
“I wanna touch your heart – Volume II”
Author by Natalie Ernison
Usaha keras Axelle ingin berniat memperbaiki hubungannya pun pupuslah sudah. Friska tidak membiarkan begitu saja, jika Axelle bersatu bersama Rachelie.
“Sudahlah Rachelie…” ujar Jansen mencoba menenangkan Rach.
Tidak Jansen, aku baik-baik saja… lirih Rach sambil sesenggukan.
“Tapi kamu menangis…”
Aku hanya kecewa Jansen, tapi yasudahlah, semua sudah jelas sekarang…
“aku akan selalu ada bersamamu, jangan bersedih lagi..” Jansen merangkul Rach, dan Rach bersandar di bahunya.
>>
Sementara disisi lain…
“Apa maksudmu Friska! kamu sudah menghancurkan segalanya…” tukas Axelle dengan raut wajah yang sangat kesal.
Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkan Rachelie meracunimu! dia tidak baik untukmu Axelle…
“Kamu jauh lebih buruk Friska, kamu sangat keterlaluan!!”
Axelle…. jangan pergi, Axelle!! teriak Friska dengan penuh keputus asaan. Axelle benar-benar marah padanya, dan ingin segera menjelaskan pada Rachelie.
Ia pun bergegas pergi menuju kediaman Rach, bahkan di tempat kerja Rach, namun Rach tidak ada.
“Rachelie… kemana kamu…” lirih Axelle, kini keadaan semakin tidak baik.
***
"Di tepi Danau"
Jansen sedang duduk di tepi danau bersama Rach yang sedang gundah hati.
“Rach, apakah kamu ingat dulu kita sering bermain di tepi danau?”
Ohhh iya, aku sangat ingat! kamu selalu memaksaku untuk pergi ke tepi danau..
“Iya, karena suasananya sangat damai, sekarang kita sudah dewasa, kamu pun sudah sangat jauh berbeda..”
Jansen…
“iya Rach..”
Thank you so much for everything… ujar Rach dengan tersenyum tulus.
“Yes, kamu layak bahagia..” batin Jansen.
Duduk di bawah bintang-bintang nan indah, dan berharap akan hadirnya kebahagiaan.
***
“Maaf nak Axella, Rachelie sedang tidak ada di rumah, dia bahkan belum pulang. Sepertinya dia menginap di kantornya..” tukas ayah Rach.
“Ohh terimakasih om, saya akan langsung pulang..” tukas Axelle dan segera pergi dari rumah kediaman keluarga Bakhtiar.
Sepanjang perjalanan, Axelle terus merasa gelisah dengan keadaan Rachelie. Handphone milik Rach pun tak dapat dihubungi lagi, hal itu semakin membuat Axelle semakin gundah tak karuan.
“Rachelie, kamu kemana sebenarnya..” gumam Axelle, sambil menyetir.
Rasa bersalah yang teramat dalam kini menyelimuti kehidupannya. Tak tahu harus berbuat apa lagi, untuk dapat memberi penjelasan pada Rach.
Akhirnya Axelle pun bertekad menuju kantor sekaligus kediaman Rach.
***
“Kantor/ Kediaman Rachelie”
Setiba di sana, sudah ada mobil sport mewah yang sedang terparkir di depan toko kosmetik milik kepunyaan Rach.
Membuka pintu mobil dengan cukup tergesa-gesa, dan menekan bel dengan tidak sabaran.
Pintu pun terbuka, namun bukan Rach yang membuka, melainkan Jansen.
“Kamu!” ujar Axelle heran dan mengernyitkan keningnya.
“Yah. Ada apa Axelle? apa lagi yang kamu inginkan?” tukas Jansen dengan wajah tak senang, dan menghadang kedatangan Axelle.
Siapa Jansen? ujar Rach dari dalam kediamannya.
“orang yang tidak perlu kamu temui Rach!” jawab Jansen sinis.
“aku ingin bicara dengan Rach, lebih kamu menyingkir!” tukas Axelle sambil mendorong tubuh Jansen hingga tertempel di dinding.
Kamu!! Jansen mencengkram krah leher baju Axelle.
Bughh… pukulan keras menghantam wajah tampan Jansen. Axelle begitu kesal karena Jansen menghalangi langkahnya, sehingga ia harus mendaratkan pukulannya.
“Brengs** kamu Axelle!” umpat Jansen, dan ingin membalasnya, namun…
Jansen! Axelle! teriak Rach, kemudian mendorong tubuh Axelle hingga terjatuh.
Kamu keterlaluan Axelle! pergi kamu dari sini!! teriak Rach kesal, dan terus mendorong Axelle.
“Rach, kumohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu..” pinta Axelle penuh harap.
Pergi! cukup yah Axelle! aku benci kamu! lirih Rach, dan menutup pintu dengan cukup keras.
“Rachelie…” Jansen bangkit dari kejatuhannya akibat pukulan Axelle.
Jansen! kamu tidak apa-apa kan? bagian mana yang sakit? Rach dengan sigap membantu Jansen berdiri. Ia langsung mengambil mangkuk yang cukup besar berisi air panas, juga kain lap kecil.
Meraih tangan Jansen, menuntun ke sofa untuk duduk bersamanya. Kemudian langsung mengompres bagian bekas pukulan Axelle yang terlihat merah di wajahnya.
“Rach..” Jansen meraih tangan Rach, dengan tersenyum tulus pada Rach.
“terimakasih atas kepedulianmu Rachelie…” tukas Jansen dengan senyuman tulusnya.
Yah, ini sudah sepatutnya Jansen. Kamu selalu baik padaku, terimakasih untuk semuanya.. lirih Rach, dan meneteskan air mata pilu.
“Apakah kamu ingin beristirahat sekarang? aku akan pulang segera.”
Iya Jansen, terimakasih untuk malam ini…
“Kamu terlalu baik untuk dipermainkan laki-laki seperti itu..” Jansen pun menyeka air mata Rach yang menetes pilu.
Kamu benar Jansen, maaf aku sempat tidak mendengarkanmu.. sesal Rach dan mencoba untuk tetap menenangkan dirinya.
Jansen pun pulang kembali, Rach pun menghantarkan kepergian Jansen.
>>
Hmm… Rach ingin kembali masuk, namun…
“Rachelie!” seseorang meraih tangannya dan membuat Rach terpaut pada tubuh seseorang tersebut.
Axelle! lepaskan aku! Rach mencoba meronta, namun Axelle mendekapnya dengan begitu erat.
“Tidak Rach, aku tidak akan pergi..” Axelle enggan untuk melepaskan dekapannya.
Hentikan Axelle! sudah cukup! cukup! teriak Rach.
“Rach, pelankan suaramu. Dengankan penjelasanku..” Axelle masih tak ingin melepaskan dekapannya pada Rach.
Axelle, lepaskan aku… kumohon.. lirih Rach dengan penuh pilu.
“Tidak.. kamu harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu..” Axelle menyentuh wajah rach dengan kedua tangannya.
“Aku tidak menyukai Friska, dia hanyalah kisah masa sekolah. Kejadian yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan..”
Kamu berani sekali bicara seperti itu, setelah apa yang kamu lakukan Axelle!
“Iya, aku tahu kamu kecewa padaku. Tapi tolong dengarkan penjelasan dariku Rach. Aku sangat menyayangimu..” Axelle mencoba untuk terus meyakinkan perasaannya pada Rach.
Saat ini aku ingin beristirahat, besok aku harus mengurus usahaku, kamu pulanglah..
“apakah aku masih ada kesempatan Rach..”
Sudahlah Axelle, dilain waktu saja kita bicarakan hal ini..
“Maafkan aku Rach.. aku mencintaimu..” lirih Axelle. Axelle sangat menyayangi Rachelie, namun Friska benar-benar telah menghancurkan segalanya.
***
“Perusahaan Kusuma Group”
Selamat pagi pak Axelle… ujar Friska yang masuk ke dalam ruangan kerja Axelle dengan gaya santainya.
“Selamat pagi..” jawab Axelle singkat, dan masih sibuk berkutat dengan layar computer miliknya.
Apakah ada yang bisa saya bantu pak Axelle?
“Nona Friska, seharusnya segala pekerjaan kamu serahkan pada bagian atasanmu, bukan pada saya.” Tegas Axelle pada Friska.
Tapi, aku lebih senang bertemu dengan bos secara langsung.
“Friska! kamu seharusnya lanjutkan segala pekerjaanmu, jangan lewati batasmu. Ingat kamu hanya pegawai baru, kamu terlalu percaya diri jika berpikir hanya karena kisah masa lalu kita, lalu bertindak terlalu jauh.” Tukas Axelle dengan penuh ketegasan dan cukup menohok.
Aku.. hanya ingin belajar banyak, apakah salah…?
“Saya adalah atasanmu, dan urusan pribadi jangan campuri dengan urusan pekerjaan kita. Kamu terlalu banyak ikut campur, saya sangat prihatin dengan usahamu yang begini, kamu tidak seperti Friska yang dulu saya kenal..”
Axelle! aku mencintaimu, dan aku akan pastikan kita bersama selamanya, bukan Rachelie yang.—
“Cukup Friska! kamu masih ingin tetap bekerja di perusahaan ini atau ingin segera resign?” tegas Axelle dengan menahan segala amarahnya.
Kamu benar-benar berubah Axelle! kupastikan akan menghancurkan kehidupan kalian, jika begini.. Friska pun keluar dari dalam ruangan kerja Axelle.
“Sial!! bagaimana bisa Axelle berubah seperti ini…” batin Friska, ia bahkan terus mengumpat untuk Axelle juga Rachelie.
***
“Kediaman Jansen Rogoue”
“Mam, aku ingin pergi ke kediaman Rachelie..”
Kamu sudah sangat tertarik pada anak om Bakhtiar itu nak? tukas sang ibunya.
“Iya mam, sepertinya sudah mulai ada lampu-lampu hijau..” tukas Jansen dengan senyuman penuh artinya.
Mami hanya berharap yang terbaik padamu dan siapa pun pasanganmu kelak. Jaga dia jangan sakiti dia..
“Ia mam, mami jangan pikirkan daddy lagi. Daddy akan sadar kelak, bahwa mami adalah istri terbaiknya..” Jansen mendekap sang ibu dengan penuh kasih sayangnya.
Yah, mami hanya berharap anak mami tidak seperti daddy… lirih sang ibunya dengan meneteskan air mata yang penuh dengan kepiluan.
“Mam, aku akan berusaha keras untuk keluarga ini…”
Jansen masih belum mengetahui siapa yang menjadi selingkuhan sang ayahnya. Sebenarnya sang ibu mengetahuinya, namun sang ibu Jansen enggan untuk membicarakannya pada Jansen. Hanya karena ingin Jansen tidak turut mengkhawatirkannya.
👇👇