I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Axelle vs papi Kenan



“I wanna touch your heart ||Volume II”


Author  by: Natalia Ernison


Arrayan Axelle Kusuma Jr, putra pertama dari Kenan wijaya Kusuma dan Sunny Teofanya.


Seorang anak laki-laki yang sedang mengalami masa-masa remaja menuju masa-masa dewasa. Pesona wajah yang tak kalah tampannya dengan sang ayah tercinta.


Biasa dipanggil Axelle, memiliki hobi yang sangat mirip dengan kedua orang tuanya. Axelle membentuk sebuah band, ia sendiri sebagai gitaris. Bakat/ talenta yang turun dari orang tuanya, berarti istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kira-kira begitulah kalimat yang tepat dalam penggambaran diri Axelle.


Seorang anak tunggal dari Kusuma family,


keluarga yang cukup terpandang. Terlepas dari segala cerita masa lalu kedua orang tuanya. Axelle, juga cukup menggoncang iman para perempuan, saat ia mulai menampilkan permainan gitarnya.


Siapa yang tidak tertarik dengan pesonanya, sosok lelaki yang pendiam, tak banyak bicara seperti teman-teman sebayanya. Lebih suka menghabiskan waktu untuk melatih permainan melodi gitarnya, disela kesibukkan sebagai seorang pelajar.


Karakter sang ayah tak jauh berbeda dari


ang anak semata wayang mereka. Namun, Axelle cenderung lebih pendiam dibandingkan papi Kenan yang cukup luas dalam bergaul.


Arrayan Axelle Kusuma (Kusuma Junior/ Jr):


Usia 16 tahun - kelas XI – tinggi badan 175 cm (untuk saat ini) – hobi: music (gitar),membaca komik Jepang, nongkrong, hunting foto – karakter: cukup pendiam – kulit putih – status: single (belum diperbolehkan pacaran oleh papi Kenan).


“Kira-kira itulah biodataku yang menurut


pengamatan teman-teman sekelasku sangat tepat dan sesuai.” Tukas Axelle dengan ekspresi datarnya, saat mempromosikan dirinya sebagai calon ketua Osis (Organisasi Siswa).


“Oke, tepuk tangan yang sangat meriah untuk calon ketua Osis kita,--“


Huuu uuuu…. riuh suara dukungan dari para siswa/ siswi (terutama para gadis-gadis remaja).


“Guys, tolong jangan ricuh, apalagi membuat onar yah..” tukas seorang remaja yang merupakan pembawa acara pemilihan ketua Osis.


“Eh eh… coba lihat Axelle.


Kenapa bisa ada laki-laki sedingin itu yah..” bisik-bisik para remaja perempuan.


Sudahlah, percuma kalian membuat gosip-gosip.


Tahu sendrikan  kalau Axelle orangnya super dingin, es batu di rumah saja bisa kalah dengan sikap cueknya… tukas seorang anak remaja laki-laki di sela perbincangan para remaja perempuan.


“Tapi, bagi aku Axelle itu laki-laki idaman banget..” ujar salah seorang remaja perempuan dengan seringai senyuman


genitnya.


Halah… kamu jangan berharap banyak, Axelle itu anak rumahan banget.


Satu lagi, papinya juga super ganteng loh… tukas salah seorang lag, yang membuat suasana pecah.


“Hahaha…


Sudahlah, Axelle memang ter the best banget, tapi dia cukup sempurna untuk kalian.” Tukas seorang remaja perempuan, yang cukup cantik, dengan balutan rok hampir di atas lututnya. Rambut tergerai panjang, dengan balutan pita pink, jam tangan berwarna merah.


“Rachelie Bakhtiar”


Seorang remaja perempuan, usia 16 tahun,


memiliki kepribadian yang cukup sombong dan sejak sekolah menengah pertama sudah menyukai Axelle.


Hus hus..


Sudahlah, jangan banyak bicara lagi!


Percuma berdebat dengan nenek sihir itu..


“Apa?? siapa yang nenek sihir??” bentak Rachelie, di tengah keramaian.


“tolong, tolong nona Rachelie Bakhtiar terhormat, bisa tolong kecilkan suaranya karena kita akan memulai pemilihannya.


Tukas seorang pembawa acara, yang merupakan teman sekelas Axelle.


“Hmmpp… dasar tikus…!!” ujar Rachelie pada teman-teman kelas XI D, yang selalu saja menjadi saingannya di sekolah.


Dari seberang tempat duduk para siswa/


siswi, Axelle menyaksikan apa yang sedang Rachelie lakukan. Axelle hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia yang sudah mengenal bagaimana keras kepalanya si gadis cantij sombong Rachelie tersebut.


Setelah melaksanakan pemilihan ketua Osis, akhirnya Axelle lah yang terpilih menjadi seorang ketua Osis.


Iya, Axelle… kami padamu baby… ujar para


remaja perempuan, bahkan adik kelasnya pun turut serta menjadi penggemar setia Axelle.


“Tak tahu diri yah!!


Axelle mana dengar ucapan kalian!!” tukas Rachelie dengan nada sinisnya seperti biasanya.


“Selamat yah bapak ketua Osis..---“ demikian ramai suasana pemilihan Osis, dan ucapan selamat dari para siswa/


siswi.


Axelle, sekolah di sekolah negeri yang cukup ternama dan selalu berada di dalam kelas unggulan. Kali ini pencapaiannya cukup drastis.


Nilai raport sejak berada di Taman Kanak-kanak selalu terbaik, dengan berbagai penghargaan. Sekolah Dasar – Sekolah Menengah Pertama – Sekolah Menengah Atas, Axelle selalu menjadi murid kesayangan para guru.


“Kediaman Kusuma Teofanya”


“Selamat malam papi, mami..” ujar Axelle


saat baruu saja tiba di rumah kediaman mereka, dan langsung memberikan pelukan,


kecupan pipi kiri pipi kanan pada kedua orang tuanya.


“Axelle, selamat yah nak atas terpilihnya menjadi ketua Osis,” ucap papi Kenan sembari menyodorkan cake bolu.


Papi, aku gak suka yang manis-manis banget… ujar Axelle sembari mendorong cake tersebut.


“Eits..


Axelle, itu cake buatan mami. Harus dimakan habis..’ tukas mami Sunny.


Mami… tapi---


“Hus, tidak ada tapi tapian..


Ayoo, belajar menghargai jeri lelah orang lain.” Ujar mami Sunny sembari mengusap kepala Axelle.


Thank you papi, mami..


Atas dukungan kalian, akhirnya aku bisa menjadi seperti sekarang ini..


“Hmmpp


Jangan bangga diri dulu Axelle…


Papi dulu jauh  lebih mempesona gadis-gadis..” tukas papi Kenan dengan terkekeh.


Iya iya deh, yang sudah berhasil menakhlukan hati mami.. ucap Axelle dengan nada menggoda kedua orang tuanya.


“Papi, ada cerita apa??” tukas mami Sunny yang terlihat heran dengan pernyataan Axelle.


Shhhhhttt… ini rahasia para pria mam. Ujar Axelle sembari mendekati sang ayah.


Suasana hangat yang selalu terjaga, sejak Axelle masih balita hingga usianya yang sudah remaja dan tak akan lama lagi menjadi seorang laki-laki beranjak dewasa. Axelle, sejak kecil sangat dekat dengan papi Kenan, dan apa pun yang sedang ia inginkan dan rencanakan, tak lepas dari persetujuan sang ayah terkasih.


Terlebih lagi sang ibu yang juga sangat dekat dengannya. Kedua orang tua yang begitu sangat menyayanginya dengan sepenuh hati. Namun, walau demikian, Axelle tak sekalipun memanfaatkan kasih sayang kedua orang tuanya untuk kepentingan pribadinya.


“Papi dulu tak ada tandingannya…”


Hahha.. iya pi, aku percaya, makanya mami jatuh hati dan akhirnya lahirlah aku.. ujar Axelle menggoda sang ibu.


“Kalian itu yah, papi jangan cerita macam-macam..”


“Tidak mungkin lah istriku tercinta” ucap papi Kenan sembari mendekati sang istri lalu memberikan kecupan pada keningnya dan juga kening Axelle.


Argh, papi…


Jangan cium aku lagi, nanti aku di olok-olok teman-temanku..


“Hahaha.. iya iya anak papi yang sudah beranjak dewasa..”


Rasa hangat dan penuh kasih sayang yang


tulus, selalu Kenan curahkan pada keluarga kecilnya. Kini tanpa terasa, Axelle telah menjadi seorang laki-laki tampan, tak kalah dari ketampanan papi Kenan Kusuma.