I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Sekretaris seksi



Setelah pertemuan antara Jeho dan Sunny di sebuah resto ala korea tersebut, Sunny merasa bersalah pada Kenan jika ia terus menutupi apa yang telah Jeho katakan.


Pak Jeho memang sudah sangat keterlaluan, tapi jika aku mengatakan semua ini pada kak Kenan… aku takut kak Kenan akan terluka dan menjadi membenci pak Jeho. Gumam Sunny yang sedang termenug di sebuah pantry kantor, sembari mengaduk-adukan coklat panasnya.


“Yooo… melamun saja…” ujar Rafa yang baru tiba, hendak menyeduhkan secangkir kopi panas.


Aishh kak Rafa. Siapa yang melamun??


“Yah kamulah Sunny. Kamu beberapa hari ini terlalu banyak berpikir, apa sedang merasa cukup setres dengan pekerjaan??” tanya Rafa sembari meneguk kopinya.


Tak ada kak… jawab Sunny dengan nada sendu.


“Hmmp, baiklah. Jika kamu masih tak ingin menceritakannya padaku.” Ujar Rafa sembari menepuk bahu Sunny.


Hahh… badanku terasa lelah, dan sudah beberapa minggu aku dan kak Kenan tidak ada waktu untuk bertemu. Gumam Sunny sembari memandang layar ponselnya, yang terlihat foto dirinya bersama Kenan pada sebuah wallpaper.


“Apartemen kediaman Sunny”


Berbaring memeluk guling, sembari terus memandangi layar ponsel dan akhirnya mencoba untuk menelpon sang kekasih hati.


Hallo kak!! emm iya aku rindu sangat rindu… ucap Sunny dengan manja dan mengeratkan pelukkannya pada sebuah guling empuk tersebut.


*


“Iya sayang, aku juga sangat merindukanmu. Oke, nanti saat perjalanan dinasku selesai, aku pasti langsung menemui si perempuan manisku ini…” ujar Kenan saat menerima telepon dari wanita pujaannya.


“Argh… pekerjaan ini sangat melelahkanku.” Gumam Kenan sembari menyenderkan diri di sebuah sofa empuk yang berada di sebuah ruangan kerjanya.


Permisi pak Kenan... ujar seorang wanita yang kini memasuki ruangan kerja Kenan, namun bukan perusahaan utama yang sedang ia kelola, melainkan sebuah ruangan kerja sementara saat berada di luar kota.


“Iya, ada apa??” jawab Kenan sembari terbangun dari sofa.


Pak, jadwal kita hari ini cukup padat, dan mungkin sampai malam.


“Ohh baiklah, tolong persiapkan dengan baik!!”


Siap, laksanakan pak.


Pak Kenan, ini kopi hangatnya. Sang sekretaris sementaranya menyodorkan sebuah kopi instan.


“Oke, thank you Denia.”


Denia merupakan sekretaris sementara Kenan saat berada di luar kota. Seorang wanita yang bertubuh indah bak gitar spanyol, dengan balutan pakaian yang selalu ketat manambah keseksian dirinya.


Pak Jeho, mau saya bawakan makanan! ujar Denia dengan tatapan yang sedikit menggoda.


“Tidak perlu, kamu silakan istrahat dan urus segala keperluanmu,” tukas Kenan sembari meneruskan pekerjaan.


“Hmmp… pak Kenan tampan, bagaimana mungkin bisa bersikap secuek itu!! apakah aku kurang seksi? oke besok aku akan mengenakan baju berwarna merah agar lekuk tubuhku terlihat jelas…” gumam Denia yang sepertinya memiliki niat jelek pada Kenan.


Keesokan harinya di sebuah gedung pertemuan.


Pak Kenan, mala mini bolehkah saya menumpang diapartemen bapak sebentar! pinta Denia ekspresi manjanya.


“ada apa Denia? saya akan segera istrahat dan juga apakah tidak akan menjadi bahan pembicaraan jika kamu berada di apartemenku??” tukas Jeho dengan wajah yang cukup dingin.


Iya pak, hanya sebentar saja! karena saya akan ada janji dengan rekanku bebepa jam setelah ini, maka saya ingin menumpang sebentar!!


“Yasudah, nanti setelah selesai acara ini, kita langsung pulang.”


Baik pak Kenan tampan! ujar Denia tanpa segan, dan Kenan hanya terdiam lalu melangkahkan kakinya kembali.


Setelah selesai acara pesta pertemuan, Kenan pun bergegas menuju apartemen bersama sekretaris seksinya.


“Apartemen kediaman Kenan”


“Denia, kamu silakan tunggu saja du ruang tamu, saya akan mandi.”


Baik pak Kenan.


“Hmmp, dingin banget sih pak Kenan tampan ini? tapi kupastikan malam ini akan indah,” gumam Denia dengan senyum nakalnya.


Drrrrttt… suara getaran ponsel Kenan. “my sweet girl” calling…


Sweet girl?? gumam Denia heran dan ingin tahu, lalu dengan sengaja mengangkat.


Hallo, dengan siapa? ohh saya Denia, sekretaris pak Kenan! sekarang pak Kenan sedang mandi… bipp seketika panggilan berakhir.


Hmm… cemburu?? sangat tidak pantas untuk pak Kenan…


“Kenapa handphone saya kamu pegang?” tanya Kenan yang baru saja selesai membersihkan diri.


Ahh ia pak, tadi ada panggilan tapi tidak lama mati. Denia menyodorkan ponsel milik Kenan, seketika pula Kenan mengernyitkan dahinya.


“Apa yang kamu katakan pada tunangan saya??” tanya Kenan dengan nada serius.


Saya hanya mengangkatnya, lalu mengatakan bahwa bapak sedang mandi, lalu panggilan berakhir.


“Seharusnya kamu jangan asal angkat, lagi pula kamu adalah sekretaris sementara saya!” tukas Kenan dengan nada kesal.


Apakah bapak sedang khawatir jika tunangan bapak cemburu? oke, saya akan bantu menjelaskan! tukas Denia sembari sedikit menyenderkan diri di sofa, dan membuat pahanya sedikit terbuka karena dress ketat yang sedang ia kenakan.


“Tidak perlu..”


**


Di sisi lain…


Perempuan?? kenapa bisa ada perempuan dikamar kak Kenan? sementara kak Kenan mandi?? gumam Sunny sambil mengernyitkan dahi dan menggenggam ponselnya dengan rasa kesal.


Sepanjang malam Sunny gelisah tak karuan, ditambah Kenan yang belum membalas teleponnya. Karena telah lelah menanti, Sunny pun mematikan ponselnya, hingga keesokkan harinya.


“Di kantor tempat Sunny bekerja”


“Semuanya mohon perhatiannya, besok kita akan mengadakan acara pertemuan dengan mitra perusahaan dan kita akan menginap di Villa XX…---“


Yeaiii… akhirnya bisa bersantai sejenak…---


Riuh para pegawai saat mendengar pernyataan sang atasan yang akan mengadakan pesta dan juga acara menginap bersama di sebuah Villa.


“Sunny, kenapa pesanku tidak kamu balas-balas??” tanya Rafa saat berada di dalam sebuah bus Pariwisata.


Ahh, aku cukup sibuk dan juga lelah kak! jadi aku sengaja mematikan ponselku.


“ohh begitu!! kamu baik-baik saja kan?” tanya Rafa lagi dengan nada khawatir.


Iya kak Rafa, yasudah aku ingin tidur sejenak. Sunny menyenderkkan kepalanya di kursi bus sembari memejamkan matanya.


Sepanjang perjalanan, Sunny terus gelisah tak karuan saat mengingat apa yang terjadi semalam. Suara wanita yang telah mengangkat teleponnya pada Kenan, kini terus terngiang-ngiang. Berharap Kenan segera menelponnya, namun tak kunjung jua. Hingga akhirnya rasa gelisah bercambur kesal itu menjadi tak berujung, dan Sunny memilih untuk mematikan semua ponselnya untuk menenangkan diri.


Sepanjang berlangsung acara kebersamaan tersebut, Sunny lebih banyak terdiam dan hanya duduk melihat para rekan yang senag bercanda ria. Pikiran terfokus pada Kenan, dan terus berpikir bagaimana keadaan Kenan dan apa yang sedang terjadi. Namun, rasa kesalnya kini menjadikan Sunny bersikap diam tak ingin menyentuh ponselnya.


“Yooo… nona Sunny… please join yuk.” ajar para rekannya.


Ahh, sorry aku ingin duduk santai saja. Tukas Sunny sembari menahan diri, sementara para rekan terus meraih kedua tangannya.


“Sunny, aku senang akhirnya kamu tersenyum lagi,” ujar Rafa sembari tersenyum memandangi Sunny.


Ahh, iya kak Rafa! maaf kalau lebih banyak diam, hanya saja aku sedang ada banyak pikiran.


“Iya, tidak masalah! jika ada hal penting kamu bisa bicarakan padaku.”


Iya kak Rafa, thank you…


“Sekarang kamu istrahatlah dan besok kita aka nada outbond, so persiapkan diri.


Keesokkan harinya…


“Oke, smeua kumpul sesuai kelompok! dan kita akan berpencar…”


Acara terakhir ialah main bersama dan menjelajah.


Hosh hoshh…


Suara napas Sunny yang semakin memberat.


“Sunny, kamu sudah mulai pucat, lebih kamu istrahat dulu,” ujar Rafa sembari memapah Sunny ke tepi jalan.


Rafa, Sunny… jangan lama-lama yah, malam ini kita akan pulang…


“Oke baik, pak!...”


Kepala ku sangat pusing kak… pandangan Sunny kini berubah menjadi sedikit blur dan…---


“Hei Sunny… aishhh pinsan lagi.”


Rafa sedang sigap mengangkat tubuh Sunny yang kini sudah tak sadarkan diri lagi.


“heii ada apa dengan Sunny??? tanya para rekan


“Sunny, tiba-tiba pinsan. Tolong beri waktu satu malam lagi untuk menginap!”


Tapi kita sudah pesan untuk satu malam Rafa.!!


“Oke, nanti aku akan pesan untuk satu malam lagi, karena Sunny butuh waktu istrahat! kalian kalau mau pulang duluan silakan.” Ujar Rafa yang sibuk mengurus Sunny.


Kami minta maaf yah Rafa, jika kami tidak bisa menunggu Sunny! dan mungkin nanti pihak kantor akan memberikan cash untuk menambah biaya! ujar sang atasan.


“Okay, thank you bos.


Keesokan harinya…


Hmmp… ini sudah jam berapa?? Sunny yang baru saja terbangun dari pinsannya hingga tertidur pulas.


Tok tok tok…


Iya sebentar. Sunny berjalan menuju pintu.


“Kamu sudah bangun? ayo sarapan dulu,” ujar Rafa sembari membawakan bubur ayam dan the hangat.


Masuk saja kak..


Emm kak Rafa! yang lain kemana?? tanya Sunny sembari melahap bubur hangatnya


“Mereka sudah pulang!!”


Pulang?? maksud kakak!! bukannya malam nanti…


“Sunny, kamu kemaren pinsan dan baru bangun pagi ini! aku sudah memesan kamar ini untuk satu malam lagi.”


Astaga kak Rafa! kenapa aku bisa tertidur selama itu!! ujar Sunny sembari menyenderkan diri di dinding kamar.


“Sudah sudah, siang atau sore kita kembali pulang. Kamu istrahatlah terlebih dahulu.”


Kita pulang naik apa??


“aku sudah memesan supir untuk mengantarkan kita pulang ke kota Jakarta lagi.”


Rafa merupakan seorang pemuda yang cukup sukses dalam karir, seorang yang berasal dari keluarga berada namun tetap rendah hati, tak ingin memanfaatkan kekayaan orang tuanya.


Kak Rafa, thank you atas semua kebaikan kakak. Maaf membuat kakak menginap semalam lagi.


“iya tidak masalah Sunny, ayo kita pulang.”


Rafa pun pulang kembali bersama Sunny, sepanjang perjalanan keduaya begitu asyik berbincang-bincang hingga membuat Sunny lupa sejenak akan permasalahannya.


Nak Rafa, nak Sunny kita sudah sampai.. ujar supir pribadi.


“Sunny, kamu boleh beristirahat dulu! aku akan menyiapkan makanan.”


Hmmp, baiklah kak Rafa. Sunny duduk di sebuah ruang kebersamaan di kediaman Rafa.


“Tadaaaa… Rafa yang sedang membawakan beberapa makanan kesukaan Sunny.


Ahh ini kan makanan favorite kita dulu kak Raf! ujar Sunny kegirangan.


“Iya pastinya, aku selalu mengingatnya.”


Keduanya begitu dekat layaknya seorang sahabat karib.


Setelah berbincang-bincang, makan bersama, bahkan menonton televise bersama, waktu kini menunjukkan pukul. 21.05


Aish.. kak Rafa! ini sudah malam dan besok kita harus bekerja, kenapa malah main terus!! ujar Sunny yang baru saja menyadari.


“Ohhh ahahah… aku benar-benar selalu lupa waktu saat bersamamu Sunny!!”tukas Rafa.


Yasudah aku akan segera pulang yah kak! salam buat tante dan om.


“Sunny, biar aku antar kamu pulang yah!!” ujar Rafa sambil menepuk bahu Sunny.


Hmmp… Sunny menganggukkan kepala sembari tersenyum lugu.


Kak Rafa, aku lelah sekali dan ini sudah cukup malam juga!! keluh Sunny sembari menyenderkan diri di kursi mobil.


“Kamu lapar?” tanya Rafa sembari menyetir.


Hmm, tidak usah kak! aku sudah cukup kenyang dengan masakan asin kakak… Keduanya sama-sama terkekeh saat mengingat apa yang telah terjadi di rumah beberapa saat yang lalu.


Kak Rafa, sumpah deh! masakan kakak memang paling top! Sunny terus terkekeh konyol.


“Hmm.. hinalah aku dan rendahkanlah diri ini Sunny”


Hahhaa… ahh kak Rafa, perutku sakit banget.


“Oke sakarang sudah sampai,” Rafa menghentikan mobilnya tepat di depan loby apartemen kediaman Sunny.


“aku pulang yah, see u..” Rafa melambaikan tangannya sembari menaikan kaca mobilnya.


Sementara Sunny masih tersenyum mengingat kekonyolan yang mereka lalui, tiba-tiba seseorang meraih tangan Sunny.