
“I wanna touch your heart (( Volume II”
Author by Natalia Ernison
Setelah sekian lama, akhirnya Axelle pun berhasil mengetahui nama si gadis kacamatanya, walau harus melalui bantuan sahabat karibnya. Namun, tidak hanya sebatas perkenalan saja, Axelle ingin lebih mengenalnya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, apakah aku harus meminta nomor ponselnya..” gumam Axelle di sebuah café xx.
Sedang sibuk mengerjakan rancangan kegiatan organisasi siswa, Axelle terlihat begitu fokus dengan kegiatannya.
Axelle… ujar seorang gadis menyapa sambil melambaikan tangan. Hal itu cukup mengejutkan Axelle, karena gadis tersebut ialah Friska si gadis kacamatanya.
“Hai Friska..” sahut Axelle yang terlihat salah tingkah, lalu mempersilakan Friska untuk duduk di sampingnya.
Mereka berbincang-bincang dengan berbagai topik pembicaraan. Walau pun topic yang dibicarakan bukanlah yang tergolong penting, namun Axelle begitu antusias mendengarkan cerita si gadis kacamatanya.
“Friska, bolehkan aku meminta nomor ponselnya..” tanya Axelle dengan penuh rasa gugup.
Iya Axelle, ini nomor ponselku.. ujar Friska menyodorkan ponselnya dan memerlihatkan nomor ponsel miliknya.
Axelle begitu tidak menyangka akan pertemuan tak terduga mereka. Rasa lega dan bahagia kini menyelimuti hati Axelle.
Setiap harinya Axelle terus mengirimkan pesan-pesan sigkat kepada si gadis kacamatanya. Axelle yang biasanya terlihat dingin saat berada di sekolah, kini menjadi sosok yang cukup ramah. Ia begitu menikmati masa-masa sekolahnya, dan tak ingin semenit pun berlalu begitu saja. Ia menyadari pertemuannya dengan Friska pun karena kegiatan sekolah.
Suatu saat…
“Friska, aku ingin mengajakmu untuk pergi ke sebuah taman hiburan, pada akhir pekan ini..”
Ohh sungguh! baiklah, sekitar jam. 13 siang aku akan menjemputmu..
Yeahhhh… teriak Axelle kegirangan setelah menerima persetujuan atas permintaannya pada Friska, si gadis kacamatanya.
>> Akhir pekan pun tiba…
Semprot semprot parfum agar wangi, mengenakan pakaian yang casual dan senyaman mungkin. Berkaca-kaca memandangi penampilan dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Friska terlihat tidak sabar ingin berjumpa dengan si pemain basket “Axelle”.
Tepat pukul. 13.00 Friska telah duduk manis di sebuah teras rumah miliknya, seakan tidak sabar menanti kedatangan Axelle.
Setelah sekian lama menanti, akhirnya Axelle pun tiba dengan mengendarai motor sport orange miliknya.
Seringai senyuman manis Axelle memenuhi langkah kakinya menuju pekarangan rumah kediaman Friska. Friska melambaikan tangannya saat melihat Axelle yang telah tiba.
“Hai…” Axelle menyapa Friska, sambil membuka helm sportnya, dengan wajah tampannya yang semakin jelas saja.
“Maaf menunggu lama..” tukas Axelle.
Iya tidak masalah, lagi pula hanya telat beberapa menit saja. Ujar Friska yang bangkit dari kursinya.
Keduanya pun bergegas menuju sebuah taman hiburan, dengan niat ingin bermain bersama. Sungguh sebuah tempat yang nyaman untuk bermain, untuk semua jenis usia.
Setibanya di taman hiburan, keduanya begitu tak sabar ingin menaiki beberapa wahana. Namun, mendadak Axelle menerima panggilan dari rumah, dan ternyata…
“Apa pak Tino!!!” ucap Axelle dengan nada terkejut dan langsung terduduk lemas di sebuah kursi di area taman bermain.
Ada apa Axelle? tanya Friska yang heran melihat ekspresi dari Axelle.
“Friska, aku minta maaf. Hari ini sepertinya kita harus segera pulang.”
Ada apa Axelle, apa yang terjadi?
“Papiku terjatuh dari tangga…” ucap Axelle dengan nada pilu.
Ohh my God… yasudah kita pulang saja.
“Iya Friska, maaf semua batal…” mereka pun bergegas pergi, dengan gemetar Axelle menyalakan kendaraannya lalu bergegas menuju rumah sakit xx.
________________*______________
“Rumah sakit xx”
Setibanya di rumah sakit, terlihat oma Esther, dan ibunya sedang duduk dengan wajah sendu.
Papi terjatuh dari tangga karena tiba-tiba saja dada papi terasa sesak nak… ucap sang ibu dengan nada lirih.
“Iya mami, semoga papi baik-baik saja…” ujar Axelle menenangkan sang ibu, sementara itu Friska terlihat sedang ebrbincang-bincang bersama oma Esther.
Papi terlalu lelah dengan semua pekerjaannya nak, akhirnya jarang tidur cepat.
“Iya mami, aku pun selalu mengingatkan papi untuk beristirahat sejenak.”
Iaa nak, mami khawatir dengan keadaan papimu sekarang…
“Sudah mi, kita hanya bisa berharap semua baik-baik saja..” ujar Axelle sambil merangkul sang ibu dengan penuh kasih sayang.
Axelle harus pulang sekarang, takut ibu dan ayahku mencemaskanku. Ujar Friska yang bersiap untuk pulang.
“Biar aku antar kamu pulang Friska..”
Tidak Axelle, jaga mami mu saja… tukas Friska.
Axelle antar teman perempuanmu, dan tidak perlu mencemaskan mami, nanti bisa kembali lagi.
“Oke mami, aku antar Axelle pulang dulu..”
>>>
“Friska, maaf yah aku telah membuatmu bersiap-siap dan akhirnya kita tidak jadi bermain.”
Iya Axelle, ini adalah musibah, jadi tidak perlu bicara seperti itu lagi. Ujar Friska yang begitu pengertian dan memahami atas peristiwa yang sedang dialami oleh keluarga Axelle.
“Friska, thank you for today…” ucap Axelle dengan wajah sendunya dan juga dicampur dengan rasa bahagia pula.
Langkah terbaik yang telah Axelle lakukan ialah dengan mengajak Friska untuk pergi bersamanya, namun semua pun gagal.
“Kuharap aku masih memiliki kesempatan untuk dapat mengajak Friska pergi keluar..” gumam Axelle saat sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, tempat sang ayah dirawat.
>>>
“Rumah sakit xxx”
Siapa gadis itu nak? tanya sang ibu dengan ekspresi yang ingin tahu.
“Dia anak dari sekolah xxx mam..” jawan Axelle pelan, dengan sedikit malu-malu.
“Apakah kamu menyukainya nak??” tanya sang ayah secara tiba-tiba terlibat dalam perbincangan.
“papi sembuh dulu, baru aku akan ceritakan semuanya..” ujar Axelle dengan nada bercanda.
“Memangnya sekarang papi sakit? papi baik-baik saja.” tukas sang ayah dengan senyuman semangatnya.
Papi selalu memaksakan diri, jika papi kelelahan seharusnya papi kurangi kegiatan papi. Tukas sang istri tercinta.
“Benar pi, aku akan berusaha bekerja untuk menghidupi papi dan mami..”
“iya Axelle, kalau begitu jangan main cinta-cintaan dulu..” ujar sang ayah dengan terkekeh.
“Kenapa papi sangkut pautkan hal itu pi.. justru itu membuat,u bersemangat..” tukas Axelle sambil menepuk punggung tangan sang ayah.
“Iya, sebelum kamu merasakan sakitnya cinta, maka kamu belum mampu memahami arti cinta itu sesungguhnya..” tukas sang ayah denganw ajah sendu.
Papi sudahlah jangan bicarakan cinta, nanti anak kita satu ini tidak akan bisa tidur nyenya..
“mami…” rengek Axelle sambil mendekap manja sang ibu.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, akhirnya papi Kenan diperbolehkan untuk kembali pulang.
“Kediaman Kusuma Teofanya”
“Akhirnya, papi bisa kembali… biar aku yang akan menyiapkan makan malam..” ujar Axelle, lalu bergegas menyiapkan makan malam.
Kini kesehatan sang ayah pun telah pulih kembali, semua karena perhatian dan kasih sayang dari anak dan istri tercintanya. Axelle pun sudah terdidik sejak kecil, diberi pengertian maupun pemahamannya mengenai kondisi keluarganya.