I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Kapan kau akan mengerti?



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Rachelie yang sedang mengalami kegundahan hati, akhirnya memilih untuk mengambil waktu santai sejenak. Pergi untuk berlibur demi menenangkan pikirannya, akibat kekecewaan yang telah ia alami.


Kepergian Rachelie ternyata membuat Jansen mencari celah kesempatan untuk malakukan pendekatan lebih lagi.


Huhh… aku sangat kelelahan Jansen… keluh Rach, sambil bersandar di pundak Jansen, tepatnya saat mereka sedang berada di bibir pantai.


“Iya, istrahatlah.. besok kita akan kembali ke kota..” ujar Jansen sambil mengusap kepala Rach yang kini bersandar di pundaknya.



Jansen, kamu jangan seperti daddy yang selalu memerintahku ini dan itu.. rengek Rach dengan nada manjanya.


“Hei. aku tidak seperti daddy kamu, aku seperti daddy Ro..” ujar Jansen dengan terkekeh.


Tsk… dasar Jansen.. but, thank you so much, kamu selalu menjadi sahabat terbaikku, walau sejak kecil aku sangat egois…



“Its okay… semua sudah berlalu, bahkan kemarin pun sudah menjadi masa lalu. Cukup belajar dari kesalahan, dan jangan melakukan kesalahan itu lagi, okay..” Jansen meraih wajah Rach, namun hanya sebatas sentuhan seorang sahabat.


Karena bagi Rachelie, Jansen adalah sahabat baiknya, walau sebenarnya Jansen sangat menyukai Rachelie secara diam-diam. Namun demi persahabatan, Jansen menahan dirinya agar tidak terlalu cepat mengutarakan perasaannya. Terlebih lagi, Rachelie baru saja pulih dari luka hatinya, dan Jansen pun enggan untuk membahas hal tersebut.


Malam pun berlalu dengan begitu cepat, kini saatnya Rachelie kembali bangkit dari luka hatinya dan juga memulai hari-hari yang baru dengan lebih baik.


***


“Kediaman Rachelie”


Di kediaman Rachelie sekaligus kantor tempat ia hari-hari bekerja sebagai pemilik usaha kosmetik.


Rachelie kembali bekerja seperti biasanya, dan Jansen pun selalu saja datang ke kantor sekaligus kediamannya, berusaha untuk terus menghibur Rach.


Sementara di sisi lain…


“Friska, malam ini kita akan mengadakan pesta di hotel xx, jadi kamu datanglah turut serta..”


Ohh yah? okay Axelle, aku akan berdandan dengan anggun… ujar Friska dengan wajah kegirang, sementara Axelle hanya tersenyum seperti biasanya.


Hmm


“Rachelie pasti datang ke pesta malam ini, karena papi dan perusahaan om Bakhtiar adalah rekan bisnis yang baik..” batin Axelle. Ia terlihat tersenyum tatkala mengingat sosok Rachelie.


Axelle, apa yang kamu tertawakan? apakah kamu sudah tidak sabar untuk daang ke pesta itu?


“Tentu, aku sudah tak sabar Friska..” Axelle pun melanjutkan pekerjaannya.


---------


“Kediaman Bakhtiar Family”


“Woww… anak manja daddy cantik sekali malam ini..” puji sang ayah Rach saat melihat penampilan anggun Rach.


Daddy.. jangan panggil aku dengan sebutan anak manja, aku malu jika teman-temanku mendengar… rengek Rach dengan wajah manjanya.


“Okay okay.. sorry sayang.. daddy hanya terus teringat dengan sifat manjamu..” ujar sang ayahnya sambil menyeka air matanya, akibat terlalu keras tertawa.


Hmm.. ayo daddy… Rach turun dari tangga lantai dua, dan ternyata Jansen sudah ada di lantai satu.


Jansen…. ucap Rach, lalu turun dengan perlahan.


“Selamat malam, om Bakhti, dan Rachelie..” sapa Jansen, yang sudah terlihat tampan dengan setelan jasnya.


“Hallo Jansen.. om Ro datang?” tanya ayah Rach, namun seketika raut wajah Jansen berubah.


Ahhmm.. daddy, ayo kita langsung pergi, nanti makanannya habis lagi.. ujar Rach menyela pertanyaan dari sang ayahnya, karena sepertinya ia mulai mengerti jika suasana dalam keluarga Jansen sedang bermasalah.


“Om, tante.. Rachelie pergi bersamaku saja..”


Oke Jansen… jawab snag ibu dari Rach.


***


“Hotel xxx”


Mereka pun tiba di acara pesta sekaligus acara promosi perusahaan-perusahaan ternama lainnya.


Di sana sudah terlihat Axelle yang sedang bercengkrama dengan para direktur mau pun bos-bos perusahaan besar lainnya. Tentu saja, Friska selalu menempel bagai perangko pada Axelle.


Jansen mulai menyadari akan suasana itu, dan seketika melihat rautt wajah Rach langsung berubah sendu tak seceria saat di rumah beberapa saat yang lalu.


“Rachelie, ayo kita mengobrol dengan teman-teman kuliahku saat di Amrik dulu..” ajak Jansen, dan ternyata Friska sudah melihat keberadaan mereka.



>


Ahemm… cuaca malam ini sangat indah bukan? tukas seseorang dari arah pintu utama, yaitu Friska, sambil menggenggam segelas soft drink.


Hallo Rachelie, anak tunggal dari pak direktur hebat pak Bakhtiar… ujar Friska dengan wajah tersenyum lalu mengajak berjabat tangan.


Ohh hallo… ujar Rach meraih tangan itu sekilas saja.


Nona Rachelie datang bersama pacar? wow… sangat cocok, satunya anak tunggal direktur ternama, satunya anak bungsu pewaris Rogoue group… tukas Friska, seolah-olah sangat mengenal dekat dengan Rachelie dan juga Jansen.



“Friska!!” ujar Axelle menyapa, dan datang menghampiri.


“Ohh hallo Rachelie..” sapa Axelle, dan Friska seketika itu juga langsung menempel pada dirinya.



Haii Axelle… kami ke sana, silakan nikmati pestanya… jawan Rach singkat.


Rachelie! ujar Friska memanggil, dan membuat langkah Rach terhenti sejenak.


Mari kita berdansa bersama, aku bersama Axelle, dan kamu bersama pacar barumu, ups.. Friska sengaja menghentikan perkataannya.


Axelle pun terlihat cukup terkejut saat mendengar kalimat pacar baru.


“Rachelie, ayo kita pergi…” bisik Jansen lalu dengan sengaja merangkul pinggul Rach, tepat di depan mata Axelle.



Oww, pasangan yang sangat serasi yah… tukas Friska dengan sengaja membuat Axelle semain meradang.


>>


Argh… teriaknya sambil memukul stir mobil miliknya.


“Kenapa semudah itu kamu mendapatkan yang baru Rachelie..” gumam Axelle dengan wajah dipenuhi rasa kesal.


“Kediaman Axelle”


Axelle pun tinggal di kantor lamanya, karena terkadang begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Merogoh ponsel dari dalam saku celana, dan mulai memandangi layar ponselnya.


Axelle: “Hallo, Rachelie besok kita bisa makan malam bersama?”


Rach: “Sorry, aku sudah ada janji..—“


Axelle: :Janji dengan pacar barumu?”


Rach: “ Omong kosong apa kamu Axelle?”


Axelle: “Yasudah, besok aku akan menjemputmu..—“


Huh… melemparkan ponsel ke atas kasur dan melempar kemejanya secara sembarangan, rasanya ia sangat lelah dan penat.


***


Drrttt.. “kamu tidak perlu menjemputmu, aku pergi sendiri dengan mobilku..” Rachelie.


Hmm… mendengus kasar.


Mengambil kunci mobil, lalu bergegas pergi menuju sebuah café yang cukup mewah.


Rachelie sudah duduk manis sambil menyeruput ice moccanya.


“Sudah pesan makanan?” ujar Axelle yang baru saja tiba, dan duduk tepat di hadapan Rach.


Sudah.. jawab Rach singkat, sambil menyantap makanannya, seakan tak menganggap penting kehadiran Axelle.


“Bagaimana kabarmu Rach?”


Aku sangat baik, dan selalu seha seperti biasanya.. ucap Rach dengan gaya sombongnya seperti dia beberapa tahun lalu. Ia sengaja bersikap cuek, sehingga perasaanya tetap selalu kuat saat berhadapan dengan Axelle.


“Ohh baguslah.. pakah kamu sudah sangat bahagia dengan pacar barumu?” tukas Axelle, membuat kunyahan Rach terhenti sejenak.


Ehhm.. bukankah kamu yang jauh lebih bahagia bersama wanita tersayangmu sejak sekolah dulu..


Tsk… “kami hanya teman baik, dan aku sama sekali tak berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun..”



Ohh… yah… jawab Rach singkat.


“Rachelie, apakah kamu masih punya perasaan padaku?” tukas Axelle dengan tersenyum miring, ia berniat untuk mengutarakan perasaannya yang sesungguhnnya. Namun Rachelie sudah terlanjut menganggapnya tidak pernah mencintai.


Tsk… Axelle, kamu orang yang cerdas tapi tidak dalam hal cinta.. tentu saja aku sudah melupakannya, itu sudah sangat lama. Aku bukan wanita bodoh yang mau terjebak dalam cinta yang penuh kepalsuan.. tukas Rach dengan wajah angkuhnya.


“Apa maksudmu cinta penuh kepalsuan Rach..”


Hahha.. tertawa.


Kamu pikirkan saja sendiri, wanita mana pun tidak akan suka jika hanya sebatas status palsu..


“Rachelie..—Drrtt… ponselnya tiba-tiba saja berbunyi, belum sempat Axelle berbicara.


“Hallo… ohh oke, saya akan segera datang..” bip.


“Thank you sudah datang, aku akan membayar makanan ini, aku ada pertemuan dengan klien dari luar negeri sampai jumpa..” Axelle pun bergegas pergi meninggalkan Rach.


>>


“Kantor/ kediaman Rach”


Huhh.. melempar tas ke atas sofa.


“Aku tidak menyangka jika kedatanganku tadi hanya sekedar lelucon murahan bagi Axelle..’ Rach menjambak rambutnya dan merasa begitu pusing.


Drrttt…. “Hallo nona Rachelie, besok akan ada evenet kuliner dari sekitar proyekku, aku akan menjemputmu..” Jansen Ro.


Hmm… Jansen, andai Axelle seperti kamu.. lirih Rach, tanpa sadar airmatanya sudah berlinang membasahi pipi mulusnya.


****


"Kediaman Kusuma Teofanya"


Axelle, kenapa akhir-akhir ini kamu tidak lagi bersama Rachelie? ujar mami Sunny.


"Kami sudah putus mam.." jawab Axelle singkat.


Kenapa nak? bukankah kamu pernah bilang, jika Rachelie sudah mandiri...


"Iya mam, tapi kami sudah putus..." Axelle oun bergegas menuju kamarnya.


hmm... mami Sunny menggeleng.


"Kenapa mamiku sayang??" ujar papi Kenan sambil mendekap mami Sunny.


Entahlah pap, sepertinya Axelle sedang gundah..


"Biarkan saja mam, dia pasti bisa menyelesaikan permasalahannya.. ayo kita selesaikan urusan kita di atas kasur.."


Papi Kenan



Papi... nanti malu didengar orang...


Mami Sunny



"Tidak ada mam, ayok..."


Kehidupan keluarga Axelle selalu hangat, hanya saja Axelle sepertinya harus menyelesaikan urusannya sendiri, dan tanpa campur tangan papi Kenan dan juga mami Sunny.


*****