I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
F L A S H B A C K



Tak terasa dua puluh tahun lebih telah berlalu dan kini Kenan bisa menyentuh bahkan memeluk ibu kandungnya setelah sekian lama tak berjumpa. Suasana pilu menyelimuti pertemuan Kenan bersama sang ibu, rasa amarah dan kekecewaan Kenan pada ibunya telah luluh lantah dengan semua kerinduan yang juga menyelimuti kehidupan Kenan.


“Special Flashback Kusuma Family”


Di sebuah kampus yang cukup terkenal


“Baik, mulai minggu depan para mahasiswa dan mahasiswi semester akhir harus mendapatkan tempat prakter lapangan dan harus menyerahkan laporan setiap minggunya…---“


Hahh, akhirnya kita akan segera lulus juga yah…


Iya, aku sangat bersyukur karena perjuangan tidak sia-sia selama ini. Ucap Ester yang merupakan ibu Kenan.


Masa-masa prakter para mahasiswa maupun mahasiswi semester akhir pun dimulai.


Hufz… lelah banget dan sangat panas tapi akhirnya sampai juga diperusahaan ini.


Ester yang baru saja tiba di sebuah perusahaan yang akan ia tempati sebagai tempat prakter lapangan.


“Nona Ester silakan masuk, direktur sedang menunggu anda,” ujar seorang pegawai perusahaan tersebut.


Permisi… mengetuk dan membuka pintu perlahan


Ester memasuki ruangan direktur utama perusahaan tersebut dan terpampang sebuah papan nama “Thomas Kusuma”.


“Kamu yang bernama Ester??” tanya pria tersebut yang merupakan seorang direktur perusahaan.


Pria yang tinggi tegap, tampan dan juga murah senyum.


Iya, saya Ester pak. Ucap Ester sembari mengangguk malu saat sang direktur memberikan senyuman merekahnya.


“Pria ini begitu tampan dan menawan, pasti banyak digandrungi oleh para wanita,” Gumam Ester dalam hatinya saat menatap kedua bola mata Thomas yang hitam dan wajah yang sedikit berjambang ditambah dengan kumis tipisnya.


“mulai saat ini kamu akan menjadi sekretaris saya, kebetulan sekretaris saya sedang cuti hamil.”


Baik pak, saya akan melaksanakan semua perintah bapak.


“Baiklah, terimakasih atas kesediannya,” tukas Thomas dengan senyuman merekahnya. Tak memerlukan waktu lama, benih-benih rasa mulai tumbuh dan Thomas pun semakin hari semakin memberikan perhatian pada Ester yang merupakan mahasiswi praktek.


“Ester, seandainya ada pria yang lebih tua darimu begitu menyukaimu, apa yang akan kamu lakukan??”


Ahh, saya tidak tahu pak! karena belum tahu itu siapa.Lagi pula saya hanya perempuan sederhana dan tidak pandai bergaul. Tukas Ester dengan tersipu


“kenapa kamu berpikir seperti itu? bagaimana jika lelaki itu adalah saya??” sejenak keduanya saling bertatapan dalam keheningan.


Ester hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa, bibirnya seolah tertahan dan terpana oleh ketampanan Thomas.


Tidak mungkin pak, mungkin bapak hanya menguji dan menggoda saya. Ester pun tertunduk


“Ester, saya serius! saya jatuh cinta padamu dan ingin memilikimu…”


Tapi pak, saya…---


“Sehhh…. kamu cukup jujur pada saya tentang perasaanmu, jika memang tidak yasudah saya tidak akan memaksa.”


Sssaa saya sebenarnya juga menyukai bapak… Ester begitu malu hingga tak memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya.


“terimakasih Ester,” Thomas mengecup kening Ester dengan mesra dan lembut.


Semakin lama hubungan keduanya semakin dekat dan tak satu pun orang yang menyadari karena mereka begitu lihai menyembunyikan hubungan tersebut.


Hingga suatu saat…


Selama siang, saya ingin bertemu dengan Thomas Kusuma. Ujar seorang wanita yang tengah membawa seorang anak kecil lelaki berusia balita.


Ohh, jika ibu ingin berjumpa dengan beliau maka harus membuat janji terlebih dahulu. Tukas Ester yang saat itu sedang berada di ruangan pegawai


Ahh, saya rasa itu tidak perlu! karena saya adalah istri pak Thomas Kusuma, direktur perusahaan ini.


Saat mendengar pernyataan wanita tersebut, Ester pun begitu terkejut namun ia tetap berusaha bersikap profesional.


Baik, saya akan tunjukan ruangan beliau kebetulan saya juga akan mengantarkan beberapa berkas.


Hmm, baiklah! thank you nona Ester. Ucap wanita tersebut sembari menatap id card yang bergantung di leher Ester.


Papiii… teriak seorang anak lelaki kecil yang pada saat itu bersama dengan wnaita yang telah menyebut dirinya istri Thomas.


“Jehonathan… mari nak, papi kangen.” Ujar Thomas dengan senyuman bahagia, dan begitu pula wanita tersebut langsung memberikan ciuman kilat pada bibir Thomas sembari memeluk sebagai tanda rindu seorang istri.


Ester yang menyaksikan suasana tersebut hanya terdiam membeku, hening tak bersua.


Nona Ester, thank you yah, kamu boleh kembali bekerja. Ujar wanita tersebut dan Thomas hanya terdiam dengan tatapan sendu dan menegang.


Hari itu Ester pulang lebih awal dan lanngsung kembali menuju sebuah kontrakan sederhanya.


Hiks hiks....


Thomas bajingan!!!! arghh….


Ester terus terisak dan merasakan begitu hancur saat mengetahui kenyataan bahwa pria yang selama ini ia cintai bahkan cinta pertamanya begitu sadis membohonginya.


Sepanjang malam Ester terus terjaga dan terisak, air mata yang hampir tak lagi mengalir dengan wajah sembabnya.


Keesokan harinya…


Setelah kejadian tersebut, Ester pun tidak masuk bekerja dan berhubung dengan kontrak kerjanya yang akan segera berakhir. Sungguh sebuah kenyataan terberat bagi Ester, Thomas sejak awal tidak pernah berkata jujur padanya.


Drrtttt… Pak direktur Thomas Kusuma calling…


Berkali-kali Ester terus menolak telepon dari Thomas, bahkan mematikan ponselnya.


Tok tok tok…


Siapa malam-malam begini?? gumam Ester lalu menuju pintu kamarnya


Saat membuka pintu sungguh mengejutkannya, Thomas tengah berdiri dengan tubuh yang basah kuyup karena diguyur hujan.


Pak Thomas!! ucap Ester terkejut namun rasa amarahnya luluh saat melihat Thomas datang dengan keadaan yang tidak cukup baik.


“Ester, saya mohon dengarkan saya…”


Apa lagi pak, apakah bapak ingin mencampakkan saya sekarang!!


“Ester tolong dengarkan dulu..” ujar Thomas sambil meraih tangan Ester


Lepas!! pergi sana pecundang ulung… teriak Ester


“Saya tidak akan pergi dan terus berdiri di depan pintunya sambil memanggilmu, sampai kamu mau mendengarkanku.”


Kenapa bapak egosi begini… ucap Ester dengan lirih


“Ester, saya tahu kamu pasti sangat membenci saya! tapi kali ini tolong dengarkan saya.”


“Tolong ijinkan saya masuk, saya sudah sangat kedinginan di luar.”


Hati yang sudah sangat kecewa pun luluh lantah hanya dengan kata-kata dan tatapan tulus Thomas.


Silakan minum! Ester menyodorkan sebuah gelas bening yang berisi teh hangat.


“terimakasih Ester… emm, bolehkah saya mandi…”


Hmmp… Ester memberikan sebuah handuk


Setelah beberapa menit kemudian, Thomas pun selesai membersihkan dirinya lalu keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit cukup untuk menutupi bagian pinggang hingga paha tengahnya.


“Ester, saya tahu saya salah dan sangat salah, tapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya padamu..” Thomas meraih kedua tangan Ester


“Tolong jangan diam begini..”


Kenapa bapak begitu tega membohongi saya… hiks…


Air mata yang mulai mengalir dengan deras dan semakin menderas membanjiri pipi polos Ester.


“Saya memang sudah menikah namun kami jarang bertemu dan beberapa tahun terakhir kami terus bertengkar. Kami juga akan segera bercerai namun entah mengapa dia datang dengan membawa buah hati kami.”


Cukup pak, jika hanya ingin membicarakan omong kosong lebih baik hentikan sekarang juga!! teriak Ester dengan penuh lirih.


“Saya sangat mencintaimu Ester…"


Gila… bapak sudah memiliki istri dan juga anak, bagaimana mungkin bapak berkata seperti ini...


Plak…


Ester mendaratkan pukulan tangannya tepat diwajah tampan Thomas.


Argh… Ester mendorong Thomas dan berdiri


Pergi dari sini… teriak Ester


“Tidak akan, sebelum kamu mau memaafkanku…” Thomas berdiri dan mendekap tubuh mungil Ester lalu melahap bibir sexy milik Ester dengan begitu lahapnya.


Emmmcc… aahh, bajingan!! itu adalah ciuman pertamaku!! tidak pantas untuk lelaki hidung belang seperti bapak!! teriak Ester sambil menyapuh bekas kecupan Thomas.


Hmp…


Thomas terkekeh dan terus menyeringai.


Apa yang bapak tertawakan! lucu dan menyenangkan kah mempermainkan seorang perempuan dan…--


Thomas kembali meraih tubuh mungil tersebut, kecupan demi kecupan kini mulai menggila.


“Kamu tidak pandai berciuman sayang…” Thomas melepaskan sejenak kecupannya dan kembali menyeringai.


Ester hanya terdiam beku, tubuhnya mulai terasa panas dan ingin kecupan itu lagi dan lagi, terus dan terus melahap bibir mungilnya.


“saya akan ajari kamu pelan-pelan sayang..”


Keduanya hanyut dalam kecupan yang begitu bergairah.


Setelah memuaskan diri dalam kecupan panas, Thomas pun mulai membaringkan tubuh mungil itu ke atas kasur yang berada di sebuah kamar pribadi Ester. Tubuh yang sudah mulai lemah terkulai tanpa perlawanan dan hanya akan terus menyambut tindakan bergairah dari Thomas.


Arrghh…


Suara desahan pelan Ester yang mengiringi kecupan Thomas, kecupan panas itu mulai mengecup kesegala arah dan menjelajah ke bagian-bagian tubuh lainnya. Sebuah piyama tipis kini mulai terkoyak-koyak.


“Sayang, saya ingin kamu dan semuanya…” bisik Thomas tepat ditelinga Ester dengan sedikit mengendus pelan.


Emmm…. Ester terus menahan diri dan mencengkram punggung Thomas yang begitu kokoh dan gagah tersebut.


“sayang buka matamu…” bisik Thomas lembut.


“Sayang, aku sangat mencintaimu, maaf aku tidak ingin kita formal lagi! coba panggil aku sayang…” pinta Thomas penuh harap.


Malam itu hujan turun dengan begitu deras dan langit-langit kontrakannya menjadi saksi bisu antara dirinya dan Thomas yang memadu cinta dengan penuh gairah. Pikiran Ester yang sudah kalap dan tak mampu menolak tindakan serangan dari Thomas.


Setelah kejadian malam itu, Thomas terus meminta lagi dan lagi Ester untuk melakukan hubungan terlarang yang belum layak dilakukan sepasang kekasih yang belum sah menjadi pasangan suami istri, hingga akhirnya Ester pun hamil.


Ya Tuhan, betapa bodohnya aku… bagaimana ini?? apa yang harus aku lakukan dengan anak ini…!! jerit Ester penuh penyesalan namun kini terlambat untuk menyesali.


>>>


“baik, aku akan bertanggung jawab sayang…” ucap Thomas sembari memberikan pelukan.


Tidak… aku akan aborsi!! tegas Ester dengan wajah yang penuh kegeraman


“kamu jangan gila Ester!! itu anak kita… anak kita!!!”


Hah… biarkan saja, biar kita sama-sama aman! bapak aman dari istri bapak dan saya pun aman dari bayi ini!!


“kumohon jangan lakukan itu sayang…” ucap Thomas dengan penuh permohonan, hingga akhrnya Ester setuju untuk melahirkan anak tersebut.


**


Brengsek…. argghh…


Lebih baik aku mati hari ini, jika harus menerima anak hasil perselingkuhanmu Thomas!!!!


Jerit istri sah Thomas yang mengetahui kenyataan tersebut.


“Tolong, beri aku kesempatan mi… bagaimana pun juga dia darah dagingku dan aku tak mungkin membuangnya.” Ujar Thomas sembari terus memohon pada istrinya.


Baik, jika itu keinginanmu! tapi jangan pernah bawa anak itu dalam keluarga kita.


Sekarang kamu sudah bangkrut dan jatuh susah lalu ditambah dengan anak haram itu!!


“Cukup, dia anakku! darah dagingku!!” teriak Thomas pada istrinya.


Silakan… tapi aku akan bunuh bayi dan ibunya…


“jangan mi… tolong jangan begini, baik aku akan turuti keinginanmu..”


Perusahaan yang pada saat itu sudah hampir mengalami kebangkrutan dan dengan terpaksa Thomas melepaskannya pada orang tuanya.


Kediaman family Kusuma…


“Anak kurang ajar, belum cukup warisan yang kuwariskan padamu!! sekarang kamu membawa anak hasil perselingkuhanmu hah…” ujar sang ayah Father Kusuma.


“maafkan Thomas pah, tapi tolong jangan buang anak ini… dia darah dagingku pah! setidaknya papa mau menerimanya.” Thomas terus memohon pada ayahnya.


"Sementara itu di kediaman orang tua Ester"


Pergi kau anak sialann….


Kamu anak setan… bukan anakku..


Ampun bu, ampuni Ester ibu… Ester yang terus meraih kaki ibunya.


Pergi kamu dari rumah ini, kau bukan anakku, atau kamu harus cepat menikah sehingga anak ini tidak menjadi anak haram. Ujar ibu Ester dengan begitu geram setelah mengetahui kemahilan Ester yang pada saat itu baru saja melangsungkan wisudanya.


Satu tahun kemudian…


Ester pun menikah dengan seorang pengusaha kaya, walau statusnya sudah memiliki seorang putera.


“Ester, sudah syukur-syukur aku mau menikahimu yang hanya seorang perempuan tidak perawan lagi.” Tukas suaminya


Apa yang harus aku lakukan mas?? Ester terus terisak dengan semua perlakuan suaminya yang cukup kasar.


“aku tidak ingin anak ini ada dalam keluaraga kita.” Teriak sang suami dengan mata yang membelalak sembari menunjuk ke arah Kenan.


Kenan kecil yang hanya terdiam melihat pertengkaran ibu bersama sang ayah tiri, namun Kenan sudah terlatih tidak berani menangis. Sang ayah tiri tak segan memukulinya jika menangis, sehingga Kenan hanya bisa diam dan membisu melihat perlakuan ayah tirinya pada ibu terkasihnya.


Tapi mas, bukankah sejak awal menikah semua baik-baik saja! Kenan sangat membutuhkanku...


“kamu masih tetap ingin anak itu ada atau aku akan meninggalkanmu! ingat kamu bisa seperti ini karena uangku.”


Baik mas, besok aku akan antar Kenan pada oma opanya.


Ester harus melepaskan Kenan demi keluarga barunya dan posisi sang suami yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi semua keinginan Ester yang cukup banyak, sejak kuliah sudah terbiasa hidup yang cukup bahkan setelah berpacaran bersama Thomas, ia semakin bergelimang kemewahan.


*****************


Pak, bu! tolong terima Kenan, dia masih kecil belum mengerti dan saya tidak bisa membawanya bersama keluarga baru saya. Ucap Ester dengan lirih dan air mata yang tak henti mengalir.


“Baiklah, tapi mulai saat ini jangan pernah kamu anggap anak ini anakmu! karena kau sebagai seorang ibu pun tega meninggalkannya.” tukas ayah Thomas


Maafkan saya pak…


“Yahh hanya maaf… setelah enak-enakan lalu hasilnya pun tidak dipedulikan.” Tukas Father Kusuma dengan menahan segala kegeramannya, Thomas pun sudah tak lagi mempedulikan Kenan kecil, dan sekarang ibu kandungnya pun mengabaikannya.


Sudahlaah pi, bagaimana pun juga anak ini tidak bersalah dan juga begitu tampan, mami ingin merawatnya. Ujar ibu Thomas sembari mendekap Kenan kecil.


Kenan yang masih berusia balita hanya terbaring dalam pelukan ibunya dan belum mengerti apa yang sedang terjadi. Siapa sangka malam itu menjadi malam perpisahan yang penuh kepiluan antara Kenan dan ibunya.


Beberapa hari pertama, Kenan terus menanyakan ibunya namun semakin lama sudah tak terdengar lagi pertanyaan...


“oma opa, mama kapan pulang dan menjemputku? aku rindu mama, oma opa!!”


Demikian pertanyaan Kenan setiap harinya kepada oma dan opanya.


Sebuah keberuntungan bagi Kenan memiliki kakek dan nenek yang sangat menyayanginya dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang, sementara ibunya telah pergi bersama keluarga barunya dan juga ayahnya yang sudah pergi dari keluarga Kusuma, akibat permasalahan keluarga yang telah terjadi.


.


.


.


Kenan, mama pun sangat ingin membawamu! tapi mama tidak bisa dan mama terpaksa menitipmu kepada Father dan Mother Kusuma… ucap ibunya dengan penuh lirih.


Kenan hanya terdiam tersandar di dinding apartemen kediaman Sunny dipenuhi air mata pilunya.


Kenyataan tentang latar belakang dari kedua orang tuanya sungguh membuat Kenan terpukul, akan tetapi semua sudah berlalu dan Kenan kini telah emnjadi pria yang tangguh dan semakin dewasa…


Pict bonus, penambah imajinasi membaca