
“I wanna touch your heart – Volume II”
Author by Natalie Ernison
Setelah sekian lama Axelle menjalani kehidupan dengan normal seperti biasanya. Walau terkadang Axelle sangat merindukan Friska, si gadis kacamatanya.
Axelle sedang berada di toko music, sungguh ia terkejut saat melihat seorang gadis sedang asyik memilih peralatan lainnya, selain music tentunya.
Ia tertegun dan ingin sekali menyapa, namun…
Axelle!! sapa si gadis yang sedang ia perhatikan dikala itu.
“Friska, hai…” balas Axelle dengan melambaikan tangannya.
Kamu sedang tidak sibuk dengan kegiatanmu? ujar Friska yang terlihat tersenyum ramah padanya.
“Iya Fris… hmm…” tukas Axelle dengan cukup camggung, karena sudah sekian lama iya tak berjumpa dengan Friska.
Aku duluan, seniorku sedang menunggu… Friska pun pergi meninggalkannya.
“Yah.. hati-hati…” Axelle tersenyum sendiri, betapa berbunga-bunganya ia kala itu.
***
“Universitas xx”
Axelle terlihat sibuk mengisi administrasi pendaftarannya, ia kini sedang mendaftar di sebuah universitas yang juga cukup ternama di kota itu.
Permisi, bisa aku duduk di sini? tanya seorang gadis yang cukup cantik.
“Yah, silakan..” jawabnya singkat, karena pada dasarnya Axelle anak yang cuek pada setiap orang yang baru saja ia kenal.
Aishhh… pekik Axelle saat tinta penanya ternyata sudah habis.
“Bisakah aku meminjam penamu?” tanya Axelle pada si gadis yang sedang duduk di sampingnya.
Ohh silakan, aku punya lebih.. si gadis itu pun memberikannya pena satu untuk ia melanjutkan pengisian data.
Setelah selesai mengisi segala pendaftaran, Axelle pun segera bergegas menuju ruang administrasi selanjutnya. Semua ia kerjakan sendiri, tentu saja tanpa adanya bantuan dari pihak keluarganya.
>> Saat di ruangan administrasi
“Jadi, kamu adalah anak pertama dan juga satu-satunya pak Kenan Kusuma?” ujar salah seorang dosen senior.
Ahh iya pak, saya anak pak Kenan… jawab Axelle pelan.
“Ohh baiklah, semuanya akan gampang sekali anak muda, selama kita punya orang dalam..” tukas sang dosen dengan tersenyum miring.
Maaf pak, tujuan saya hanya ingin kuliah dengan normal, dan saya tidak ingin dosen-dosen ditempat ini memandangku sebagai anak tunggal Kusuma. Tukas Axelle lalu bergegas menuju loby utama.
Axelle!! seseorang memanggilnya dari dalam mobil sport mewah.
Ia mulai memandangi sekitarnya, mencari asal suara tersebut.
Door…. hahaha… kamu ternyata mendaftar di sini? tukas Rachelie yang sengaja mengejutkannya dari arah belakang.
“Ahhh Rach.. kamu rupanya..” Axelle menarik lengannya, karena Rach sedang merangkulnya dengan sengaja.
Kampus ini memang cocok untuk kita kalangan terpandang yah.. tukas Rach dengan nada angkuh seperti bisanya.
“Hmm… yah, tapi aku lebih memilih kualitas kampus itu sendiri, tak peduli seberapa mewah maupun tidaknya.” Tukas Axelle balik, tentu saja dengan cara bicara yang tak kalah cueknya.
Hmm..
Kamu memang selalu ketus seperti biasanya Ax’ ujar Rach dengan tersenyum ringan.
Kamu belum pulang?
“Ahh, aku hari ini akan dijemput oleh supir kantorku..”
Hah! jadi kamu sudah langsung mengurus perusahaan?
“Iyah tentu, aku kuliah sehingga aku tidak kalah cerdas dengan papi, meskipun aku tidak bisa menyamai papi..”
Axelle tunggu! aku akan mengantarmu.
“Tidak Rachelie, aku masih ada urusan lainnya, kamu pulanglah…”
Heii… apakah kamu sebegitu tidak menyukaiku! teriak Rach, ia tak peduli jika orang sekitar mendengarkan mereka.
“Rach, pelankan suaramu oke!” Axelle mengatup mulut Rach dengan telapak tangannya.
Rach meraih tangan Axelle dan menariknya menuju mobil miliknya.
“Hei hei.. Rach, jangan begini! kita baru saja ingin memulai bergabung di kampus ini, jadi jaga sikapmu!”
Pokoknya, kamu harus pergi denganku! rengek Rach dengan manja.
“Rach. aku..”—
Ahhkkk… Axelle!! teriakan Rach membuat para pendaftar melihat ke arah mereka.
“Oke oke… aku akan ikut denganmu..” Axelle pun bergegas masuk ke dalam mobil milik Rach.
Thank you tuan gunung es…
“Tidak! kamulah yang harusnya menyetir, aku hanya penumpangmu..”
Iihhhh Axelle!! Rach mencubiti lengan Axelle dengan gemas.
Keduanya pun menuju perusahaan yang akan Axelle tempati sebagai pegawai biasa.
>>
Axelle, mengapa kau bekerja di gedung kecil ini? ini ruko bukan? tanya Rach heran.
Hmm… “aku lebih senang dengan suasana yang begini Rach, aku sudah berkata pada papi, aku akan membantu mengurus bagian cabang.” tukas Axelle dengan tersenyum, tentu saja Rach sangat terpukau dengan senyuman Axelle, karena itu senyumans angat langka baginya.
Baiklah… jawab Rach dengan tersenyum.
Axelle terlihat sibuk membersihakn ruangan barunya, ia sebagai pemimpin muda, di kantor cabang tempat ia bekerja kini.
Ahkk… jerit rach.
“Ada apa Rach?” Axelle berlari secara cepat ke arah Rach.
Ada kecoak!! jerit Rachh dan langsung merangul Axelle.
“Kamu pulang saja..—“
Tidak! aku ingin menemanimu!! rengek Rach, perlahan mengambil ponsel miliknya.
Hallo daddy! aku akan pulang sore atau malam, aku sedang berada di kantor barunya Axelle..—
Hmm.. “dasar gadis manja..’ gumam Axelle sambil mengoerasikan computer dan lainnya.
Plokk… Rach memukul bahu Axelle menggunakan gulungan kalender tebal.
Aku buktikan jika aku bukan gadis manja!! tukas Rach, namun belum beberapa menit saja, ia sudah sangat kelelahan.
Tsk.. “Sudah kuduga dia akan kelelahan membantu..” gumam Axelle dengan tersenyum.
Tak lama setelah itu, datanglah delivery makanan cepat saji ke ruko/ kantor baru Axelle.
“Ada apa ini? aku bahkan tidak memesan semua ini?” tukas Axelle heran.
Itu aku yang memesan, ayo kita makan.. Rach menyiapkan makanan dan menyajikannya di atas meja.
“Terimakasih Arch, setelah ini pulang.—“
Tidak! dady sudah mengijinkanku pulang sore atau malam! tukas Rach dengan wajah manyun manja.
Hmm… “jangan goda-goda aku..” ujar Axelle sambil terkekeh.
Axelle… kamu kenapa berkata begitu.. Rach terlihat malu, ia sungguh tak biasa dengan perlakuan ramah Axelle padanya.
“Sebenarnya seperti apa laki-laki ini, terkadang diasangat angkuh, namun hari ini ia sangat baik dan lembut padaku..” batin Rach.
“Kenapa Rachelie, apakah kamu sedang merencanakan hal jahat padaku..”
Ahhkk tidak tidak Axelle… Rach pun membereskan bekas makanannya bersama Axelle.
“Ternyata kamu bisa bekerja juga nona muda..”
Tentu, saat liburan aku liburan ke desa, tempat keluarga dari daddy, di sana aku diajari berbagai hal..—dengan asyiknya Rach mulai menceritakan segalanya.
Rachelie terlihat lebih berbeda dari biasanya, ia bahkan mau membersihkan ruko tempat Axelle bekerja saat itu.
Axelle, aku ingin..—langkah Rach terhenti saat melihat Axelle sedang tertidur pulas di atas sofa samping ruangannya, dengan kancing kemeja yang terbuka hingga perut.
“Axelle, aku bersumpah akan membuktikan padamu, aku bukan gadis manja, dan apakah saat itu kamu akan membuka hatimu padaku..”batin Rach, ia memandangi wajah tampan Axelle dikala sedang tertidur.
Bagaimana pun juga, Rachelie lah yang telah membuat Axelle tak lagi saling berkomunikasi dengan Friska, si gadis kacamata itu.
***
“Kediaman Bakhtiar Family”
Dad, coba lihat Rachelie, tidak seperti bisanya dia tekun mempelajari urusan perusahaan.. bisik sang ibu Rach pada ayahnya.
“Sudahlah mam, kita harus bersyukur akan perubahan dari gadis manja itu..” tukas snag ayahnya dengan terkekeh.
Rachelie juga lebih sering mengunjungi kantor kecil anak dari pak Kenan Kusuma itu, dad..
“Biarkan saja mam, doakan saja yang terbaik untuknya..”
Hmm.. iya dad, semoga dengan jatuh cinta pada laki-laki yang tepat membuatnya berubah.
****