I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Mr. Cold



“I wanna touch your heart || Volume II”


Author by Natalie Ernison


“Pagi sampai siang, terkadang menjelang aku masih stay di sekolah untuk melaksanakan tanggung jawabku sebagai seorang pelajar. Kedua orang tuaku sangat menyayangiku. dibalik semua kesibukkan papi, tapi papi masih meluangkan waktu untukku dan mami.


Sebenarnya, aku sangat ingin memiliki adik. Tapi, mami selalu berkata... ”satu anak sudah cukup”. Terkadang, aku rindu hadirnya baby kecil yang akan menjadi perusuh di kamarku, karena kamarku yang sangat privasi tersebut.


Hahh, sudahlah…


Kalau terus memikirkan hal itu, maka lirik-lirik laguku tak akan selesai.” Gumam Axelle yang sedang terlihat fokus menghadap sebuah computer di lab miliki sekolah tempatnya menempuh pendidikan sekolah menengah atas.


“Coba lihat baik-baik, inilah contoh teladan terbaik si ketua osis kita. Selain sibuk ngeband, tapi masih sempat-sempatnya menulis blog..” tukas salah seorang teman sekelasnya sesama pengurus osis.


“Hmpp… ada apa Efres?


Apa kamu sudah selesai menggoda para ladies!” tukas Axelle dengan ketus seperti dirinya yang biasa.


Axelle, inilah yang aku suka darimu. Selain ketus, tapi nada dan cara bicaramu sering kali membuat para ladies menangis. Tukas Efres, teman sekelasnya sembari terkekeh.


“Efres, paling tidak aku tetaplah aku yang biasa, tanpa tebar pesona.”


Eeh brother cold.. kamu itu sudah berapa kali membuat para ladies sekolah favorite di sini menangis haru, hahaha…


“Julukan apa lagi itu Ef??”


Memangnya kamu tidak tahu, atau memang pura-pura tidak tahu!! Karena sifat cuekmu, membuatmu mendapatkan julukan di Mr. Cold… ahhahaa…


“Sepertinya kamu sangat bahagia mengata-ngataiku Ef…”


Hoo, sorry sorry bro..


Aku tahu kamu jago karate, tapi jangan siksa aku.. rintih Efres, saat menerima rangkulan keras dari sahabatnya si Mr..Cold Axelle.


Axelle, bukannya Rachelie, sangat mengagumimu sejak sekolah menengah pertama dulu!!


“hah. sudahlah…


Aku tidak tertarik dengan perempuan arogan begitu..” tukas Axelle sembari melempar-lempar flashdisk miliknya, setelah menyelesaikan penuisan blognya.


Tapi, itukan karena kamu yang terus bersikap dingin Ax’!!


“Aku sebenarnya bukanlah orang yang dingin, aku di rumah sangat dekat dengan kedua orang tuaku…” ujar Axelle sembari duduk di kursi samping Efres.


Jadi, kamu di sekolah menggunakan topeng Mr. Coldmu.. ujar Efres menggodanya.


“bukan berarti aku menggunakan topeng.


Hanya saja aku kurang suka, setiap orang yang mengetahui ujung namaku sebagai keluarga Kusuma. Pasti mendapat perlakuan berbeda, seakan aku sangat dihormati, hanya karena yang orang-orang tahu bagaimana keadaan keluargaku.”


Iya Ax, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Aku pun sama, setelah orang-orang tahu kalau aku juga anak pewaris perusahaan dan asset perusahaan papi, mereka menjadi lebih ramah. Aku tahu semua hanya karena status sosialku, tapi aku justru menjadi seorang playboy jadinya..


“Seharusnya kamu jangan begitu Ef. Aku hanya mau menjadi anak-anak biasa, dan uang hasilku main band, aku kumpulkan pelan-pelan untuk membuka usaha sendiri.”


Axelle, kamu sangat sempurna yah..


Selain memiliki keluarga yang bergelimang harta, tapi kamu juga tidak serakah, dan aku yakin siapa pun perempuan yang berhasil meluluhkan hatimu, akan sangat bahagia dunia akhirat.. tukas Efres dengan terkekeh geli.


“Kenapa langsung bicara akhirat Efres…”


Kedua remaja yang baru akan beranjak dewasa, sama-sama memiliki keluarga yang cukup dikenal sebagai pewaris asset maupun saham keluarga. Namun, memiliki kepribadian yang berbeda.


“Efres Saguna”


Tinggi 175 cm (untuk saat ini) - usia 16 tahun lebih tua beberapa bulan dari Axelle.


Hobi: Basket, travelling – kulit pulih – anak tunggal dari keluarga Saguna - suka tersenyum kepada para gadis-gadis – suka tebar pesona melalui keahliannya bermain basket – dan memiliki wajah yang tak kalah tampan.


Efres Saguna, biasa dipanggil Efres/ Ef. Sahabat baik Axelle, sama-sama memiliki posisi terbaik dalam keluarga (dalam artian sebagai anak tunggal dan pewaris segala kekayaan orang tua mereka). Setiap harinya berlalu berlalu begitu saja, Axelle yang begitu banyak terlibat kegiatan sekolah.


“Di sebuah aula sekolah”


“Teman-teman, tiga hari ke depan mohon persiapannya untuk kunjungan ke sekolah xx. Saya berharap kerja sama dari kalian semua..—“ ujar Axelle yang sedang mengerahkan rekan-rekannya untuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam acara pertemuan tersebut.


>>>


“Bro, berarti hari rabu kita langsung saja ke sekolah xx itu yah..?”


“Iya Ef, tolong luruskan motivasimu nanti..” tukas Axelle dengan senyuman tipisnya.


Oke oke.. aku harap tim kita tidak memalukan yah bro… ujar Efres, sambil merangkul sahabat baiknya tersebut.


Sebuah kegiatan sekolah yang sering kali diadakan, yaitu pertandingan futsal, basket, volley dll. Sebagai cara untuk menjalin persahabat dengan sekolah-sekolah lainnya. Kali ini tim basket Axelle terpilih menjadi lawan main dari sekolah yang akan mereka kunjungi.


Semua tim mempersiapkan diri dengan baik, baik latihan fisik maupun menjaga kesehatan masing-masing.


“Kediaman Kusuma Teofanya”


“mami, kakak ganteng itu rajin sekali olahraga..--


Iya sayang, kelak kamu juga harus begitu yah..--“ ujar seorang anak bersama ibunya, saat melihat pemuda tersebut, yang tidak lain adalah Axelle.


“Axelle!! sudah hampir malam nak, ayo pulang sayang..” mami Sunny yang sedang berdiri di depan teras rumah kediamannya.


“Iya mam, sebentar..” sahut Axelle singkat, sambil terus berlari pela.


“Kenapa mam??” ujar papi Kenan yang baru saja tiba.


Axelle pi, pagi sore selalu begitu..—tukas mami Sunny dengan menunjukkan tangannya ke arah Axelle.


“Ohh, biarkan saja mi. Biarkan dia menikmati apa yang saat ini dia kerjakan, selama itu positif.” Tukas papi Kenan, lalu merangkul mami Sunny untuk masuk ke dalam rumah kediaman mereka.


Hahh hahhh… desahan napas Axelle yang baru saja menyelesaikan kegiatannya.


Sambil setengah berlari, Axelle pun kembali pulang dengan terengah-engah.


“Hallo mami papi..” Axelle menyapa kedua orang tuanya, lalu duduk di sofa dengan bercucuran keringat.


Ini minum juicenya nak.. mami Sunny yang sudah duduk manis mennggu kepulangan sang anak semata wayangnya, lalu menyodorkan segelas juice mangga.


“thank you mami..” ujar Axelle sambil perlahan mengatur napasnya, dan meneguk juice buatan sang ibu.


“Mami, besok aku ada pertandingan basket dengan sekolah xx.”


Iya sayang, tapi ingat jaga kesehatanmu yah.. ujar mami Sunny dengan raut wajah yang sedikit mencemaskan kesehatan sang anak tercinta.


“Iya mam, ini demi sekolahku tercinta, aku akan berjuang keras…”


“Axelle, lakukan apa yang menjadi hobimu.


Papi dan mami, tidak akan pernah melarang apa pun yang ingin kamu kerjakan. Tapi, dengan catatan! kamu tidak mengabaikan tanggung jawabmu sebagai pelajar, dan peling penting adalah… kamu masih dalam lingkugan positif.” Tukas sang ayah sambil menepuk bahu Axelle.


“Baik pi, aku selalu mengusahakan diriku supaya melakukan kegiatan yang positif.”


Iya Axelle, papi mu sejak sekolah, kuliah kerja selalu fokus. Jadi, mami harap kamu fokus sayang.


“Baik mam.. thank you kalian selalu mendukungku..”


Seharian penuh menjelang malam, baru merasakan kasur empuknya, lalu terlelah hingga fajar menyinsing.


“Suasana dipagi hari”


Papi Kenan sudah terlihat rapi dan wangi, sementara mami Sunny menyiapkan bekal untuk sang suami tercinta berserta anak semata wayang mereka.


“Axelle, hari ini mau papi antar saja ke sekolah??” tanya sang ayah sambil menyantap sarapan pagi.


“Tidak usah pi, aku naik motor saja hari ini..” tukas Axelle sembari mengenakan jaket denimnya.


Kenapa tidak bersama papi nak, kan arah sekolah itu tidak terlalu jauh?


“Iya mam, tapikan papi harus datang ke kantor sebelum waktunya, jadi aku peri sendiri saja.”


Lihat tuh pi, anak kita sudah semakin dewasa saja.. tukas sang ibu dengan tersenyum bahagia melihat perkembangan anak semta wyangnya bersama sang suami.


“Berarti nanti, akan ada banyak cerita-cerita menark nih sepulang tanding.


Gadis-gadis yang semakin banyak mengagumimu contohnya..” tukas sang ayah dengan nada bercanda.


“Aishh papi, aku gak mikirin hal itu, sudahlah aku mau berangkat dulu..”


Iya sayang, hati-hati dijalan nak, jangan terlalu terburu-buru. Ujar sang ibu, sambil memberikan tas bekal makan siangnya.


“Mami, kenapa tas bekalku lebih berat dari biasanya??”


Iya, ini ada bekal yang mami lebihkan, siapa tahu taman-temanmu mau mencoba. Juga juice buahnya sayang, setelah bermain basket.


“Oke mami, I love you.. byee papi..”


“Sekolah xxx”


Semua peserta didik terlihat begitu antusias menyambut kedatangatan tim basket dari sekolah asal Axelle beserta rekan-rekannya. Tim basket yang sangat terkenal di kalangan sekolah-sekolah favorite, termasuk dikalangan para gadis-gadis. Karena, selain wajah-wajah mereka yang tampan, juga penampilan saat bertanding sudah tak perlu lagi diragukan.


“Oke kita sambut penampilan pertandingan persahabatan dari tim sekolah xx bersama tim sekolah kita tercinta..”


Riuh suasana penyambutan kedatangan tim basket Axelle, dari awal pertengahan hingga berakhirnya pertandingan. Semua begitu terpukau dengan penampilan mereka, namun ada satu hal yang kini cukup mengganggu.


Sesuatu yang cukup membuat fokusnya terganggu, ditengah keramaian tersebut…


Bersambung…