I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Ingin kau selalu tersenyum



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Setelah sekian tahun berusaha mengejar cinta Axelle, Rachelie pun menemukan titik terang. Namun akhirnya hubungan itu keduanya berakhir dengan perpisahan secara tidak baik. Axelle salah paham akan kebersamaan Rachelie bersama Jansen, seorang anak direktur perusahaan minyak terkenal. Begitu pula Rachelie masih belum menemukan kebenaran mengenai hubungan Axelle bersama Friska.


Sudah beberapa minggu belakangan, Rach tak lagi berpikir untuk menghubungi Axelle. Ia sadar akan posisinya saat ini, ia tak mungkin bisa memaksa perasaan Axelle padanya.


Sibuk dan terus fokus dengan pekerjaannya, bahkan terkadang pulang hanya untuk tidur, lalu pagi-pagi sudah sibuk dengan urusan bisnis dan lainnya.


Usaha mau pun bisnis kosmetiknya memang sudah semakin berkembang, ia bahkan membuka beberapa cabang di daerah lainnya.


“Kediaman Bakhtiar Family”


Seluruh keluarganya sedang berkumpul untuk makan malam, seperti biasanya Rachelie masih saja disibukkan dengan urusan bisnisnya.


Rachel, makanlah terlebih dahulu! jangan bermain ponsel selagi makan bersama. Ujar sang ibunya memeberi nasihat pada Rach.


“Rachelie, bagaimana hubunganmu dengan anak Kusuma itu?” tanya sang ayahnya.


Tidak ada dad, kami sudah lama putus.. tukas Rach sambil menyantap makanannya.


Kenapa nak? bukankah Axelle anak yang baik dan juga sukses mengelola perusahaan Kusuma Group? ujar sang ibu lagi.


Tidak mam, dad.. kumohon jangan bahas dia lagi.. kalian pun pernah muda bukan? jadi, tak perlu lagi bertanya… Rach menyelesaikan makanannya, lalu ingin bergegas pergi lagi.


“Kamu kemana lagi Rachel?”


Tentu saja pergi mengurus pekerjaanku dad, lalu apa lagi? Rach menghentikan langkahnya, dan mendengus kesal.


“Daddy senang dengan keberhasilan dan kemandirianmu sekarang, tapi bukan berarti kamu habiskan masa mudamu hanya dengan bekerja saja..” ujar sang ayahnya.


Lalu apa lagi yang harus aku lakukan dad, mam? aku anak tunggal, bahkan mami tak ingin memiliki adik lagi..


Iya Rachelie, dulu mami berpikir satu anak lebih baik.. ujar sang ibu, lalu duduk di samping Rachel.


Mami, daddy.. aku menginap di tempat kerjaku… ujar Rach, dan mengecup pipi sang ayah dan ibunya.


Ia pun bergegas pergi meninggalkan kediaman kedua orang tuanya yang cukup mewah itu.


***


Rahelie sangat lelah dengan segala kesibukannya, namun ia melakukan semuanya hanya untuk melupakan Axelle. Hatinya belum mampu untuk melupakan Axelle, namun kenyataannya hubungan mereka sudah berakhir.


Suatu saat, Rachelie pergi ke sebuah super market, untuk membeli bahan makanan. Karena semenjak tinggal di tempat kerjanya, ia mulai belajar memasak untuk dirinya, dan terkadang untuk para pegawainya juga.


“Itukan tante Sunny..” gumam Rach, saat melihat mami Sunny sedang berbelanja bersama Friska dan juga Axelle.


Ia ingin menyapa, namun saat melihat Axelle yang terus tersenyum saat bersama Friska, membuatnya mengurungkan niatnya.


“Sudahlah.. mereka sudah bahagia..” batin Rach. Ada rasa sesak di dadanya, dikala melihat Axelle bersama Friska bahkan ada mami Sunny pula.


Drrrttt…. Jansel Ro memanggil…


Rach: “Hallo Jansen..-“


Jansen: “besok weekend, ayo kita berenang ke water park..”


Rach: “Hmmm… tapi aku harus menyelesaika laporanku malam  ini Jansen..” sesal Rach.


Jansen: “Its okay.. aku malam  ini ke kantormu, okay..”


Rach: “Ohh okay deh…” Rach mengakhiri panggilannya, dan wajahnya kembali tersenyum setelah menerima panggilan dari Jansen.


 >>


Ting tong… suara bel berbunyi.


Rach meninggalkan ruangan kerjanya dan menuju pintu utama samping toko miliknya.


“Tadhaaa…” ujar Jansen sambil membawa bunga dan beberapa makanan lainnya.


 Oh my Lord… apa ini Jansen…?


“Ini bunga sebagai hiasan ruang kerjamu, terlalu monoton, kurang berwarna..” Jansen meletakkan bunga tadi di atas meja ruang tamu, dan makanan ia letakan pula.


Wauuu makanan yang banyak.. thank you so much Jansen… ujar Rach, lalu duduk di samping Jansen.


“Kita makan dulu, baru kerjakan laporan keuanganmu…” Jansen membuka dan menyajikan makanan yang telah ia belikan tadi.


Hmm… dasar Jansen, sepertinya aku akan gemuk.. gumam Rach sambil menyandarkan diri di sisi sofa dan menunggu Jansen selesai menyajikan makanannya.


Mereka berdua makan dengan lahapnya, dan setelah itu Jansen juga membantu Rach menyelesaikan laporan keuangannya.


“Walau pun usaha sendiri, tapi memang penting untuk mengurus detail keuangannya Rach..” ujar Jansen sambil membantu Rach menginput data-data keuangannya.


Ia Jansen, karena aku sudah memilih usaha begini, jadi yah aku saja yang mengerjakannya.


“Iya Rachelie.. kamu hebat, bisa mengerjakan semuanya..” puji Jansen, sesekali Jansen memandangi wajah cantik Rachelie saat sedang serius.



Arhkkk… akhirnya selesai Jansen… hhaha… yuhuuu… rusau Rach, lalu merangkul lengan Jansen.


Jansen terdiam dan tersenyum tipis sambil memandangi wajah ceria Rach karena telah menyelesaikan pekerjaannya.


“Wahhh kita makan lagi Rach?” Jansen terkagum dengan pudding, ice cream yang telah tersaji dan siap untuk dinikmati itu.


Yes.. kamu harus makan banyak, dan ototmu sudah lumayan berkembang pesat.. ujar Rach menggodanya.


Hahha..


“Iya Rachelie.. dari dulu kita sangat suka memakan ice cream..” Jansen langsung menyantap ice cream itu.


Keduanya berbincang-bincang hingga larut malam, sambil menyantap beberapa camilan lainnya.


Jansen, besok kita pergi bersama teman-temanmu?


“Bersama saudara sepupuku Rach, dan daddy ingin turut serta sepertinya..”


Ohhh om Ro.. bagaimana mungkin.. hahah… Rach tertawa geli saat mengetahui om Ro, ayah Jansen turut serta dalam acara weekend mereka di water park.


>>


“yahoo… masuk Rach..” ujar Jansen dari balik kaca mobilnya, dan beserta para saudaranya.


Kalian beberapa orang? ujar Rach sambil membuka pintu mobil.


Maaf kakak Rachelie, kakak di depan saja bersama kakak Jansen.. ujar para saudara sepupunya.


Ohh baiklah… Rach pun duduk di samping Jansen.


Sepanjang jalan, mereka begitu asyik dalam perbincangan, Rach terlihat sangat menikmati kebersamaannya bersama keluarga besar Jansen, yang sangat hangat padanya.


“Water Park”


Mereka pun tiba di arena Water Park….


Di sana sudah begitu banyak keluarga dari Jansen sedang  berkumpul. Rachelie dengan ramahnya menyapa dan mereka bermain bersama.


“Jansen, hari ini tunjukkan kamu adalah pria sejati, dekati gadis manis itu..” bisik sang ayahnya dan didengar pula oleh keluarganya yang lain. Keluarganya hanya terkekeh geli mendengar bisikan sang ayahnya.


“Okay daddy, tanpa daddy minta pun aku pasti melakukannya…” tukas Jansen, lalu pergi mendekati Rach yang sedang asyik berenang.


-----


“Haii Rach… ingin makan ice cream?” uajr Jansen sambil turun ke dalam kolam tempat Rach sedang berenang.


Hmm, ide bagus.. hayuuu… tak butuh waktu untuk berpikir, Rach langsung mengiyakannya, karena ia sangat suka ice cream.



“Rachelie… nanti malam, kita akan malam bersama keluargaku..”


Hmm.. baiklah Jansen…


“Gadis ini manis sekali dan sangat penurut, sangat berbeda saat beberapa tahun lalu..  tsk..” batin Jansen. Jansen tersenyum sendiri dikala mengingat kenangannya bersama Rachelie saat masih kecil.


Kenapa Jansen.. kamu sedang berpikit jorok… Rach mencubiti Jansen dengan gemasnya.


“tidak tidak Rach.. aku hanya tersenyum melihat gadis manja yang sedang kepanasan hari ini..” Jansen berkilah.


Hmmm.. ia cuacanya sangat panas Jansen.. hmpp… besok aku akan molor saja..


“Heii.. no no.. tidak boleh malas oke..”



Tidak Jansen… aaa… Rach mendorong Jansen hingga terjatuh ke dalam kolam renang.


Keduanya bermain air seperti bocah, dan Jansen sangat lembut pada Rachelie.


***


“Makan malam bersama”


“Rachelie, sesekali ajaklah daddy dan mami kamu kemari..” ujar om Ro/ ayah Jansen.


Daddy dan mami sangat sibuk om.. ujar Rach sambil menunduk sendu. Melihat hal itu, Jansen dengan sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


“Daddy… minggu depan kita akan malam bersama keluarga Bakhtiar, okee..” tukas Jansen disela pembicaraan.


“Hmm okay.. daddy tunggu..”


Seusai makan malam, Jansen mengantarkan Rach kembali pulang ke kantornya.


>>>


“Kamu langsung istrahat yah, dan ingan untuk minum susu jahe ini,” ujar Jansen pada Rach, sambil memberikan segelas ukuran L, susu jahe hangat.


Thank you Jansen.. aku lelah, aku ingin segera istirahat..



“Bye.. –“ Jansen pun bergegas pergi.


Seperti yang Jansen katakanm Rachelie meminum susu jahe tadi, walau ia tak terlalu suka sebenarnya.


Tsk… “Lelaki yang aneh..” gumam Rach sambil meminum susu jahe hangatnya.