I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Mungkin inilah akhirnya



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Hubungan antara Axelle bersama Rachelie kini sudah tak sehangat dulu. Semua berawal di saat Friska hadir kembali dan bahkan menjadi bawahan dari Axelle. Kebohongan Rachelie yang bertahun-tahun ia tutupi pun harus di ketahui Axelle, namun tidak dari pengakuan Rachelie sendiri.


“Café xxx”


Axelle terlihat sedang duduk bersama Efres, sang sahabatnya sejak semasa sekolah.


Huhhh…


Axelle, lalu apa rencanamu sekarang? kamu tidak bisa meninggalkan perempuan begitu saja..


“Aku tidak tahu Efres, kamu tahu dulu aku sangat menyukai Friska, dan semua hancur karena ulah Rachelie, yang kini jadi pacarku!” tukas Axelle dengan wajah sendunya.


Iya bro. Tapi itu sudah lama berlalu! dan Rachelie pun sudah menjadi perempuan yang jauh lebih baik.. mungkin itu kesalahannya di masa lalu, tetapi bukan berarti kamu bisa meninggalkan dia.. ujar Efres, mencoba untuk memberi pendapatnya pada Axelle yang sedang gundah.



“jujur aku mencintai Rachelie, dan aku senang dengan perubahannya, tetapi kehadiran Friska dan mengungkapkan semua kebenaran itu.. aku juga bingung…” Axelle mencengkram rambutnya sendiri.


Aku hanya sebagai sahabat yang bisa terus mendukungmu, dan apa pun keputusanmu, itu semua terserah padamu bro. Tapi ingat, Friska yang sekarang belum tentu sama seperti Friska mu yang dulu, dan Rachelie yang sekarang bisa kapan saja meninggalkanmu..


“Aku hanya ingin memberi Rachelie pelajaran dulu, untuk beberapa waktu aku tidak akan mengusiknya…” Axelle menyeruput kopinya, sedangkan Efres hanya diam saja.


***


Drrtttt…. Satu pesan baru masuk...


“Hallo gadis daddy.. tolong sore ini jemput anak teman daddy di bandara xx, dia baru tiba dari USA..—“ daddy.


“Anak teman daddy..” gumam Rach, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Menjelang sore, Rach mulai membersihkan dirinya, tentunya di tempat kerjanya. Karena ia juga terkadang menginap di kantornya, yang sudah tersedia kamar pribadinya.


Mengenakan pakaian kasual, lalu mengendarai mobil mewah miliknya. Yah, itulah Rachelie, selain memiliki keluarga yang bergelimang harta, ia juga sudah membangun usaha mau pun bisnis sendiri. Walau dengan bantuan mami dan daddy, dia masih bisa melanjutkannya sendiri.


Selang beberapa menit, Rach pun tiba di lokasi yang telah daddy nya katakan.


“Bandara xx”


Berjalan menyusuri setiap terminal yang ada, dan hanya dengan bermodalkan foto yang daddy kirim padanya.


“Permisi… dengan nona Rachelie Bakhtiar?” tukas seorang pria berperwakan tinggi, dan terlihat seperti blesteran indo.


Ahh iya, saya Rachelie… Rach berdiri menghadap pria tersebut.


“Ohh thank you Lord.. akhirnya aku bertemu denganmu..” tukas sang pria tersebut. Seorang pria tampan dan murah senyum, sekilas saja melihat, ia adalah pria ramah, pikir Rach saat itu.


Ohh kamu anaknya om Rogoue?? Rach seakan baru mengingat sesuatu.



“Iya betul, aku anaknya pak Rogoue. Perkenalkan, namaku Jansen Rogoue, panggil saja Jansen..” Jansen mengajar Rachelie untuk saling bersalaman.


Sepanjang perjalanan menuju sebuah apartemen kediaman Jansen.


Ternyata kamu Jansen kecil ingusan dulu.. hahaha.. tukas Rach dengan tertawa lepas, dan sudah cukup lama ia tak seperti itu.


“Iya Rachelie yang super manja.. kamu anak yang super manja yang pernah kukenal selama hidupku.. dan aku tak akan lupa saat kamu menangis berguling-guling, hanya karena berebut mainan denganku..” tukas Jansen dengan tertawa lepas.


Ohhh Lord… Jansen kamu keterlaluan yah… Rach tersenyum pada Jansen, dan tiba-tiba saja raut wajahnya mengkerut, dikala mengingat Axell yang sangat jarang hangat padanya, bahkan hingga saat ini hubungan keduanya sangat dingin.


Jansen merupkan anak bungsu dari Direktur Rogoue, rekan bisnis sang ayah dari Rachelie.




Pria tampan, cerdas, unggul dalam berbagai bidang olahraga, terlihat dari postur tubuh tinggi tegapnya. Siapa pun wanita akan menjerit melihat ketampanannya.


Berbeda dengan Axelle, Axelle memiliki perawakan yang tinggi, tampan, cerdas, namun dengan tipe wajah-wajah pria dingin. Ia dikatakan mirip dengan sort mata papi Kenan, dan senyuman lembut, seperti mami Sunny.


Jansen bekerja sebagai Arsitek, dan selalu mendapat proyek yang bernilai milyaran rupiah. Ia sangat cerdas dalam menjalankan pekerjaannya, dan pulang kembali ke Indonesia demi membantu sang ayahnya.


Terdiri dari tiga orang bersaudara, anak pertama laki-laki, sudah menikah dan seorang dokter. Kedua, perempuan, status tentu sudah menikah pula, status bussines woman. Terakhir adalah Jansen Rogoue, seorang pria lajang, dan belum menemukan wanita tambatan.


“Toko Kosmetik Rach”


Yah, itu adalah nama dari toko kosmteik milik kepunyaan Rachelie, ia tak ingin menggunakan nama belakang sang ayah.


Sibuk seperti biasanya, mengerjakan segala hal yang berbau bisnis, dan terkadang Rach pun menerima jasa tata rias wajah disela kesibukannya.


Drtttt… “Hai nona Rachelie, malam ini datanglah ke jamuan makan malam bersama keluarga Rogoue, karena daddy sepertinya sangat rindu denganmu..” Jansen Ro.


Tsk… “aku pun rindu dengan om Rogoue, aku harus beritahu daddy terlebih dahulu..” gumam Rach sambil mencoba melakukan panggilan suara pada ayahnya.


Rach: “Hallo daddy.. malam ini aku akan pergi makan malam bersama keluarga om Rogoue..—


Daddy: “Oke sayang, baik-baiklah disana. salam buat om Ro yah.. love you sayangnya daddy..” bip.


“Sudah kuduga, daddy pasti sibuk..” gumam Rach lalu bersandar di kursi kerjanya.


Rachelie Bakhtiar, seorang anak satu-satunya dari keluarga Bakhtiar, dan sebelum menikah dengan ibunya, sang ayah pernah menikah. Namun hingga saat ini, Rach belum mengetahui siapa keluarga pertama sang ayahnya, karena kedua orang tuanya belum pernah mengatakan yang sebanarnya padanya.


Terlahir dari keluarga yang serba ada, dan sangat manja. Tak pernah merasakan yang namanya kekurangan, segala hal selalu terpenuhi dengan baik.


Tok tok tok…


“Masuk…” tukas Rach, yang baru terbangun dari tidurnya, dalam keadaan sedang duduk bersandar di kursi, karena efek kelelahan.


“omg… suruh saja masuk kemari..” Rach terkejut dengan waktu yang sudah menunjukkan hampir malam.


“Permisi…” tukas seseorang dari balik pintu ruang kerja pribadinya.


Jansen… maaf, aku ketiduran.. Rach menggosok-gosok matanya.


“Its okay… matamu berkantung, kamu terlalu kelelahan, bukannya kamu menjual produk-produk terbaik, mengapa bisa ada kantung mata?” tukas Jansen menghampiri kursi kerjanya.


Iyaa Jansen, akhir-akhir ini begitu banyak pemesanan… rengek Rach dengan nada manjanya.



“Kamu harus jaga kesehatan, sekarang kamu pergi mandi, dan berdandan seadanya sajam karena kamu sudah cantik..” ujar Jansen sambil mengusap kepala Rach.


Oke bos Jansen…


Tak lama setelahnya,  Rach selesai menyiapkan dirinya dan kini siap untuk pergi bersama Jansen, si teman masa kecilnya.


***


“Resto xx”


Jansen, kita makan di resto ini?


“Iya Rach.. ayo..”


Saar Rach sedang pergi menu toilet, tak sengaja ia berpapasan dnegan Friska, ia sangat terkejut. Friska tersenyum kecut padanya, dan saat keluar. Sudah ada Axelle yang ternyata sedang menunggu Friska.


Rach melalui mereka dengan pandangan lurus ke depan.


“Rachelie… kemana saja kamu selama ini?” tukas Axelle, namun Rach tak mempedulikannya.


“Rachelie..”


Sudahlah Axelle, mungkin dia tidak akan peduli dengan penjelasanmu.. tukas Friska, dan itu masih terdengar jelas di telinga Rachelie.


>>


Di sebuah jamuan makan…


“Hallo.. Rachelie.. ohh sudah sangat berbeda rupanya.. dulu kamu masih kecil sangat manja, dan om sudah dengar semua kesuksesanmu..” tukas pak Ro/ Rogoue, ayah dari Jansen.


“Tentu saja dad, Rachelie sekarang sudah bukan anak manja seperti belasan tahun silam. Tapi sayang sekali Rachelie tidak berubah dad?” ujar Jansen dengan wajah sendu.


Hmm… Rach memandang ke  arah Jasen dengan wajah penasaran.


“Tentu saja Rachelie masih sangat cantik seperti biasanya dad..” hahaha..


Mereka pun sama-sama tertawa, dan hanyut dalam perbincangan, namun raut wajah terkadang mengkerut, saat mengingat Axelle beberapa saat lalu. dan sedang bersama Friska.


Makan malam pun berakhir, saatnya bagi Jansen untuk mengantarkan Rach kembali pulang.


“Rachelie, sering-seringlah datang berkunjung, om sudah tak mudah lagi, dan om ingin ada anak gadis di rumah om..” tukas papi Ro, sambil mengedipkan matanya dan memandang ke  arah Jansen, seakan memberi kode, agar Jansen mendekati Rach.


>>


“Thank you for tonight Rach…”


Iya Jansen, aku sangat senang bisa bertemu dengan om Ro..


“Iya, daddy sudah berusia tak muda lagi, dan terkadang memintaku untuk segera mencari pendamping..”


Ohh tentu saja kamu harus mencari..


“lalu apakah perempuan itu akan menerimaku..” Jansen memandangi Rach dengan seksama.


Ahhh.. sudah sampai Jansen, malam  ini aku menginap di tempat kerja, thank you..


“Okay, bye bye…” Jansen melambaikan tangannya pada Rach. Saat Rach ingin masuk ke dalam kantor pribadinya, yang sudah seperti rumah kedua baginya, tiba-tiba saja Axelle sudah berada di depan pintu.


Axelle…. ujar Rach terkejut.


“Sangat bagus, masih berstatus berpacaran denganku, lalu seenaknya mencari pria lain.. gampangan sekali kamu..” tukas Axelle kesal.


Plak… suara tamparan mengenaik wajah tampan Axelle.


Kamu tidak tahu diri sekali!! kamu bahkan pergi bersama Friska , si cinta pertamamu tanpa sepengetahuanku, aku diam saja.. lalu tadi tertangkap basah lagi, kalau mau bermain serong itu, pintarlah sedikit!! tukas Rach dengan penuh emosi.


Hahaha…


“bukankah kita sama Rach, kamu juga pergi dengan anak bungsu, anak dari direktur perusahaan minyak itu!!”



Iya, kami pergi.. lalu? Rach memandangi ke arah lain, ia enggan untuk memandang ke  arah Axelle.


“Aku kira kamu akan jujur, ternyata kamu hanya seorang pembohong! aku berharap kamu akan memberi penjelasan, tetapi ternyata tidak sama sekali..”


Untuk apa? penjelasanku hanyalah kebohongan bagimu! aku sudah lelah Axelle, aku sudah rela jika kamu bersama Friska! silakan saja, kita sudah tak ada lagi hubungan! lirih Rach, sambil menyeka air matanya.


“ternyata kamu tidak sebaik selama ini yang ku kenal, kamu masih licik seperti dulu..” tukas Axelle, lalu pergi meninggalkan Rach.


Rach masuk ke dalam ruangannya, dan berbaring di atas kasurnya.


Perasaannya sangat kacau, hubungannya bersama Axelle pun sudah kandas. Ia kini hanya bsia mengingat setiap kenangan indah yang telah mereka lalui. Waktu untuk memberi penjelasan pun tak pernah ia dapatkan.


***