
“I wanna touch your heart – Volume II”
Author by Natalie Ernison
Rachelie seorang gadis yang sangat egois dan juga akan selalu menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya, termasuk juuga dalam hal percintaan. Seorang berjalannya waktu, ia mulai menjadi gadis dewasa terlebih lagi ia sangat menyukai Axelle si pria gunung es, sejak masa-masa sekolah mereka. Setelah semakin mengenal sosok Axelle, Rachelie perlahan menyadari bahwa segala perbuatannya tidaklah benar dan tepat.
Rachelie sangat sedih karena Axelle belum juga berkata jujur tentang bagaimana ia bisa duduk berdua di sebuah kedai kopi.
-------
Untuk menghilangkan rasa suntuknya, Rach pun pergi ke sebuah mall yang merupakan tempatnya membuat rasa penat.
“Mall xx”
Ingin melampiaskan ke hal lain, seperti berbelanja pakaian mau pun kosmetik, tetapi Rach sedang tidak ingin hal itu.
Drrrtttt… satu pesan baru.
“Hei Rachelie, kenapa duduk sendirian, kemana pangeranmu?” Efres.
Hmm… Rach terkejut, ia berusaha mencari di mana Efres, sehingga bisa mengetahui keberadaanya.
“Rachelie..” suara seseorang memanggilnya dari arah belakang, dan ternyata Efres sudah berada di dekatnya.
Efres!! sejak kapan kamu di sini? tanya Rach dengan wajah heran dan tersenyum.
“Sorry, tadi aku tidak sengaja melihatmu, jadi aku mengirimmu pesan terlebih dahulu..”
Ohh okay.. silakan duduk Efres…
Hmmm… melihat sekeliling
“Kemana Axelle? bukankah akhirnya penantian panjangmu berakhir indah?” goda Efres.
Ahhh iya, sepertinya dia sedang sibuk sekarang.. ujar Rach sambil mengaduk-aduk mocca miliknya.
“Sepertinya gadis manja ini sudah banyak berubah, dan cukup manis juga sikapnya..” batin Efres.
Kenapa kamu tersenyum tak jelas begitu? Rach melambaikan tangannya di depan wajah Efres.
“Tidak Rach, aku hanya terkesima dengan perubahanmu sekarang, kamu sudah sangat berbeda..” Efres tersenyum lembut padanya.
Ohh yah.. apakah perbedaan yang kamu maksud itu.. aku jadi lebih tua?
“Tidaklah… kamu semakin dewasa dan menarik..” tukas Efres dengan wajah santai tanpa beban sedikit pun.
Tsk… kamu ada-ada saja Efres… Rach tersenyum tulus, namun tersirat rasa sedih dari sorot mata sendunya.
“Kamu ada masalah Rach?” tanya Efres dengan tatapan ingin tahu.
Tidak.. aku baik-baik saja Efres.. hahaha..
“Ohh okay Rach… apakah tidak masalah jika aku di sini denganmu?”
Tidak masalah… “yah tidak masalah, Axelle pun bisa, kenapa aku tidak..” batin Rach.
Keduanya berbincang-bincang dengan asyiknya, dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul. 21:48….
Yahh ampun Efres!! teriak Rach dengan mata membulat.
“ada apa Rach? apakah Axelle memarahimu?”
Huhh apa-apa sih kamu.. maksudku, kita sudah sangat lama berbicara!!
“Ohh begitu, yasudah mari kita pulang.. mau ku antar?”
Tidak Efres, aku membawa mobil sendiri…
“Oke bye Rachelie… aku duluan..” Efres pun pergi dengan mengendarai mobil miliknya.
Sepanjang hari Rach menghabiskan waktunya pergi ke toko-toko buku, dan juga bersantai di Startbucks. Saat sedang bersantai pun ia bertemu dengan Efres, lalu keduanya hanyut dalam perbincangan lama. Ponsel milik Rach pun kehabisan daya, sehingga ia benar-benar menghabiskan weekendnya sendiri.
“Kediaman Bakhtiar”
Sama seperti biasanya, Rach langsung menuju kamar pribadinya, karena kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan dinas ke luar negeri.
Huhh… Rach menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. Berbaring lalu berbalik lagi, tanpa sadar ia langsung terlelap dalam keadaan masih dengan pakaian jalan-jalannya yang masih lengkap.
Keesokan harinya Rach kembali bekerja, namun ia belum juga mengisi daya ponsel miliknya.
>>
Ia membuka toko kosmetik sendiri tentu saja dengan bantuan kedua orang tuanya. Di sana ia mengelolanya sendiri dan dibantu oleh beberapa karyawan. Ia juga menjual beberapa produk lainnya via online, melalui beberapa aplikasi belanja online lainnya.
Permisi bos, ada pak Axelle sedang mancari bos! ujar salah seorang karyawannya.
Rach berjalan menuju ruang tamu bersama, terletak di samping toko kosmetik miliknya. Di sana sudah ada Axelle yang terlihat sedang duduk bersandar di atas sofa.
Ada apa? ujar Rach yang baru saja tiba di depan Axelle, dengan wajah datarnya.
“Kenapa bicara seperti itu?” ujar Axelle dengan wajah yang juga kurang senang dengan respon dari Rach.
Lhoo, apakah ada yang salah? bukankah aku hanya bertanya..-
“Rachelie! kenapa seharian weekend kemarin tidak memberiku kabar? bahkan ponselmu tidak aktiv?” tukas Axelle sambil menatap wajah Rach dengan sangat serius.
Aku hanya pergi keluar lalu tak sengaja bertemu Efres, dan kami mengobrol biasa.. jawab Rach santai dan terlihat acuh pada Axelle.
“Kamu pergi jalan-jalan keluar sendiri bahkan di hari free! kenapa sampai tidak memberiku pesan sampai hari ini?”
Ponselku mati karena belum ku charger…
“Kenapa tidak di charger? apakah sulit untuk memberiku kabar?”
Tidak, hanya saja aku lumayan sibuk..—
“Sibuk? sibuk pergi dan bercerita banyak bersama Efres!”
Apa maksud perkataanmu Axelle? aku pun tidak sengaja bertemu Efres!
“Komunikasi itu penting Rach? kenapa kamu diamkan aku? apakah ada kesalahan yang tak terucapkan?”
Tidak.. sudahlah aku ingin melanjutkan pekerjaanku..
“Rachelie! kamu terlalu kekanakan yah! apakah karena aku terlalu sibuk, bukankah sudah kukatakan jika aku sangat sibuk membantu perusahaan papi! papi sudah seminggu ini tidak ke kantor karena harus menjalani perawatan!” tukas Axelle dengan wajah yang penuh emosi.
Oleh karena itu, aku tidak ingin merepotkanmu… jawab Rach dengan wajah sendunya.
“Rachelie! kamu kenapa sayang?” Axelle meraih tangan Rach dan mendekap pinggang Rach hingga berhadapan dengan dirinya.
Tidak ada hal apa pun Axelle.. hanya saja aku paling benci di bohongi!!
“Ohh yah.. tolong sebutkan kebohonganku!” Axelle menatap dalam kedua mata Rach.
Sudahlah, tidak penting! aku hanya butuh kesadaranmu.. Rach mendorong tubuh Axelle darinya.
“Begitu caramu padaku Rach.. lalu jika kamu tidak suka dibohongi, kenapa kamu juga tidak jujur padaku selama bertahun-tahun ini..”
Jleppp…
Perasaan Rach tiba-tiba bercampur aduk, sepertinya Axelle mencoba mengatakan permasalah beberapa tahun silam.
Apa maksudmu Ax’?
Hmm Axelle tersenyum miring.
“Kamu bahkan terus berada dalam kebohonganmu sendiri! lalu berani mengatakan benci dengan kebohongan..”
Maksudmu? Rach terkejut ia bingung dengan pernyataan Axelle padanya.
“kamu yang menyebabkan Friska membenciku, karena berkata kamu adalah pacarku!”
Rach serasa tersambar petir di siang bolong, ia tak menyangka Axelle akan mengetahuinya sendiri.
Axelle.. akku..—
“Sudahlah Rach.. aku hanya menunggu kejujuranmu, tetapi kenapa kamu tega berbuat hal seperti itu.. bahkan sekarang kita sudah terlanjur menjalin hubungan..”
Iya, aku memang sengaja melakukan itu, karena kau sangat menyukaimu dulu.. dan sebenarnya sekian lama aku ingin jujur, tetapi aku tidak memiliki keberanian, aku takut kamu akan meninggalkanku. Tapi sekarang aku sadar, aku tak pernah ada dihatimu.. tukas Rach dengan penuh pilu, dan ia pun menangis.
“Perbuatanmu itu sangat rendahan Rach, aku bahkan baru menyadarinya setelah sekian tahun.. aku bahkan memiliki seorang pacar pembohong besar, dan juga tak peduli denganku..”
Apa maksudmu tidak peduli? aku sangat peduli denganmu Axelle! jika aku tidak peduli, mungkin aku tak akan mau menunggumu selama bertahun-tahun ini!!
“Aku minta maaf jika aku sibuk dengan pekerjaanku, tetapi aku kecewa dengan tindakanmu..” Axelle pun berbalik dan hendak menuju mobilnya untuk bergegas pergi dari tempat kerja Rach.
Rachelie pun masuk kedalam ruang kerjanya, di sana ia menangis sejadi-jadinya. Bahkan Axelle sekarang sangat kecewa padanya, dan semua yang selama ini mereka bangun, pupuslah sudah.
Ia berbaring lemas di atas sofa dalam ruang kerjanya, dan memejamkan kedua matanya di dalam kehampaan.
Selama berhari-hari Rach enggan untuk mengisi daya ponselnya, ia bahkan tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Hubungannya bersama Axelle pun sudah tak ada kejelasan lagi, ia tak pernah lagi saling bertemu dengan Axelle.
Rach menyadari akan kesalahannya, dan ia sudah merasa cukup iklas untuk melepaskan Axelle. Walau hatinya terasa sangat sakit teriris, namun ia harus menerima resiko ini. Semua sudah terjadi yah terjadilah, pikirnya dikala itu.
***