya, dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Jansen.


Tit tit tit… suara klakson mobil milik Jansen sudah terparkir rapi di depan halaman kantor sekaligus kediaman Rach.


“Hallo cantik..” ujar Jansen menyambut kedatangan Rach.


Kamu…. ujar Rach tersenyum.


>>


“Rachelie, akhir pekan aka nada film movie bagus di bioskop. Mau pergi bersama?” uajr Jansen sembari menyetir mobil miliknya.


Iya tentu, jika aku tidak sibuk… Rach tersenyum, seakan sudah mulai memberikan respon yang baik bagi Jansen.


***


“Resto xxx”


Jansen membawa Rach untuk makan malam bersama di sebuah resto yang cukup mewah, tentunya teruntuk bagi kelas atas.


Sepanjang makan malam bersama, Jansen terus tersenyum pada Rach.


Jansen… tukas Rach, menyadarkan Jansen dari lamunannya.


“Ahh ia Rachelie.. kamu terlalu.. ahh..—“ ucapan Jansen terhenti saat melihat betapa cantiknya wanita yang sejak kecil ia kagumi ini.


“Rachelie, sejak kecil kamu selalu cantik. Hatiku selalu bergetar setiap melihatmu..” batin Jansen. Sejak kecil


Jansen memang selalu baik pada Rach, sekali pun Rach dulunya sangat egois pada siapa pun.


“Rachelie…”


Hmm.. iaa Jansen..


“Apakah aku bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat bagimu..” tukas Jansen, yang membuat Rach menghentikan kunyahannya.


Jansen kamu memang tidak berubah, sejak dulu selalu bercanda untuk menghiburku.


“Aku serius Rachelie.. aku menyukaimu sejak lama..”


Menyukaiku sejak lama! mungkin saja itu hanya sekedar rasa suka dalam pertemanan kita Jansen.



“Tidak Rachelie.. aku sungguh-sungguh padamu, dan tentang perasaanku..” Jansen meraih tangan Rach dan menggenggamnya dengan erat.


Jansen, maaf aku tidak mengerti maksudmu!


“Aku ingin menjadi seseorang yang istimewa untukmu dan dalam hatimu..”  ujar Jansen dengan tatapan sendunya dan penuh harap.


Jansen, maaf.. Rach menarik kembali tangannya dari genggaman Jansen.


“Kenapa Rachel? apakah aku tidak ada dihatiku sedikit pun..”


Maaf Jansen, kamu adalah sahabatku yang sangat istimewa. Kamu selalu istimewa..


“Tapi bukan sebagai kekasih..”


Jansen! kamu tahu, aku belum lama patah hati, dan lelah dengan hubungan. Jadi, jangan buat luka itu terungkit lagi!


“Aku akan menjadi obat untukmu..”


Kamu bukam obat, kamu Jansen tetaplah Jansen yang selalu baik padaku, dan tulus. Tolong jangan buat aku berubah pikiran tentang dirimu.. tegas Rach, membuat Jansen merasa sangat tertolak.


Jansen, maafkan aku. Kita akan tetap menjadi sahabat. Aku tidak ingin persahabat kita tidak sehangat dulu lagi..


“Apakah itu yang kamu takutkan, atau kamu memang masih menginginkan Axelle!”


Cukup Jansen! jangan bahas orang itu lagi! tegas Rach, Rach terlihat kesal dengan sebuatan nama Axelle.


“Maafkan aku Rachel, aku terlalu banyak berpikir tentang kelanjutan hubungan kita yang memang tidak mungkin.” Lirih Jansen, perasaannya benar-benar kacau saat Rach tidak menyambut perasaannya.


Malam itu berlalu begitu saja, pernyataan cinta Jansen pun berakhir dengan penolakan dari Rachelie.


***


Dasar pria tidak tahu diuntung! aku sudah serahkan semuanya untukmu, tapi kenapa kamu tiba-tiba ingin meninggalkanku! teriak ibu Friska pada father Ro/ Rogoue.


“Maaf, tapi aku sudah cukup mengkhianati istriku. Aku ingin menghentikan hubungan ini segera..” tukas Ro, ayah Jansen.


Kamu keterlaluan mas! kamu bilang akan menceraikan istrimu yang tidak memuaskanmu itu, taoi sekarang kamu justru berniat kembali! dasar ****!! umpat ibu Friska dengan begitu emosional.


“Henie, tolong mengertilah! hubungan kini sudah tidak baik sejak awal!” tegas daddy Ro.


Kamu sangat jahat mas… tapi jangan harap rumah tangga kalian akan aman dariku! aku akan bertindak!


“Cukup Henie! semua sudah aku berikan padamu! bahkan kamu sendiri hanya seorang janda! jadi jangan banyak berharap dariku, hanya karena kamu wanita simpananku!”


Kamu jahat!! jahat!! jahat!! jerit ibu Friska, sambil terus memukuli daddy Ro.


“Kita akhiri semuanya, kamu sudah mendapatkan uang banyak dariku, jadi jangan coba-coba banyak bertingkah, atau kamu akan tahu sendiri akibatnya, jika berani mengusik keluarga Rogoue.


Daddy Ro pun akhirnya pergi dari rumah kediaman keluarga Friska. Sementara Henie, ibu Friska hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Ia pun tak akan berani banyak bicara, karena keluarga Rogue sangat terkenal dengan segala kekayaan, kekuasaannya.


***


“Kediaman Rogoue family”


“Aku merindukanmu mam..” ujar daddy Ro, sambil mendekap mesra mami Ro yang sedang terlihat asyik menonton televisi.


Ada apa ini dad? apakah mami sedang bermimpi.. tukas mami Ro yang heran melihat peruahan sang suaminya.


“Maafkan daddy, daddy sangat salah selama ini.. sangat maaf..” lirih daddy Ro, dengan berlinangan air mata pilu.


“Terimakasih Tuhan, akhirnya suamiku menyadari perbuatannya..” lirih batin mami Ro.


Sejak 10 sepulugh tahun pertama usia pernikahan, daddy Ro sudah mulai bermain dengan para wanita-wanita muda pada saat perjalanan dinas keluar kota mau pun negeri. Sejak saat itu, daddy Ro semakin candu untuk terus mencari kepuasan di luar. Sehingga sang istri, mami Ro sudah tak lagi menarik baginya.


Rasa sakit hati, kecewa, bahkan kekerasa fisik sudah bukan lagi tabu bagi mami Ro.


Daddy Ro kerap kali berlaku kasar pada mami Ro. Namun mami Ro tetap terus bertahan dalam kepediahan keadaan keluarga broken home mereka. Berharap sang suami, daddy Ro akan dapat berubah walau perlahan-lahan.


>>


Mengapa baru sekarang daddy seperti ini.. mengapa.. lirih mami Ro dengan tergugu pilu.


“ampun mam… ampunn… daddy mohon ampun..” lirih daddy Ro, sambil tersungkur dihadapan mami Ro.


Aku sudah sangat sakit selama ini.. kamu tidak tahu seberapa besar rasa sakitku.. arghhh… jerit mami Ro histeris.


“Mami… tolong ampuni daddy…” daddy Ro mendekap lembut sang istri.


Ditengah suasana haru pilu, Jansen pun tiba.


“Daddy, mami…” tukas Jansen heran.


“Jansen! maafkan daddy…” daddy Ro langsung mendekap Jansen juga sang ibunya.


“daddy adalah ayah yang tidak berguna, tidak dapat menjadi teladan di keluarga ini..” sesal sang ayah.


“Daddy tetap ayah terbaik bagiku. Jika bukan karena daddy, mungkin aku tidak akan seperti sekarang..” tukas Jansen yang juga sudah berlinangan air mata.


Yah, setelah sekian tahun bahkan belasan tahun sang ayah terus menyakiti sang ibu. Kini sang ayahnya sudah mulai berbalik pada keluarga sesungguhnya.


>>


“Daddy, mami! mengapa pagi-pagi sudah rapi begini, dan juga banyak bawa barang?” tanya Jansen heran melihat ada beberapa tas juga koper di ruang utama kediaman keluarga Ro.


“daddy dan mami akan pergi liburan ke luar negeri, untuk memupuk kembali rasa cinta masa muda. Jadi, kamu baik-baiklah di Indonesia..” tukas sang ayahnya.



“Ohh my..—“ Jansen terkejut, juga terlihat tak menyangka akan tindakan sang ayahnya.


Iya Jansen, mami dan daddy akan pergi berbulan madu.. ujar sang ibu dengan terkekeh.



“Baiklah.. bawalah hasil yang baik, seperti punya adik baru contohnya..” ujar Jansen dengan terkekeh pula.


“tenang saja, daddy masih sangat produktif..” tukas sang ayah dengan nada bercanda.


Akhirnya sang ayah juga ibunya pun pergi untuk berlibur ke luar negeri, tentu saja hanay berdua. Setelah penyesalan mendalam sang ayah, akhirnya sang ayahnya berinisiatif untuk mengajak sang ibunya pergi berlibur. Dengan maksud, untuk mengingat kembali setiap momen-momen yang dulu pernah tercipta.


***